
"Pak tolong selidiki wanita bernama Fira, ini nomornya, dia sedang dekat dengan suamiku. Kalau bisa segera ya, soal biaya tak jadi masalah." Aku menelpon detektif ahli untuk menyelidiki siapa Fira sebenarnya.
Pagi ini jam 09.00 WIB, aku mengadakan rapat direksi dengan pemegang saham. Aku mengumumkan bahwa sekarang aku kembali menduduki jabatan di posisi semula sebagai Direktur Utama. Pemegang saham menerima aku dengan bahagia karena di bawah kepemimpinanku dulu, perusahaan maju begitu pesat hingga bisa ekspor batik ke berbagai negara. Tentu sangat menguntungkan bagi pemegang saham.
Tak terasa jam sudah menunjukkan pukul 11 siang. Aku ditelpon supir yang berada di basement parkir bawah gedung perusahaan.
Aku pulang ke rumahku. Aku melihat Ara sedang bermain Lego dengan antusias. Seharian bekerja membuat aku lelah dan melihat Ara adalah obat mujarab menghilangkan lelahku
"Bu, kami berhasil memperoleh informasi wanita yang ibu minta dan berkasnya akan saya kirim langsung sekarang ke rumah ibu. Ibu di rumah?"
"Iya, segera ya pak, saya tunggu di rumah."
Detektif menyerahkan berkas yang berisi informasi seorang wanita. Aku membuka map coklat berisi foto dan dokumen di dalamnya. Aku terperanjat dengan apa yang dilihatnya. Ternyata Fira....
Aku lemas seketika. Aku merebahkan tubuhku di sofa sambil memijat kepalaku yang sakit. Aku sama sekali tak menyangka bahwa suamiku berhubungan dengan wanita ini. Aku lemas seketika.
Aku masih tak percaya dengan berkas tentang Fira. Mungkinkah Fira adalah seseorang yang telah lama kurindukan selama ini? Apa hanya sebuah kebetulan saja jika wajah Fira mirip denganku?
__ADS_1
Aku kembali menghubungi detektif R.
"Detektif R tolong cari lebih dalam semua tentang Fira. Sejak dia lahir sampai sekarang. Cari secepatnya!"
"Baik bu!"
Aku lelah dan tak ingin memikirkan hal itu lagi. Aku menjumpai Ara yang sedang bermain lego. Aku terhanyut ke negeri dongeng bermain bersama Ara.
Tiba-tiba terdengar suara langkah kaki menuju ruang tengah.
"Aku lelah. Aku sedang tak ingin bertengkar. Aku pulang karena aku kangen Ara." Ucap suamiku.
"Tumben masih kangen anak." Sindirku lagi dengan nada tinggi.
"Please! Tolong jangan ajak aku bertengkar. Bukankah kita dulu sudah sepakat untuk tidak bertengkar di depan anak kita? Kasian Ara jika melihat kita bertengkar." Bisik suamiku sambil menarik lenganku ke arahnya.
"Iya mas, maaf." Ujarku sambil menghela nafas panjang.
__ADS_1
Suamiku menghampiri Ara dan memeluk cium Ara. Terlihat suamiku memang sangat merindukan Ara. Suamiku ikut bermain bersama Ara dan aku.
Kehadiran Ara berhasil membuat aku dan suamiku melakukan genjatan senjata. Tingkah lucu dan menggemaskan Ara membuat kita tertawa bersama. Kita nampak sangat menikmati kebersamaan. Sore ini kita sangat bahagia.
"Aku berharap mas Bram seperti ini seterusnya. Ara sangat bahagia bermain bersamamu mas. Ya kan Ara?!" Ucapku sambil mengelus-elus kepala Ara. Sementara Ara mengangguk-angguk kan kepalanya membuatku tersenyum lucu.
"Aku akan coba untuk sering pulang demi Ara." Ucap suamiku tersenyum menatap Ara yang masih mengangguk-anggukkan kepala.
"Papa... Pa... Pa..." Ara yang berumur 3 tahun memanggil seraya tangannya menggapai meminta gendong.
Suamiku menggendong Ara dipelukannya dan diciumnya pipi Ara. Aku hari ini merasakan kebahagiaan yang lengkap lagi karena keluargaku berkumpul kembali.
***
Tertarik meminang hijabnya hubungi WhatsApp 081227298941
__ADS_1