WANITA YANG KAU SIA-SIA

WANITA YANG KAU SIA-SIA
Cahpter 11


__ADS_3

Tok Tok Tok!


Bu Sarah mengetuk pintu kamar putranya.


"Ndra, Andra... Ndra, Andra. Buka pintunya Ndra, ibu mau ngomong." ucap bu Sarah yang berdiri di depan pintu kamar.


"Iya bu, bentar masih sisiran. Nanggung!" teriak Andra.


Andra yang baru selesai menyisir rambutnyapun bergegas untuk membuka pintu kamarnya.


Ceklek Ceklek!


Suara kunci pintu yang di buka.


"Ada apa sih bu, pagi pagi udah teriak teriak aja." ucap bu Andra pada sang ibu.


"Itu di meja makan tetep gak ada masakan, Rara udah bener bener gak mempan di kasih tau Ndra. Lenih baik kamu cepat menceraikan wanita sialan itu dari rumah ini, lalu kamu menikah lagi dengan pacar kamu itu biar bisa masakin ibu dan ngurus pekerjaan rumah. Ibu sama Lili enggak mau kalo setiap hari harus nyapu ngepel, belom lagi cucian di belakang udah numpuk kaya gunung gak ada yang cuci." ucap bu Sarah kesal.


"Cucian? Emang Rara gak sekalian nyuci pakaian kita bu? Kan dia setiap hari harus nyuci baju dia sama Viona." ucap Andra yang berdiri di bang pintu.


"Udah beberapa hari ini dia ngebawa baju bajunya ke laundry, kalo makan juga selalu keluar rumah biat cari makanan kalo gak gitu ada go food datang ke rumah tapi yang di pesen cuman buat makan dia aja." keluh bu Sarah pada putranya.


Mendengar penuturan bu Sarah, Andra mengerutkan dahinya.


"Go food? Punya duit dari mana dia kalo setiap hari buat makan harus pesen go food? Cuci baju di laundry bukannya di bandrol dengan harga perkilo bu? Bukannya itu malah ngebuat dia boros bu?" tanya Andra pada sang ibu.

__ADS_1


"Ya iya lah Ndra, mana kemarin dia keluar seharian berangkat naik grab entah kemana perginya. Sore sore pulang udah bawa beberapa bungkus plastik besar isinya makanan sama camilan semua, udah gitu nggak ngasih ibu sama adek kamu lagi." ucap bu Sarah mengadu lagi pada putranya.


"Rara dapet duit dari mana ya bu? Setau Andra, dia enggak mau minta uang ke ayahnya karena kasian dan nggak mau ngerepotin ayahnya. Kok sekarang punya banyak duit? Dan kemaren Rara naik grab, kemana dia? Kalo ke rumah ayahnya udah jelas nggak mungkin, karena pak Sigit gak akan ngebiarin cucu sama putrinya sengsara. Biasanya kakaknya atau pak Sigit sendiri yang dateng buat ngejemput Rara di rumah." ucap Andra pada bu Sarah.


"Kamu gimana sih Ndra kok malah nanya ibu balik? Kamu kan suaminya, harusnya kamu yang lebih tau semua hal tentang istri kamu dong." ketus sang ibu kesal.


Bu Sarah menyuruh putrinya Lili untuk memasak sarapan untuk dirinya dan sang kakak, namun karena Lili tidak pernah memasak jadi ia tidak mau. Lili hanya memasak 3 bungkus mi instan goreng dan niat hatinya ingin menceplok 3 telur mata sapi namun tidak karuan bentuk matanya melebar kemana mana juga sedikit berwarna kehitam hitaman akibat api yang besar.


"Tarraaaaa... Udah jadi nih." ucap Lili membawa dua buah piring ke meja makan di tangan kanan dan kirinya untuk sang ibu dan sang kakak.


"Astaga Li! Ini telor ceplok apa kerak telor bisa kering ada gosong gosongnya kaya gini." ucap Andra menunjuk beberapa bagian telur yang gosong sembari membolak baliknya.


"Tau tuh adek kamu! Buat telor ceplok aja nggak becus, kuningnya meluber kemana mana pake acara gosong segala." timpal bu Sarah.


Rara yang baru menuruni anak tangga menahan tawa mendengar ucapan Lili pada sang ibu dan kakaknya, karena seperti itulah setiap hari yang ia rasakan tinggal bersama mereka setiap harinya di rumah ini. Semua perintah sudah ia turuti dan laksanakan, namun selalu saja di komentari dan di anggap tidak becus mengerjakan sesuatu.


"Ngeselin banget deh!" ucap Lili yang menggeser kursi meja makan untuk duduk.


Rara tersenyum melewati ruang makan sembari menggendong Viona dengan pakain rapi, serta menggendong day pack berwarna biru muda di punggungnya yang berisi beberapa lembar baju ganti miliknya dan milik putri kecilnya.


"Heh! Mau kemana kamu pagi pagi udah rapi, nyelonong aja pergi gak pamit." ucap bu Sarah pada menantunya itu.


Rara hanya diam tak menjawab, ia masih melanjutkan langkahnya santai.


"Ra, mau kemana kamu sama Viona pagi pagi?" tanya Andra yang menghentikan langkah kaki Rara.

__ADS_1


"Pergi." jawab singkat Rara.


"Kok kamu gak bilang dulu sama aku, biasanya kalo kamu mau kemana mana kan selalu pamit ke aku." ucap Andra yang masih terduduk di meja makan.


"Sejak kapan kamu perduli sama urusan aku dan Viona? Lebih baik kamu urusin tuh selingkuhan kamu, jangan sampek telat jemput biar dia nggak marah." ucap Rara kemudian melanjutkan langkahnya menuju pintu untuk keluar rumah, karena sang kakak ipar telah menjemputnya di seberang jalan.


Mendengar ucapan yang menohok dari Rara, sontak bu Sarah dan Andra diam tanpa kata di buat takjub oleh perkataan wanita yang selama ini ia anggap lemah dan selalu ia remehkan.


"Waow, daebak daebak!" ucap Lili sembari memberi tepuk tangan atas apa yang di katakan kakak iparnya itu.


Rara melangkah keluar rumah dengan hati yang sedikit tenang setelah mendengar nasihat dari Willy sang kakak ipar yang selalu mensupport dirinya penuh, tak selemah seperti hari hari kemarin saat ka baru saja mengetahui beneran tentang suaminya.


"Sabar Ra, tenang. Air mata kamu yang terus mentes ini suatu saat akan terbayarkan dengan hal yang jauh lebih indah, tetap percaya pada Tuhan jika Tuhan tak akan pernah menguji hambanya melebihi batas mampu umatnya." ucap Rara mengusap air matanya yang menetes pelan kemudian tersenyum, rasanya benar benar sulit dan hancur bahkan mengingatnya saja selalu membuat air matanya meluncur secara tiba tiba tak dapat terbendung tapi kini ia lebih memilih mencoba berdamai dengan keadaan agar hatinya tak semkain hancur dan juga terluka.


"Amah, ngan nangis!" ucap Viona menatap kedua mata Rara yang berembun, mengusap air mata sang mama.


"Iya sayang, mama gak akan nangis selama ada kamu yang selalu ada di pelukan mama." ucap Rara tersenyum kemudian mencium dahi putri kecilnya itu.


Clic!


Rara membuka pintu mobil yang di naiki oleh Willy.


"Kak, maaf ya udah nunggu lama." ucap Rara pada sang kakak, sembari memakai seat bealt


"Iya Ra, nggak apa apa kok. Uluh uluh cangtipnya keponakan tante." ucap Willy menciun gemas pipi keponakannya.

__ADS_1


__ADS_2