
"Seperti kesepakatan yang udah kita bicarain kemarin ya Ra, kak Willy selamam juga udah bilang sama mas Pandu kalo aku berencana ngajak kamu untuk ketemu temen kakak yang namanya dokter Radit buat konsultasi dan atur jadwal ikut kelas diet dokter Radit. Dan mas Pandu setuju kok Ra, malah ngedukung mama buat berubah biar nggak di remehin sama suami kamu yang udah gila itu." tutur Willy sembari masih fokus menyetir.
"Terus Viona gimana kak?" tanya Rara menoleh menatap sang kakak ipar yang sedang menyetir.
"Tenang aja Ra, kan ada kak Willy di sini yang bisa jaga Vio." ucap Willy sembari tersenyum.
"Emang gak ngrepotin kakak? Kak Willy kan punya kesibukan sendiri." ucap Rara.
Willy menggeleng pelan.
"Enggak dong Ra, kakak malah seneng bisa jagain Viona. Kakak pengen juga ngrasain gimana rasanya punya momongan, tapi masih belum di kasih kasih juga. Hehe." ucap Willy berusaha tertawa meski sebenarnya ia juga ingin memiliki momongan seperti wanita wanita lain, tapi beruntungnya suami dan ayah mertuanya terus mendukungnya.
"Yang sabar ya kak, pasti nanti Allah juga bakal kasih kepercayaan kakak buat ngasih momongan." ucap Rara mengelus pundak sang kakak, Willy tersenyum senang mendengar ucapan Rara.
Hari ini, Pandu berencana ingin memergoki sendiri sifat asli Andra saat sedang di kantor. Ia sengaja datang pagi pagi agar lebih awal dari keberangkatan Andra, pasalnya ia benar benar sudah muak pada suami adiknya itu setelah mendengar cerita dari Willy setelah sang adik menceritakan semuanya pada istrinya.
"Ini pak Pandu seragamnya." ucap pak Cholis memberi sepasang seragam scurity berwarna hitam.
"Baik, terima kasih ya pak. Maaf merepotkan." ucap Pandu menerima seragam yang pak Cholis beri.
"Iya endak atuh pak bos, malah saya yang gak enak. Masa yang punya gedung tempat saya kerja ini malah ikut ikutan pake seragam kaya saya gini." ucap pak Cholis tertawa menunjuk bangunan bertingkat yang tepat berada di belakangnya.
"Sayang, hari ini anter aku belanja ya?" ucap Jihan memeluk lengan Andra yang sedang menyetir.
"Em.. Giama ya sayang, mas harus agak hemat dulu soalnya Rara ngambek nggak mau lagi ngurusin pekerjaan rumah." ucap Andra tak enak menolak permintaan sang kekasih hatinya itu.
"Ih mas, kenapa sih masih mikirin istri gendut kamu itu terus? Kata kamu udah nggak cinta dan udah muak sama dia, kok malah jadi kaya gitu sih kamu." ucap Jihan terdengar protes.
__ADS_1
"Bukan gitu sayang, masalahnya tuh di rumah gak ada yang masak sama beres beres rumah lagi." ucap Andra.
"Ya kamu bisa dong nyuruh adek kamu atau ibu kamu." ucap Jihan seenak jidatnya.
"Kok kamu ngomong gitu sih?" tanya Andra melepas tangannya dari pelukan Jihan karena tak suka mendengar ucapan wanita yang ada di sebelahnya.
'Haduh, mampus nih mulut pake salah ngomong lagi. Bisa kehilangan sumber mata uang nih kalo sampek mas Andra benaran marah.'
Batin Jihan.
"Ya ma'af sayang, gak gitu maksud aku. Ya abis gimana lagi dong? Atau aku ikut ke rumah kamu aja, biar akunyang beres beres rumah sama masak." tanya Jihan berusaha mencairkan suasana yang kian memanas di dalam mobil.
"Hem, gimana ya enaknya? Soalnya ada Rara, mas takut dia bakalan marah." ucap Andra.
"Ya udah biarin aja sih mas, orang dia sekarang juga seenak jidatnya sendiri keluar rumah terus tanpa ijin dari kamu. Padal kamu suaminya loh! Cerain aja lah mas, biar kita bisa cepet cepet nikah" ucap Jihan mengompori Andra.
"Enggak bisa gitu Han, dia itu menguasai semua yang aku pakai sekarang ini. Mulai dari jabatan, rumah, mobil. Kalo sampai aku berani cerain dia, otomatis aku akan kehilangan semuanya." ucap Andra yang mulai kesal.
"Ya udah deh, nanti biar mas pikirin dulu. Maaf ya sayang, udah marah marah sama kamu. Turun yuk!" ucap Andra mengecup kening Jihan.
"Iya mas." Jihan mengangguk senang.
Mobil berhenti tepat di depan pintu masuk kantor, Andra segera turun dari mobil di susul oleh Jihan yang keluar dari pintu samping.
"Nih pak." ucap Andra memberikan kunci mobilnya pada seorang scurity yang tak lain adalah Pandu kakak Rara anak dari pemilik perusahaan ini.
Security itu hanya mengangguk patuh, lalu segera masuk ke dalam mobil Andra.
__ADS_1
Sebelum memarkirkan mobilnya Andra, Pandu menoleh menatap Andra yang menggamdeng tangan Jihan sesat lalu Andra melepaskan genggamam tangannya sesaat setelah ada karyawan lain yang berjalan dari arah belakangnya.
"Oh, jadi itu dia wanita selingkuhan Andra. Baiklah, mari kita mulai permainan ini bapak Andra." ucap Pandu tersenyum nakal, lalu segera melajukan mobil Andra ke arah parkiran.
Tok Tok Tok!
"Masuk." terdengar suara seorang pria dari dalam ruangan.
Ceklek!
Willy membuka pintu ruangan dokter Adit, di ikuti Rara di belakangnya.
"Hai Wil, apa kabar?" sapa seorang dokter muda dengan postur tubuh sixpack, berkulit putih bersih, mata sedikit sipit, hidung mancung, serta rambut hitam yang tertata rapi membuat dokter muda ini semakin tampan mempesona.
(Ini adalah dokter Radit, semoga teman teman bisa membayangkan agar bisa masuk ke dalam alur ceritanya.)
"Hai juga Dit, aku baik. Kamu apa kabar nih?" sapa Willy kembali pada temannya.
"Ya, seperti yang kamu lihat sekarang ini. Haha.. " ucap Radit sembari tertawa.
"Iya iya tau yang sekarang udah jadi dokter muda, gimana nih udah bawa cewe Belanda belom?" ucap Willy tertawa.
"Gila aja lo, masih karatan nih. Ini siapa Wil?" ucap Radit menatap ke arah Rara yang duduk di sebelah kursi Willy.
"Oh iya, kelamaan ngomong sih. Ini nih yang mau aku kenalin ke kamu buat ikut program diet, ini adiknya suami aku namanya Rara." ucap Willy memegang tangan kiri Rara.
__ADS_1
"Kenalin, saya Radit." ucap Radit mengulurkan tangannya ke arah Rara.
"Iya, saya Rara." ucap Rara menjabat tangan Radit sembari menundukan pandangan.