WANITA YANG KAU SIA-SIA

WANITA YANG KAU SIA-SIA
Chapter 20


__ADS_3

"Habis ini kita pulang ya nak, pulang ke rumah ayah nak. Pintu rumah ayah selalu terbuka lebar untuk putri kesayangan ayah dan cucu ayah, pulang ke rumah nak mari tata kembali hidup baru kamu. Kamu pantas bahagia nak." ucap sang ayah mengusap air mata Rara.


Rara menggeleng pelan.


"Enggak yah, Rara nggak bisa. Bukan enggak mau pulang ke rumah ayah, hanya saja belum saatnya yah. Rara masih kuat berada di rumah Rara semdiri, Rara pengen ngebales satu satu dari mereka yang udah memyakiti Rara. Rara pengen memberi mereka pelajaran dulu sebelum mengangkat kaki melangkah pergi dari rumah yang menjadi saksi sakit hati hati Rara yah." ucap Rara mengelus lengan sang ayah.


"Huuuufftt... Apa ayah perlu memecat Andra sekarang juga? Agar dia segera jadi gelandangan, ayah bisa memblacklist data Andra agar semua perusahaan manapun tidak ada yang mau menerima dia lagi." ucap pak Sigit menatap mata putrinya sayu.


Lagi lagi Rara menggelengkan kepalanya.


"Jangan yah, biarkan mas Andra menikmati kejayaannya di sisa sisa kehancurannya nanti. Ayah jangan gegabah, dan Rara minta tolong sama ayah jangan mencampuri perihal mas Andra ya yah? Meskipun dia sudah mengukir coretan tinta hitam di hidup Rara, biarkan Rara yang melanjutkan gambaran itu kembali karena kain putih itu sudah ternoda. Setidaknya mas Andra telah menghadirkan Viona di hidup Rara, yah." ucap Rara tersenyum menatap putri kecilnya di gendongan sang kakak ipar.


"Baiklah kalau itu sudah menjadi keputusan kamu, ayah akan selalu mendukung apapun yang kamu lakukan. Ayah percaya kalau anak ayah ini kuat, berubahlah nak agar semua orang orang yang telah membuatmu hancur itu menyesal. Bahkan menangispun tiada guna lagi untuk mereka, semangat nak. Ayah akan selalu di belakang kamu, pulang ke rumah ayah jika ragamu sudah tidak kuat. Pintu ayah selalu terbuka untuk kamu dan Viona." ucap pak Sigit mengelus punggung putrinya lembut.


Rara mengangguk lalu tersenyum, hatinya lega karena sang ayah telah mengetahui segala masalah yang selama ini telah ia tutupi.


"Makasih ya kak." ucap Rara menepuk pundak Willy.


"Sama sama Ra, kakak sayang banget sama kamu. Gak mungkin kakak tega biarin kamu berdiri sendiri." ucap Willy tersenyum.


Jihan menyiapkan satu persatu makanan di meja makan, ada sedikit rasa takut jika nanti ibu Andra marah padanya karena ikan yang ia goreng gosong.


"Sayang, udah selesai belum?" tanya Andra memeluk pinggang kekasih hatinya.


"Udah kok mas." Jihan mengangguk mantap.


"Bu, udah siap nih makan malemnya." ucap Andra memanggil sang ibu dan adikny yang sedang mengobrol di ruang keluarga.

__ADS_1


"Masak apa nih mantu idaman ibu." ucap bu Sarah yang baru saja sampai di meja makan.


"Ikan gurame goreng, tempe dan terong goreng, sambel, sama satur sop bu. Ini lalapannya." ucap Jihan meletakan sebuah piring berisi selada, kubis, dan potongan timun.


"Wah, pinter sekali sih nak. Cocok banget nih Ndra kalo di jadiin mantu, gak kaya istri kamu yang gak tau diri itu." ucap bu Sarah sembari menciduk nasi.


"Siapa istri gak tau diri, yang bu Sarah maksud?" ucap pak Sigit yang tiba tiba sudah berdiri di belakang mereka.


"Pak Sigit?" Mata bu Sarah membelalak sempurna, sungguh tak pernah ia bayangkan sebelumnya jika besannya itu mendengar secara langsung ucapan ucapan kasarnya pada Rara.


"Ayah?" ucap Andra yang langsung berdiri kaget setengah mati.


Bagaimana tak kaget setengah mati, di samping kursinya terdapat Jihan yang duduk manis mengenakan pakaian seksi. Terlebih sang ibu telah berbicara hal yang tidak pantas di dengar oleh ayah mertuanya itu, jelas membuat jantungnya seakan berhenti berdetak.


"Loh, kok kalian kaget sih? Lagi makan malam ya? Saya boleh ikut?" ucap pak Sigit lalu segera duduk di depan kursi Andra, di hadapannya juga terdapat Jihan yang hanya bisa diam tanpa sepatah katapun.


"Wah, enak banget nih Ra. Ini siapa Ra?" tanya Willy dengan sengaja, kemudian duduk di samping Rara.


"Oh, ini tu pembantu baru di rumah ini kak. Dia kayaknya pinter masak, aku belum pernah coba masaknya sih." ucap Rara tersenyum.


"Ambil dari penyalur di mana kamu? Mau juga dong Ra, di ambilin asisten rumah tangga yang linter masak kaya gini. Bener kan yah?" ucap Willy mengejek.


"Nah, iya bener tuh Ra apa kata kakak kamu. Biar gak bosen makan masakan mbok Jum terus, ha ha ha..." ucap pak Sigit di iringi dengan tawa.


"Oh, Jihan ini tuh yang nyari mas Andra. Engga tau deh mas Andra ngambil Jihan ini dari penyalur mana, emang Jihan ini dari penyalur mana mas?" tanya Rara menciduk nasi.


"Oh, anu. Penyalur Darma Wanita." ucap Andra gagap.

__ADS_1


Sedangkan bu Sarah, Lili, dan juga Jihan hanya bisa diam tak berani berkutik sedikitpun di depan ayah Rara.


Ya, mereka semua tau jika ayah Rara seorang konglomerat tentu sudah jelas bukan orang sembarang yang bisa di remehkan.


"Darma Wanita bukannya panti asuhan ya mas?" tanya Rara tiba tiba.


'Sial, mas Andra kurang ajar banget sih ngatain aku dari panti asuhan. Awas aja kamu mas.' batin Jihan gemas mendengar percakapan di meja makan ini semakin memanas karena membahas dirinya.


"Lah, iya deh Ra. Darma Wanita yang ada di deket kantor mas Pandu itu kan? Yang di jalan Dorowati, tempat ayah selalu jadi donatur tetap di sana." timpal Willy.


"Oh, iya bener kak. Masa kamu ngambil Jihan dari panti asuhan sih mas?" tanya Rara memancing.


"Em, iya Ra. Mas emang ngambil Jihan dari panti asuhan, karena mas kasian dia butuh pekerjaan soalnya." ucap Andra berasalan tak masuk akal, bagaimana tidak? Pakaian yang di kenakan Jihan saja tak mampu menutup kedua bukit kembarnya.


"Oh, panti asuhan sekarang modis modis ya mas bajunya. Kaya kurang bahan gitu." ucap Rara tersenyum.


"Loh, kok diam saja sih bu Sarah. Ayo silahkan, mari makan bersama." ucap pak Sigit mencairkan suasan yang sudah terasa panas seperti di dalam oven.


"Oh, iya iya pak Sigit." ucap bu Sarah yang sedari tadi terdiam, kini mengambil ikan gurame goreng gosong di bagian belakangnya.


"Ini gosong ya Han?" tanya Andra tiba tiba saat mendapat bagian yang gosong sama seperti bagian yang ibunya ambil.


"Iya mas, tadi kelupaan." ucap Jihan sepontan.


"Mas? Kamu manggil majikan kamu mas?" tanya Willy menyerang Jihan.


"Ha? Oh, bukan bukan bu. Maksud saya, pak Andra." ucap Jihan tersenyum gugup.

__ADS_1


__ADS_2