
Hari ini, bu Sarah dan Lili pergi keluar. Entah, sepertinya ingin berbelanja lagi setelah Andra memberinya uang kemarin.
Rara duduk bermain dengan putri samata wayangnya itu di ruang keluarga, sedangkan sang suami sudah berangkat ke kantor sekitar lima belas menit yang lalu. Tapi tiba tiba ponsel andra yang ada di atas meja makan berdering, Rara segera menghampiri lalu meraih benda berbentuk persegi empat itu.
MY LOVELY, kata pertama yang ia baca saat melihat ke arah layat ponsel suaminya itu.
"My Lovely?" ucap Rara pelan sembari mengerutkan dahinya, kemudian menggeser layar untuk menerima telepon masuk.
"Sayang kamu di mana sih? udah jam segini gak dateng dateng." ucap suara seorang wanita dari seberang telepon.
Deg!
Jantung Rara berdegup sangat kencang saat mendengar suara wanita yang sedang menelpon suaminya itu.
"Hallo, sayang? Hallo?" ucap wanita itu lagi terus memanggil karena tak ada sahutan dari Rara.
'Jadi bener firasat aku selama ini, kalo mas Andra udah ngehianati aku.'
Batin Rara.
"Ih, kamu nyebelin banget sih mas! Udah ah, nanti malem aku nggak mau kasih jatah kamu. Biar kesiksa tuh kamu lihat tubuh seksiku." ucap wanita itu lagi.
Tut!
Rara langsung memutuskan panggilan telepon, ia tidak tahan lagi mendengar ucapan ucapan dari wanita itu yang bisa semakin membuat hatinya hancur.
"Rara." ucap Andra yang tiba tiba sudah berada di belakang dirinya.
Tangan Rara masih menggenggam ponsel milik sang suami, namun ia masih terdiam kaku di tempat setelah mengetahui sang suami sudah menghianati pernikahan mereka.
"Kamu ngapain pegang pegang ponsel aku." ucap Andra langsung menarik ponselnya dari tangan sang istri.
Rara hanya diam tanpa mengucapkan apa apa lagi.
"Ma . . . Mah." ucap Viona yang berdiri dari duduknya lalu mulai berjalan pelan mendekati Rara dengan membawa mainan ring donat berwarna pink di tangan kanannya dan memberikannya pada sang mama.
"Iya sayang, apa nak?" ucap Rara membungkuk, kemudian mengangkat tubuh anaknya dan menggendongnya.
__ADS_1
"Aku cuman mau ambil hp yang ketinggalan aja, aku berangkat dulu." ucap Andra berlalu pergi, namun Rara tak menjawab sama sekali ucapan suaminya itu.
Setelah suaminya pergi, air mata Rara mulai mulai meluncur membasahi pipi cubby miliknya. Dunianya seakan runtuh seketika saat mengetahui suaminya telah memasukan orang ke tiga dalam rumah tangga mereka, padahal selama ini ia sudah cukup sabar menghadapi tingkah ibu mertua, adik iparnya, maupun suaminya sendiri.
"Ngan nangis ma... Mah." ucap Viona mengusap lembut pipi sang mama untuk menghapus air mata Rara, putri kecil itu seakan paham jika sang mama sedang tidak baik baik saja.
"Mama nggak apa apa sayang, makasih ya nak kamu selalu buat mama tersenyum lagi." ucap Rara.
Ia hanya bisa tersenyum pahit sembari mengusap air matanya, lalu mencium kening sang putri lembut.
Sesampainya di kantor, Andra langsung menghampiri Jihan di mejanya.
"Jihan, tolong kamu datang ke ruangan saya sekarang." ucap Andra pada kekasihnya, ia sengaja memanggil nama Jihan karena ada karyawan lain.
"Baik pak." jawab Jihan.
Ceklek!
Setelah pintu terbuka, Jihan segera masuk menghampiri Andra di kursinya.
"Kamu gimana sih sayang? Tadi pagi udah janjian buat aku jemput tapi nyampe sana malah udah berangkat duluan." ucap Andra.
"Gimana sih sayang maksud kamu itu?" Andra menaikan alisanya.
"Aku tuh udah nelpon kamu, dan kamu malah gak ngejawab apa apa sama sekali padahal jelas jelas kamu idah angkat telpon aku. Terus aku harus gimana? Nunggu kamu sampek lumutan di deoan rumah? Apa nunggu kamu sampek aku telat?" ucap Jihan menyerocos tanpa batas.
"Kamu nelfon emas?" tanya Andra.
"Ya iya lah mas, gimana sih mas ini." ucap Jihan menjatuhkan tubuhnya pada sofa.
Andra yang mendengar ucapan Jihan langsung merogoh saku untuk mengambil ponselnya, kemudian jemarinya berselancar pada layar ponselnya dan berhenti pada aplikasi berwarna hijau lalu membaca riwayat panggilan.
"Mampus!" ucap Andra menepuk jidatnya.
"Kenapa mas?" ucap Jihan melihat tingkah Andra.
"Berati yang angkat telepon kamu tadi itu Rara, sayang. Bukan emas! Tadi hp mas sempet ketinggalan di meja makan, akhirnya mas puter balik lagi buat ngambil hp. Makanya telat jemput kamu, sayang." ucap Andra menjelaskan pada wanita yang berdiri tepat di sebelahnya itu.
__ADS_1
"Raaa, Raraaaa." teriak bu Sarah saat membuka tudung saji yang berada di atas meja makam itu kosong.
"Kenapa?" tanya Rara malas, rasanya ia sudah tak ingin berbicara pada siapapun lagi di rumah ini.
"Kamu lihat nih! Maksud kamu apa nggak nyediain makanan buat ibu sama Lili?" ucap bu Sarah.
"Aku lagi males, kalo ibu sama Lili laper ya masak aja sendiri." ucap Rara kemudian berlalu masuk kembali ke dalam kamarnya.
Semenjak ada ibu mertua dan adik iparnya, Rara lebih suka menghabiskan waktunya di kamar setelah selesai berbenah dan membereskan semua pekerjaan rumah. Di samping bisa menjaga hatinya agar tak mendengar ucapan ucapan yang menyakitkan dari ibu mertuanya maupun Lili, Rara bisa dengan leluasa mengawasi gerak gerik putrinya penuh yang sedang berada di masa aktif aktifnya karena mulai bisa berjalan.
"Kurang ajar ya kamu sekarang! Lihat aja kamu, bakal aku laporin kamu ke Andra, biar tau rasa kamu." teriak bu Sarah kesal.
Ceklek!
Andra masuk ke dalam rumah, kemudian membuka tudung saji yang berada di atas meja makan itu kosong. Ia heran, tak seperti biasanya Rara tidak menyisihkan makanan untuknya padahal selama menikah ia sama sekali tidak pernah absen untuk memasak meskipun sedang sakit.
Ceklek!
Andra membuka pintu kamar Rara karena memang ia jarang sekali tidur bersama Rara semenjak berselingkuh dengan jihan, ia lebih memilih tidur di sofa depan televisi maupun di kamar tamu.
"Ra." ucap Andra.
Rara hanya diam tak menyahuti suaminya.
"Kamu kok tumben nggak nyisain mas makanan di meja?" tanya Andra yang masih di ambang pintu kamar.
"Aku lagi males masak, kalo kamu laper suruh adek kamu masak atau beli aja." jawab Rara dengan suara parau tanpa menoleh ke arah suaminya.
Sebenarnya hatinya masih benar benar hancur, tapi ia mencoba tegar dengan bersikap lebih acuh pada lingkungan sekitarnya agar membuatnya tak semakin hancur.
Mendengar jawaban Rara, Andra benar benar terkejut. Baru kali ini juga Rara menyuruhnya untuk membeli makanan atau menyuruh adiknya memasak, pasalnya selama ia menikah Rara tak pernah sekalipun menjadi istri pembangkang.
"Kamu nggak mau masak buat mas?" tanya Andra lagi.
"Aku capek." ucap Rara yang masih fokus menyusun mainan ring donat bersama putri kecilnya.
"Ya udah kalo gitu, mas beli aja di luar." ucap Andra lalu menutup pintu kamar Rara.
__ADS_1
Seketika air mata Rara kembali luruh.