WANITA YANG KAU SIA-SIA

WANITA YANG KAU SIA-SIA
Chapter 13


__ADS_3

Setelah mengatur jadwal kelas diet bersama dokter Radit, Willy mengajak Rara untuk mampir di salah satu restoran yang tak jauh dari rumah Rara.


"Gimana Ra? Ganteng kan temen aku?" ucap Willy sembari mengaduk segelas jus mangga menggunakan sedotan.


"Heeemm, ganting sih." ucap Rara menyeruput jus miliknya.


"Awas, ntar suka loh kamu sama dia. Dia masih jomblo tuh!" ucap Willy tertawa.


"Ih, ngomong apaan sih kak. Ngaco banget!" ucap Rara.


"Tapi dia beneran baik banget kok Ra, dulu kak Willy pernah satu kelas sama dia di Sekolah Menengah Atas selama tiga tahun, jadi kak Willy bener bener tau dia gimana orangnya. Emang bener bener baik banget, cuman dia pendiem nggak neko neko kaya anak anak lain, introvet gitu deh dulu." jelas Willy.


"Hem, ngebaik baikin temennya." timpal Rara.


"Enggak, tau Ra. Emang Radit bener bener baik kok, siapa tau jodoh sama kamu kan juga gak tau. Haha." ucap Willy tertawa renyah.


Dreeett, dreeett, dreeett, dreeett...


Ponsel Willy yang berada di atas meja tiba tiba bergetar, layar ponselnyapun menyala karena adanya panggilan masuk.


Willy segera meraih benda pipih berbentuk persegi panjang itu, di layar terpampang nama kontak bertuliskan 'My Husband' ada tanda love merah di akhir nama yang ia sematkan.


"Hallo mas." ucap Willy setelah menekan tombol hijau.


"Hallo sayang... Gimana tadi ketemu temen kamu yang dokter itu, lancar?" tanya suara pria di seberang telepon.


"Alhamdulillah, lancar kok mas. Tapi ini masih belum pulang." jawab Willy.


"Mampir ke mana dulu, sayang?" tanya Pandu.


"Masih di restoran mas, mampir makan dulu." ucap Willy.


"Sama siapa?" tanyanya lagi.


"Ya sama adek kamu lah, mau sama siapa lagi." ucap Willy tertawa.


"Kamu di resto mana sayang? Mas ada hal yang pengen mas sampein ke Rara soalnya." ucap Pandu pada sang istri.

__ADS_1


"Oh, ya udah kalo gitu. Mas ke sini aja sekarang biar aku share lock, aku tunggu ya mas. Jangan lupa, hati hati di jalan." ucap Willy.


"Baik nyonya Pandu."


Tut!


Sambungan telepon berakhir.


"Siapa kak?" tanya Rara yang sedang memyuapi Viona.


"Itu Ra, kakak kamu. Katanya mau ke sini, ada hal yang pengen dia sampein ke kamu. ucap Willy pada adik iparnya.


"Oh.."


Rara mengangguk anggukan kepalanya.


"Udah sampai mas?" tanya Jihan pada Andra setelah mobil yang mereka kendarai berhenti di sebuah rumah mewah modern bernuansa putih yang menambah kesan elegan.


"Iya sayang, udah sampai. Ayo turun!" ucap Andra pada kekasih hatinya itu.


Batin Jihan tersenyum licik.


"Ayo masuk sayang, kok malah diem aja sih?" ucap Andra yang sudah membuka pintu rumah.


"Eh, iya mas." ucap Jihan mengikuti dari belakang.


'Waow, bener bener bagus luar dalem rumah ini gak kaleng kaleng. Berati Rara emang bener bener bukan anak orang sembarangan.' Jihan berbicara sendiri dalam hatinya.


"Bu... Ibu! Buuuu... Ibu." teriak Andra dari ruang tamu.


"Apa sih Ndra, pulang kerja malah teriak teriak." ucap bu Sarah yang baru saja keluar dari kamarnya.


"Ini bu, kenalin namanya Jihan." ucap Andra pada sang ibu yang berdiri di sampingnya.


"Hallo tante, selamat sore." ucap Jihan memgulurkan tangan pada bu Sarah.


"Iya, hallo Jihan. Wah, cantik ya ternyata kamu. Gak salah Andra kalo mileh pacar, gak kaya Rara si gendut itu." ucap bu Sarah menyambut uluran tangan Jihan sembari tersenyum ramah.

__ADS_1


"Hehe, terima kasih tante." ucap Jihan tersenyum malu malu mendengar pujian dari ibu kekasihnya itu.


"Sini, duduk dulu sini." ucap bu Sarah terlihat ramah, karena melihat gaya Jihan yang terlihat elegan.


Tak berselang lama, Pandu sudah sampai di area restoran tempat istri dan adiknya sedang makan.


"Assalamu'alaikum." ucap Pandu yang baru datang.


"Wa'alaikum salam." jawab Willy dan Rara secara bersamaan, tak lupa Willy dan Rara mencium punggun telapak tangan Pandu.


"Ih, keponakan om lagi makan ya sayang? Udah selesai belom? Kalo udah, sini ikut om yuk." ucap Pandu mengulurkan kedua tangannya ke arah sang keponakan, Viona hanya bisa tertawa terpingkal pingkal.


"Ra, ada hal penting yang mau kakak sampaiin ke kamu." ucap Pandu setelah duduk di samping Willy.


"Ada apa kak?" tanya Rara mengerutkan dahinya, pasalnya tak seperti biasanya sang kakak mengajaknya berbicara sesuatu hal tak melalui telepon.


"Ra, dengerin kakak! Kamu sekarang ikut kakak pulang ya, tinggalin Andra. Kamu bisa mulai menata hidup kamu lagi, semua bisa kamu mulai lagi dari awal. Jangan tetap bertahan berdiri di atas pecahan pecahan kaca tajam yang membuat kaki kamu terluka, hati kamu sudah cukup hancur Ra jangan terus kamu memaksakan diri untuk tetap berdiri." ucap Pandu memberi nasehat pada sang adik, setelah ia mengetahui sendiri perselingkuhan Andra dengan sekertarisnya sendiri.


"Aku baik baik aja kok kak, aku enggak apa apa." ucap Rara pelan, namun air matanya tiba tiba jatuh begitu saja saat ia mengatakan bahwa dirinya baik baik saja.


Pandu tersenyum melihat adiknya menangis, bukan tersenyum karena senang melihat adiknya menderita. Tetapi ia melihat Rara dulu adalah sosok adiknya yang manja dan selalu menangis apabila permintaannya tidak segera di penuhi, namun kini air matanya menetes saat ia berkata bahwa dirinya baik baik saja.


"Apa seseorang yang baik baik saja akan meneteskan air mata saat dia bilang dirinya tidak apa apa?" tanya Pandu menatap mata adiknya lekat.


"Huuuussssttt, jangan nangis sayang. Ada kak Willy sama mas Pandu di sini yang gak akan ngebiarin kamu terpuruk sendirian." ucap Willy memeluk tubuh Rara sembari mengelus punggungnya lembut.


"Aku harus gimana kak? Aku udah berusaha buat kuat, buat nggak nangis, buat nggak rapuh, buat nggak hancur. Tapi kenyataannya aku gak bisa, aku tetep nangis, aku tetep hancur. Hiks.. hiks.. hiks.." ucap Rara sesenggukan di pelukan kakak iparnya.


Willy terus mengelus punggung Rara agar dirknya merasa lebih tenang.


"Ma ma, angan angis." ucap Viona tiba tiba yang melihat sang mama terisak.


Rara tersenyum mendengar celotehan putri kecilnya.


"Adduuuuh, pinter banget sih ponakan om yang satu ini. Buat gemes aja deh, pengen aku makan pipi cubbinya ini." ucap Pandu mengangkat tubuh putri kecil adiknya itu dan mengayun ayunkan ke udara dengan gemas.


"Aku akan tetep bertahan di rumah neraka itu kak, aku pengen ngebales semua orang yang ada di dalem situ. Biar mereka semua ngerasain gimana sakitnya jadi aku." ucap Rara mengusap air matanya.

__ADS_1


__ADS_2