WANITA YANG KAU SIA-SIA

WANITA YANG KAU SIA-SIA
Chapter 17


__ADS_3

"Selamat pagi dokter Radit." ucap Willy yang baru saja masuk ke dalam ruangan dokter Radit bersama Rara dan juga Viona.


"Pagi apaan, ini udah mau siang tau. Ngaret mulu waktunya lu mah!" celetuk Radit setelah melihat jam tangan pada pergelangan tangan kirinya.


"He he... Ya maaf atu dit, maklum aja lah kesibukan ibu ibu anak satu mesti rempong ngurusin bayi rewel dulu. Iya kan Ra?" ucap Willy mengkode Rara dengan merngerlingkan mata kirinya.


"Oh, i iya dok. Maaf ya dokter Radit, hari pertama saya ikut kelas dokter udah telat aja." ucap Rara tersenyum meringis.


Sebenarnya Rara dan Willy sudah berangkat pagi dari rumah, namun di tengah perjalanan karena Willy belum sarapan dan Rara hanya harapan dengan roti bakar akhirnya dua wanita ini berinisiatif membelokan mobilnya ke area parkir mall. Di dalam mall, Willy sengaja mengajak adik iparnya itu untuk membeli beberapa stel pakaian agar penampilan Rara menjadi modis. Tentu Pandu akan selalu mendukung keinginan istrinya untuk merubah sang adik agar tampil lenih baik, sehingga tidak ada orang lain yang berani menginjak harga diri sang adik.


"Oh, iya engga apa apa kok Ra. Aku cuma bercanda aja sama kakak Kamu." ucap Radit tersenyum sembari menggaruk rambutnya yang tidak gatal.


Sebelum datang bertemu Rara, Willy dan Pandu sempat datang menemui dokter Radit secara pribadi. Menceritakan detail setiap kejadian tang di ceritakan Rara, itulah sebabnya ia menerima kelas khusus untuk Rara. Namun setelah Radit bertemu secara langsung dengan Rara untuk pertama kalinya, ia langsung merasa kagum pada wanita yang berusia tak jauh dari usianya itu. Melihat sorot taduh di mata Rara membuat hanyinya menghangat, bukan karena kasian saja namun ia juga kagum akan kekuatan Rara yang berusaha menutupi segala permasalahan yang ia hadapi selama ini dari keluarganya. Mungkin saja jika Willy dan Pandu tak melihat secara langsung kejadian tak sengaja sewaktu bertemu Andra di dalam mall tentu tidak ada yang tau pembajakan Rara ini gingga sekarang, sampai akhirnya Willy mendesak mendesak adik iparnya itu agar mau bercerita pada kakaknya.


"Ya udah Ra kalo gitu, sini biar Viona aku yang jaga. Kamu ikut materi penjelasan gizi dan kalori dulu bareng dokter Radit, setelah itu kamu akan di ajak ke area gym biar bisa olahraga juga tapi gak sendiri kok di dampingi sama dokter Radit langsung. Jadi gak perlu takut, bener kan Dit?" ucap Willy sembari mengangkat keponakannya dari gendongan Rara.


"Yap, bener banget Ra. Kamu tenang aja, kelas kita santai kok gak perlu tergesa tega. Dan latihan olahraga kita juga bertahap biar tubuh kamu gak kaget." ucap dokter Radit menjelaskan.


Rara mengangguk.


"Ya udah, aku tinggal dulu ya Ra. Nanti kalo udah selesai, kamu telpon kakak atau Radit aja yang telpon. Ga apa apa kan Dit?" tanya Willy.

__ADS_1


"Siap komandan, adek lo bakal aman kok sama gue." ucap Radit mengangkat tangannya di samping kepala memberi hormat pada Willy.


"Awas aja lu modusin adek gue." ucap Willy tertawa sembari menutup pintu.


"Ha ha ha ha, ya engga lah kalo di seriusin boleh kali yak. Ha ha ha..." Radit tertawa lepas, lalu Willy tersenyum sebelum akhirnya pintu benar benar tertutup.


Rara yang mendengar ucapan dokter muda dan tampan di depannya ini hanya bisa menunduk malu, pipinya sedikit bersemu merah.


"Eh, maaf ya Ra. Bercanda, biasa aku sama kakak kamu temanan juga udah lama soalnya. Mari silahkan duduk dulu, biar aku jelasin tentang diet sehat." ucap Radit mempersilahkan Rara untuk duduk di kursi depannya.


"Baik dok." ucap Rara mengangkat wajahnya menatap ke arah wajah tampan dokter Radit.


"Jangan panggil saya dokter ya Ra, panggil saya pake nama saja. Biar lebih akrab, Radit aja jangan dokter. Oke?" ucap Radit mengangkat tangan menempelkan telunjuk dam jempolnya sebagai isyarat tanda oke.


Radit hanya teryawa melihat wajah Rara salah tingkah.


Di dalam ruangannya, fikiran Andra tidak bisa konsen sama sekali saat membaca beberapa berkas yang akan ia tanda tangani. Fikirannya kini justru terfokus pada perubahan sikap Rara yang menjadi berani melawan ucapan dirinya maupun sang ibu, padahal dulu Rara adalah wanita hanya lemah dan ringkih setiap kali ia membentak dan memarahinya dengan kata kata kasar hanya air mata saja yang bisa Rara keluarkan bukan ucapan menohok pedas seperti sekarang yang selalu Rara layangnkan padanya maupun sang ibu.


"Kenapa gue jadi kangen Rara yang dulu ya? Gua ngerasa kangen Rara yang selalu nyiapin makanan di meja makan meskipun gak pernah gua sentuh sedikitpun, gue kangen dia yang selalu ketawa lepas saat Viona di depan tv, gue juga kangen lo yang selalu marah saat gue gak mau bawa bekel dari lo Ra meski ujung ujungnya pak Cholis yang makan bekel itu." ucap Radit pada dirinya sendiri sembari bersender pada kursi kerjanya, tatapannya kosong lurus ke arah kaca jendela.


"Ah! Lo apa apaan sih Ndra mikir yang macem macem, lo udah punya Jihan yang jauh lebih baik dari segi apapun dari Rara." ucapnya mengacak rambutnya kasar.

__ADS_1


Saat ini, Andra benar benar dilema dengan suasana hatinya yang tak bisa tenang karena perubahan sikap sang istri.


Ceklek!


Willy membuka pintu rumah ayah mertuanya yang selama ini telah ia tinggali bersama mertua dan suaminya, tatapan Willy tetap fokus kepada Viona sembari mengajak bayi yang baru bisa berjalan itu unruk berbicara meskipun tak jelas ucapannya.


"Loh, Willy? Kok Viona bisa ikut sama kamu?" tanya pak Sigit yang sedang bersantai membaca surat kabar di ruang keluarga itu langsung bangkit dari duduknya, karena melihat Willy menggemdong cucu kesayangannya.


"Iya yah, Rara lagi ada urusan jadi Viona Willy bawa aja kesini." ucap Willy tersenyum lalu mengangkat tubuh gadis kecil ini kepada ayah mertuanya untuk di gendong sang ayah.


"Aduh aduh cantiknya cucu opa, uluh uluh opa selalu kangen banget sama kamu sayang." ucap pak Sigit mencium gemas pipi cubby cucunya.


Viona hanya tertawa saat berada di gendongan sang kakek, sesekali ia berceloteh tak jelas.


"Rara ada urusan apa Wil?" ucap pak Sigit pada menantunya itu sembari melepas kaca mata yang ia kenakan saat membaca koran.


"Em, anu yah." ucap Willy gugup, takut yang ayah akan kaget.


"Anu apa?" pak Sigit mengerutkan dahinya.


"Rara ikut kelas program diet di tempat teman Willy, dia dokter yang menangani ahli gizi dan kecantikan." ucap Willy.

__ADS_1


"Kenapa? Kok tiba tiba Rara jadi ikut kelas kelas diet seperti itu?" tanya pak Sigit yang mulai curiga.


__ADS_2