
Semalam penuh Rara terus menangis yang membuat kedua matanya bengkak pagi ini, bukan tanpa alasan namun ia hanyalah wanita biasa seperti pada umumnya yang hancur hatinya bila mengetahui pasangan hidupnya telah menghianati dirinya terlebih kala sudah memiliki sang buah hati.
Ingin rasanya Rara pergi menghilang yang jauh untuk menghilangkan rasa sakit di dadanya bahkan untuk bernafas saja rasanya sesak sekali, namun apa boleh buat dirinya tak memiliki tabungan sama sekali. Jika Rara kembali pulang ke rumah sang ayah, ia akan lebih kasian lagi di usia senja sang ayah harus masih menanggung dirinyabdan sang putri apalagi dulu ayahmya memang menentang keras hubungan Rara dan Andra saat ingin menikah hingga akhirnya Rara berhasil mendapat restu dari ayah dan juga sang kakak.
Tok tok tok!
Suara pintu kamar Rara terketuk, hari ini ia sengaja bangun lebih siang dari biasanya karena tak ingin memasak untuk suami yang telah menghianatinya ataupun untuk ibu mertua yang tak punya cinta pada dirinya itu.
"Ra, Rara... " ucap Andra terus mengetuk ketuk pintu.
Dengan langkah gontai, Rara menuruni tempat tidur dan berjalan ke arah pintu dengan rasa yang malas. Hati hancurnya membuat modnya berubah drastis, sudah malas rasanya berbicara dengan orang lain yang tak pernah bisa di percayainya lagi.
Ceklek!
Rara membuka pintu tanpa sepatah katapun.
Andra yang melihat wajah sembab sang istripun paham jika Rara telah mengetahui perselingkuhannya dengan Jihan, tapi seketika ia berusaha menetralkan rasa gugupnya agar Rara tak curiga.
"Ra, kamu nggak masak?" ucap Andra yang berdiri tepat di depan Rara.
"Enggak, suruh ibu atau adek kamu masak. Aku bukan pembantu kamu!" ucap Rara santai dengan suara yang masih serak.
"Kok kamu ngomongnya gitu sih Ra? Kamu kan istri aku, sudah tugas kamu dong nyiapin segala hal di rumah ini." ucap Andra.
"Istri? Istri yang gak permah dapat nafkah batin? Istri yang hanya kamu nafkahin satu juta sebulan sedangkan kamu seorang direktur dengan gaji yang sangat tinggi tapi hanya bisa memberi nafkah untuk anak dan istri kamu satu juta?" tanya Rara sembari tersenyum sinis.
__ADS_1
Mendengar jawaban sang istri yang sudah mulai berani melawan, Andra membuka mata lebar lebar terkejut melihat wanita yang biasa ia bully kini berani menjawab ucapannya dengan jawaban menohok.
"Udah bener bener kelewatan kamu Ra, sejak kapan kamu jadi istri pembangkang!" ucap Andra dengan nada tinggi yang membuat Viona terbangun dari tidurnya lalu menangis.
Ia segera bergegas mendekati ranjang untuk menggendong putrinya agar tidak menangis, ia tidak ingin jika putrinya mengalami trauma di masa kecilnya jika mengetahui kedua orang tuanya bertengkar.
Andra hanya mengacak acak rambutnya kesal, semalam saat ia pulang dari kantor juga tidak ada makanan dan pagi ini pun terulang kembali.
Memang biasanya ia jarang makan di rumah, sering kali berdebat dengan Rara karena hal yang ia anggap sepele tidak mau memakan masakan yang sudah istrinya hidangkan untuknya dengan alasan muak melihat penampilannya yang gendut juga kumal.
"Gimana Ndra? Si gendut yang gak tau diri itu mogok gak mau masak lagi kaya kemaren?" tanya sang ibu setelah ia beranjak dari kamar Rara.
Andra hanya mengangguk saja, kemudian duduk di kursi lalu menuang segeles air putih saja sebelum berangkat ke kantor.
"Kakak cerain aja tuh Rara si gendut itu." ucap Lili, adik Andra.
Deg!
Diam diam Rara menguping pembicaraan antara sumai dam ibu mertuanya yang berada di meja makan itu, ia meringis memegang dadanya.
Hatinya serasa teriris saat mendengar ucapan sang ibu mertua, ternyata selama ini hanya di sendiri saja yang tidak mengetahui kebusukan suaminya itu. Bahkan ibu Andra juga mendukung penuh hubungan gelap suami dengan wanita lain yang kemarin baru ia ketahui kebenarannya, entah dosa apa yang telah ia buat sehingga mendapat kisah hidup sepilu ini.
"Enggak bu, enggak bisa kaya gitu. Semua aset rumah ini atas nama Rara bu, mobil juga atas nama Rara. Pak Sigit enggak sebodoh itu melepas anaknya dengan memberi nama penuh pada Andra bu, dan jabatan direktur Amdrapun juga karena pemberian dari ayah Rara. Bayangin seandainya ayah mertuaku itu tau jika menantunya sudah menyakiti hati putrinya, kita semua bisa jadi gembel." ucap Andra memengang sebuah gelas kaca.
Rara yang mendengar dari balik pintu kamarnya hanya bisa menggelengkan kepala sembari air matanya terus luruh, ia bersimpuh di lantai. Sedangkan putri kecilnya diam bermain di sampingnya, seolah paham jika sang ibu sedang ada masalah.
__ADS_1
"Aku akan ngebales perlakuan kamu dan keluarga kamu sama aku mas, tunggu waktu yang tepat agar aku mampu memiliki tenaga untuk melangkah keluar dari rumah ini." ucap Rara pelan menyeka air matanya.
Rara meraih ponselnya yang ada di laci meja samping tempat tidurnya, jarinya mulai berseluncur menekan aplikasi berwarna hijau lalu menghubungi kontak dengan nama 'Kak Willuuu'.
Rara menuliskan pesan singkat untuk mengajak kakaknya bertemu di sebuah restoran yang tak jauh dari rumahnya, karena ia membawa putri kecilnya yang membuatnya sedikit riweh bila berpergian terlalu jauh terlebih memakai jasa taksi onlen.
Tung!
Ponsel Willy berbunyi saat dirinya bersama suami dan ayah mertuanya sedang sarapan, ia belum membuka ponselnya. Hanya memperhatikan nama pada layar ponselnya yang bertuliskan nama Rara, kemudian menyipitkan matanya.
"Siapa?" tanya Pandu yang duduk tepat di sebalah kanannya.
"Rara, mas." ucap Willy meraih ponselnya, lalu membuka pesan dari sang adik ipar yang mengajaknya bertemu pada pukul 10 nanti.
"Rara?" tanya pak Sigit.
"Iya yah." ucap Willy tersenyum tipis.
"Ada apa Rara ngubungin kamu pagi pagi?" tanya pak Sigit pada menantunya itu.
"Biasalah yah, perempuan tuh suka saling nanyain resep masakan lewat WA. Kan jaman sekarang udah canggih, kalo nggak bisa masak tinggal buka WA aja tanya kakaknya." jawab Pandu cepat saat melihat ekspresi gugup sang istri.
"Oh, tanya resep masakan to ternyata. Ayah kira terjadi apa apa sama Rara." ucap pak Sigit tersenyum kemudian melanjutkan makan.
Willy perlahan meneletakan ponselnya pada meja makan tepat di sebelah kanan tangannya yang di layar masih tertera pesan dari Rara agar suaminya bisa membaca pesan tersebut tanpa di ketahui sang ayah mertuanya.
__ADS_1
Bukan tanpa sebab Pandu dan Willy menyembunyikan kebenaran tentang Andra, hanya saja takut jika sang ayah terkena serangan jantung.