
Pagi ini, Rara sengaja bangun lebih awal karena hari ini adalah hari pertamanya mengikuti kelas diet dokter Radit. Dokter Radit adalah dokter ahli gizi yang melanjutkan pendidikan profesi Dietisien, Pendidikan profesi Dietisien sendiri adalah suatu pendidikan khusus yang merupakan progam pendidikan lanjutan setelah Sarjana Terapan Gizi. Selain itu, dokter Radit juga merangkat profesinya sebagai dokter estetika atau bisa di sebut dokter kecantikan yang berspesialisasi dalam menjaga dan memperbaiki tampilan kulit melalui perawatan, pemberian obat dan prosedur estetika.
Itu sebabnya Willy membawa adik iparnya itu pada dokter Radit, selain temannya sendiri dokter Radit merupakan dokter paket komplit yang bisa menangani masalah Rara pada saat ini mengingat adik iparnya itu sendiri mempunyai seorang putri kecil yang bisa saja rewel ketika ia memiliki jadwal panjang dengan beda dokter.
Rara menuruni anak tangga, namun di area meja makan dan ruang keluarga masih terlihat sepi. Entah semalam suaminya menyuruh Jihan pulang atau menginap di rumah ini, yang pasti ia sudah tidak ingin ambil pusing karena tujuannya masih bertahan di rumah ini hanyalah fokus untuk balas dendam.
Rara membuka pintu kulkas besar yang ada di dalam dapur, ia mengamati bahan bahan makanan yang ada di lemari pendingin itu. Dulu lemari pendingin ini selalu penuh dengan berbagai macam sayuran, buah buahan, telur, ayam dan berbagai macam lauk lainnya saat sang ayah berkunjung ke rumah dan membawanya berbelanja ke supermarket untuk membelikan putri kesayangannya berbagai macam kebutuhan agar cucu cantiknya Viona tidak sampai kekurangan apapun.
Ia mengambil tiga lembar roti tawar, pasta coklat, keju batangan, margarin, dan juga sekaleng susu. Lalu mulai mengeksekusi semua bahan makanan itu di atas kompor.
"Lo masak apaan Ra?" ucap Lili yang tiba tiba masuk ke dapur tanpa sepengetahuan Rara, ia mencium bau
Rara hanya diam tak menjawab pertanyaan dari adik iparnya sedangkan tangannya masih fokus membolak balikan tumpukan roti , rasanya malas sekali berbincang dengannya yang ujung ujungnya sudah bisa ia tebak.
"Buatin gue sekalian dong, laper nih pagi pagi baru bangun. Hooooaaaammm..." ucap Lili memerintah Rara sembari menguap.
Rara tak menjawab ucapan Lili, ia mengangkat roti panggang yang sudah jadi ke atas sebuah piring putih.
"Heh, lo tuli ya?" ucap Lili menyenggol kaki Rara menggunakan kaki kanannya.
Rara menoleh ke samping menatap wajah adik iparnya itu.
__ADS_1
"Kamu masih punya kaki sama tangan kan? Buat aja sendiri! Tuh bahan bahannya mumpung udah aku keluarin semua." ucap Rara menunjuk bahan bahan makanan menggunakan dagunya, lalu beranjak menuju meja makan.
"Nyebelin banget sih Ra, lo sekarang!" ucap Lili menghentakan kakinya kesal.
"Belajar mandiri, toh kamu udah besar Li. Bentar lagi juga udah saatnya nikah, mau kasih makan apa suami sama anak kamu kalo kamu nggak bisa masak." ucap Rara yang mendengar Lili mengomel di dapur.
Setelah selesai makan dan mencuci piringnya, Rara bergegas kembali ke kamar untuk berganti pakaian. Hari ini, ia berencana mengenakan setelan trening hitam di padukan kaos lengan panjang berwarna putih karena dokter Radit mengajak Rara tidak hanya fokus pada gizi makanan saja namun juga harus di imbangi dengan olahraga.
"Sayang, pagi ini kamu masak apa?" ucap Andra merangkul pinggang Jihan dari belakang, mencium pelan leher Jihan bagian belakang.
"Ah, mas. Geli tau!" ucap Jihan menggeliat.
"Tapi kamu suka kan sayang?" tanya Andra yang tangannya semakin nakal merem*s payud*ra Jihan, sembari terus menjil*ti area leher kekasihnya itu yang membuat nafas Jihan semakin memberat.
"Pengen apa sih sayang?" goda Andra yang masih melakukan aktifitas yang sama.
"Ayo dong sayang, aku udah basah banget ini. Pengen ceoet cepet kamu masuk*n pake punya kamu yang gede itu." bisik Jihan lagi yang kini sudah merapatkan kedua pahanya menahan hasratnya yang sudah menggebu gebu.
"Enggak ah, nanti ibu sama Rara tau. Aku cuman iseng aja kok sayang, kamu sih s*ngean." ucap Andra menyentil hidung Jihan kemudian keluar dapur menuju kamar mandi.
"Ih, nyebelin banget sih kamu mas!" ucap Jihan seketika raut wajahnya berubah cemberut.
__ADS_1
Tak berselang lama, nasi goreng dan telur mata sapi yang di masak Jihanpun sudah terhidang rapi di atas meja makan.
"Waaaahh, pinternya calon menantuku ini. Nah, kalo cari istri tuh yang bener kaya gini dong Ndra, jangan kaya Rara yang bisanya cuman makan tidur doang gedin badan aja." ucap bu Sarah yang tak sengaja Rara dengar saat menuruni anak tangga.
"Bu." ucap Lili menyenggol lengan sang ibu ketika melihat kakak iparnya itu turun dari tangga.
"Biarin aja, biar sekalian kupingnya yang budek itu kedengeran!" ketus bu Sarah kesal.
Rara sama sekali tak menoleh ke arah meja makan, toh kata kata pedas itu bukan lagu pertama baginya karena sudah sehari harinya ia mendapat cacian itu meskipun ia sudah tulus sepenuh hati melayani keluarga ini sebelum akhirnya ia menutup mata dan telinganya rapat rapat.
Andra menoleh setelah melihat sang ibu menyindir Rara yang baru saja melewati kursi belakangnya.
"Ra, mau ke mana lagi kamu hari ini? Sekarang kok setiap hari kamu jadi keluyuran terus?" tanya Andra.
"Bukan urusan kamu." jawab Rara melanjutkan langkahnya.
Brak!!
"Heh! Kamu mau jadi perempuan apaan tiap hari keluyuran pulang malem terus kerjaan kamu!" bentak Andra sembari memukul meja makan.
Rara menoleh sembari tersenyum sinis.
__ADS_1
"Mau jadi kaya kamu!" ucap Rara mengerlingkan satu matanya.