WANITA YANG KAU SIA-SIA

WANITA YANG KAU SIA-SIA
Chapter 18


__ADS_3

"Yah, sebelumnya Willy minta maaf sama ayah. Kalau selama ini Willy dan mas Pandu nyembunyiin hal ini dari ayah, karena ini atas permintaan Rara sendiri yah." ucap Willy yang masih berdiri di sampong pak Sigit.


"Maksud kamu apa Wil? Kamu sama Pandu nyembunyiin apa dari ayah?" tanya pak Sigit.


"Ayah duduk dulu ya, biar Willy jelasin pelan pelan." ucap Willy duduk di samping ayah mertuanya.


"Sebenarnya Andra itu sudah menghianati Rara yah, Andra berselingkuh dengan seorang wanita yang kata mas Pandu wanita itu bekerja di kantor ayah. Dan juga dia bekerja sebagai sekertaris Andra, yah. Sebelum Rara tau, beberapa waktu lalu saat Willy dan mas Pandu berbelanja ke mall untuk kebutuhan acara di rumah mama. Willy sama mas Pandu melihat Andra sedang menggandeng seorang wanita yang memakai pakaian seksi yah, setelah kami ikuti ternyata itu benar benar Andra." ucap Willy menjelaskan permasalahan yang terjadi pada rumah tangga adik iparnya itu.


Pak Sigit yang mendengar jika menantunya itu telah menghianati putri kesayangannya pun langsung syok, telapak tangan kirinya memegang dadanya yang terasa sesak dan sakit mendengarnya. Sedang tangan kanannya masih memegang tubuh cucu kesayangannya yang duduk di atas paha pak Sigit.


"Maaf ya yah, dan waktu terakhir Rara ayah ajak menginap ke rumah ini. Rara baru bercerita jika ia mengetahui sendiri perselingkuhan Amdra saat ponsel Andra tertinggal di rumah pada saat berangkat berkerja, Rara juga bercerita jika selama ini dirinya hanya mendapat nafkah sebesar saty juta perbulan dari Andra. Andra menuntut uang satu juta itu untuk semua kebutuhan rumah termasuk berbelanja sehari hari dan kebutuhan Viona, itu sebabnya Rara selalu menantikan ayah untuk datang mengunjunginya. Tapi Rara tidak ingin membuat ayah sedih dan Rara juga tidak ingin merepotkan ayah, itu sebabnya Rara tidak memberitahu ayah. Dan yang perlu ayah tau, ternyata selama ini Andra dan bu Sarah selalu menganggap Rara seperti pembantu." jelas Willy mengelus pundak ayah mertuanya.


"Kenapa kamu baru bercerita sekarang Wil?" tanya pak Sigit yang sudah tak tahan membendung air matanya.


"Ayah ingat tidak? Dulu Rara bersikeras meminta restu ayah dan mas Pandu agar menyetujui dirinya menikah dengan Andra? Selain tak ingin membuat ayah sedih dan repot, itulah juga sebab Rara tidak berani bercerita pada Willy maupun mas Pandu karena merasa janjinya dulu akan hidup bahagia bersama suaminya justru berakhir mendapat penghianatan." ucap Willy menjelaskan semuanya dengan detail.


"Kenapa Andra setega itu pada putri ayah, Wil? " tanya pak Andra dengan suara parau menahan kesedihannya.


"Andra sendiri bilang kepada Rara, jika dia muak melihat tubuh Rara tak sebagus dulu dan wajah yang tak secantik dulu yah. Andra dan ibu mertuanya selalu menghina Rara seperti seekor gajah duduk, berkulit kusam, dan bertubuh besar. Itu sebabnya Willy membawa Rara pada teman Willy, seorang dokter ahli gizi sekaligus dokter kecantikan yah namanya dokter Radit." jelas Willy.


"Ayah tidak menyangka, ternyata selama ini Rara hidup menderita. Nanti kalo kamu jemput Rara, ayah mau ikut. Ayah pengen memeluk Rara, menjemputnya pulang bersama kita semua dan hidup kembali di rumah ini dengan penuh kasih sayang." ucap pak Sigit yang di angguki oleh menantunya.


"Sayang, kenapa sih seharian ini kamu lesu gitu?" tanya Jihan yang menggelendot manja duduk di pangkuan Andra.


"Engga papa sayang, mungkin mas lagi kurang enak badan aja." bohong Andra, tak ingin Jihan mengetahui jika dirinya tak bisa fokus lantaran memikirkan perubahan Rara.

__ADS_1


"Aku kan udah di rumah kamu, ya meskipun Rara taunya aku pembantu aja tapi nggak apa apa soh setidaknya bisa tinggal satu atap sama kamu. Tapi kapan kamu mau cerain Rara?" tanya Jihan manja.


"Mana bisa dalam waktu dekat ini sayang? Rara memegang semua fasilitas yang aku gunakan sekarang, rumah, mobil, jabatan. Gaji aku semua hanya buat kamu dan ibu, aku gak ada tabungan. Kalo Rara sampai menceraikan aku, jelas aku akan kehilangan jabatan yang selama ini aku duduki sayang dan tentunya gaji karyawan biasa tidak akan cukup memenuhi kebutuhan kamu." jawab Andra lemas.


"Wil, kamu mau jemput Rara?" tanya pak Sigit pada menantunya saat melihat Willy turun dari lantai atas mengenakan sweter.


"Iya yah, Vio sama ayah dulu juga engga apa apa. Nanti biar Rara ikut mampir ke sini buat jemput Viona, siapa tau Rara pengen nginep sini kan?" ucap Willy tersenyum.


Pak Sigit menggelengkan kepala pelan.


"Jangan Wil, ayah mau ikut kamu buat jemput Rara aja. Setelah itu, ayah akan pura pura mampir ke rumah Rara. Ayah pengen tau langsung perempuan yang sudah berselingkuh dengan Andra, kamu ikutlah masuk juga supaya tau gimana respon ibu Andra." ucap pak Sigit pada Willy.


"Tapi yah, nanti Rara marah. Rara nyuruh Willy buat ga kasih tau ke ayah dulu, dia gak pengen ngebuat ayah sedih." ucap Willy.


"Baiklah yah kalau begitu, Willy aja yang nyetir." ucap Willy yang kemudian di angguki oleh ayah mertuanya.


Setelah sesi kelas berakhir, Dokter Radit mengajak Rara untuk menunggu sang kakak ipar menjemputnya.


"Ra?" ucap dokter Radit yang duduk di sebuah kursi sembari menggenggam sebotol air mineral.


"Iya dok, eh iya Dit. Ada apa?" ucap Rara menoleh ke arahnya.


"Nanti jangan lupa skincare yang udah aku kasih di pake rutin ya." ucap dokter Radit menatap mata Rara teduh.


"Iya, iya siap bos." ucap Rara tersenyum.

__ADS_1


"Kamu cantik kok Ra." ucap dokter Radit tiba tiba.


"Ha?" Mendengar ucapan dokter Radit, seketika Rara menoleh ke arah seseorang yang ada di sampingnya. Saat ia menoleh pandangannya tepat seperti dokter Radit yang sedang memandang ke arahnya, mata mereka saling bertatap mata.


"Eh, enggak kok Ra. Aku cuma mau bilang, kalo kamu cantik seperti wanita wanita lain. Jangan insecure ya Ra, tetep percaya diri dan buktiin pada mereka semua kalo kamu itu bisa berubah." ucap dokter Radit.


"Mereka? Kamu tau dari mana soal masalah aku?" tanya Rara menyipitkan matanya curiga.


"Sebenernya Willy dan suaminya udah pernah dateng ke sini dan cerita semuanya, aku itu sebenernya gak buka kelas praktek pribadi kaya gini Ra. Tapi karena aku mau bantu kamu buat berubah, jadi aku nerima kelas khusus kamu aja." jelas dokter Radit.


"Heh?" lagi lagi Rara terkejut dengan pernyataan dokter Radit.


"Maaf ya Ra, aku se.."


"Ra." ucap pak Sigit membuat ucapan dokter Radit menggantung.


"Ayah?" Rara terkejut melihat sang ayah datang bersama kakak iparnya dan juga Viona putri kecilnya.


"Iya sayang, udah selesai kan kelasnya sama dokter Radit?" ucap pak Sigit tersenyum agar suasana tak canggung.


"Udah kok yah." jawab Rara.


"Terima kasih ya dokter Radit, kita belum sempat kenalan dan mengobrol panjang. Tapi kami ada acara yang mendadak, jadi kami pamit pulang dulu ya dok. Lain kali kita bisa berbincang bincang panjang lebar agar lebih mengenal lagi." ucap pak Sigit sembari tersenyum lebar menunjukan giginya yang rapi, namun mata merahnya tak bisa membohongi orang di sekitarnya jika keadaannya sedang kacau.


"Oh, iya pak. Silahkan." ucap dokter Radit menyalami pak Sigit.

__ADS_1


__ADS_2