WANITA YANG KAU SIA-SIA

WANITA YANG KAU SIA-SIA
Chapter 19


__ADS_3

"Ndra, Rara ke mana sih setiap hari keluar rumah selalu pulang malam terus?" bu Sarah bertanya pada putranya.


"Andra juga engga tau bu, dia nggak pernah pamit kaya dulu kalo mau ke mana mana." ucap Andra meraih ponsel yang ada di sofa, menyalakan layar ponsel untuk melihat jam.


"Heren deh ibu sama kamu, gimana bisa dulu kamu nikah sama perempuan gak tau diri kaya si Rara itu, apa mata kamu itu dulu udah buta?" ucap sang ibu pedas.


Deg!


Andra sedikit meringis mendengar ucapan sang ibu, entah mengapa hatinya sakit kala sang ibu mengatakan Rara perempuan tak tau diri padahal selama ini ia juga selalu mengatakan hal seperti itu kepada Rara.


"Huuuufftt... Sudah lah bu, kenapa ibu jadi berbicara seperti itu? Dulu ibu juga sangat mendukung hubungan Andra dan Rara kan, kenapa sekarang ibu jadi mengungkit ungkit semua hal yang sudah berlalu." ucap Andra mengambil nafas berat.


"Iya kan dulu karena Rara anak orang kaya raya, cantik, pinter, seorang model, dari keluarga terpandang yang bisa ngangkat kehidupan kita, mengangkat kamu ke karir yang bagus. Siapa coba yang nggak mau dapet besan konglomerat tajir melintir punya perusahaan, punya menantu yang cantik seorang model, anaknya menjadi kaya punya karir yang bagus. Siapa coba yang engga mau?" ucap bu Sarah penuh penekanan.


"Emang sekarang Rara udah jadi anak orang miskin bu? Engga kan!" Andra menimpali.


"Ya ibu tau Andra, kalo Rara emang masih anak Sigit yang kaya raya itu. Tapi ibu malu punya menantu berbadan gajah seperti dia, ibu malu setiap kali teman teman arisan ibu menanyakan Rara. Mau di taroh mana muka ibu kalo punya menantu penampilannya kaya gembel gitu." ucap bu Sarah dengan nada tinggi.


Mendengar suara Andra dan ibunya, Jihan yang sedang memasak menyiapkan makan malam segera menguping di dekat pintu dapur sembari tangannya membawa spatula pink yang biasa Rara gunakan untuk memasak.


"Sial! Gue udah capek capek masak sepulang kerja malah nenek lampir itu ngomongin Rara sialan lagi, dia bener bener ibu mertua kejam yang cuman suka manfaatin menantunya doang. Liat aja lu, kalo gue udah nikah sama anak kesayangan lo itu pasti akan gue gendang dari sini tuh nenek lampir. Biar gak ada lagi beban nenek dan anak perempuannya itu di kehidupan gue yang indah ini, dan gue akan jadi nyonya satu satunya di rumah ini setelah berhasil nyingkirin si Rara." Jihan tersenyum puas.


"Heh, kak! Ngapain kamu di nempelin telinga di tembok?" ucap Lili yang tiba tiba masuk ke dapur, membuat Jihan terkejut.


Beruntungnya ia sudah selesai memaki maki bu Sarah, dan sekali lagi ia beruntung karena adik dari kekasih hatinya itu tak mendengar apa yang sudah ia ucapkan. Kalau tidak? Harapannya menjadi nyonya di rumah ini dan menguasai segala yang Andra miliki hanya lah sia sia dan mimpi semata.

__ADS_1


"Heh, kak. Kok malah bengong sih?" ucap Lili menepuk kedua telapak tangannya tepat di depan wajah Jihan.


"Eh, anu. Iya Li, itu tadi kak Jihan kaya denger suara anaknya si Rara nangis. Makanya aku deketin tekibga ke tembok." Jihan tersenyum paksa setelah mengarang cerita.


"Oh, Rara sama anaknya lagi nggak ada di rumah dari pagi. Salah denger kali kamu." ucap Lili yang mempercayai ucapan Jihan.


"Ooo, gitu. Berati emang aku yang salah denger." timpal Jihan.


"Yoi, kamu masak apa kak?" tanya Lili mendongak ke arah wajan yang menangkring di atas kompor.


"Ikan gor.. Astaga, aku kan goreng ikan." teriak Jihan langsung mendekat pada wajan, lalu membalik dua ekor ikan gurame yang sudah gosong.


'Aduh, mampus gue! Pasti nenek lampir bakal ngomel ngomel nih.' batin Jihan, buru buru mengangkat kedua ikan tersebut menggunakan serok.


"Kenapa kamu membohongi ayah, Ra? Apa ayah dan almarhum mama kamu pernah mengajari kamu untuk berbohong?" ucap pak Sigit yang masih fokus menatap ke arah luar jendela, namun suaranya terdengar parau seperti seseorang yang menahan tangis.


Deg!


Jantung Rara berdetak kencang saat mendengar ucapan sang ayah, bagaimana mungkin sang ayah tau jika dia telah menyembunyikan masalah badai besar yang sedang menghantam rumah tangganya.


"Maksud ayah apa?" tanya Rara dengan suara bergetar.


"Sejak kapan kamu pandai berbohong?" tanya pak Sigit lagi.


"Rara engga ngerti apa yang ayah maksud." ucap Rara berusaha menutupi semuanya.

__ADS_1


"Kenapa, Ra? Kenapa anak ayah, yang ayah dan mama didik dari kecil dengan sepenuh hati sekarang menjadi seorang pembohong?" ucap pak Sigit menahan tangis.


Rara menggelengkan kepala pelan, sedangkan Willy hanya bisa diam.


"Enggak yah, Rara masih anak ayah yang baik. Rara bukan pembohong yah! Rara cuman gak pengen ayah sedih, udah cukup selama ini Rara ngerepotin ayah dan kak Pandu. Rara nggak mau ngebebanin masalah Rara, Rara udah gede yah. Rara bisa nyelesain masalah rumah tangga Rara sendiri, Rara baik baik aja." ucap Rara menundukan kepala, air matanya meluncur begitu saja tanpa bisa terbendung lagi.


"Ma ma, jangan angis ma." ucap Viona tiba tiba saat air mata Rara jatuh mengenai tangan putri kecilnya itu.


Mendengar ucapan sang cucu, Pak Sigit langsung menoleh menatap putri kesayangannya lalu memeluknya erat.


"Rara nggak apa apa yah, Rara kuat kok. Hiks Hiks." ucap Rara di iringi isak tangis yang tak bisa lagi ia sembunyikan.


Willy meminggirkan mobilnya di tepi jalan rumah Rara, tak masuk ke dalam area rumah. Menunggu suasana hati Rara dan pak Sigit agar lebih tenang, lalu mengangkat Viona untuk memangkunya di jok depan sembari memberinya ponsel agar keponakannya itu tak rewel.


"Kenapa nak? Kenapa kamu harus menyimpan semua masalah yang datang menghantam diri kamu sendirian? Ini ayah nak, bahkan ayah rela melepas sandal ayah untuk berjalan di atas serpihan kaca agar kaki putri ayah tidak terluka." ucap pak Sigit bergetar karena menangis.


Rara hanya bisa menangis sejadi jadinya di pelukan sang ayah, hatinya benar benar sakit mendengar ucapan ayahnya.


"Tidak ada nak, orang tua manapun yang rela melihat anaknya menderita. Bahkan ayah yang bekerja sebagai seorang kuli batu rela tubuhnya terpapar sinar mata hari berpuluh puluh tahun untuk menghidupi anak anaknya, orang tua rela menahan lapar karena perutnya yang kosong tanpa sebutir nasipun, agar anaknya tidak kelaparan. Bagaimana bisa ayah yang duduk santai di rumah tega melihat putri kesayangan ayah menahan lapar karena hidup bersama orang orang jahat di sekitarnya?" ucap pak Sigit lagi.


Mendengar itu, Rara semakin mengeratkan pelukannya pada sang ayah.


"Rara rindu yah, Rara rindu menjadi putri kecil ayah yang manja agar Rara tak tau pedihnya kehidupan ini." ucap Rara menangis pilu.


"Sabar nak, ayah di sini. Ayah akan selalu mendekap kamu, ayah akan menjadi garda terdepan untuk melindungi kamu dan Viona." ucap pak Sigit mengusap rambut putrinya lembut.

__ADS_1


__ADS_2