WANITA YANG KAU SIA-SIA

WANITA YANG KAU SIA-SIA
Chapter 6


__ADS_3

"Enak banget kamu yang udah lari dari pekerjaan rumah beberapa hari." ucap bu Sarah saat Rara baru saja keluar dari mobil.


Namun Rara hanya diam saja tak menjawab ucapan dari ibu mertuanya itu, ia mengambil tas di bagasi mobil lalu membawanya masuk ke kamar sembari menggendong Viona yang sedang tertidur lelap.


"Raaaa." teriak bu Sarah saat Rara baru saja melepas gendongan dan menidurkan putri kecilnya itu di kasur.


"Kenapa sih bu?" tanya Rara.


"Kenapa kenapa, tuh liat! Rumah udah kotor banget kaya kapal pecah masih bisa tanya kenapa kenapa." ucap ibu mertuanya sembari menunjuk lantai yang kotor dan beberapa bungkus snack makanan ringan yang berserakan di lantai.


Rara memelihat sekitar tampak biasa saja tanpa ekspresi, rasanya sudah hal biasa yang selalu ia lihat setiap ia baru pulang menginap sehari maupun dua hari dari rumah sang ayah.


"Cepetan dong nyapunya, jangan lupa belanja sayur dan langsung masak. Ibu sama Lili udah kelaperan banget nih." ucap bu Sarah seperti nyonya.


Andra hanya diam saja saat mendengar ibunya terus mengomel, ia masih fokus pada benda pipih berbentuk persegi empat miliknya. Tangannya dengan lihai menggeser kesana kemari asyik berseluncur di media sosial maupun aplikasi berwarna hijaunya, sesekali tersenyum sendiri saat membaca pesan singkat dari kekasih hatinya yaitu Jihan.


Sebenarnya Rara juga curiga terhadap suaminya itu, setiap kali fokus pada ponsel selalu tersenyum senyum sendiri. Namun ia tidak pernah membuka ponsel suaminya karena tak ingin melihat sesuatu hal yang bisa merobek hatinya, perlakuan Andra yang sudah mencampakan dirinya dan bentakan bentakan maupun ucapan kasar yang di terimanya sudah cukup membuat hatinya lara.


"Kamu masak apa?" ucap su Sarah saat Rara baru selesai memasak lalu menghidangkan masakannya di atas meja makan.


"Telor bumbu bali, sama cah kangkung bu." ucap Rara.


"Telor doang?" tanya ibu mertuanya lagi.


Rara mengangguk.


"Kamu ini gimana sih Ra? Kamu kan baru pulang dari rumah ayah kamu, pasti dapet uang dong dari ayah kamu yang kaya itu. Masa punya uang banyak cuman masak telor doang!" ucap bu Sarah dengan nada ketusnya.

__ADS_1


"Bu, uang dari ayah itu emang untuk Viona. Jadi sebagian Rara sisihin buat keperluan Vio, lagian mas Andra cuma kasih uang belanja Rara setiap bulan hanya satu juta saja bu." ucap Rara mengatakan apa adanya.


Mendengar ucapan sang istri, Andra langsung berdiri menghampiri Rara dan sang ibu yang berdiri di samping meja makan.


"Maksut kamu nggak cukup dengan nafkah yang aku kasih?" tanya Andra seperti tak terima dengan penuturan sang istri.


"Emang nggak cukup mas, aku udah berusaha ngatur gimana cara nyukup nyukupin uang satu juta buat semua kebutuhan rumah tapi emang kenyataannya gak cukup dan aku selalu makek uang pemberian ayah yang di kasih buat kebutuhan Viona." ucap Rara seperti mendapat dorongan mental setelah di beri nasihat oleh Willy kakak iparnya kemarin agar Rara tak selalu menjadi kalah kalahan di keluarga suaminya yang jahat itu.


"Oh, jadi kamu terang terangan bilang nafkah dari anakku nggak cukup? Jadi maksud kamu Andra ini nggak becus nafkahin anak dan istrinya?" ucap bu Sarah berusaha mengompori suasana agar semakin memanas.


"Ya kalo ibu ngerasa uang satu juta bisa buat semua kebutuhansatu rumah dalam sebulan, ya kamu kasih uang belanja aja ke ibu kamu mas. Nanti biar tetep aku yang masakin asala ibu kamu yang nyediain semua belanjaan mulai dari beras, belanja sayur yang tiap hari buat masak, sabun mandi, deterjen, dan apapun itu kebutuhan rumah lainnya yang biasa aku atur sendiri dalam sebulan. Enggak perlu beliin susu Vio dan pempersnya, cukup belanjain semua kebutuhan rumah aja. Biasanya kamu nyuruh aku buat rangkap kebutuhan rumah dan kebutuhan Viona kan? Tuh udah aku kasih pilihan enak hanya kebutuhan rumah aja loh, nggak pakek kebutuhan cucu ibu." ucap Rara tersenyum mengejek.


Entah kekuatan apa yang membuatnya bisa menuturkan semua itu dengan berani, biasanya ia hanya bisa menangis kalah tiga orang di rumah ini mengeroyoknya seorang diri.


"Waow! Berani sekali ya kamu sekarang." ucap Lili yang sedari tadi hanya diam mendengarkan perdebatan antara sang ibu, kakaknya, dan sang kakak ipar.


Andra hanya bisa diam berusaha mencerna kata kata Rara, ia masih bingung mengapa ibunya marah saat Rara menyuruhnya belanja kebutuhan rumah padahal itu tanpa ada kebutuhan Viona tak seperti yang Rara lakukan setiap bulannya sudah plus kebutuhan sang buah hati.


"Andra!" teriak bu Sarah pada anaknya saat melihat putranya tampak diam tak membelanya.


"Iya, kenapa bu?" tanya Andra.


"Kenapa? Ya kamu bela ibu dong!" ketus bu Sarah dengan wajah yang sudah mulai memerah karena tersulut emosi.


Tanpa banyak berbicara lagi, Rara segera berbalik menuju kamar. Ia tak ingin terus terusan meladeni orang orang jahat itu yang bisa membuat mentalnya rusak, kali ini ia benar benar mendengar nasihat dari kakak ipar yang sudah tulus padanya.


"Ibu kenapa sih bu terus marah marah? Bahkan Rara udah ngasih ibu tawaran yang bagus buat ngebelanjain kebutuhan satu bulan hanya kebutuhan rumah loh, tanpa kebutuhan Viona." ucap Andra pada sang ibu.

__ADS_1


Bu Sarah yang mendengar penuturan sang putra langsung menggelengkan kepala.


"Kamu kira belanja buat kebutuhan sehari hari itu murah? Mana cukup uang satu juta buat kebutuhan satu bulan Ndra? Buat belanja lauk pauk aja cuman dapet beras sama tempe tahu." ucap bu Sarah.


"Rara aja bisa bu ngejadiin satu juta buat masak daging, ayam, telor, udang, ikan." ucap Andra lagi.


"Itu karena uang dari ayahnya, coba kalo bapaknya gak kaya. Ya mana bisa kita makan masakan enak enak tiap hari." ucap bu Sarah.


"Ibu sendiri yang nyuruh Andra buat ngasih Rara cukup satu juta saja buat satu bulan." ucap Andra lalu duduk dan mulai mengambil nasi lauk kemudian memakannya.


Bu Sarah hanya bisa menghembuskan nafas kasar, lalu ikut duduk dan mulai makan.


Di lain sisi, Pandu datang ke salah satu kantor milik ayahnya yaitu tempat Andra bekerja. Ia ingin mencari tahu siapa wanita yang beberapa hari lalu sudah berkencan dengan suami adiknya itu.


"Selamat pagi pak Pandu." sapa salah security lama di kantor ini.


"Iya pak Colis, selamat pagi." ucap Pandu tersenyum ramah.


"Mau ada acara rapat ya pak Pandu? Tumben pak Pandu dateng." tanya seorang security yang bertag name Cholis itu.


Pandu hanya tersenyum tipis.


"Enggak pak, saya mau tanya sama pak Colis boleh?" ucap Pandu.


Ia berharap bisa mendapat informasi itu dari pak Cholis, pasalnya pak Cholis adalah salah satu orang orang lama di kantor ayahnya. Tentunya jika Andra memiliki kekasih yang ada di area kantor bisa sangat mudah di ketahui oleh pak Cholis yang selalu memeriksa kendaraan yang masuk maupun keluar dari gerbang kantor.


"Boleh atuh pak, mangga." ucap pak Cholis tersneyum.

__ADS_1


Kemudian Pandu langsung berbisik pada telinga pak Cholis.


__ADS_2