
Rara pergi bersama sang ayah ternyata membawa surat surat penting di dalam tasnya, tentu Rara bukan wanita bodoh yang bisa Andra manfaatkan begitu saja hanya untuk menyenangkan wanita yang tega merusak rumah tangganya.
"Yah, ini Rara titipin ke ayah." ucap Rara menyerahkan beberapa map berisi set aset penting.
"Apa kamu sudah memikirkan matang matang nak, dengan keputusan kamu?" tanya pak Sigit menatap putrinya pilu.
"Tentu yah, Rara tau jika Viona juga butuh figur seorang ayah. Tapi selama ini mas Andra tidak pernah bisa menunjukan hal itu, bahkan dia tidak pernah sekalipun menggendong Viona." jelas Rara menggenggam tangan sang ayah.
Pak Sigit hanya bisa mendunduk.
"Ayah jangan khawatir ya, Rara udah besar. Rara bisa kok jadi ibu sekaligus ayah yang baik buat putri kecil Rara, Rara bukan putri kecil ayah yang manja seperti dulu." imbuh Rara mencoba membuat pak Sigit percaya dengan langkah yang akan ia ambil.
__ADS_1
"Huuuufftt... Baikalah, lalu bagiamana langkah yang akan kamu ambil untuk saat ini nak?" pak Sigit menatap putrinya lekat lekat.
"Rara sekalian mau ijin sama ayah, rencananya Rara mau nyewa rumah di tempat temen kuliah Rara sama mau cari ruko kecil kecilan yah. Rencananya, Rara pengen buka usaha toko bakery." ucap Rara tersenyum.
Memang dulu Rara sempat mengikuti kelas memasak sebelum menikah dengan Andra, di sela sela waktu luangnya sebagai seorang model.
"Jangan, sayang. Ayah masih mampu untuk memberi kamu dan cucu ayah nafkah, kamu tidak perlu bersusah payah seperti itu. Atau kalau kamu engga mau, kamu bisa terjun ke dunia bisnis seperti kakak kamu, biar nanti ayah sampaikan ke Pandu ya nak." ucap pak Sigit mengelus rambut putrinya lembut.
"Baiklah jika itu keputusan kamu, kamu tidak perlu menyewa rumah milik teman kamu sayang. Biar ayah yang akan memgatur tempat tinggal kamu dan tempat untuk toko kue kamu, setelah itu ayah hanya akan melihat proses berkembangmu saja." pak Sigit tersenyum, meski sebenarnya ia tidak tega melihat usaha keras putrinya.
"Terima kasih ayah.. Rara sayang ayah, terima kasih sudah menjadi ayah Rara." Rara memeluk sang ayah haru.
__ADS_1
Pak Sigit mengangguk anggukan kepalanya bangga.
"Rara kapan akan mengadakan gugatan ke pengadilan nak?" tanya pak Sigit yang masih memeluk putrinya.
Rara melepas pelukan sang ayah, lalu menatap mata ayahmya lekat. Terlihat senyum ceria ayah yang dulu selalu menghiasi wajah gagahnya meskipun sudah menua, tapi kini wajah sang ayah sembab, tidak ada senyum ceria lagi di sana. Mata yang biasanya menitikan air mata karena tertawa bahagia bersama sang cucu, kini justru air mata kesedihan yang mengalirinya.
"Huuufftt... Ayah sabar dulu ya, Insyaa Allah putri ayah ini kuat kayak ayah. Dan semoga lebih kuat dari ayah! Rara masih mau bales dulu perlakuan mas Andra dan ibu mertua Rara itu yah, tapi Rara sudah ingin pindah rumah." jelas Rara.
"Aamiin... Semoga pundak putri ayah selalu di beri kekuatan lebih ya nak, inget kalo pintu rumah ayah akan selalu terbuka buat kamu dan Viona.
Rara mengangguk mantap.
__ADS_1