
"Maaf ya Ra, kak Willy telat. Tadi masih muter bentar cariin mainan buat Vio, sama ini ada sedikit camilan buat kamu." ucap Willy menenteng beberapa kantung plastik, lalu meletakan pada meja yang ada di hadapan Rara.
"Iya kak, nggak apa apa kok. Makasih ya kak buat semuanya, dan makasih udah luangin waktu untuk dateng ke sini." ucap Rara dengan mata yang masih sembab.
Willy duduk, kemudian menatap wajah adik iparnya itu sembari mengambil alih Viona dari gendongan Rara.
"Loh, Ra. Mata kamu kenapa sembab banget kaya gitu? Kamu habis nangis semaleman ya?" tanya Willy setelah mengamati wajah Rara.
Rara mengangguk, tersenyum tipis mendengar ucapan Willy.
"Kenapa, Ra? Cerita gih sama kakak." ucap Willy, tangan kirinya mengelus tangan kanan Rara.
"Mas Andra kak, dia ngehianatin aku." ucap Rara yang air matanya langsung meluncur cepat.
"Kamu tau sendiri, atau tau dari mana Ra?" ucap Willy menggigit bibir bawahnya, ia tidak menyangka secepat ini Rara tau kebusukan suaminya.
"Iya kak, aku tau sendiri mas Andra selingkuh baru kemarin saat ada panggilan masuk dari seorang perempuan waktu hpnya ketinggalan di meja makan. Saat aku baca notif di layarnya ada nama MY LOVELY lalu aku angkat tapi aku diem, ternyata perempuan itu manggil mas Andra sayang dan bilang kalau ternyata mas Amdra setiap malem selalu mampir ke rumah dia buat ngelakuin hal menjijikan." ucap Rara sesenggukan, beruntungnya masih pagi jadi suasana restoranpun masih sepi.
Mendengar cerita adik iparnya, Willy terus menggelengkan kepalanya. Ia tidak menyangka jika kelakuan Andra sudah di luar batas, bukan ganya sekedar keluar atau jalan bersama wanita yang ia temui di mall bersama suaminya waktu itu.
"Pulang yuk Ra, kembali ke rumah ayah lagi." ucap Willy memeluk Rara sembari mengusap punggung Rara lembut agar Rara lebih merasa tenang.
Rara menggeleng cepat.
"Enggak kak."
"Kenapa Ra?" Willy mengerutkan dahinya, lalu melepaskan pelukan.
"Aku nggak mau buat ayah sedih kak, udah cukup dulu aku maksa ayah dan kak Pandu buat ngerestuin hubungan aku sama mas Andra." ucap Rara menunduk.
"Ra, denger kakak! Semua orang gak ada yang tau jalan hidup ke depannya, dan semua itu udah berlalu. Gak ada juga orang yang mau pernikahannya hancur di tengah jalan." ucap Willy mencoba menasehati agar adik iparnya ini mau kembali ke rumah ayah mertuanya.
__ADS_1
Di dalam ruangannya, Andra sama sekali tidak bisa fokus dengan apa yang sedang ia kerjakan. Ia ingin segera menikahi Jihan seperti apa yang dikatakan sang ibu tadi pagi, namun tidak bisa melepaskan Rara begitu saja karena ia tidak mau mengambil resiko yang sangat besar karena jika pak Sigit tau putrinya telah ia permainkan dan juga ia sakiti pasti pak Sigit tidak tinggal diam. Dan kemungkinan besar ia akan kehilangan jabatan tinggi yang sedang sedang ia duduki, tentu saja jika bukan berkat ayah Rara ia masih seperti beberapa tahun silam yang bekerja sebagai pegawai kantor biasa dengan gaji upah minimum regional atau yang sering di sebut gaji UMR. Tapi sikap Rara mulai berubah total. mungkin karena sudah mengetahui tentang perselingkuhannya dengan Jihan.
Andra terus melamun sesekali mengusap usap wajah dan rambutnya kasar, kepalanya seka
"Tarraaaaa . . . " ucap Jihan yang tiba tiba sudah berada di samping mejanya membawa sebuah kotak berwarna orange.
"sayang? Sejak kapan kamu di sini?" ucap Andra tersadar dari lamunannya.
"Ih, kamu gimana sih mas? Aku udah bawain hadiah juga malah nanya kaya gitu, emang gak seneng aku kasih kejutan?" ucap Jihan memajukan bibirnya cemberut, tak lupa ia menyilangkan kedua tangannya dan menghentakan sebagai ekspresi bentuk kesalnya.
"Engga gitu sayang, jangan marah marah mulu dong. Entar cantiknya ilang loh!" ucap Andra beranjak berdiri lalu menyentil hidung Jihan.
"Abis kamu nyebelin banget!" ucap Jihan.
"Iya iya maaf, maaf ya sayangku. Jangan marah marah terus ya sayang, ini apa sayang?" ucap Andra mengambil kotak orenge yang telah Jihan letakan di atas meja.
"Buka dong mas." ucap Jihan manja memeluk tubuh suami Rara itu.
Tiba tiba salah satu seorang karyawan perempuan yang masuk dengan membawa sebuah map plastik berwarna biru dongker berisi dokumen itu tanpa mengetuk pintu terlebih dahulu, Andra yang terkejutpun langsung mendorong Jihan pelan.
"Maa.. Maaf pak, maaf." ucap karyawan itu bergegas ingin menutup pintu kembali.
"Eh, tunggu dulu." ucap Andra cepat.
"Ee.. Iya pak, ada yang bisa saya bantu?" ucap karyawan wanita itu menunduk sungkan dan juga takut.
"Sini dulu kamu, masuk!" perintah Andra.
"Ba.. Baik pak." jawabnya gugup.
"Kamu karyawan baru ya di sini?" tanya Amdra menyipitkan matanya.
__ADS_1
"Iya pak, saya anak magang baru di sini. Saya di suruh bu oliv untuk mengantar dokumen ini ke ruangan bapak." jawabnya masih terus menunduk.
"Hem.. Baiklah, mana dokumennya?" ucap Andra mengulurkan tangan kananya.
"Ini pak, kalau begitu saja pamit permisi dulu." jawabnya.
"Eh, tunggu!" ucap Jihan sepontan, yang sedari tadi hanya diam di belakang Andra.
"Iya bu, mohon maaf ada yang bisa saya bantu?" tanya gadis ini dengan sopan.
"Saya rasa kamu melihat saya tadi yang sedang memeluk pak Andra." ucap Jihan menatap wanita yang ada di depannya itu tajam.
"Sekali lagi, saya mohon maaf bu." ucapnya masih terus menunduk.
"Baiklah, tapi jangan sampai kamu bergosip pada siapapun di kantor ini. Jika dari karyawan lain tau dan sampai membicarakan saya maupun pak Andra, lihat saja kamu." ucap Jihan menunjuk wajah anak magang.
"Baik bu." jawabnya menganggukan kepala cepat.
Ceklek!
Rara membuka pintu rumah sembari menggendong Viona yang sedang tertidur, ia di antar pulang oleh Willy namun hanya sampai seberang jalan saja karena tak ingin ibu mertuanya yang jahat itu tau.
"Haduh haduh... Udah bangun siang, enggak masak, enggak beres beres rumah, malah kluyuran aja kerjaannya. Enggak mikir apa yang di rumah kelaperan, itu juga belanjaan kamu banyak banget udah ngabisin duit Andra berapa aja kamu? Pulang pulang langsung nyelonong main masuk rumah aja!" ucap bu Sarah berdiri di samping anak tangga sembari kedua melipat tangannya.
Rara hanya diam saja tanpa menjawab, lalu bergegas jalan melewati ibu mertuanya.
"Heh! Jangan kurang ajar ya kamu." ucap bu Sarah mencekal pergelangan tangan Rara.
"Ibu apa apaan sih bu?" ucap Rara kesal menarik tangannya dari genggaman ibu mertuanya.
"Apa apaan gimana maksud kamu? Kamu tuh mikir nggak sih Ra, yang di rumah laper, rumah kotor udah kaya kapal pecah masih bisa bilang apa apaan? Masak sana! Sini belanjaan kamu!" ucap bu Sarah menarik paksa kantung plastik besar berwarna putih yang Rara pegang.
__ADS_1
"Aku bukan babu di rumah ini, di sini ibu sama Lili cuman numpang di rumah aku. Kalo laper masak dong, dan kalo numpang itu di harap kesadarannya biar tau diri dikitlah ya buat beres beres rumah orang yang di tumpangin." ucap Rara meledek sembari menarik kembali kantung plastik itu kemudian berjalan menaiki anak tangga dengan senyum sinis menghiasi wajah ayunya.