
Ceklek!
Rara membuka pintu rumahnya, rasanya ia benar benar lelah setelah seharian berada di luar rumah. Malam ini, ia ingin segera mandi dan bersiap untuk tidur leboh awal agar besok ia bisa semangat menjalani kelas diet di hari pertamanya.
"Dari kamu, jam segini baru pulang?" ucap Andra menyilangkan kedua tangannya.
Rara tak menjawab sama sekali, ia ingin langsung menaiki anak tangga namun tangannya dicekal langsung oleh Andra.
"Kamu bisu ya? Kalo di tanya orang tu ngejawab, jangan cuman diem aja. Punya mulut emang nggak tau fungsinya?" ucap Andra.
Belum sempat menjawab pertanyaan dari sang suami, ibu mertuanya yang baru keluar dari dapur langsung angkat bicara.
"Uluh uluh uluh, istri macam apa Ndra yang kamu punya ini? Benar benar perempuan tidak tau diri, tidak becus ngerawat suami, tidak menjalankan kewajibannya ngeberesin rumah, apa lagi masak. Yang di pentingin cuman perut kendangnya sendiri yang udah mau meledak tuh, badan udah macem gajah duduk!" celetuk bu Sarah seperti biasa, sudah tak asing lagi kata kata itu di telinga Rara.
Tak berselang lama, tiba tiba Jihan keluar dapur membawa semangkuk besar soto daging yang ia masak dari tadi.
Rara yang melihat wanita asing itu bisa ada di rumahnyapun semakin terkejut, tak menyangka jika suaminya berani melangkah sejauh ini dengan berani membawa wanita selingkuhannya itu masuk ke dalam rumahnya.
"Makanannya sudah siap semua." ucap Jihan sembari tersenyum setelah menaruh mangkuk besar yang berisi soto itu pada meja makan.
Rara masih diam mengamati gerak gerik wanita yang jaraknya tak jauh dari tangga tempatnya berdiri, namun tak kaget lagi melihat wajah wanita itu karena tadi saat berada di restoran sang kakak sempat memberitahu foto foto dan juga vidio saat suaminya sedang bermesra mesraan dengan wanita itu. Tak sungkan sungkan lagi, di dalam vidio jelas nampak terlihat wanita itu menggelendot pada tubuh Andra sedangkan sang suami merangkul mersra tubuh wanita itu sembari berjalan.
__ADS_1
"Oh, iya sayang. Terima kasih, benar benar menantu idaman ibu." ucap ibu mertua Rara dengan sengaja.
"Ah, terima kasih bu. Eh, siapa ibu ibu gendut ini?" ucap Jihan yang pura pura tidak tau jika itu adalah Rara, tentu saja ia sebenarnya sudah tau kalau dinrumah ini hanya ada kekasih hatinya, adik Andra, ibu Andra, dan juga Rara beserta anaknya Viona.
"Oh, wanita gendit ini ya sayang yang kamu maksud? Dia itu istri Andra yang tidak tau diri itu, yang tadi sempat ibu ceritakan." ucap bu Sarah menunjuk Rara dengan janggutnya.
Rara masih diam tanpa kata, seakan akan sedang melihat drama nyata di dalam rumahnya.
"Ups! Maaf ya, aku sudah memanggil kamu ibu. Aku nggak tau kalo kamu istrinya mas Andra, aku kira tadi kamu pembantu baru di sini soalnya bawa anak dan tas. Kenalin, aku Jihan." ucap Jihan menutup mulutnya menggunakan tangan mengekspresikan jika dirinya terkejut lalu mengulurkan tangan ingin mengenalkan dirinya pada Rara, padahal ia memang sengaja berniat mengejek Rara.
Mendengar ucapan Jihan, Rarapun tersenyum miring seolah tertawa karena wanita yang ada di depannya mulai berani meremehkan dirinya.
"Oh, mbaknya pembantu baru ya di sini? Mulai bekerja hari ini juga ya mbak? Maaf ya, saya nggak tau kalo mbaknya baru masuk hari ini. Nama saya Rara mbak yang punya rumah ini, saya nggak tau sih kalo mas Andra lagi cari pembantu soalnya gak ngomong dulu sama saya. Tapi ya bagus deh, biar ada yang bersih bersih rumah dan masak soalnya udah kotor banget ini rumah sejak saya jarang ada di rumah. Oh iya mbak, baju baju kotor mas Andra, ibu mertua saya, dan adik ipar saya udah numpuk menggunung banyak banget jadi tolong di cuci malam ini juga ya mbak. Saya takutnya nanti orang orang tersayang saya di rumah ini tidak bisa berganti pakaian karena kehabisan pakaon bersih, ruang laundry di rumah ini ada di sebelah pintu itu ya mbak. Dan hanya saran aja mbak, kalo bisa pakek bajunya yang agak tertutup ya saya takut nanti tubuh mulus mbaknya di gigit nyamuk jadi bentol bentol merah sama satu lagi kalo kerja jangan pake high hills mbak nanti mbaknya kakinya keseleo atau kepleset kan bahaya banget mbak." ucap Rara tersenyum semanis mungkin pada Jihan, meski sebenarnya hatinya benar benar hancur karena Andra sudah berani membawa wanita ini masuk ke dalam rumahnya.
"Ra, kamu apa apaan sih?" ucap Andra tak terima karena kekasih hatinya itu di anggap sebagai pembantu oleh Rara.
"Loh, kenapa mas? Emang aku salah ya, ngomongnya? Aku cuman nasehatin dia aja kok, itu tandanya aku perduli dong sama dia. Kalo dia pake high hills terus tiba tiba kepleset atau kejengkang, gimana mas? Apa itu nggak bahaya? Iya kalo nggak terjadi apa apa, nah kalo sampek dia gagar otak atau gimana gimana kan juga bahaya." ucap Rara dengan sengaja.
"Dasar ya kamu Ra, bener bener udah kurang ajar. Udah lah Ndra, ceraiin aja dia. Biar tau rasa!" ucap sang ibu mertuanya ikut menimpali.
"Cerai? Hem, boleh sih bu. Tapi mohon maaf ya bu, berati kalian harus pergi dari rumah ini soalnya rumah ini punyaku. Aku gak mau orang lain numpang di rumahku, buat kotor mata aja soalnya." ucap Rara tersenyum meringis.
__ADS_1
"Kamu!" ucap Andra dengan tangan yang sudah melayang ke udara ingin menampar Rara, namun berhenti tepat di seblah pipi Rara lalu menurunkan tangannya dengan kasar.
"Ah!" kesal Andra.
"Kenapa mas? Kok nggak jadi nampar aku? Tampar aja dong, biar aku bisa laporin kamu atas kasus kekerasan dalam rumah tangga." ucap Rara.
"Oh iya mbak, saya habis pulang dari luar nih. Tolong buatin saya jus jeruk ya, tolong antar ke ke kamar saya. Kamar saya ada di atas, tepat di depan tangga ini." ucap Rara tersenyum pada Jihan, lalu segera berbalik badan menaiki anak tangga.
Semua orang hanya bisa diam mendengar ucapan Rara.
"Ih, nyebelin banget sih!" ucap Jihan kesal sembari menghentakan kakinya.
"Kamu yang sabar dulu ya sayang, kamu pura pura jadi pembantu aja dulu di rumah ini supaya kamu bisa tetep tinggal di sini bareng aku. Kita bisa bikah siri dulu secara diam diam tanpa sepengetahuan Rara." ucap Andra mencoba menenangkan kekasih hatinya itu.
"Iya mas." ucap Jihan menganggukan kepala meski ia kesal namun di sampingnya ada ibu Andra, jadi ia harus menjaga image agar ibu Andra tetap menerimanya dengan baik.
"Yang sabar dulu ya sayang, kamu adalah menantu idaman ibu." ucap bu Sarah mengelus punggung Jihan, sedangkan Jihan hanya mengangguk sembari tersenyum tipis.
"Ya udah, ayok buatin minun dulu buat Rara. Biar mas temenin di dapur." ucap Andra mengelus lembut rambut Jihan.
Sesampainya di dapur, Jihan menghentak hentakan kakinya kesal.
__ADS_1
"Aku tuh nggak mau ya mas di suruh jadi pembantu di rumah ini, aku tuh bukan pembantu." ucap Jihan menahan suaranya agar tak terdengar oleh adik dan ibu Ansra.
"Heiii, yang sabar dong sayang." ucap Andra mencoba menasehati Jihan yang sudah memucuk amarahnya.