
Malam ini, pak Sigit berencana ingin tidur di rumah putrinya agar Andra dan keluarganya tidak bisa berkutik . Pak sigit juga gedek melihat penampilan Jihan yang memamerkan belahan dadanya, benar benar Andra sudah di butakan oleh nafsu.
"Bu Sarah, mohon maaf sebelumnya. Malam ini saya berniat untuk menginap di rumah ini, saya rindu sama Viona yang semakin lucu dan menggemaskan. Apakah boleh, bu?" ucap pak Sigit setelah selesai makan, ia tersenyum menatap bu Sarah.
"Hah?" Semua orang yang ada di meja makan terkejud mendengar ucapan pak Sigit, termasuk Rara dan Willy karena sebelumnya sang ayah tidak mengatakan apa apa.
Sebenarnya, tanpa meminta ijinpun pak Sigit sudah tau jawaban yang akan di berikan oleh besannya itu. Bagaimana tidak? Rumah yang mereka tempati ini adalah rumah hasil pemberian darinya sewaktu putri kesayangannya itu menikah, jadi mana mungkin bu Sarah berani melarang dirinya untuk menginap di rumah yang sudah ia beli sendiri menggunakan uangnya.
"Oh, iya pak Sigit. Tentu saja sangat sangat boleh!" jawab bu Sarah gagap.
"Uhuk uhuk!" Andra tersendak mendengar jawaban sang ibu, yang ia kira akan beralasan menolak ayah mertuanya itu agar tak jadi menginap.
"Ini mas." Jihan dengan sigap mengambil segelas air putih, lalu menyodorkan pada mulut Andra.
__ADS_1
"Wah, perhatian banget sih mbak. Suka banget aku tuh Ra, sama asisten rumah tangga yang bisa care sama majiksmnya." Willy tersenyum menyindir Jihan.
Sedangkan Rara hanya tersenyum kaku, ada rasa perih di hatinya melihat Jihan terang terangan memperlihatkan kemesraan di depan matanya.
Tidak munafik, tentu Rara masih mencintai Andra. Bagaimanapun dirinya dan Andra telah berpacaran beberpaa tahun sebelum akhirnya memutuskan untuk menikah, tentu setelah pernikahan rasa sayang dan cintanya pada Andra bertambah pesat namun mungkin nasibnya tidak sebaik orang lain yang bisa saling di cintai oleh pasangannya.
"Sudah Han, sudah. Terima kasih." ucap Andra menggeser tangan Jihan karena sungkan pak Sigit menatap sinis ke arahnya.
"Loh, pak Sigit mau ke mana pagi pagi sudah rapi begini?" tanya bu Sarah yang baru keluar kamar.
"Iya bu, saya sama Rara mau keluar ada kepentingan." pak Sigit tersenyum sembari menggendong Viona.
"Oh, enggak sarapan dulu bareng kita pak?" tanya bu Sarah basa basi, meskipun bu Sarah memang mengingingkan besannya itu bisa segera pergi dari rumah ini.
__ADS_1
"Oh, tidak usah bu. Kami akan sarapan di luar saja." ucap pak Sigit.
"O begitu ya pak, ya sudah kalau begitu. Hallo Viona, cucu kesayangan nenek." ucap bu Sarah mengelus pipi Viona.
Namun Viona justru menangis saat bu Sarah memegang pipinya.
"Cup cup, sayang." pak Sigit mencium lembut dahi cucunya.
"Ayah, Rara sudah nih." ucap Rara yang baru saja menuruni anak tangga.
Penampilan Rara kini terlihat lebih modis meskipun belum banyak perubahan yang terlihat pada tubuh Rara, bu Sarah menatap penampilan Rara dari atas sampai bawah.
Sekarang jemari tangan Rara mengenakan tiga buah cincin, di lehernya juga memakai kalung, tak lupa ada sepasang anting telinganya. Sedangkan dulu sewaktu masih hidup tersiksa bersama Andra, Rara tidak pernah memakai satupun perhiasan meskipun itu sebatas anting di telingannya.
__ADS_1