
"Eh eh eh! Enak banget kamu makan ayam KFC, di makan sendiri lagi. Nggak beliin buat suami sama ibu mertuanya, dasar istri nggak tau diri!" ucap bu Sarah yang tiba tiba sudah berdiri di belakang meja makan.
Rara tidak menoleh dan tidak bergeming sedikitpun, ia malas meladeni ibu mertuanya yang hanya bisa mengajaknnya berdebat tiada henti.
Andra dan Jihan menyusul masuk menuju ruang makan sembari menenteng beberapa kantung plastik dan paper bag berwarna coklat muda, tak lupa Jihan juga tas jinjing yang bertengger pada tangan wanita jahat itu.
"Ada apa bu?" tanya Andra yang berdiri di samping sang ibu.
"Tuh! Liat aja sendiri kelakuan busuk istri kamu itu, kalo punya makanan di makan sendiri. Kok ada ya orang kaya dia itu, bisa bisanya juga aku punya menantu yang gak bener." cecar bu Sarah.
"Ya ampun, mas... Istri kamu kok jahat banget kaya gitu sih?" ucap Jihan memegang lengan Andra.
"Kamu kok kaya gitu sih Ra!" bentak Andra marah.
Rara menoleh sembari tersenyum, ia menatap Jihan sedang menggandeng lengan suaminya meskipun sebenarnya hatinya terasa nyeri tapi Rara lebih memilih untuk terlihat kuat karena tak ingin di injak injak lagi oleh orang orang yang ada di rumah ini.
"Tuh, liat! Adek kamu aku kasih makan ayam, bukan tulang." sahut Rara santai menunjuk Lili menggunakan dagunya.
Andra menatap ke arah Lili.
__ADS_1
"Yang tega itu bukan Rara, tapi ibu sama Jihan! Masa' aku di tinggal di rumah sendirian, tapi gak di tinggalin makanan sedikitpun." sahut Lili cepat.
Sekarang Andra mengalihkan pandangannya menuju Jihan.
"Kok gara gara aku sih mas?" ucap Jihan melepaskan tangannya.
"Ibu juga gitu, bilang kalo Rara nggak tau diri makan di makan sendiri. Tapi ibu lupa kalo ibu sendiri makan enak enak nggak ngajak aku! Kenapa bu? Karena aku nggak kerja? Karena aku beban keluarga? Karena aku gak bisa kasih uang banyak kaya mas Andra? Jadi ibu pilih kasih ke aku sama mas Andra." ucap Lili.
Andra menoleh cepat saat mendengar ucapan sang adik.
"Kamu ngomong apaan sih Li? Kok jadi nglantur kaya gitu?" Andra mulai marah karena adiknya berbicara seperti itu.
Rara tersenyum sembari terus menyantap potongan paha yam goreng yang masih juicy.
"Diam kamu Li!" bentak bu Sarah.
Lili langsung menaruh sendok kasar di atas meja makan, lalu beranjak pergi dari tempat duduknya.
"Heh, kamu ke mana kamu? Ibu belum selesai ngomong." teriak bu Sarah menatap putri bungnya itu.
__ADS_1
"Dan kamu juga Ra, jangan pernah ngompor ngomporin anak saya buat berani nglawan sama saya!" tunjuk bu Sarah pada Rara yang masih duduk di meja makan.
"Aku nggak pernah ngajarin Lili berani sama ibu, toh aku juga jarang ngobrol bahkan gak pernah ngobrol sama dia. Tanya aja sendiri!" sahut Rara santai.
"Ra, kamu apaan sih kaya gini? Kamu jangan berani nglawan dong sama ibu aku!" sahut Andra mencekal tangan Rara saat sang istri hendak menaruh piringnya ke dapur.
"Gini gimana maksud kamu? Oh, atau maksud kamu jangan beres beres sendiri? Oh iya, aku sampek lupa kalo sekarang udah ada pembantu di rumah ini. Jadi aku nggak perlu repot repot cuci piring kotor sendiri, maaf ya mas aku lupa. Dan mba Jihan, tolong beresin ini ya mbak." ucap Rara meletakan kembali piring kotor itu ke atas meja makan, lalu berbalik badan dan berjalan santai menaiki anak tangga.
'Sial, dasar wanita sampah. Liat aja lo, gue bakal buat perhitungan atas apa yang lo lakuin ke gue karena lo udah nganggep gue babu. Jadi lihat aja nanti, lo yang akan jadi keset kaki kotor gue' batin Jihan menggenggam tangannya erat.
"Rara! Kamu bener bener kurang ajar ya sekarang!" teriak Andra.
Namun Rara tidak memperdulikan ucapan suaminya, hatinya terasa sakit saat menyaksian suaminya menggandeng wanita lain di hadapannya.
"Kamu lihat sendiri kan, gimana busuknya kelakuan istri kamu yang gak tau diri itu!" sahut sang ibu kesal, kemudian berlalu meninggalkan Andra dan Jihan menuju kamar.
"Mas.. Ini gimana?" ucap Jihan manja menunjuk meja makan yang berantakan dengan piring kotor dan juga bungkus ayam.
"Ya udah, tolong kamu bersihin dulu ya sayang." ucal Andra mengelus rambut kekasihnya.
__ADS_1