Wujud Asli Sang Purnama

Wujud Asli Sang Purnama
Eps.10: Rasa yang Menggelegar


__ADS_3

"Terimakasih atas waktunya Bapak dan Ibu sekalian. Perkuliahan akan kita tutup sementara dan sampai jumpa minggu depan." Pria paruh baya itu pun tersenyum sambil membereskan barang bawaannya.


Perkuliahan telah usai pada minggu ini. Dan yang tersisa hanya hari-hari kerja yang membuat energi Daniah terkuras. Dia sangat merasa lelah dengan pekerjaan yang baru saja dia masuki itu. Namun, apa boleh buat dia harus mulai mencari uang untuk memenuhi kebutuhannya sendiri.


Sisa sore setelah perkuliahan Daniah habiskan bersama Rachel. Temannya yang sangat energik itu sibuk beradu nasib dengan Daniah yang baru saja menceritakan pekerjaan barunya. Ya, begitulah Rachel. Kadang saking energik nya membuat orang-orang merasa jengkel.


"Tapi kalau lu butuh bantuan buat nonjok bos lu itu panggil gue aja ya, gue selalu siap kapan pun!" Ujar Rachel penuh semangat.


Daniah hanya tertawa melihat tingkah absurd temannya itu.


"Eh, habis ini lu mau kemana? Mumpung hari minggu kita ke mall, yuk! Sekalian makan malam," ajak Rachel.


"Bagus juga ide lu! Gue juga lagi butuh healing nih. Sambil liat-liat mana tau ada yang diskon," kata Daniah.


"Ya sudah, ayok!"


Suasana di mall sangat rame di sore menjelang malam. Apalagi saat ini adalah akhir pekan. Waktu di mana para orang tua membawa anaknya untuk jalan-jalan dan juga para pasangan untuk menghabiskan waktu bersama kekasihnya sebelum besok menjadi hari sangat sibuk.


"Hum.. Sayang banget ya, Dan. Kita jomblo," ujar Rachel dengan nada sedikit kecewa.


"Eh!"


Tiba-tiba Rachel seperti teringat sesuatu. Ia pun segera menoleh ke Daniah.


"Bukan nya lu udah punya pacar ya, Dan?" Tanya Rachel seolah membuat Daniah tersentak. "Siapa sih itu?" Ujar Rachel seraya mengingat.


"Ah iya! Alderick!"


Jantung Daniah langsung berdetak ketika nama kekasihnya itu di sebut. Kekasih yang telah meninggalkannya tanpa penjelasan apa-apa. Alderick yang selalu memenuhi pikirannya.


Mata Daniah terpaku terhadap satu titik yang berjarak lima meter darinya. Pria yang baru saja di sebut namanya itu kini tiba-tiba muncul di depan matanya. 'Apakah ini halusinasi?' pikir Daniah. Tetapi pria itu terlihat nyata berdiri kaku di antara keramaian orang.

__ADS_1


"Dan, are you okay?"


Rachel melambaikan tangannya di depan wajah Daniah yang terlihat diam seperti patung. Mata gadis itu mulai berair entah karna tidak berkedip selama beberapa detik atau karna hatinya yang sedang bergejolak di dalam sana. Satu per satu butiran bening pun lolos membasahi pipinya. Dan dalam sekejab Daniah berlari memasuki kerumunan pengunjung mall.


Panggilan yang sedari tadi di suarakan oleh Rachel seolah hanya seperti angin lalu di telinga Daniah. Entah mengapa hatinya mengatakan kalau dia harus menjauh dari situasi seperti ini. Air matanya terus berurai diiringi langkahnya yang semakin cepat. Ia tidak peduli berapa bahu yang sudah ia senggol. Namun ia tidak peduli, saat ini ia hanya ingin kabur dan menjauh dari pandangan Alderick.


Karna terus berlari Daniah tidak sadar kalau nafasnya sudah sampai batasnya. Ia berhenti di balik tiang basement dengan nafasnya yang sesak.


'Sakit sekali..'


Daniah memegang dadanya yang terasa sakit. Tetapi kita tahu sakit apa yang ia maksud. Nafasnya sangat tidak teratur hingga ia sulit mengontrol nafasnya. Rasanya mau mati saja pikirnya.


Tiba-tiba sebuah tarikan pada tangannya membuat ia jatuh dalam sebuah dekapan seseorang. Dalam sekejap detak jantungnya menjadi normal dan ia merasa bisa mengatur pernafasannya.


"Tenanglah, kendalikan emosimu," ucap Alderick lembut sambil mengusap kepala Daniah.


Beberapa saat kemudian Daniah pun mendorong tubuh Alderick hingga membuat Alderick hampir kehilangan keseimbangan.


"Gue capek ngeliat tingkah lo yang mainin perasaan Gue seenaknya!"


"Gue capek mikirin lu mulu setiap saat!"


"Gue capek nungguin lu! Gue capek setiap hari nangis! Gue capek selalu sabar! Gue capek overthinking! Gue capek buatkeliatan baik-baik aja! Gue capek buat ga peduli!"


"GUE CAPEK ANJ*NG, B*NGS*T!"


"Jangan bikin gue bingung. Coba lu di posisi gue. Lu tuh seolah ga punya rasa sama gue tau lu!"


"Kalau cuma mau bikin gue sakit hati, makasih lu udah berhasil."


"CONGRATULATION!"

__ADS_1


Daniah mengacak rambutnya frustasi setelah melontarkan isi kepalanya. Dengan tangisnya yang semakin menderas dia tidak peduli bagaimana keadaan sekitarnya. Yang jelas ia merasa sedikit kelegaan.


Sedangkan Alderick berdiri terdiam menatap Daniah yang terlihat seperti orang gila. Di dalam hatinya ia menangis dan merasa kecewa pada dirinya sendiri karna telah membuat gadis yang paling ia cintai telah menderita.


'Andaikan ada kekuatan yang bisa menghilangkan cinta terhadap seseorang, akan ku hilangkan cinta Daniah kepadaku walaupun nyawaku yang akan menjadi taruhannya.'


Gadis itu terlihat sangat menyedihkan saat ini. Namun, Alderick tidak berani untuk mendekatinya. Karna ia merasa dosanya yang besar terhadap Daniah membuat ia merasa tidak pantas untuk menyentuh Daniah lagi. Jiwanya pun ikut menangis melihat gadisnya itu seperti menatap jijik ke arahnya.


"Ya sudah, kamu bilang saya ga ada rasa sama kamu. Kalau begitu kita akhiri saja hubungan kita dari pada kamu sakit hati mengira saya ga punya rasa." Kata Alderick dengan dingin.


"Ingat satu hal, jika saya ga punya rasa sama kamu mana mungkin saya rela kembali untuk kamu dan mengucapkan janji sehidup semati itu bersama kamu."


Daniah terdiam mendengar kata-kata Alderick. Dia tidak menyangka akal Alderick sependek itu hingga dia memilih untuk mengakhiri hubungan mereka. Padahal Daniah hanya ingin berkeluh kesah dan mengungkapkan isi hatinya. Bukan hal ini yang ia inginkan.


"Makasih buat hari-harinya, Daniah."


Alderick pun memutuskan untuk pergi dari sana dengan perasaan yang kacau. Di satu sisi ia tidak ingin hubungannya berakhir dan di sisi lain ia tahu kalau Daniah juga sudah tak menginginkannya.


'Apakah ini jalan yang terbaik, Ya Tuhan? Berikan aku sebuah jawaban.'


Seketika Alderick merasakan lengkungan tangan yang melingkari dadanya. Ia menghela nafas legah atas jawaban yang telah ia dapatkan. Dia pun berbalik dan memeluk gadisnya itu. Air mata bahagia pun menetes di sudut matanya.


"Saya mencintai kamu lebih dari apa pun Daniah. Tidak ada yang setara atau sebanding dengan tahtamu di hati saya." Ucap Alderick lembut di sela pelukan haru mereka.


Daniah pun mendongakan kepalanya agar menatap mata Alderick. Ia ingin menelusuri kebenaran yang di ucapkan Alderick melalui bola mata berwarna coklat yang pria itu miliki. Tidak hanya ada kebenaran, cinta yang besar pun dapat Daniah lihat di sana. Ia pun yakin hanyalah dia satu-satunya yang memiliki tahta tertinggi di hati Alderick.


"I love you Al.." tutur Daniah dengan lembut.


"I love you more Daniah."


Daniah pun menutup matanya sambil merasakan ciuman hangat yang ia dapatkan di kala senja itu.

__ADS_1


...----------------...


__ADS_2