Wujud Asli Sang Purnama

Wujud Asli Sang Purnama
Eps.9 : Alderick, Damn You!


__ADS_3

Daniah sedang menyesap minuman hangat yang baru saja ia buat. Sambil menatap ke arah jendela ia menatap pemandangan kota yang dibasahi hujan pada malam itu. Sejenak ia terpikir akan sosok kekasihnya yang telah pergi dan tidak tahu apakah ia akan kembali atau tidak.


Ada apa sebenarnya?


Pikiran buruk seketika muncul di benak Daniah. Ia mencoba menepisnya namun tak dapat ia tepis. Overthinking nya semakin menjadi ketika kata-kata Alderick berputar-putar di kepalanya.


Sakit sekali.


Itu yang di rasakan hatinya saat ini. Air mata yang sedari tadi ia bendung sekarang telah lolos membasahi pipinya. Ia terisak sambil memegang dadanya yang terasa sesak. Rasanya ia ingin menyerah dengan cintanya. Sudah tidak tahan lagi dan ingin kabur. Itulah yang saat ini ia inginkan.


Di lihatnya sosok bayangan Regan yang tengah menatapnya dengan perihatin. Walau pun ia sadar itu hanya halusinasi, namun ia tidak merasa takut. Ia hanya ingin memeluk dan mengadu kepada sosok Abangnya itu.


"Bang, Ona ga tahan lagi. Apa yang harus Ona lakukan?" Ucapnya sambil terisak.


.


.


Sebuah kecupan lembut membuat Alderick kembali ke dunia nyata. Setelah mimpi indah yang baru saja ia alami membuat ia tak ingin kembali. Kepalanya terasa begitu berat dan matanya sulit untuk di buka. Ketika ia berhasil membuka matanya hal pertama yang ia lihat adalah seorang gadis cantik yang tengah tersenyum menatapnya.


Alderick memegang kepalanya yang masih terasa sedikit pusing. Dia bangkit dari baringannya dan mengambil posisi duduk. Gadis yang di sampingnya juga ikut bangkit. Lalu gadis itu segera mengambil air putih yang ada di atas nakas.


"Minumlah, apa kamu masih pusing?" Tanya gadis itu terlihat khawatir.


Alderick meneguk air putih itu hingga tandas. Lalu ia memberikan gelas kosong itu lagi kepada Maretta. Dia melihat sekeliling dan baru tersadar kalau dia tidak berada di kamar apartemen nya, melainkan di kamar Maretta.


Alderick menoleh ke arah Maretta yang terlihat khawatir. Lalu ia mengusap wajah manis gadis itu.


"Al apa yang terjadi? Kenapa kamu ketempat seperti itu?" Tanya Maretta.


Alderick pun menarik gadis itu ke dalam dekapannya.


"Maafkan aku Milea, aku hanya sedang pusing dengan kerjaan." Jawab Alderick sambil mengusap lembut rambut Maretta.


"Benarkah? Kalau Dilan ada masalah beritahu saja aku. Milea mu akan siap membantu." Ujar gadis itu dengan ceria.


"Terimakasih, sayang." Alderick pun mengecup pucuk kepala gadis itu.

__ADS_1


Maretta selalu menjadi tempat pulang ternyaman yang di miliki oleh Alderick. Dari dulu hingga sekarang Maretta selalu ada untuk Alderick. Berbanding dengan Daniah, aura positif selalu dimiliki Alderick ketika bersama Maretta hal itu terjadi karna Maretta dapat di percaya.


Maretta merupakan gadis yang di temukan Alderick saat melakukan magang kampus. Dulu mereka hanya sebatas teman dekat yang akhirnya terasa seperti saudara. Namun karna sering bersama Maretta mulai menyukai sosok Alderick yang penyayang dan karna suatu kejadian akhirnya mereka memutuskan menikah satu bulan yang lalu.


"Sayang, mau makan sesuatu?" Tanya Maretta yang terlihat sangat imut.


"Kalau makan kamu saja boleh?" Balas Alderick dengan tatapan yang menggoda.


"Hum.. Terlalu pagi untuk makan aku, Dilan." Ujar Maretta yang sedikit malu.


"Tapi saya ingin.." Alderick memasang wajah memelas.


"No!" Tegas Maretta.


"Ayolah sayang.. " tutur Alderick sambil merabah punggung istrinya itu.


Gadis itu pun merasa tangan suaminya telah merabah area pengait armornya. Hal itu menyebabkan dirinya teransang. Ia pun mengubah posisinya mengarah ke depan Alderick dan mereka saling bertatapan.


"Alderick, damn you!" bisik Maretta lembut.


.


.


Setelah selesai melakukan olahraga pasutri mereka pun beralih ke ruang makan. Di sana sudah ada mertua Alderick yang sedang melangsungkan sarapan pagi.


Alderick dan Maretta pun segera bergabung bersama mereka untuk menyarap pengisi perut. Keluarga harmonis itu sekarang berkumpul dengan formasi lengkap.


"Selamat pagi Pa, Ma." Sapa Maretta dengan ceria kepada kedua orang tuanya.


"Selamat pagi juga, sayang" jawab sang ayah.


"Hum.. Ada yang keliatan ceria banget pagi ini. Biasanya surem kaya ga ada tanda-tanda kehidupan." Ledek sang ibu kepada putrinya yang terlihat segembira itu.


"Wajar dong, Ma. Kan suaminya udah pulang nih." Sahut Alderick menimpali.


"Oh iya ya, bang Toyib udah pulang. Lagian Bang Toyib jangan sering-sering dong perginya. Ga baik loh pengantin baru sering pisah. Ntar rumah tangganya di masuki pelakor." Mama Maretta pun terkekeh karna lawakannya yang sangat tidak lucu menurut Alderick.

__ADS_1


Seketika ekspresi Alderick berubah. Rasa takut di dalam dirinya kembali menyambar pikirannya. Dia takut jika suatu hari keluarga ini akan tahu tentang dirinya bersama Daniah. Dan yang paling ia takutkan adalah orang-orang ini akan berbuat jahat kepada Daniah.


"Mama! Jangan ngomong kaya gitu dong. Bikin bad mood Retta aja, deh." Ucap Maretta kesal.


"Iya.. Maaf sayang. Mama kan cuma bercanda. Ayo di makan makanannya nanti keburu dingin."


Mereka pun mulai menyantap sarapan yang telah di sediakan. Perbincangan hangat pun terdengar di sela suapan makanan mereka. Dan disinilah salah satu titik di mana Alderick menyukai tempat di sisi Maretta. Sejenak ia teringat keluarganya yang sudah tiada.


Setelah selesai sarapan, mereka mulai melakukan aktivitas masing-masing. Alderick dan Maretta pergi ke rumah sakit untuk melakukan pengecekan kesehatan yang rutin di lakukan Maretta setiap bulan.


Ya, Maretta memiliki sebuah penyakit yaitu diabetes millitus tipe 1. Oleh karena itu dia sering sakit jika memiliki banyak pikiran serta ini lah salah satu alasan mengapa ia selalu membutuhkan Alderick.


Alderick sangat menyayangi Maretta seperti ia menyayangi keluarganya. Namun, rasa sayang itu di anggap berbeda oleh Maretta dan hal itu membuat Alderick harus bertanggung jawab atas perasaan Maretta. Padahal di dalam lubuk hatinya masih ada seorang wanita lain yang sangat ia cintai sebagai pasangan.


Maretta tiba-tiba menggenggam tangan Alderick. Hal itu membuat Al tersadar kalau Maretta sedang resah. Ia pun membalas genggaman Maretta sambil mengusap tangan gadis itu dengan telunjuknya.


"Kamu yang tenang ya, saya yakin kamu pasti bisa sembuh." Ujar Al menyemangati Maretta.


Maretta hanya terdiam. Dia ingin sekali mendengar kabar baik dari dokter kali ini. Karna dia berharap ia bisa sembuh agar bisa menjaga Alderick setelah ini. Jika kondisinya belum normal, orang tuanya tidak akan memperbolehkan ia ikut dengan suaminya keluar kota.


Dokter pun datang dengan membawa hasil tes kesehatan Maretta. Ia pun duduk di meja kerjanya yang mana di depannya sedari tadi sudah ada dua orang yang menunggu dirinya.


"Sepertinya kondisi Maretta sudah lebih membaik." Kata Dokter seraya melihat kertas hasil tes.


Maretta pun tersenyum mendengar hal itu. "Jadi saya sudah boleh berkegiatan, Dok?"


"Bisa saja. Tetapi harus di jaga kadar gula darahnya dan juga selalu ada yang mengawasi. Jangan lupa juga untuk selalu cek kadar gula darahnya." Jelas Dokter.


"Baik, Dok. Saya akan ingat semua pesan Dokter." Ujar Alderick.


"Oh ya, satu lagi tidak boleh banyak pikiran ya, Retta."


"Baik, Dok. Akan saya ingat semuanya." Ucap Retta sangat gembira.


"Kalau begitu kami pamit dulu, Dok. Terima kasih banyak." Ujar Alderick berpamitan. Setelah itu mereka pun meninggalkan ruang Dokter tersebut.


...----------------...

__ADS_1


__ADS_2