
Daniah sangat senang bisa berbincang lagi dengan Alfy. Jika dia ingat masa remaja nya dia cukup malu karna bisa-bisanya dia menyukai Alfy yang usianya terpaut dua tahun lebih muda dari nya. Oleh karena itu dia bersusah payah menghilangkan rasa sukanya hingga ia harus menjalani hubungan toxic dengan seorang pria bernama Gevan.
Alfy membawakan Daniah sebuah hidangan paling special di cafe nya. Dia meminta pendapat Daniah tentang masakannya itu.
"Gimana menurut lu rasanya?" tanya Alfy yang tidak sabar.
Daniah menelan makanan terakhirnya. Dia terdiam beberapa detik.
"Astaga fy.. Lu dari kapan belajar masak sampai bisa masakan seenak ini? Ini beneran enak loh.." Ujar Daniah terpukau akan masakan yang di buat Alfy untuknya.
"Hehe.. Itu pakai bumbu cinta makanya enak." Goda Alfy.
Daniah pun mengangkat bahunya. "Maksud, Lo?"
"Becanda.." Alfy pun terkekeh.
Daniah dan Alfy pun terdiam selama beberapa detik. Mereka terhanyut oleh pikiran masing-masing saat itu. Namun Alfy yang peka langsung tersadar kalau temannya itu sedang ada masalah. Dia pun berinisiatif untuk bertanya.
"Lu ada masalah ya, Dan?"
Daniah pun tersentak dari lamunan nya dan langsung menoleh ke arah wajah Alfy.
"Keliatan banget, ya?" tanya Daniah kembali sambil tersenyum.
Alfy menjawab dengan anggukan serta wajah nya yang terlihat khawatir.
"Gue baik-baik aja kok, Fy. Lu ga usah khawatir." Lagi-lagi Daniah tersenyum seperti tanpa ada beban.
Alfy pun menghembuskan nafas panjang melihat senyum manis di bibir Daniah itu. Dia tahu kalau Daniah sedang menyembunyikan sesuatu. Dia pun mengerti dan mencoba mengalihkan pembicaraan.
Sudah hampir 2 jam Daniah dan Alfy mengobrol di ruangan kerja Alfy. Pengunjung di luar pun semakin ramai. Daniah pun segera berpamitan karna takut mengganggu jam kerja Alfy. Dan dia pun segera meninggalkan cafe kepunyaan teman nya tersebut.
Setelah dari cafe tersebut Daniah kembali ke apartemen milik kekasihnya. Dia berjalan melewati jalanan yang ramai itu. Dia melihat ke sekitar yang membuatnya merasa kesepian. Setelah banyak berbincang dan tertawa bersama Alfy dia merasa lengang karna pasalnya tidak ada orang yang bersamanya saat ini, tidak ada orang yang bisa di hubungi, dan bahkan calon suaminya tidak tahu kabarnya sampai detik ini.
Daniah berjalan lunglai memasuki ruangan apartemen besar yang akan segera menjadi tempat tinggalnya itu. Dia menghempaskan badannya di atas kasur yang membuatnya langsung menatap langit-langit kamar. Air mata nya perlahan keluar tanpa ia sadari. Dia merasa hampa dan kesepian.
__ADS_1
Malam pun tiba tanpa terasa, Daniah masih terbaring di tempat tidurnya. Sedari tadi ia tidak melakukan apa pun selain berbaring. Memikirkan banyak hal serta mencoba untuk menghibur dirinya sendiri.
Daniah pun bangun dan mengambil posisi duduk di atas kasur. Dia membuka ponsel nya dan lagi-lagi menelpon nomor kekasih nya yang bernama Alderick itu. Namun sama seperti sebelumnya tidak ada jawaban apa pun.
Hari berlalu begitu saja. Tanpa di sadari sudah tujuh hari sejak Daniah bersama Alderick malam itu dan sampai sekarang tidak ada kabar. Daniah sangat merasa putus asa dan mulai mengemas pakaiannya.
Kesepian.. sepi.. selalu kesepian..
Selama tujuh hari tersebut Daniah seperti manusia tak bernyawa. Dia selalu berharap ada orang yang membuka pintu apartemen dan orang itu adalah Alderick. Namun nihil, Alderick menghilang bagai di telan bumi.
Daniah merasa trauma. Hal yang ia takut kan terjadi lagi. Al tiba-tiba menghilang, meninggalkannya. Dia tidak melakukan apa-apa selama tujuh hari itu, bahkan piring sandwich dan gelas susu yang di persiapkan Alderick masih ada di sana. Bahkan ia juga tidak keluar apartemen setelah terakhir dia mengunjungi Alfy.
Setelah berkemas Daniah pun meninggalkan apartemen Alderick. Dengan berat kaki ia harus bangkit agar tidak menjadi manusia merugi. Ia pun membawa kopernya ke sebuah cafe yang terakhir kali ia kunjungi. Dan tentu saja itu adalah cafe Alfy.
Sesampainya Daniah di dalam cafe, Alfy pun langsung mendatangi Daniah yang terlihat seperti orang sakit. Wajahnya sangat pucat dan bibirnya sangat kering. Di tambah lagi dia sedang menyeret sebuah koper membuat Alfy sangat khawatir dengan kondisi temannya itu. Ia pun segera membawa Daniah ke ruangan kerjanya.
"Lu kenapa, Dan? Lu sakit?" Tanya Alfy dengan wajah sangat panik.
Daniah pun menjawab dengan gelengan.
Alfy sangat prihatin melihat kondisi gadis yang ada di hadapannya itu. Masalah besar apakah yang membuat gadis ceria ini berubah menjadi orang yang tak berdaya.
Daniah pun tiba-tiba memeluk Alfy dan menangis sejadi-jadinya. Ia menumpahkan semua emosinya itu di dalam dekapan pria yang di anggap seperti saudaranya itu.
Alfy menghela nafas panjang sambil menenangkan Daniah. Ia membiarkan gadis itu meluapkan semua emosi yang entah sejak kapan ia tahan.
Setelah beberapa menit menangis barulah Daniah sedikit tenang. Ia melepaskan pelukannya dan mengusap pipinya dengan kasar. Alfy pun mengambil tisu di atas meja dan mengusap pipi Daniah dengan lembut. Lalu ia mengambil tisu lagi dan memberikan tisu tersebut kepada Daniah.
Daniah pun segera membersihkan hidungnya yang terasa tersumbat sedari tadi. Setelah itu dia pun duduk sambil termenung.
"Gimana? Udah legah rasanya?" Ucap Alfy dengan lembut.
Daniah pun menoleh ke arah Alfy.
"It's okay lu wajar nangis selama itu depan gue. Karna gue tau lu ga punya tempat lagi buat ngadu."
__ADS_1
Mata Daniah kembali berkaca-kaca. Namun, ia segera menghapusnya.
"Gue ga enak sama lo, Fy. Kita sudah lama ga ketemu dan pas sudah ketemu gue malah gini," ungkap Daniah di sela isakannya.
"Gapapa, semua orang punya masalah, kok. Dan gue tau lu lagi rapuh. Karna kita saling menganggap saudara jadi lu bisa ngadu apa saja ke gue."
Sebenarnya Daniah sedikit ragu karna dia merasa hal ini tidak baik di ceritakan kepada Alfy. Karna ini bisa membuat pandangan Alfy terhadap Alderick akan buruk.
"Gue mau lu cerita Dan, bukan merenung."
Daniah tersentak, "Iya gue bakal cerita, tapi lu dengerin aja ya.."
Daniah pun menceritakan kronologi awal pertemuannya dengan Alderick kepada Alfy. Dia juga menceritakan bagaimana sikap Alderick yang tidak bisa di tebak secara detail. Bahkan bagaimana cara Alderick memperlakukannya dengan baik. Setelah menjelaskan masalah pertemuannya dulu dengan Alderick kepada Alfy barulah ia menceritakan pertemuan kedua mereka setelah lama terpisah. Daniah menceritakan semua kejadian hingga kejadian saat ini.
"Kurang ajar laki-laki itu! Gue ga terima ya Dan lu di mainin kaya gitu!" Tukas Alfy marah.
"Ini buka pure salah dia, Fy. Ini juga salah gue karna ga nepatin janji dia." Ujar Daniah sambil meremat gaunnya.
"Tapi itu kan karna dia menghilang, Dan. Jadi wajar lu nyari cinta baru biar lu bisa move on!"
Daniah hanya terdiam tidak bisa menanggapi Alfy yang sudah terlanjur emosi.
"Di mana alamat rumahnya?" Tanya Alfy dengan tegas.
"Jangan aneh-aneh, Fy. Gue ga mau lu dalam masalah."
"Masalah lu masalah gue juga mulai sekarang, Dan. Cepat kirim kan alamat Alderick ke gue!"
Dengan terpaksa Daniah mengirimkan alamat apartemen milik Alderick kepada Alfy.
"Lu ga usah khawatir gue ga bakal apa-apain pacar lu, kok. Gue cuma mau ngasih dia kesadaran." Kata Alfy sembari mengusap rambut Daniah.
"Janji ya.." Daniah menunjuk kan jari kelingkingnya.
"Iya janji.." Alfy pun menautkan jari kelingking nya ke jari Daniah.
__ADS_1
...----------------...