Wujud Asli Sang Purnama

Wujud Asli Sang Purnama
Eps 3 : Janji yang Terucap


__ADS_3

Jantung Daniah seketika berdegub kencang. Seperti ada ribuan kupu-kupu yang beterbangan di perutnya menimbulkan kesan yang menghangat. Dia yakin sekarang pipinya pasti sudah memerah semerah buah tomat. Kalimat yang terdengar tulus itu berhasil membuatnya ingin terbang ke langit ketujuh sana.


'Apa? Menikah?' pikir Daniah tidak percaya. Dia menatap kekasihnya yang juga sedang menatapnya. Al tidak akan sembarangan mengatakan sesuatu apalagi mengucapkan hal yang sakral seperti itu.


"Kamu ga bercanda, kan?" tanya Daniah memastikan kembali pernyataan kekasihnya itu.


"Tidak ada gurauan untuk kamu Daniah. Saya harus bertanggung jawab kepada kamu dan juga perasaan kamu terhadap saya." Jelas Alderick.


Seperti sedang bermimpi Daniah tidak ingin bangun dari tidurnya. Ucapan yang menjadi dambaan setiap wanita itu kini telah dia dapatkan dari orang yang ia harapkan. Rasa senang di dadanya pun tak dapat ia utarakan.


Daniah pun memeluk Al dengan air mata kebahagiaan yang kini membasahi pipinya.


"Makasih Al, terimakasih telah kembali kepadaku. Dan terimakasih karna masih mencintaiku. Dengan kamu yang mengucapkan janji sakral itu kepadaku, setidaknya dapat menjadi bayaran atas penantian yang ku lakukan selama ini."


Daniah terisak di bahu Al yang lebar. Alderick sangat merasa kasihan dengan gadis yang tengah menangis di pundaknya itu. Ia pun membalas pelukan gadis itu.


"Sudah-sudah." Al pun menegak kan badan Daniah. Wajah gadisnya yang di basahi oleh air mata segera ia usap dengan jemarinya. "Kamu jangan menangis lagi, ya. Air mata kamu sangat berharga sayang. Nanti kalau habis mau saya beli di mana buat kamu."


Daniah pun langsung memukul dada prianya itu setelah kalimat konyol yang terlontar dari mulut Al. "Kamu mah bercanda mulu.. Orang lagi terharu tahu!" tukas Daniah.


"Mau di seriusin?"


"Engga. Bercanda aja terus! Habis itu ngilang huft.." Daniah memalingkan wajahnya dari Alderick.


Cup!


Daniah terkaget ketika satu kecupan hangat mendarat di pipi kanan nya. Dia pun langsung memegang pipinya yang barusan di cium Al seraya menoleh ke arah pelakunya.

__ADS_1


"Kamu ya, asal nyosor saja!" ucap Daniah dengan tegas.


"Gapapa. Kan sama calon istri." Al pun tersenyum setelah kalimat yang membuat porak poranda hati Daniah itu ia lontarkan.


Daniah hanya membalas Alderick dengan mengacak rambutnya. Karna jika ia menjawab dengan kata-kata maka Alderick akan semakin menggodanya.


Setelah drama di jalan itu selesai, Alderick pun kembali mengemudikan mobilnya menuju apartemennya. Malam ini terasa sangat hangat ia rasakan karna gadis yang kini duduk di sampingnya.


...----------------...


Daniah terbangun di pagi hari ketika dia tidak merasakan sosok Alderick yang sudah tidak ada di atas tempat tidurnya. Mata gadia itu mengerjap beberapa kali mencoba menghindari silaunya cahaya matahari yang muncul menembus jendela.


Benar saja, Alderick sudah tidak ada. Bahkan tidak ada di sofa yang berada di seberang kasur. Daniah pun bangun dan berjalan keluar.


Satu tumpukan sandwich yang tertutup dengan tissue di atas piring baru saja Daniah buka. Di seberang piring ada segelas susu di dalam gelas panjang dengan sebuah memo kertas kecil yang di himpit di bawahnya.


Saya sudah siapkan sarapan untuk kamu, jadi makanlah untuk menunda rasa lapar. Saya ada urusan mendadak jadi saya harus pergi. Tidak usah menunggu karna saya tidak tahu kapan akan kembali. Tunggulah di apartemen sampai saya kembali.


-Al


Gadis itu mengangguk tanda mengiyakan. Dia pun meraih sandwich di piring lalu memakannya dengan lahap. Mungkin saja hanya urusan kerja pasti tidak akan lama, pikirnya. Setelah selesai melahap sandwich yang di buatkan Alderick, dia pun berlalu ke kamar mandi.


Setelah selesai mandi, Daniah memutuskan untuk menghubungi Alderick ketika jam makan siang datang. Sebenarnya tidak ingin mengganggunya tetapi biasanya jam segini adalah jam istirahat. Daniah pun memencet tombol hijau dikala ia sudah menemukan nomor tujuannya.


Namun anehnya sambungannya tidak terhubung dengan nomor tujuan. Dari mendengar penjelasan dari sang operator nomor tersebut tidak aktif. Daniah mencoba untuk berpikir positif, mungkin saja ada rapat atau segala macam hal yang begitu serius. Setelah itu dia pun pergi meninggalkan apartemen untuk mencari makan siang.


Daniah memasuki sebuah cafe yang tidak berada jauh dari bangunan apartemen milik Alderick. Karna bentuk desain ruangan cafe yang unik Daniah pun memilih cafe ini sebagai tempatnya untuk mengatasi rasa laparnya. Ketika hendak memesan, alangkah terkejutnya ia ketika melihat sosok laki-laki yang tengah menyajikan makanan untuk di bawa oleh waitres.

__ADS_1


"Alfy?" ucap Daniah dengan ragu-ragu.


Pria yang mungkin seorang koki itu pun menoleh ke arah Daniah. Dia sama tampak terkejutnya melihat sosok gadis yang baru saja menyebutkan namanya. Ia pun menurunkan topi kokinya dan segera menghampiri gadis itu.


"Daniah? Lu beneran Daniah, kan?" tanya Alfy tidak percaya.


"Jadi lu beneran Alfy? Wah.." Daniah pun langsung memeluk Alfy yang membuat para pekerja cafe langsung menatap mereka dengan heran. Terlihat beberapa pekerja berbisik sesama sambil memperhatikan mereka.


"Apa kabar, Dan? Eh, ayo duduk di ruangan gue aja biar bisa ngobrol lebih tenang," kata Alfy ketika mereka selesai berpelukan.


Alfy pun langsung mengajak Daniah ke ruangannya tanpa persetujuan dari Daniah. Dia pun menarik tangan Daniah yang semakin membuat para pekerja wanita di cafe sangat iri.


Sesampainya di ruangan Alfy, Daniah diminta duduk di sebuah sofa yang sudah tertata di ruangan. Daniah begitu takjub melihat dekorasi ruangan kerja Alfy yang sangat tertata rapi dan unik.


"Cafe ini punya lo?" tanya Daniah antusias.


Alfy pun tersenyum dan mengangguk, "Ya benar, inilah usaha kecil-kecilan gue."


"Pala lu kecil-kecilan. Ini tuh luas dodol!" sergah Daniah tidak terima dengan ungkapan Alfy. Pria itu pun terkekeh.


"By the way, gue tadi nanya kabar lu," ujar Alfy menatap wajah Daniah.


"Gue baik. Ya beginilah kondisi gue." Daniah pun tersenyum memperagakan kondisinya yang memakai baju kaos oblong dan celana jeans kulot sebagai bawahannya.


Alfy pun tersenyum dan mengangguk. Tidak menyangka dia akan bertemu lagi dengan Daniah, teman masa kecilnya. Sudah berapa tahun yang lalu dia putus komunikasi dengan Daniah karna Daniah yang tiba-tiba pindah satu keluarga entah kemana. Dan akhirnya Daniah sendiri yang membawa dirinya kembali ke depan Alfy.


Jujur Alfy pernah punya perasaan terhadap Daniah. Namun, itu hanya saat dia masih remaja. Alfy tahu kalau sekarang Daniah pasti sudah punya kekasih, begitu pun dengannya yang sudah beberapa kali merasakan patah hati karna permasalahan cinta. Dan sekarang Alfy sudah menganggap Daniah seperti saudaranya sendiri. Seorang Kakak perempuan yang harus ia jaga sepenuh hati.

__ADS_1


...----------------...


__ADS_2