
Daniah masih menangis di dalam pelukan Alderick yang membuat Al merasa kalau dia adalah pria yang paling jahat. Dia pun mengelus rambut Daniah dengan perasaan bersalah. Seharusnya dia tidak bertindak seperti tadi.
Namun, tidak ada kata-kata yang dapat di ucapkan saat ini. Baik Daniah maupun Alderick terhanyut ke dalam pikiran masing-masing hingga mata Daniah terpejam dan pergi ke alam tidur.
Menyadari hal itu, Alderick menatap prihatin terhadap wanitanya itu. Wanita yang selalu ada di pikirannya selama beberapa tahun belakangan ini. Wanita yang telah lama dia buat menderita karna ia tinggalkan begitu saja.
Rasa penyesalan pun muncul di dalam hati Alderick. Karna selama ini Daniah telah banyak menderita. Selain karna ulahnya sendiri, Daniah juga banyak mendapat pukulan dari orang-orang yang memanfaatkannya. Karna cinta dan perhatian Daniah yang tulus dapat membuat orang lain semena-mena terhadapnya. Dan Alderick juga salah satu dari orang-orang jahat itu.
Alderick pun mencium pucuk kepala Daniah yang kini tertidur lelap karna merasa lelah. Dia pun mengucapkan di dalam hatinya akan kembali mencoba untuk yakin kepada Daniah walau pun sebenarnya dia masih ragu terhadap gadisnya itu. Perbuatan Daniah yang dulu berkhianat terhadapnya membuat dia tidak dapat yakin seratus persen kepada gadis yang sangat dia cintai itu. Dan pikiran negatif selalu muncul di benaknya yang membuat dia takut akan kehilangan gadis yang ia cintai itu.
Alderick pun menutup matanya seraya menikmati momen ini bersama kekasihnya yang telah kembali. Kehangatan yang ia rindukan itu kini telah kembali. Hal itu membuatnya sangat merasa senang. Ia pun terbawa suasana hingga tertidur.
.
.
Beberapa jam kemudian...
Waktu tidur yang cukup lama membuat rasa lelah di tubuh Daniah sudah berkurang. Dia mendapati dirinya terbangun di ruangan yang berbeda dekorasi dari kamar miliknya. Dia pun menoleh ke arah seseorang yang kini terbaring di sampingnya. Wajah Alderick yang terlihat pulas membuatnya kembali pada kejadian beberapa jam yang lalu. Tangisannya pun pecah kembali.
Isakan Daniah pun membuat Al terbangun dari tidur nyenyaknya. Dia pun melihat gadisnya yang tengah memunggunginya dengan bahu yang naik turun. Ia pun segera memeluk gadisnya itu.
"Sudah bangun, hum?"
Daniah terkaget ketika menyadari Alderick sudah bangun. Ia pun dengan cepat-cepat menyapu air matanya.
"Maafkan saya kalau kamu masih marah sama saya," kata Alderick yang tidak kunjung mendapat respon dari Daniah.
Daniah pun membalikan tubuhnya ke arah Alderick. Mata mereka saling bertatapan dengan jarak yang sangat dekat.
"Aku memaafkan kamu. Dan aku tidak marah. Tapi Al harus berjanji jangan tinggalin Nia lagi."
Kata-kata Daniah membuat Al merasa legah. Dia pun segera memeluk Daniah kembali dan mengecup beberapa kali kening Daniah.
"Iya Al berjanji pada Nia. Makasih ya sayang."
Daniah pun tersenyum mendengar jawaban Al.
__ADS_1
Setelah menghabiskan waktu yang cukup lama di kamar, mereka pun menyadari kalau mereka belum makan dari tadi siang. Al pun mengajak Daniah untuk pergi makan di luar. Setelah Daniah selesai bersiap-siap, mereka pun segera meninggalkan apartemen milik Al dan melaju ke sebuah restoran untuk mengatasi rasa lapar mereka.
Alderick pun menarik kursi untuk Daniah duduk ketika mereka sudah mendapati meja di dalam restoran. Hal kecil yang di lakukan Alderick barusan berhasil membuat hati Daniah sangat bahagia.
"Daniah kamu pesan apa?" tanya Alderick meminta pendapat Daniah.
"Eum.. sebentar," Daniah melihat deretan menu yang tertulis di dalam buku menu. Mencoba memilih makanan apa yang dia inginkan saat ini.
"Pesto chicken baked sama orange juice."
Pelayan pun mencatat pesanan yang di sebutkan oleh Daniah.
"Baik, bagaimana dengan masnya?" tanya pelayan itu kepada Al.
"Samakan saja, Mbak." Jawab Alderick.
"Baik, dua porsi pesto chicken baked dengan dua gelas orange juice, apa ada tambahan lain?"
"Tidak ada, Mbak." Ujar Daniah.
Setelah pelayan itu pergi, Daniah pun kembali fokus kepada Alderick yang sangat terlihat tampan. Beberapa tahun tidak bertemu dengan kekasihnya membuat Daniah melihat kekasihnya itu sedikit berubah. Raut wajah Al yang semakin dewasa menambah karisma tersendiri di mata Daniah.
"Kenapa menatap saya seperti itu?" tanya Al ketika melihat Daniah yang begitu terpana menatapnya.
"Memangnya kenapa? Ngga boleh?" ujar Daniah yang bukan memberikan jawaban.
"Ngga. Soalnya saya gerogi kalau kamu tatap begitu."
Daniah pun tersenyum mendengar pernyataan menggemaskan dari kekasihnya itu.
"Aku tatap terus, ah.. Biar Al gerogi terus," kata Daniah menggoda Al.
"Jangan salahkan saya kalau saya akan menerkam kamu nanti malam!" Ancam Al kepada Daniah dengan wajah serius.
"Ga takut wlee.."
Makanan yang mereka tunggu pun datang memenuhi meja. Mereka pun mulai menyantap makanan yang baru saja di sajikan itu.
__ADS_1
"Gimana? Enak ga Al?" tanya Daniah ketika Al yang mulai mengunyah makanannya.
"Kenapa bertanya? Seperti kamu saja yang baru saja memasaknya." Jawab Al yang membuat Daniah merasa kesal.
"Tapi kan aku yang pilihkan!" Ujar Daniah kesal.
"Iya.. Iya, enak kok pilihan kamu. Jangan cemberut begitu, nanti kamu saya tinggal mau?" Kata Al ketika menyadari Daniah yang sedang kesal.
"Ish.. Bukannya ngebujuk malah ngancam. Bikin tambah kesal saja!"
Daniah pun buru-buru menghabiskan makanannya. Dia tidak lagi berceloteh selama mereka makan. Hatinya sangat marah melihat sikap Al yang terkesan dingin kepadanya. Entah kenapa Al terasa sangat berbeda dari sebelumnya. Dan pikiran negatif pun muncul di pikirannya.
Setelah selesai makan Al pun mengajak Daniah pulang. Namun di sepanjang perjalanan mereka hanya diam tanpa berbicara satu patah kata pun. Al pun mulai ikut kesal karna Daniah mendiamkannya. Ia pun menghentikan mobilnya di pinggir jalan.
"Kamu beneran mau saya tinggal?" tanya nya menatap kekasihnya yang kini menoleh ke arah jalan melalui kaca mobil.
"Engga. Tapi antarin aku ke hotel. Aku mau tinggal di hotel saja!" jawab Daniah dengan nada ketus.
"Kok, pengennya begitu? Saya cuma bercanda sayang.." Alderick pun meraih tangan Daniah dan mengelusnya. Daniah pun menoleh ke arah Alderick yang tersenyum gemas.
"Jangan di ambil hati kata-kata saya yang tadi. Saya ga akan tega ninggalin kamu, tuan putri." Al pun mencium punggung tangan Daniah yang membuat pipi Daniah memerah.
"Ihh.. apaan sih Al, ngomong udah kaya di zaman kerajaan aja." Ketus Daniah yang sebenarnya merasa senang.
"Makanya Nia jangan pasang raut muka kesel. Saya ga suka."
"Emang Al aja yang sebenarnya ga suka sama Nia, kan?" Nada kesal masih terdengar di antara kata yang di ucapkan Daniah.
"Saya sangat cinta sama kamu, semesta pun tahu itu."
Kalimat yang barusan di ucapkan Alderick mampu membuat Daniah luluh sepenuhnya. Ia pun menatap wajah kekasihnya itu lamat-lamat.
"Kalau sangat cinta buktinya apa?" tutur Daniah dengan nada melembut.
"Saya akan nikahi kamu."
...----------------...
__ADS_1