Wujud Asli Sang Purnama

Wujud Asli Sang Purnama
Eps.19: Yang Tak Pernah di Mengerti


__ADS_3

Daniah masih penasaran dengan sosok Ratu yang tidak pernah luput dari ucapan Alderick akhir-akhir ini. Entah hanya sekedar gurauan atau memang ada hal itu yang ingin di pastikan Daniah. Jika di tanyakan kepada Alderick langsung pria itu tidak akan memberikan jawaban serius. Yang ada hanya ucapan tidak jelas yang membuat Daniah cemburu.


Hari ini Alderick menemani Daniah untuk belanja bulanan. Sudah hampir satu jam mereka berkeliling super market untuk mencari barang kebutuhan mereka. Sembari berkeliling Daniah dan Alderick mengobrol tentang hal-hal biasa. Dari ekspresi pria itu dapat di simpulkan kalau dia sangat bersemangat hari ini.


Alderick mendorong troll belanja dan Daniah yang memasukan barang ke dalamnya. Mereka layaknya sepasang suami istri yang tengah memenuhi kebutuhan rumah tangga. Meski belum resmi Daniah harus belajar pikirnya.


Setelah selesai belanja, Alderick pun mengajak Daniah untuk makan siang. Salah satu cafe yang ada di dekat super market adalah tujuan mereka. Setelah sampai ke tempat itu mereka pun langsung mengambil sebuah meja.


Daniah memesan makanan untuk mereka berdua. Setelah mencatat pesanan, pelayan yang baru saja menghampiri mereka segera pergi menuju meja bar.


Tiba-tiba notifikasi ponsel Daniah berbunyi. Gadis itu pun melihat pesan yang tertera di layar ponselnya. Tentu saja itu dari teman kantor yang mulai membuat acara berkumpul lagi. Daniah pun segera menyimpan ponselnya.


"Dari siapa?" Tanya Alderick yang sedari tadi memperhatikan Daniah.


Daniah pun tersenyum kikuk lalu menjawab, "Dari teman kantor hehe.."


Alderick terlihat tidak percaya. Pasalnya gadis itu tampak tidak jujur di mata Alderick. Ia pun menjadi penasaran sebenarnya ada siapa di balik acara akhir pekan Daniah.


"Cuma di lihat?" Lanjut Alderick.


"Undangan doang. Ga perlu di balas." Ujar Daniah.


"Kamu ada undangan? Ya sudah saya nemenin Ratu saja," Ujar Alderick dengan senyum tipis di bibirnya.


Daniah sedikit kesal karna Alderick masih saja menyebutkan nama Ratu yang masih jadi misterius bagi Daniah. Siapa pun Ratu ini Daniah harap bukanlah orang ketiga dalam hubungannya seperti Alana. Mengapa bisa begitu banyak wanita yang ada di sekitar Alderick. Hal itu membuat Daniah marah dan cemburu.


"Ihh.. Pengen sama Ratu terus. Emang Ratu siapa sih?" Tanya Daniah geram.


Alderick menyantap makanan yang baru saja di antarkan oleh pelayan. Ia meminum minuman nya beberapa kali sedotan lalu kembali fokus kepada Daniah.


"Ratu itu kesayangan."


Alderick pun kembali melanjutkan kegiatan makannya.


Daniah masih menatap Alderick yang terlihat tanpa bersalah setelah mengucapkan kalimat yang berhasil membuat Daniah terbakar cemburu. Ingin rasanya ia memukul wajah Alderick yang tampak tak berdosa itu.


Daniah mulai berspekulasi yang aneh-aneh tentang Ratu. Bisa saja Ratu adalah gadis cantik yang baru-baru ini di temui Alderick dan berhasil membuat prianya jatuh cinta. Tetapi bagaimana bisa Alderick jatuh hati semudah itu? Apakah dirinya memiliki banyak kekurangan hingga tak dapat memuaskan Alderick.


"Jujur saja Ratu itu selingkuhan kamu, kan?" Tanya Daniah dengan tatapan tajam ke arah Alderick.


Pria itu masih tampak santai. Lalu menjawab, "Kalau dia selingkuhan saya kenapa saya harus kasih tahu ke kamu tentang dia."


Jawaban itu masuk akal menurut Daniah. Jika memang selingkuhan seharusnya Alderick takut untuk menceritakannya. Tetapi pria itu terlihat tenang ketika membahas tentang Ratu.


Alderick meletakan sendoknya di atas piring lalu menatap Daniah dengan tatapan serius. Lantas ia pun berkata, "Kalau kamu yang sedang selingkuh tidak usah menuduh orang lain untuk menutupi kesalahan."

__ADS_1


Daniah sedikit terkejut pendengar perkataan Alderick. Dari mana prasangka itu ia dapat sehingga gagasan yang terdengar lucu itu dapat terlontar dari mulutnya.


"Kamu jangan aneh-aneh, deh. Jelas kamu yang duluan." Daniah pun mulai menyantap makan siangnya.


Setelah kalimat terakhir Daniah tidak ada lagi pembicaraan antara mereka berdua. Hingga keluar dari cafe mereka terdiam satu sama lain. Di dalam mobil pun Daniah hanya terdiam. Dia tidak peduli kemana Alderick akan membawanya karna seperti yang ia lihat jalan yang mereka lewati bukan lah jalan ke arah pulang.


Sebuah taman di tepi Danau adalah tempat pemberhentian Alderick. Ia memarkirkan mobilnya pada tepi danau yang terlihat tenang dan indah itu. Di sisi danau terdapat bukit-bukit kecil yang berjejer di bawah langit yang tampak biru. Hal itu membuat Daniah takjub.


Daniah keluar dari mobil tanpa menunggu Alderick. Ia segera berlari ke tepi danau untuk melihat pemandangan yang membuat jiwa raganya menjadi tenang. Air danau yang berwarna kehijauan akibat lumut tergenang di depannya tanpa riak. Ada juga ikan kecil yang muncul di tepi danau menambah ke tenangan suasana tempat itu.


Alderick pun menghampiri Daniah yang tengah berdiri di tepi air. Ia pun tersenyum melihat betapa kagumnya gadis itu pada tempat ini. Lalu ia pun berdiri di samping Daniah.


"Saya yakin kamu pasti suka tempat ini," ungkap Alderick.


"Suka banget, Al." Kata Daniah sambil tersenyum.


Rasa kesal yang tadi membuncah di hati Daniah sekarang sudah menghilang sepenuhnya. Yang ada di dalam pikirannya hanya tempat indah itu dan Alderick yang ada di sampingnya.


"Lampu kuning menyala


Tak ada yg tau jika bersinar


Memancar dari ujung smpai akhir


Sabang smpai merauke


Indahnya cahaya


Lebih indah dari apapun.


Itu menurutnya.


Tak ada yg mengira


Jika kamu lebih indah.


Paling bersinar di antara yg lainnya."


Alderick mengucapkan puisinya sambil melihat ke arah danau yang tanpa riak itu. Daniah yang barusan mendengarkannya pun ikut terhanyut akan kalimat indah yang di ucapkan pria itu. Entah mengapa suasana berubah dengan begitu cepat hingga dapat mengubah perasaan yang ada di dalam dadanya.


"Akhir-akhir ini saya lebih menyukai Wilona dari pada yang lain," ungkap Alderick tiba-tiba.


Daniah yang mendengar hal itu langsung menoleh ke arah Alderick dengan tatapan bingung.


"Wilona? Itu siapa lagi?" Tanya Daniah heran.

__ADS_1


Alderick terkekeh, "Itu nama kamu, Sayang. Nama kamu Daniah Ilona Meysie, kan?" Daniah pun mengangguk. "Jadi kata Ilona saya tambahkan huruf 'W'." Tambahnya.


"Tapi kenapa?"


"Biar bagus saja."


Daniah pun tersenyum mendengar ucapan Alderick.


"Daniah, coba ceritakan kepada saya kapan terakhir kamu menangis?" Tanya Alderick tiba-tiba setelah beberapa detik terdiam.


Daniah langsung teringat kapan ia terakhir menangis, "Mungkin sekitar satu bulan yang lalu."


"Siapa yang telah membuat kamu bersedih biar saya hajar." Ujar Alderick dengan percaya diri.


Daniah pun tertawa, "Hajar saja diri sendiri."


"Maksud kamu saya yang sudah bikin kamu nangis?" Ucap Alderick tidak menyangka.


"Iya."


"Ga mungkin."


"Tapi kenyataannya gitu."


Alderick terdiam sejenak. "Hm, lain kali jangan nangis lagi ya!" Ucapnya sambil mengusap rambut Daniah.


Daniah mengangguk. Dia merasa sangat senang akan sikap Alderick yang begitu perhatian. Ia juga berharap Alderick lebih merasakan perasaan Daniah yang terdalam.


"Al mau tau kapan aku terakhir nangis?" Ujar Daniah.


"Kapan?"


"Saat kamu menceritakan kejadian putus kamu bersama Alana. Hati aku hancur banget." Daniah berhenti sejenak, "Seharusnya aku senang tapi aku malah sedih" lanjutnya.


Alderick menatap Daniah dengan prihatin. "Pasti kesayangan Al punya alasan kan?"


"Ya, aku cemburu kamu sesayang itu sama dia. Kamu bisa memperhatikan dia walau pun dia terkesan cuek sama kamu," jelas Daniah dengan wajah kesal.


Alderick pun terkekeh melihat wajah lucu Daniah ketika sedang kesal. Ia pun menangkup pipi gadis itu.


"Jadi sayangnya Al cemburu, hm?" Alderick pun menatap mata Daniah. "Sayang dengerin, itu semua hanya masa lalu dan saya sangat merasa bersalah karna memperlakukan kamu dengan tidak adil. Tetapi sekarang saya sudah berubah kan?" Alderick pun tersenyum dengan lembut. "Sekarang saya sudah tahu mana yang tulus dan mana yang tidak."


Seketika suasana menjadi berubah. Kedamaian yang tadi di rasakan Daniah berubah dengan riak asmara yang mengiringi kedamaian tersebut. Dada Daniah yang hampir meledak tak dapat membendung lagi rasa bahagianya. Kehangatan yang di berikan Alderick pada sore itu pun menjadi pengiring angin sore yang dapat mengatasi segala kerinduan itu.


Alderick ku telah kembali..

__ADS_1


...----------------...


__ADS_2