
Apakah kamu tahu fase awal dalam menjalani hubungan? Ya, itu adalah dimana fase kita masih saling mengenal satu sama lain. Namun, kesalahan saat fase itu adalah orang-orang tidak menunjukan sifat aslinya. Mereka berpura-pura agar bisa di terima oleh orang yang di incarnya. Dan pada akhirnya akan berakibat fatal saat waktu mulai memakan waktu untuk bersama.
Hujan yang sangat lebat membasahi seluruh kota pada sore itu. Bahkan rintik air tersebut dapat membuat segala aktivitas dapat berhenti. Begitu pun Alderick yang kini sedang menatap pemandangan kota yang basah melalu jendela ruang kerjanya.
Bagaimana bisa hujan tidak mendapatkan hukuman setelah ia membuat sebuah kesalahan? Tidak ada yang membenci hujan. Bahkan mereka bersyukur ketika hujan turun
Terkadang Alderick juga ingin seperti hujan yang bisa turun semaunya tanpa ada orang yang bisa menghukumnya. Ia ingin hidupnya lancarnya layaknya hujan yang mulus turun ke bumi.
Tut.. Tut..
Dering telfon membuat lamunan Alderick seketika buyar. Ia segera merogoh kantong jas nya dan mengambil benda elektronik itu dari sana.
"Halo?" Sapa Alderick.
"Kamu kemana saja? Kenapa tidak membalas chat aku?" Ujar Daniah dari seberang sana.
"Benarkah?"
"Iya, coba lihat ponsel kamu."
Alderick pun melihat ponselnya. Disana terdapat satu bubble chat dari Daniah yang menanyakan kapan dia akan pulang.
"Satu doang," ucap Alderick. "Di sini hujan, jadi kalau tidak penting saya tidak melihat ponsel," lanjutnya.
"Hm.. Apalah daya yang dianggap tidak penting," cemooh Daniah.
"Kamu salah paham. Gini ya, kita sama-sama sibuk jadi jarang komunikasi lewat ponsel. Jadinya saya terbiasa." Jelas Alderick.
"Kalau kamu luangin waktu sering-sering buat ngehubungi saya, saya pasti akan fast respon." Sambung Alderick.
'Seperti anak kecil' kata Daniah dalam hati. "Iya, Nia bakal sering luangin waktu buat Al. Apa yang ga buat Al," ucap Daniah ceria.
Alderick tersenyum. "Ya sudah, sebentar lagi saya akan pulang. Tunggu saja di rumah." Alderick pun langsung memutuskan sambungan telepon tanpa menunggu respon dari Daniah.
Sedangkan si penelpon ingin mengumpat di seberang sana karna kesal melihat sikap Alderick yang sok dingin dan cuek.
Beberapa jam kemudian, Alderick pun sampai di apartemennya. Di dalam sana dia sudah melihat Daniah yang sudah berdandan rapi. Gadis itu sangat cantik hingga membuat Alderick hilang kesadaran selama beberapa detik.
"Kamu cantik sekali mau kemana?" Tanya Alderick penasaran.
"Mau meluangkan waktu buat, Al. Ayo kita pergi keluar!" Ajak Daniah sambil tersenyum.
Alderick tersenyum. Ia sangat senang ketika gadisnya itu memiliki inisiatif untuk membawanya pergi jalan-jalan.
Daniah pun mendekati Al lalu menggandeng tangannya. "Ayo cepat Al nanti keburu larut."
"Masih senja, Sayang."
__ADS_1
"Pokoknya ayo!" Daniah pun menarik tangan Al keluar dari apartemen.
.
Suara deruhan ombak membuat pantai yang sangat sunyi itu menjadi ramai. Suara kapal yang satu per satu berlabuh pun mulai perlahan menghilang.
Apakah Alderick ingat kalau di sini mereka pertama kali bertemu? Daniah sangat ingat hari itu. Seorang pria dengan tali kamera yang tergantung di leher. Ia yang begitu hangat dan ceria. Selalu menebar senyum kemana-mana. Tapi entah mengapa semua itu hilang. Sekarang yang tersisa hanyalah sikap dingin yang membuat hati Daniah ikut terasa beku.
Daniah meraih tangan Al lalu menggenggamnya. Lalu, mereka berjalan menikmati suasana pantai sambil mengingat masa lalu di pikiran mereka masing-masing.
Alderick ternyata masih ingat hari di mana ia melihat gadis cantik yang tengah menangis di kala senja. Entah mengapa ia bisa duduk hampir 2 jam di tepi pantai tanpa sadar ia tengah di awasi oleh seseorang.
Awalnya Alderick ingin menghampiri Daniah, namun ia tidak ingin mengganggu renungan gadis itu. Tampak Daniah sangat bersedih kala itu. Dan pada akhirnya ia di jemput oleh Razka, mantan pacar yang di cintai Daniah saat itu.
Setelah beberapa menit berjalan, akhirnya mereka memutuskan untuk duduk di atas pasir tepi pantai. Sambil menatap bulan purnama yang kini tengah menyinari langit malam.
Daniah menatap wajah Al yang di terpa cahaya bulan. Wajah yang terlihat teduh itu seperti memiliki banyak pikiran. Daniah tahu Al pasti memikirkan sesuatu.
"Ada apa, Al?" Tanya Daniah penasaran.
"Kamu lihat bulan purnama itu, bukan kah sangat indah?" Ujar Al balik bertanya.
Daniah kembali menatap bulan itu, lalu tersenyum.
"Ya, dia sangat indah seperti kamu." Kata Daniah.
Alderick ikut tersenyum. "Tapi apakah kamu sadar kalau jika kamu lihat lebih dekat kamu akan melihat sisi tidak sempurna dari bulan itu."
Alderick mengeluarkan ponsel dari saku jas nya dan menatap layar datar itu selama beberapa detik.
"Masih ingat dulu?" Tanya Al yang masih menatap layar ponselnya.
"Yang mana?" Ujar Daniah bingung.
Alderick memperlihatkan layar ponselnya kepada Daniah. Di sana sudah terpampang foto lama Daniah bersama Razka. Daniah sedikit terkejut ketika melihat foto itu. Ia tidak menyangka kalau Alderick memiliki foto itu.
"Ini alasan kenapa sikap saya seperti ini. Jadi jangan salahkan saya kalau rasa saya tidak seperti dulu."
Foto tersebut merupakan foto ketika Daniah hampir balikan bersama Razka. Kejadian itu saat Alderick baru saja meninggalkan Daniah. Dalam penantian itu Daniah bukan bermaksud untuk berpaling. Hanya saja saat itu ia mencoba berteman baik dan mencoba menolong Razka yang kala itu di landa masalah.
"Aku saja sudah ga punya, kok Al bisa punya?" Tanya Daniah.
"Bukti tidak akan pernah hilang." Ujar Al dengan dingin.
Di satu sisi Daniah baru sadar ternyata semua yang di katakan Ken adalah benar bahwa Alderick selalu memantaunya dari kejauhan. Namun, di sisi lain dia sedikit kecewa karna kesalah pahaman ini membuat sikap Alderick berubah.
"Kalau saya yang seperti itu apa kamu akan cemburu juga?" Tanya Al.
__ADS_1
Pertanyaan itu sedikit membuat Daniah kesal. Pasalnya pada waktu yang bersamaan saat itu Alderick juga sedang bersama wanita lain. Dan hal itulah yang membuat Daniah sangat sedih.
"Kamu lupa ya kalau kamu juga punya foto yang seperti itu sama Alana? Bahkan waktu itu kamu sematkan di postingan instagram kamu." Jelas Daniah tidak terima kalau hanya dia yang di salahkan.
"Kalau di tanya cemburu, aku sangat cemburu saat itu. Tetapi hal itu tidak mengubah rasa sayangku sama kamu, Al."
"Alana? Kamu tahu dari mana tentang saya sama Alana? Saya bersama Alana saat kamu masih sama Razka. Jadi ini bukan salah saya." Kata Alderick membela dirinya.
"Aku tahu kamu pacaran sama dia waktu itu. Kamu selalu berbagi foto romantis sama dia. Itu bikin aku sakit hati tau ga!" Suara Daniah mulai naik satu oktaf.
"Saya sama dia pas kamu masih sama Razka! Kamu pasti masih ingat kan?" Alderick pun mulai terbawa emosi.
"Engga tuh. Aku kenal sama Al pas aku udah putus sama Razka. Kamu duluan yang berbuat seperti itu makanya aku mau mundur dan mencoba balikan sama Razka. Tetapi Razka malah marah ketika aku ngajak dia balikan. Karna dia tahu orang yang aku cintai saat itu adalah kamu." Jelas Daniah panjang lebar.
"Memangnya kamu ingat tanggal berapa kamu kenal saya? Kamu ingat kapan kamu putus sama Razka?"
"Ingat, aku sama Razka putus tgl 26 Februari."
"Dan pas itu saya jadian sama Alana." Timpal Alderick.
Daniah merasa lelah dengan perdebatan yang tiap hari ia lakukan dengan Alderick. Hal itu hanya bisa menghabiskan energinya. Kadang ia berpikir kapan perdebatan ini akan berakhir.
"Al tidak usah berbohong. Bahkan mungkin sekarang kamu masih berhubungan dengannya. Aku memang tidak punya bukti, tetapi yang terpenting sekarang adalah Al ada terus buat Nia, itu sudah cukup untuk Nia." Ujar Daniah dengan nada lembut.
"Kamu perlu bukti?" Alderick masih tidak ingin mengakhiri perdebatannya. Ia pun memperlihatkan isi chat terakhirnya bersama Alana yang masih ia simpan.
Daniah mulai menangis. Hatinya merasa remuk ketika melihat deretan chat begitu manis yang di kirim oleh kekasihnya sendiri. Walau pun itu sudah lama namun fakta bahwa Alderick tidak menghapusnya membuat Daniah sadar bahwa Al masih mencintai Alana. Apalagi ia melihat betapa Al begitu menjaga perasaan Alana saat itu. Berbeda dengannya yang selalu di sakiti hatinya.
"Sakit ya." Ucapnya di sela tangisannya.
"Kalau kamu mau kita putus sekarang, silahkan. Yang penting saya sudah jelaskan." Ujar Alderick tanpa rasa ingin membujuk Daniah.
"Kamu kapan sih, ngertiin aku? Aku tahu aku pernah nyakitin kamu tapi kamu kan juga melakukan hal yang sama?" Tangisan Daniah semakin deras. Bahkan dadanya sangat terasa sesak saat ini. Ia kesulitan bernafas.
"Saya selalu ngertiin kamu. Bahkan waktu itu saya ingin balikan sama kamu tetapi kamu masih berhubungan sama dia." Kata Alderick.
"Kamu bilang kamu akan menunggu saya, tapi semua itu omong kosong. Kamu lah yang membuat saya pacaran sama Alana!" Hujat Alderick tanpa ampun.
Daniah merasa hatinya tersayat-sayat. Dadanya terasa sangat sakit dan jantungnya terasa berhenti berdetak.
Abang, sakit sekali..
Mengapa Alderick setegah ini padanya. Mengapa pria itu sangat kejam. Menyalahkan Daniah atas semua yang terjadi. Mengapa dunia sangat kejam pada gadis tak berdaya itu.
Daniah pun mencoba menenangkan dirinya. Ia pun kembali mengatur nafasnya dan mengusap pipinya yang lembab.
"Iya maaf udah bikin Al sakit hati. Aku sadar aku salah. Tetapi jujur aku tidak pernah balikan sama Razka." Ujar Daniah membuat penyesalan atas kesalahannya.
__ADS_1
"Sekali lagi Daniah minta maaf.."
...----------------...