Wujud Asli Sang Purnama

Wujud Asli Sang Purnama
Eps.14 : Titik Terang


__ADS_3

Daniah baru saja sampai di rumah setelah seharian pergi jalan-jalan bersama Rachel. Harus dia akui bepergian dengan Rachel adalah hal yang sangat menyenangkan. Terlebih lagi sahabatnya itu sangat tahu bagaimana membuat suasana menjadi seru.


Alderick tengah duduk di sofa sambil membaca buku ketika Daniah baru menginjak apartemen mereka. Entah buku apa yang di baca pria itu tapi di lihat dari sampulnya terlihat seperti buku sastra.


Daniah pun mengambil posisi duduk di hadapan Alderick tepatnya di sofa seberang meja. Ia pun menatap Alderick sambil menunggu pria itu memberikan respon.


Seperti tidak menyadari sesuatu Alderick tidak sedikit pun beralih dari bukunya. Bahkan waktu hampir satu menit di habiskan oleh Daniah hanya untuk menatap pria itu tanpa respon. Daniah mulai tidak sabar. Dia pun mengusik pria itu dengan memanggil namanya.


"Alderick!" Panggil Daniah.


Pria itu pun menoleh menatap Daniah yang ada di balik buku. "Iya?" Tanya Al menanggapi.


Daniah pun menatapnya dengan raut serius. "Kapan mau ngasih penjelasan ke Nia?"


Alderick pun menutup bukunya lalu meletakan buku setebal 3 senti meter itu ke meja.


"Saya selalu cuek sama kamu dan berubah karna kita jarang berkomunikasi sejak awal. Dan kamu juga terlalu sibuk dengan dunia kamu," jelas Alderick singkat.


Daniah terdiam sejenak lalu ia berkata, "Menurut aku bukan itu. Al memang ragu sama Daniah sejak awal. Buktinya kamu pergi sangat lama begitu saja tanpa kabar."


Alderick hanya menghela nafas singkat, "Ya sudah kalau kamu tidak percaya. Percuma di jelasin ujung-ujungnya bakal berantem." Alderick kembali mengambil bukunya dan melanjutkan aktivitas sebelumnya.


"Engga. Kita ga bakal berantem. Kamu cukup sampaikan apa saja yang ingin kamu sampaikan ke aku." Ujar Daniah menuntut penjelasan.


"Sudah saya sampaikan, kita jarang ada waktu dan jarang berkomunikasi." Jelas Alderick yang masih menatap bukunya.


Daniah sedikit merengut. Dia sedikit merasa menyesal karna tidak menyadari keinginan Alderick. Ternyata dia hanya butuh waktu.


"Maaf Daniah ga ngertiin Al. Sekarang aku sudah tau apa yang Al inginkan," kata Daniah.


Alderick hanya mendengarkan tanpa bergeming. Sebenarnya ia tidak fokus pada buku yang sedang ia baca. Dia hanya mencoba mengalihkan situasi supaya tidak berdebat dengan Daniah.


"Sebenarnya aku selalu ingin menghubungi, Al. Tapi aku takut kamu risih. Terkadang ketika aku kangen banget sama Al, aku malah hanya melihat foto Al sambil berbicara sendiri seperti orang gila." Jelas Daniah mengingat kebiasaannya.


Mendengar hal itu membuat Al sedikit kesal. Ia pun menutup kembali bukunya.


"Tapi itu membuat saya ga nyaman." Ucapnya dengan dingin.


"Kenapa ga nyaman?" Tanya Daniah bingung.


"Sepi." Ucapnya.


Daniah tersenyum mendengar ucapan kekasihnya itu. "Kan masih banyak yang lain," kata Daniah usil.


"Nuduh?"


"Engga. Mana tau ada." Ujar Daniah. "Sensitif banget," tambahnya.


"Ga sensitif," ucap Al. "Jadi bagaimana?"


"Apanya?" Tanya Daniah bingung.


"Kenapa kamu memilih jalan untuk memendam ini semua? Kalau kangen kamu bisa langsung hubungi saya."


"Karna kalau aku ngespam kamu di handphone kamu bakal risih. Dan aku juga mau liat kalau aku ga ada kamu bakal cariin aku ga? Terus kalau aku ngespam kamu dan kamu jawab pesan aku secara terpaksa berarti itu membuktikan kalau Al ga cinta sama aku." Daniah berhenti sejenak, sedangkan Alderick hanya mendengarkan penjelasan gadisnya itu.


"Kamu tahu tidak, pas pertama kali ketemu kamu dan kamu meminta maaf aku sangat bahagia. Tidak ada yang lebih membahagiakan selain bertemu kamu lagi Al setelah lama kamu ninggalin aku." Kata Daniah dengan senyum yang mereka di bibirnya.

__ADS_1


Alderick sedikit tersentuh ketika mendengar penjelasan Daniah. Ternyata Daniah tak seperti yang ia pikirkan. Gadis itu menderita oleh perlakuannya sendiri.


"Maaf, seharusnya aku harus tau lebih awal tentang ini. Kalau kamu tidak seterbuka sekarang aku tidak akan pernah tahu." Ujar Alderick dengan penuh penyesalan.


"Gapapa, Al. Ga semua hal harus di mengerti dengan cepat," tutur Daniah.


Mereka terdiam beberapa menit sama-sama tenggelam dengan pikiran masing-masing. Hingga pada menit berikutnya Daniah membuka kembali obrolan di antara mereka.


"Al kenapa bisa putus sama Alana?"


Seketika Alderick sangat malas mendengar pembicaraan yang sangat sensitif itu.


"Hm.. Kenapa membahas Alana lagi?" Ujar Alderick malas.


"Hanya penasaran saja. Dia kan perempuan yang paling Al cintai." Lanjut Daniah.


"Ya." Ucap Alderick dingin. Namun, wajah Daniah menunjukan kalau dia sangat ingin jawaban. "Kamu tahu kan saya sangat sensitif sama wanita yang pernah saya cintai?"


"Ya.. Karna Al takut di sakiti, kan?" Tebak Daniah.


"Ya."


Hening kembali mendatangi mereka dan pada akhirnya Daniah memutuskan untuk beralih ke kamar mandi karna ia sudah merasa sangat gerah. Sedangkan Alderick berpindah ke balkon untuk mengisap beberapa batang rokok. Pikirannya sedang bertabrakan dan ia ingin menenagkan kepalanya itu.


Sebenarnya Alderick tidak menyangka kalau cinta Daniah sebesar itu kepadanya. Terkadang gadis itu seperti berpura-pura mencintainya dan terkadang ia terlihat sangat mencintai Alderick. Sikapnya yang seperti itulah menjadi alasan utama Alderick tidak mencintai Daniah. Terlebih lagi Daniah sangat mudah mendapat perhatian para lelaki. Dan hal itu membuat Alderick semakin ketakutan jika suatu hari Daniah meninggalkannya.


Dia mengepulkan asap ke udara. Melihat asap itu berputar-putar selama beberapa saat lalu hilang terbawa angin. Ia menatap bulan yang bercahaya sangat terang di langit. Walau pun di sekitarnya banyak bintang menemani tetapi di pikiran Alderick bulan itu kesepian. Andai saja ia bisa kesana ia ingin duduk bercerita sambil minum kopi di tempat kedap suara itu.


"Aaa.. "


Terdengar suara teriakan Daniah berlari menuju balkon. Alderick segera berbalik dan mendapati sosok gadis yang menggunakan baju tidur dengan rambut yang masih basah.


"Kamu kenapa?" Tanya Al khawatir.


"Ga tau ah, cape nahan rasa," ujar Daniah dengan suara memelas.


"Rasa apa?"


"Rasa ingin di cintai oleh mu tapi hanya sebatas halu ku," ungkap Daniah dengan senyum di bibirnya.


Alderick pun tersenyum melihat tingkah kekanakan gadisnya itu. Ia pun mencubit gemas pipi Daniah.


"Kamu ga halu, Sayang." Kata Alderick.


"Tapi Daniah ngerasa halu saja, tuh. Ga pernah ngerasain selain halusinasi." Tutur Daniah dengan lugu. "Oh ya, teman aku mau ngomong sama kamu."


"Tentang apa?" Tanya Al penasaran.


"Ga tau. Coba kita telpon kalau begitu." Daniah pun merogoh kantong baju tidurnya. Di sanalah ia meletakan ponselnya.


Setelah beberapa kali mencoba menghubungi Rachel, tetap saja sahabatnya itu tidak dapat di hubungi. Bahkan sudah sepuluh menit menunggu membuat Alderick tidak sabar lagi.


"Saya ga punya banyak waktu, Daniah. Kalau mau bilang sesuatu sampaikan saja secara langsung." Ujar Alderick yang sudah hampir bosan.


"Ya sudah nanti akan aku sampaikan kepada Rachel." Ungkap Daniah yang juga menyerah.


"Kalau begitu kamu tidur sana, saya juga mau tidur." Pinta Alderick.

__ADS_1


"Tapi aku belum ngantuk, Al."


"Ya sudah saya mau tidur duluan saja."


"Okey."


Al pun berjalan masuk ke kamar meninggalkan Daniah. Namun, ia teringat akan sesuatu. Ia pun memanggil Daniah dan mengajak Daniah ke sofa tempat ia tadi membaca buku.


"Saya punya puisi. Tetapi ga terlalu bagus." Alderick pun memberikan selembar kertas kepada Daniah yang langsung di terima gadis itu.


Daniah pun membaca kertas yang barusan di berikan Alderick kepadanya. Isi kertas tersebut sebagai berikut:


^^^"Malam hari, sudah waktunya tiba^^^


^^^Tak ada yang menyangka, jika mimpi akan menghiasi kita^^^


^^^Ciptaan logika terngiang di pikiran^^^


^^^Membuat siapa saja hilang kendali^^^


^^^Tapi tenanglah, itu cuma pedoman"^^^


^^^-By Alderick^^^


Daniah sangat kagum dengan tulisan Alderick namun ia tidak mengerti maksud dari kata-kata itu. Ia pun memutuskan bertanya kepada penciptanya.


"Nia ga ngerti maksudnya gimana?"


"Itu tentang mimpi di malam hari." Jawab Alderick.


"Tapi.." Daniah tetap saja memikirkan maksud dari puisi itu. Tetapi dia tetap tidak paham. "Argh.. Ya sudahlah otak Daniah terlalu pendek untuk memikirkan suatu yang rumit," kata Daniah.


Alderick pun menangkup kedua pipi gadisnya itu. Dan secara langsung mereka berdua bertatapan.


"Kapan-kapan saya akan berubah kalau sudah waktunya," ujar Alderick sambil tersenyum lalu mengecup kening Daniah.


Gadis itu membeku. Sebuah arus aneh baru saja mengalir di dalam tubuhnya dalam jangka waktu hitungan detik. Hatinya menghangat seketika. Ia pun berbalik menatap Alderick yang sudah berjalan menuju kamar. Ia pun memegang dahinya yang barusan di kecup Alderick.


Lalu ia berteriak, "Sebenarnya udah ga sabar, tapi ga mau maksa juga!" Tidak ada lagi respon dari Alderick. Kemungkinan dia sudah tidur.


Setengah jam berlalu setelah Alderick meninggalkannya di sofa. Sedari tadi Daniah hanya menatap kertas puisi yang di berikan Alderick. Ia masih memikirkan maksud kata-kata dalam puisi itu tetapi masih belum menemukan satu makna pun.


Karna merasa lelah berpikir dan matanya juga belum ingin tidur ia pun mengintip ke kamar melihat situasi Alderick. Pria itu terlihat tidur dengan nyenyak. Daniah pun mendekati pria itu dan duduk di sebelah Alderick yang tertidur dengan damai.


"Permisi.. Di sini Daniah yang matanya belum bisa tidur. Daniah mau cerita boleh ya.." Daniah pun mengatur posisi duduknya agar lebih nyaman.


"Jadi, aku tuh mau merebut hati cowok yang aku cinta banget. Dia baik sih, cuma kadang dia suka marahin aku terus dingin juga ke aku. Jadi aku lagi cara biar dia ga cuek lagi sama aku. Aku bingung sih harus ngapain. Karna tiap menghadapi dia itu otak aku selalu buntu harus ngapain. Kaya semua yang ingin aku ungkapkan itu tertahan di dada hingga bikin sesak. Tapi tenang saja, Daniah masih bisa bernafas. Hehe.."


Alderick hanya diam tidak bergerak. Padahal sebenarnya ia masih terbangun dan mendengarkan Daniah bercerita tanpa sepengetahuan gadis itu. Ia tak ingin mengganggu niat gadisnya itu untuk bercerita secara bebas.


"Mungkin sekarang dia sudah berada di alam mimpi. Padahal tadi baru saja ia menunjukan sebuah puisi tentang mimpi walaupun aku ga paham sama sekali. Yang jelas itu tentang mimpi dan semoga Al bermimpi indah."


Daniah mengambil ponselnya lalu mencari sesuatu di dalam sana. "Sebenarnya aku juga punya kata-kata bagus untuk Al. Kalimat itu seperti ini: Semoga besok Al sayang sama Daniah. Asal kamu tahu mencintai kamu sama hal nya dengan minum americano. Walau pun pahit tapi bikin aku candu."


Daniah pun menatap wajah Al yang tentram. Ia pun memeluk kekasihnya itu. " Sayang jangan cuek lagi ya sama aku. Daniah ga suka Al cuek seperti itu. Daniah hanya ingin mengutarakan apa yang mau di sampaikan dan jangan berpikiran aneh-aneh, oke!" Daniah pun mengecup pipi Al.


"Selamat tidur, Langitku."

__ADS_1


Daniah pun segera berbaring dan terlelap dalam hitungan menit.


...----------------...


__ADS_2