
Daniah meraih tangan Alderick berharap pria itu menurunkan emosinya. Daniah ingin mengakhiri perdebatan ini karna ia merasa lelah. Sedangkan Alderick ingin menyelesaikan semua permasalahan pada saat itu juga.
"Sudah ya, kita pulang saja. Al pasti lelah, kan." Kata Daniah mencoba membujuk Alderick.
Alderick hanya diam tidak bergeming. Dia butuh sebuah penjelasan tentang masa lalu mereka yang membuat Alderick selalu berpikir negatif. Ia ingin tahu bagaimana perasaan Daniah yang sebenarnya.
"Saya tidak ingin pulang sebelum kamu jujur sama saya. Katakan semua yang ingin kamu ceritakan kepada saya!" Tegas Alderick dengan suara dinginnya.
Daniah melepaskan genggamannya. Ia pun menghembuskan nafasnya ke udara.
"Percuma aku menceritakan semua tentang Razka, Al ga akan percaya. Lebih baik aku mengakui kesalahan saja dan minta maaf." Ujar Daniah. "Aku ini hanya pacar yang ga di anggap dan ga di sayang seperti yang lain. Kalau sesekali bertemu pasti bawaannya ribut." Lanjutnya.
"Karna kamu tidak bisa seperti yang lain." Timpal Al dingin.
Seketika Daniah menjadi naik darah. Dia marah karna baru saja ia merasa bahwa dirinya sedang di bandingkan dengan wanita lain.
"Ga usah salahin aku mulu, Al! Aku itu sudah berusaha. Tapi kamu selalu nyudutin aku dengan kesalahan yang juga kamu perbuat." Tukas Daniah yang sangat kesal.
"Ya." Ucap Alderick datar.
"Lain kali ga usah ngebullshit bilang sayang, cinta atau segala macam kalau rasa itu ga ada!" Amuk Daniah. "Kalau ga ada tinggal bilang, ga usah kasih harapan Al!" Teriaknya.
Daniah membabi buta memarahi Al sejadi-jadinya. Dia yang tadi sudah menurunkan emosinya malah menjadi sangat meledak sekarang. Ia sangat muak ketika Al mulai membandingkannya dengan orang lain. Terlebih lagi itu adalah Alana, mantan yang merebut Al darinya.
Daniah menangis sejadi-jadinya. Ia tidak peduli dengan make up nya yang sudah berantakan. Membuat wajahnya terlihat buruk. Bahkan area matanya sudah hitam akibat maskaranya yang luntur.
"Kalau tidak ada rasa tidak mungkin kita bersama sekarang," ujar Al.
"Itu karna aku yang beneran sayang sama kamu." Timpal Daniah. "Toh, kamu selalu saja ingin kita putus." lanjutnya.
"Yang bilang begitu kamu kan? Saya ga pernah bilang gitu," kata Alderick membela dirinya.
"Ga usah kamu kasih aku harapan dengan mengatakan itu. Buat apa? Mau bikin aku sakit hati? Kamu senang bikin aku sakit hati dan sedih kan?"
Melihat Daniah yang semakin di penuhi amarah membuat Alderick menjadi frustasi. Kapan gadis ini akan mengerti, pikirnya.
"Kenapa kamu selalu salah paham? Kalau kita berantem seperti ini terus saya merasa bersalah, Daniah." Ujar Alderick melunak.
__ADS_1
Namun emosi Daniah belum bisa ia kontrol. Ia ingin meluapkan semua hal yang ia pendam saat ini. Tidak peduli apa yang akan terjadi dia akan tetap mengatakan semuanya. Kali ini ia ingin menangkis semua omongan Alderick yang selama ini hanya ia terima tanpa bisa melawan.
"Coba kamu tanya sama diri kamu kenapa aku selalu salah paham dengan sikap kamu. Lalu kamu bandingkan bagaimana kamu bersikap dengan mantanmu itu."
"Dia berbeda dengan kamu. Dia selalu ngasih saya perhatian. Kalau saya cuek itu sama saja tidak menghargai. Sedangkan kamu, kita bahkan jarang berkomunikasi." Jelas Alderick. " Kamu memang kekasih saya, tetapi status kekasih akan kalah dengan orang yang selalu ada. Bahkan dulu saya tidak pernah menyangka kalau saya akan bersama Alana. Dia bahkan rela mendatangi saya di kota tempat saya bekerja. Dan dia berhari-hari menangis ke temannya ketika saya menghilang, bayangkan saja. Jujur saya tidak menyalahkan kamu, Daniah. Tetapi kita sama-sama tahu siapa di sini yang duluan punya crush." Lanjut Alderick panjang lebar menjelaskan.
Lagi dan lagi Alderick membela gadis lain dari pada Daniah. Entah sampai kapan Daniah akan selalu di jatuhkan nya. Andainya saja ia tahu bertahun-tahun Daniah menangisi dirinya ketika ia menghilang. Tak pernah sehari pun Daniah tak memikirkannya. Dan juga Daniah selalu mencari informasi keberadaannya. Namun Alderick tak dapat ia temukan.
"Seharusnya kamu itu ngaca siapa yang selalu bilang dia sibuk. Dan soal niat, seribu kali jauh besar niat aku untuk mencari kamu dari pada Alana. Bertahun-tahun aku menceritakan kepada teman-teman aku tentang kamu sampai mereka muak mendengarnya. Tentang crush, seharusnya kamu ingat kembali apa alasan aku minta balikan sama Razka."
Alderick terdiam sejenak. Dia memikirkan kata-kata Daniah barusan. Sebenarnya ia juga sadar kalau dirinyalah yang memang sangat egois. Karna satu kesalahan ia berubah dan membuat Daniah sakit berkali-kali.
"Ya, saya memang salah. Terserah kamu mau bilang apa saja tentang saya." Sesalnya dengan nada angkuh.
"Aku ga nyalahin kamu sepenuhnya, Al. Aku tahu aku juga salah. Cuma aku pengen liat sebesar apa sayang kamu ke aku. Lalu apa kesalahan terbesar aku sampai membuat kamu ragu?" Tanya Daniah yang membutuhkan kejelasan.
Alderick pun menghembuskan nafas panjang. Lalu ia menangkup kedua pipi Daniah yang lembab sambil menatap matanya.
"Al sayang sama Daniah. Sayangnya Al itu tidak bisa di ungkapkan dengan kata-kata. Kamu pasti butuh bukti agar kamu bisa melihat bagaimana sayangnya aku sama kamu. Soal keraguan itu Al punya alasan sendiri." Jelas Al dengan lembut.
"Tapi apa alasannya? Aku ga mau kita main rahasiaan. Kalau ada hal yang ingin Al tanyakan silahkan. Aku bakal jawab." Ujar Daniah menatap nanar milik Al.
Daniah pun mengangguk. "Aku bakal nunggu penjelasan dari kamu, Al."
Setelah sampai di apartemen mereka seperti tidak peduli satu sama lain. Mereka terlarut oleh pikiran masing-masing dan membutuhkan ketenangan.
Seperti yang di katakan Daniah dia akan menunggu penjelasan dari Alderick tanpa mendesaknya. Ia tahu pasti ada kesalahan besar yang ia lakukan di masa lalu yang tidak ia sadari.
Terkadang ia berpikir bagaimana caranya agar dia dapat memahami Alderick. Walau pun sebelumnya pernah mengenal ia tak pernah paham dengan pikiran pria itu. Padahal dulu ketika masih SMA Alderick adalah pria yang penuh semangat dan ceria. Entah apa yang ada di masa lalunya Daniah tak sempat bertanya banyak. Alderick selalu saja berlari dengan meninggalkan jejak yang harus Daniah kumpulkan satu per satu agar mencapai tujuannya.
...----------------...
Pagi pun datang menyambut Daniah dengan hari baru. Dia terlihat sedikit tidak bersemangat dari pada hari sebelumnya. Ia masih memikirkan penjelasan dari Alderick.
Beranjak dari kamar, ia pergi melihat situasi Alderick yang ada di sofa ruang utama. Di sana pria itu tertidur pulas dengan tangan yang ia lipat di dada. Bajunya sangat berantakan dan belum di ganti dari kemarin. Dia tampak sangat lelah.
Tak ingin mengganggu Alderick, Daniah pun pergi merapikan dirinya. Hari ini dia berjanji akan bertemu dengan Rachel karna ada sedikit permasalahan yang terjadi pada sahabatnya itu. Sudah bisa di tebak pasti masalah percintaan.
__ADS_1
Setelah bersiap Daniah pun segera menuju tempat yang ia janjikan bersama Rachel. Sebuah cafe yang biasa ia jadikan tempat hang out bersama teman kuliah mereka tujuannya. Ketika sudah sampai di sana sahabatnya itu sudah menunggunya. Rachel terlihat bersemangat ketika melihat Daniah yang sudah datang.
"Jadi suami siapa lagi yang lu gangguin?" Tanya Daniah to the poin.
"Eh, gue ga sengaja ya anjir. Suaminya aja yang gatel." Jawab Rachel kesal.
"Lu tuh, ya. Hobi banget pacaran sama suami orang. Kan banyak tuh, cowok yang masih lajang yang bisa lu pacarin. Tapi why harus suami orang, Chel?" Daniah mulai geram dengan kelakuan sahabatnya itu.
"Ya, gimana ya, Dan. Kaya ada tantangan tersendiri aja gitu. Menurut gue seru."
"Ga ada ahlak lu, Chel. Gue timpuk juga lu pakai uang segepok!"
"Mau dong wkwk.."
Daniah pun memutar bola matanya.
Beberapa menit kemudian seorang wanita cantik duduk di bangku semeja dengan Daniah dan Rachel. Daniah pun bingung lalu menatap Rachel. Rachel pun hanya menggedik kan bahunya.
"Maaf ya, Mbak. Saya cuma datang kesini memperingatkan untuk ga usah mengganggu suami saya!" Ujar wanita yang barusan datang.
"Maaf juga ya, Mbak. Tapi seharusnya Mbak tanya lagi, deh sama suaminya. Barang kali dia ga suka lagi sama Mbak jadi dia mencari saya." Kata Rachel dengan angkuh.
"Jaga ya omongan kamu! Suami saya ga mungkin seperti itu." Wanita itu mulai emosi. "Tolong deh, Mbak. Teman nya di ingatkan jangan suka merebut suami orang. Atau jangan-jangan Mbak juga suka merebut suami orang ya?" Lanjut Wanita itu berbicara kepada Daniah.
Brakk!
Rachel menggebrak meja. "Jangan asal ngomong ya, teman saya ga gitu! Ga usah nyari ribut. Lebih baik anda pergi dari sini. Saya juga ga suka sama suami anda. Pergi!!" Usir Rachel dengan marah.
Wanita itu pun langsung berdiri dan meninggalkan tempat Rachel dan Daniah. Sebelum pergi ia melayangkan tatapan yang tidak enak kepada Rachel.
Daniah mencoba menenangkan Rachel. Ia pun menyuruh Rachel untuk duduk kembali.
"Tenangin diri lu, Chel." Daniah mengelus punggung Rachel.
"Gue emosi anjir! Gue ga terima lu di katain kaya gitu." Ujar Rachel sangat terlihat kesal.
"Iya gapapa. Lagian kan gue ga gitu. Ya sudah kita lupakan saja. Lebih baik kita jalan-jalan, yok!"
__ADS_1
Rachel pun setuju dengan ajakan Daniah. Setelah itu mereka pun pergi meninggalkan cafe tersebut.
...----------------...