
Beberapa waktu lalu..
Suara keributan mengisi lantai apartemen Alderick dan Daniah. Sudah beberapa kali mereka bertengkar tanpa damai, sehingga membuat ruangan menjadi gaduh. Jika saja barang-barang di dalam apartemen itu hidup, pastinya mereka sudah berlarian menjauh karena kebisingan. Begitu pula dengan dua insan yang bertengkar itu.
"Aku tidak mau putus! Tidak ada yang boleh mengakhiri hubungan ini. Tunjukkan bahwa Al sayang pada Nia!" tegas Daniah yang menolak keinginan Alderick.
"Masih ingat dengan kata-kata kamu, hm?" balas Alderick.
Daniah terdiam sejenak karena dia yang pertama kali memancing keributan dengan mengucapkan kata-kata yang menyakiti Alderick. Namun, dia juga merasa sangat kesal dengan perlakuan Alderick terhadapnya.
"Aku tidak ingat dan tidak malu!" ucap Daniah dengan angkuh.
"Percuma menunjukkan apa-apa jika kamu tidak percaya. Lebih baik didaur ulang daripada basi," ujar Alderick setengah bercanda.
"Apa yang ingin didaur ulang? Otak Nia tidak bisa memahami. Selain itu, itu hanya seperti membual saja," sahut Daniah.
"Kalau kamu tidak percaya, itu hak kamu," kata Alderick.
Daniah merasa sedih. Dia bimbang karena takut semua yang Alderick katakan hanya semata untuk membuatnya senang. Dia takut selama ini Alderick berpura-pura mencintainya.
"Aku takut cinta itu hanya ada di aku sementara Al tidak. Aku tidak ingin dijanjikan hanya karena rasa kasihan, bukan karena cinta dan sayang yang sebenarnya," keluh Daniah.
Alderick hanya terdiam. Dia menghela napas panjang setelah mendengar ungkapan kekasihnya itu. Dia sangat frustasi menghadapi Daniah yang selalu tidak percaya akan cintanya. Dia sangat lelah.
"Al, kenapa kamu diam?" tanya Daniah polos.
"Bukankah kamu bilang bahwa dalam sebuah hubungan harus ada kepercayaan? Jadi, bagaimana dengan kamu yang selalu meragukan saya?" tanya Alderick, membuat Daniah terdiam.
"Kamu yang memilih untuk tidak percaya pada saya. Jangan membuat seolah-olah saya yang bersalah," lanjut Alderick.
"Semua itu karena Al terlalu cuek terhadap Nia. Rasanya sangat sakit ketika kita dilupakan oleh orang yang kita cintai," timpal Daniah.
"Asal Al tahu, dilupakan jauh lebih sakit daripada diselingkuhi!" sambung Daniah.
Alderick merasa terkejut mendengar pernyataan Daniah. Seketika itu, ia merasa takut bahwa mungkin Daniah sudah mengetahui tentang keberadaan Maretta. Ia melirik Daniah yang tampak sedih dan penuh emosi.
"Saya salah. Saya minta maaf," sesal Alderick.
"Saya tidak cuek. Hanya saja, terkadang saya lelah dengan pekerjaan sehingga tidak punya energi lagi untuk memperhatikan kamu. Jangan mengira itu disengaja," ujar Alderick.
"Iya, Nia mengerti," jawab Daniah.
"Kalau begitu, saya izin pergi bekerja sebentar. Tidak lama, hanya ada beberapa masalah di kantor," tambah Alderick.
Setelah hari itu, Alderick menghilang lagi untuk kesekian kalinya. Waktu yang dia katakan tidak lama ternyata menghabiskan dua musim, sehingga membuat perasaan Daniah hampa. Daniah sudah merasa putus asa dengan perasaannya dan bersiap untuk mengakhiri hubungan ini. Setelah enam bulan yang lalu ia mengatakan tidak ingin berpisah dengan Alderick, sekarang dia sudah bisa menguatkan hatinya untuk mengatakan bahwa ia siap untuk berpisah jika ada saatnya tiba.
Tinggal menunggu saat yang tepat, Al.
...----------------...
Daniah baru tiba di apartemennya setelah seharian bekerja. Dia merasa lelah setelah menjalani hari-hari yang monoton. "Satu hari lagi hampir berlalu," ucapnya ketika berada di dalam lift menuju kamar apartemennya.
Setelah beberapa detik di dalam lift, dia tiba di lantai apartemennya. Dia berjalan dengan lesu menuju tempat itu. Yang ia pikirkan sekarang hanyalah kasur agar dia bisa berbaring setelah seharian hanya bisa duduk di kursi.
__ADS_1
Pintu apartemennya terbuka, dan Daniah segera masuk ke dalam. Kamar adalah tempat tujuan utamanya. Dia melempar tasnya ke mana saja dan membuka jaketnya, hanya menyisakan kemeja dan rok selututnya. Daniah pun langsung melompat ke atas kasur.
"Nyaman sekali," ucapnya ketika menelusukkan wajahnya ke bantal.
Mata Daniah mulai terpejam. Dia sudah masuk ke dalam mimpinya ketika tidak sadar bahwa pintu kamarnya tidak tertutup rapat. Ada seseorang yang berdiri di depan pintu, menatapnya yang sedang terkapar lemas.
Mata Daniah sedikit terbuka saat dia menatap sosok di depan pintu. Dia melompat dari tempat tidurnya ketika semua kesadarannya kembali. Sekarang dia berdiri di samping ranjang.
Deg.
Jantungnya berdebar kencang saat melihat sosok Alderick yang bersandar di kusen pintu. Pria itu menatapnya dengan dingin. "Baru pulang kerja ya?" tanya Alderick seraya mendekati Daniah.
"Astagaa.. Kamu membuatku kaget," ucap Daniah.
Alderick duduk di sisi ranjang dekat Daniah. "Maaf membuatmu menunggu," ucap Alderick sambil mengusap wajah Daniah.
Daniah pun duduk di samping Alderick. "Aku pikir kamu tidak akan kembali lagi," ucapnya sambil mencium pipi Alderick. "Selamat datang kembali, Al."
"Terima kasih. Jangan berpikir terlalu banyak," kata Alderick sambil mengusap rambut Daniah.
"Aku tidak ada pikiran macam-macam," jawab Daniah santai.
"Kalau begitu, kita lewati saja itu," ujar Alderick.
Daniah memalingkan wajahnya. Perasaan kesalnya sudah muncul. Alderick menyadari itu dan langsung memeluknya. Dia mencium puncak kepala Daniah.
Namun, Alderick pasti tidak pernah berpikir positif saat bersama Daniah. Pikiran negatif selalu muncul ketika dia berdekatan dengan gadisnya itu. "Kenapa kamu masih menunggu?" tanya Alderick sambil mengusap kepala Daniah.
"Kalau tidak disuruh?"
"Aku tetap menunggu."
"Tidak perlu menunggu, aku tidak baik untuk kamu," ujar Alderick.
Seketika Daniah melepaskan pelukan Alderick. Dia terkejut mendengar pernyataan itu dari Alderick. "Kenapa kamu bilang begitu, Al?"
"Saya tidak baik untuk kamu. Aku pergi tanpa memikirkan perasaanmu dan kembali seenaknya," kata Alderick memperjelas kalimatnya.
Daniah sangat frustasi melihat sikap Alderick. Dia sangat marah ketika mendengar kata-kata Alderick. Namun, ia mencoba untuk tetap tenang untuk saat ini.
"Yang penting Nia menerima Al apa adanya kan? Nia masih sayang Al kan? Itu saja sudah cukup untuk Nia."
Alderick tidak menyangka kata-kata itu yang akan keluar dari mulut Daniah. Ia juga tidak menyangka gadis itu sekuat ini. Atau jangan-jangan Daniah hanya berpura-pura?
"Tidak capek? Bukankah kamu pernah bilang kamu capek. Saya tidak ingin kamu capek dengan hubungan ini."
"Nia tidak capek. Emang Al bosan sama Nia?" Tembak Daniah yang mulai curiga.
"Tidak," ucap Alderick dengan dingin.
"Terus kenapa bertanya begitu?"
"Maaf. Skip saja."
__ADS_1
Daniah tersenyum lalu berkata, "Al sudah balik saja aku sudah bersyukur."
Alderick yang melihat sikap Daniah sesabar ini merasa sangat terheran. Tidak biasanya Daniah sesabar ini menghadapi kata-kata serius dari Alderick. Sebenarnya ada apa?
"Tapi Al-"
Daniah menggantung kata-katanya. Dan hal itu membuat Al tertarik untuk mendengarkan.
"Kalau aku minta putus gimana?" sambung Daniah.
Al sama sekali tidak terkejut dengan pernyataan Daniah namun ia merasa sedih. Tapi Alderick tetaplah Alderick dia tidak akan menurunkan egonya.
"Terserah kamu. Kalau mau putus ya sudah sekarang saja."
Daniah terdiam sejenak mencoba mengumpulkan keberanian untuk mengungkapkan kata-kata tersebut. Setelah ia merasa tenang barulah ia mengucapkannya.
"Ya, aku ingin kita putus saja."
Setelah mendengar kalimat itu Alderick langsung mengalihkan pandangannya. Ternyata hal yang ia inginkan akan dikabulkan oleh Daniah. Namun, hatinya merasa sangat sakit ketika mendengar Daniah mengungkapkan itu. Dan ia tidak merasa siap untuk kehilangan gadisnya.
Alderick pun bangkit dari posisinya lalu menatap Daniah dengan tajam.
"Jangan pernah berpikir kalau saya ingin berpisah dengan kamu. Tetapi jika kamu yang menginginkan, akan saya laksanakan."
Alderick pun langsung berjalan menuju pintu kamar dengan emosi yang tertahan di dadanya. Ia marah akan dirinya yang pada akhirnya tidak bisa bertanggung jawab terhadap gadisnya. Yang bisa ia lakukan hanya membuat Daniah merasa sakit hingga merasa lelah dan pada akhirnya menyerah.
"Pria seperti apa kau ini?" Pikir Alderick.
Daniah pun mengejar langkah Alderick. Ia tidak ingin Alderick salah paham dengan keputusannya.
"Aku cuma ingin kamu senang. Kamu tahu kan kalau aku sangat menyukai Al?" ujar Daniah sambil meraih tangan Alderick.
Alderick langsung menghempaskan tangan Daniah. Alasan seperti apa itu? Membuatku senang? Seharusnya iya tetapi bukan itu yang Alderick harapkan dari Daniah.
"Haha... Lucu." Tawanya sarkas. "Kalau kamu ingin kita putus ya sudah kita putus. Tidak usah banyak alasan." Tegas Alderick.
Nada Alderick yang sangat berubah membuat Daniah sadar kalau Alderick sangat marah. Daniah hanya bisa terdiam tidak ingin membuat Alderick semakin emosi.
"Kalau kamu masih ingin bersama saya jangan seperti ini. Jangan jadikan hal seperti itu sebagai alasan." Lanjut Alderick.
"Tentu saja Nia masih ingin bersama Al. Tapi Nia takut akan menjadi beban saja." Ujar Daniah dengan sedih.
Alderick pun menangkup pipi Daniah dan menatap mata gadisnya itu.
"Kamu itu bukan beban, Sayang. Seharusnya saya yang minta maaf karena belum bisa membuatmu bahagia." Kata Alderick sangat lembut hingga membuat Daniah merasa terharu.
"Ayo kita lupakan yang sudah-sudah dan mulai lembaran yang baru. Kita mulai dari awal lagi, oke."
Daniah pun tersenyum lalu mengangguk. Ia tidak menyangka Alderick bisa sehangat ini lagi.
"Terima kasih, Sayang." Alderick pun memeluk Daniah hingga membuat keduanya kembali merasa hangat dan dicintai.
...----------------...
__ADS_1