Wujud Asli Sang Purnama

Wujud Asli Sang Purnama
Eps.16 : Kecurigaan Tak Berdasar


__ADS_3

Seperti yang sering ia lakukan akhir-akhir ini, Daniah baru sampai di jam 9 malam pada akhir pekan. Gadis itu memasuki apartemen nya yang sudah tampak lebih bersih dan rapi dari pada saat ia meninggalkan rumah tadi pagi.


Alderick, pria itu sedang merapikan meja makan saat Daniah menemukannya di dapur. Seperti yang di duga dia baru saja selesai makan malam.


"Loh, Al baru selesai makan malam? Kok lambat banget?" Tanya Daniah sembari duduk di salah satu kursi meja makan.


"Gapapa," jawab Alderick dingin.


Daniah tahu bahwa kekasihnya itu pasti marah karena ia pulang sangat lambat kali ini.


"Maaf ya aku pulangnya telat. Soalnya tadi ada yang bikin acara makan malam di rumahnya jadi pergi kesana dulu sama orang kantor." Ujar Daniah menjelaskan.


"Alasan kamu itu-itu aja," kata Alderick tanpa ekspresi.


"Ya, kan memang itu. Makanya aku jelasin."


"Haha.. Yakin?" Tanya Alderick dengan tawa sarkasnya.


"Serius, Al. Kalau ga percaya tanya aja sama Rachel. Tadi aku sempat vc an sama dia pas acara makan malam di rumah teman kantor aku itu." Bela Daniah pada kecurigaan Alderick.


"Harus ada acara setiap akhir pekan?" Lanjut Alderick.


"Itu kan kebetulan Al, dia ngadain acara. Lagian ga selalu, kok." Daniah mulai terbawa emosi.


"Hm," gumam Alderick yang tidak percaya.


Daniah tak habis pikir Alderick meragukan dirinya. Padahal di hatinya sendiri hanya ada nama pria itu tak ada yang lain. Bagaimana bisa pria itu ragu?


Daniah pun meraih kedua lengan pria itu. Memaksa Alderick menatapnya hingga mereka bertatapan. Alderick menatap Daniah dengan tatapan sendu. Entah apa yang sedang menyerang pikiran pria itu tetapi ia tampak kalut.


"Al sayang ga sama, Nia?" tanya Daniah meyakinkan.


"Kamu sudah tahu jawabannya," jawab Al.


"Kamu kangen banget ya, sampai-sampai kamu mau bikin masalah biar kita berantem?" lanjut Daniah.


"Ga."


"Kamu tahu ga dengan kamu bersikap seperti ini aku makin cinta sama kamu dan ga bisa jauh-jauh dari kamu," kata Daniah sambil menatap nanar Al yang berwarna coklat terang.


"Ga jelas," ucap Al sambil mengalihkan pandangannya.


"Tsundere huu.." Cibir Daniah sambil melepaskan genggamannya pada lengan Alderick.


Mereka pun terdiam beberapa saat. Daniah kehabisan topik dan begitu pun Alderick. Namun, setelah terdiam selama hampir 30 detik Alderick pun kembali bersuara.


"Ya sudah, mau ga?" Tanya Alderick.


"Mau apa?" Tanya Daniah bingung.


"Menikah."


"Ha?"


Seketika pipi Daniah memerah. Jantungnya berdetak dua kali lebih cepat. Ucapan enteng yang baru saja keluar dari mulut Alderick itu mampu membuatnya hampir serangan jantung. Namun, ia mencoba menetralkan dirinya.

__ADS_1


"Serius nih?" Tanya Daniah antusias.


"Cuma bertanya sekali."


"Ihh.. Al serius.." Rengek Daniah sambil memukul lengan Al.


Alderick hanya terdiam sambil melihat tingkah pacarnya yang menggemaskan itu. Namun, selain Daniah ada hal yang lain tengah membebani pikirannya. Setelah bersama Daniah hampir sebulan barulah ia ingat kalau ada urusan lain yang harus ia selesaikan. Dan ia yakin urusan ini akan semakin rumit ke depannya.


Alderick pun memeluk Daniah dan menenggelamkan gadis itu dalam dekapannya. Ia berharap Daniah tidak mengalami masalah apa pun oleh perbuatannya. Dia akan merasa sangat bersalah jika sesuatu yang tak di inginkan terjadi kepada gadisnya itu. Walau pun Alderick yakin Daniah bukan wanita yang lemah.


"Sayang, saya mau izin pergi ke luar kota, ya?" Ujar Alderick dengan nada sendu.


Daniah pun menggeleng lalu berkata, "Ga mau. Aku mau menikah sekarang."


Alderick tersenyum dan mengecup kening Daniah. "Iya, suatu hari kita akan menikah." Kata Alderick meyakinkan Daniah.


"Daniah bahagia banget dengernya. Rasanya pengen cium, Al huhu.." Ungkap Daniah karna merasa bahagia.


Alderick pun menangkup pipi gadis itu dengan tangannya lalu mencium bibir merah muda Daniah. Gadis itu pun terkejut untuk kedua kalinya. Seketika suhu badannya memanas. Daniah pun merasa dirinya menjadi gadis polos yang baru saja di cium cinta pertamanya.


Butuh waktu selama beberapa detik mereka berada di posisi seperti itu. Lalu Alderick mengangkat wajahnya kembali. Alderick tersenyum manis kepada Daniah. Wajah Daniah sangat lucu dengan semu merah di pipinya.


"Saya ga bisa membayangkan sepanas apa badan kamu setelah melewati malam pertama bersama saya," goda Alderick kepada Daniah sambil terkekeh.


Daniah membayangkan perkataan Alderick beberapa saat. Kemudian ia menutup wajahnya seraya kabur dari hadapan Alderick.


"Dasar mesum," ucapnya dalam hati.


Keesokan harinya Alderick pun berangkat pergi untuk menyelesaikan urusannya. Daniah cukup bersedih atas kepergian prianya itu. Selain akan merasa kesepian Daniah merasa khawatir kalau saja Alderick tidak akan kembali mengingat kepergiannya beberapa waktu lalu. Namun, ia tidak dapat mencegah pria itu pergi.


Hari-hari Daniah pun berlalu seperti biasa. Kegiatan kantor di pagi hari dan beristirahat di malam hari. Namun, hal yang kadang membuatnya sedih adalah Alderick tidak dapat di hubungi. Tetapi Daniah tetap mencoba menghibur diri dengan membaca puisi-puisi Alderick yang di tinggalkannya untuk Daniah.


Daniah pun membuka lembar kosong di salah satu buku tulis Alderick. Ia mencoba untuk menuliskan sesuatu untuk kekasihnya itu.


Kenapa melewati 7 hari itu terasa lama?


Karna hampir tiap hari aku memikirkanmu


Apa kabar pujaan hati?


Apa kamu menjalani hari dengan baik?


Antara senang dan ingin marah kalau kabarmu baik


Senang karna kau baik-baik saja dan aku bersyukur kau bahagia


Dan marah karna dalam harimu yang terasa baik itu tidak ada terlintas di otakmu nama ku


Rasanya ingin menangis keras kalau aku mengingat kembali awal cerita kita kemaren


Namun ketika hampir sampai ke akhir tiba-tiba air mataku berhenti


Kenapa? Karna di bagian itu aku sadar aku terlihat seperti orang bodoh


Aku terlihat seperti memaksa seseorang untuk memberikan cintanya kepadaku

__ADS_1


Haha!


Aku ingat sepenggal kalimat dari mu


Yang intinya begini, jika dia ada dia tetap ada dan jika dia pergi dia akan tetap pergi


Tapi lihat pilihanmu


Aku tau kau takut di tinggalkan oleh ku makanya kamu yang memilih untuk meninggalkan ku


Aku terima, walau pun sebenarnya aku tidak akan meninggalkan mu sebelum memang sudah waktu untuk berpisah


Namun hidup adalah pilihan


Dan sayangku juga harus menentukan pilihannya


Aku bukan penulis hebat seperti dirimu


Aku hanya menuangkan apa yang ada di dalam hatiku


Dan di akhir curahan ini, aku ingin bertanya dengan penuh harap,


Apa kamu merindukanku?


__Daniah Ilona Meysie


Daniah tersenyum setelah melihat hasil tulisannya yang merupakan ungkapan isi hatinya. Dia pun menutup buku dan pena itu lalu menyimpannya pada tempat semula. Setelah setengah malam ia lalui untuk menulis kertas itu ia mulai mengantuk dan memutuskan untuk tidur. Dan ia berharap dapat berjumpa Alderick di dalam mimpinya.


Dua pekan sudah berlalu. Daniah hari ini sedang ada mata kuliah. Hingga sore ia begitu sibuk karna mengejar tugas kuliahnya yang terbengkalai sudah beberapa minggu.


Rachel sahabatnya juga sedang berada di perpustakaan menemani Daniah mengerjakan tugas. Karna ini hari minggu jadi gadis-gadis itu tidak memiliki kegiatan selain di kampus.


Kalau kamu bertanya tentang teman kantor Daniah? Tentunya mereka sekarang sedang berkumpul di suatu tempat entah itu restoran, kafe, karaoke atau apa pun tempat mengasyikan tetapi Daniah sudah meminta izin tidak ikut dengan alasan ada tugas dari kampus yang harus di kerjakan.


"Btw, bukan nya lu bilang kalau lu punya teman satu band gitu dulu ya, Dan?" Tanya Rachel di sela kebosanannya membaca buku.


"Iya." Jawab Daniah singkat karna sedang fokus dengan laptopnya.


"Selama lu disini udah pernah ketemu?" Lanjut wanita berambut pendek sebahu itu penasaran.


Daniah pun menghentikan aktivitasnya sejenak. "Belum sih, tapi kami memang jarang ketemu sejak gue kuliah dulu." Kata Daniah dengan nada lirih.


"Hm.. Para sih Lu, Dan. Ga jumpain mereka, padahal kan lu bilang mereka adalah sahabat terbaik yang lu punya," Ujar Rachel sedikit meledek.


Daniah pun tertawa, "Kan sekarang ada lu. Lu ngambil posisi mereka."


"Semabarangan lu ya!"


Daniah hanya tertawa melihat temannya itu. Rachel memang gadis yang sangat unik. Ia mampu membuat orang-orang di sekitarnya menjadi ceria ketika melihat tingkahnya.


Tiba-tiba ponsel Daniah berdering. Gadis itu pun langsung mengangkat telpon itu tanpa melihat nama pemanggil terlebih dahulu.


"Halo?" Ucap Daniah dengan nada tawa yang masih tersisa di suaranya.


"Saya di depan kampus kamu, keluar sekarang juga!"

__ADS_1


Alderick pun segera menutup telponnya tanpa berpamitan kepada Daniah.


...----------------...


__ADS_2