
Hidup penuh dengan ujian
Cahaya datang membantu
Berharap semua masalah selesei
Tak ada yang tau,
jika ada satu jalan keluar
Menyimpan rasa kedalam hati.
Menusuk menjadi belati
Percayalah jika memang takdir
Hubungan ini tak akan mati
-Alderick
Alderick baru saja menyelesaikan tulisannya ketika Daniah baru saja keluar dari kamar. Gadis itu sudah tampak rapi dengan pakaian kerjanya. Daniah pun menghampiri Alderick yang duduk di karpet depan televisi.
"Sayang masih pagi buat kamu berpikir tentang tulisan kamu. Lebih baik kita sarapan saja dulu," ucap gadis itu seraya merapikan bantal sofa yang berantakan.
Alderick pun menyimpan pulpen nya di dalam buku lalu menutup buku tersebut. "Jadi kamu masak apa hari ini?"
"Lihat saja nanti," ujar Daniah sambil tersenyum.
Mereka pun segera menuju dapur. Di atas meja makan sudah ada semangkuk nasi goreng dan beberapa lauk lainnya yang telah di masak Daniah untuk makan siang Alderick.
Daniah pun segera menghidangkan sarapan Alderick ketika pria itu sudah duduk di kursinya. Lalu memperhatikan kekasihnya untuk menyuap makanan buatannya.
"Enak ga?" Tanya Daniah dengan penuh harap.
"Lumayan." Jawab Alderick singkat.
Sedikit mengecewakan mendengar jawaban Alderick. Tetapi Daniah tidak begitu membawa ke perasaan sehingga beberapa saat kemudian ia telah melupakannya.
Setelah acara sarapan telah selesai Alderick pun pergi untuk mengantar Daniah bekerja. Ia ingin mengantarkan Daniah dengan alasan ingin melihat tempat kerja gadis itu. Walau pun Alderick tidak mengatakan kalau dia pergi karna Daniah, tetapi gadis itu sangat senang ketika kekasihnya itu menawarkan diri lebih dulu.
Mereka telah berada di mobil sekitar lima menit yang lalu, tetapi belum ada obrolan di antaranya. Daniah berusaha mencari topik agar ia bisa mengobrol dengan kekasihnya itu.
"Al tau ga?" Tanya Daniah yang langsung di jawab Al, "Ga."
"Ihh.. Jangan cuek gitu napa?" Ketus Daniah.
Alderick hanya diam saja.
"Al mahh.." Daniah menyilangkan tangan di dada dengan ekspresi kesal.
Alderick pun langsung menoleh ke arah gadis itu. "Iya maaf, Sayang. Kamu mau bilang apa?" Tanya Alderick mencoba menghibur. Daniah pun tersenyum lalu melanjutkan omongannya.
Sepanjang jalan menuju kantor yang di tempuh 15 menit menjadi perjalanan ke kantor pertama yang sangat seru bagi Daniah. Selama selang waktu itu obrolan tak pernah terputus antara mereka sejak Daniah memulainya. Topik yang paling banyak di bahas adalah tentang puisi Alderick yang ia buat tadi pagi. Alderick sangat suka dengan topik pembahasan sastra.
Setelah sampai di depan kantor tempat Daniah bekerja, Daniah pun berpamitan kepada kekasihnya. Sangat di sayangkan bagi Daniah 10 menit terasa sangat cepat dari biasanya. Ia berharap bisa lebih lama lagi di dalam mobil bersama Alderick.
Setelah mengantar Daniah, Alderick pun kembali ke apartemen karna harus mengerjakan pekerjaannya juga yang di kerjakan secara daring. Seperti yang sering mereka bahas, sepanjang hari yang mereka miliki hanya habis untuk melakukan kegiatan masing-masing. Tetapi kali ini Daniah mengirimkan beberapa chat kepada Alderick ketika jam makan siang. Gadis itu menyinyirkan soal makan siang yang telah ia buat tadi pagi.
Hari berlalu begitu saja tanpa di sadari sudah sore. Daniah pun sudah kembali ke apartemennya dengan rasa lelah yang membajiri tubuhnya.
"Malam, Al." Ucap Daniah seraya memeluk Alderick dari belakang kursinya.
__ADS_1
"Ya," ucap Al datar yang masih fokus pada laptopnya.
Daniah sedikit mencibir melihat respon kekasihnya itu. Lalu ia berkata dengan sedih, "Ga ada mau nyuruh Daniah ngapain kek gitu? Entah mandi atau makan?"
"Mandi gih, udah mau malam. Kalau mau jadi idaman harus ya," kata Aladerick di ikuti tawa mengejek di akhir kalimatnya.
"Hm, iya." Ujar Daniah seraya melepaskan pelukannya.
Alderick pun menoleh ke arah Daniah yang sejenak terdiam. "Kepaksa gitu," ucapnya.
"Engga. Aku tuh cuma ngarasa hubungan kita ada kemajuan dan aku bersyukur." Tutur Daniah.
"Senyum kalau gitu," ujar Alderick dengan senyumannya yang muncul lebih dulu.
"Bibir Daniah ga bisa di perintah. Dia bakal senyum sendiri kalau mau."
"Hm, ya sudah." Ujar Alderick datar.
"Ga ada niat bikin aku senyum gitu?" Tanya Daniah dengan usil.
"Caranya?"
Daniah pun menggedikan kedua bahunya. Dia ingin melihat apa yang akan di lakukan Al untuk membuatnya tersenyum.
Alderick pun mengeluarkan sebuah kertas yang berisi tulisan dan ia pun memberikannya kepada Daniah.
"Hadiah buat kamu. Semoga ini bisa kamu senyum," Kata Alderick sambil memberikan kertas yang langsung di terima Daniah.
Gadis itu pun langsung membaca isi kertas itu yang isinya:
Indah di malam hari
Ditemani sang rembulan malam
Angin berhembus menerpa kulit
Menghiasi kerinduan di malam hari
Menemani sang gelap gulita
Daniah merasa takjub melihat deretan kalimat itu. Mungkin sebagian orang mengatakan itu tak ada artinya namun bagi Daniah kata-kata itu sangat indah.
"Wah.. Bagus banget," kagum Daniah sambil tersenyum. Alderick pun ikut tersenyum. "Tapi kenapa Al selalu bikin puisi tentang malam?" lanjutnya.
"Malam menjadi saksi bisu saat kerinduan muncul," ujar Alderick sambil terkekeh. Sisi manis dari Alderick pun terlihat saat itu juga.
"Kangen siapa?" Tanya Daniah.
"Banyak."
"Daniah ada ga?"
"Ada." ucap Alderick. Dia terdiam sejenak dalam lamunan nya. Lalu ia pun bersuara kembali, "Setiap malam saya berdoa agar di dekatkan dengan jodoh."
Kalimat Alderick barusan membuat Daniah sangat tertarik untuk membahasnya. "Kamu pengen cepat nikah, ya?"
"Tidak juga. Cuma takut membuat kesalahan."
Daniah pun mengurungkan niatnya untuk melanjutkan obrolan karna sepertinya bukan saat yang tepat untuk di bahas. Daniah pun mengalihkan topik dengan mengatakan ia ingin pergi membersihkan diri.
Malam itu berlalu lebih baik dari pada hari-hari sebelumnya. Sikap Alderick pun semakin baik dan mulai peduli kepada Daniah. Hari-hari berikutnya mereka jalani dengan damai dan tentram tanpa ada pertengkaran yang terdengar. Begitupun rasa mereka yang mulai kembali bersemi.
__ADS_1
Di suatu pagi Alderick bangun lebih awal dari pada Daniah. Pria itu telah mempersiapkan sarapan untuk gadisnya itu. Sambil menunggu gadisnya bangun ia kembali melanjutkan hobinya yaitu menulis puisi.
Penulis hanya menulis
Pemain hanya bermain
Pembalap hanya membalap
Pesaing hanya menyaingi
Rindu adalah rindu
Kangen adalah kangen
Memng sama, nmun penuh arti
Begitu pula denganku
Segumpal perasaan memburu
Menjadikannya rindu
-Alderick
Daniah keluar dengan rambutnya yang masih kusut dan piamanya yang belum di ganti. Gadis itu menguap selebar-lebarnya tanpa mempedulikan sekitarnya. Alderick yang menyadari Daniah sudah bangun menghampiri gadisnya itu.
"Selamat pagi, Sayang. Tidurnya nyenyak banget sampai bangun kesiangan?" Sambut Alderick.
"Hehe.. Maaf Al, habis tadi malam kan aku tidurnya lambat." Jawab Daniah sekenanya.
Alderick pun menggelengkan kepala yang di respon dengan kekeh karna malu dari Daniah. Setelah itu Al pun mengajak Daniah sarapan setelah gadis itu selesai merapikan dirinya.
Sarapan pagi ini adalah sandwich daging dengan segelas susu. Makanan sederhana yang bisa di buat Alderick. Namun Daniah mengakui sandwich itu sangat enak.
Sembari sarapan mereka sedikit berbincang di selah kunyahan makanannya. Tentu saja Daniah lebih banyak menyerocos kebanding Alderick. Tapi ocehan Daniah bagai suara musik rap bagi Alderick.
"Jadi seharusnya itu bagus kan, Al?" Tanya Daniah di akhir argumennya tentang masalah kerja.
"Ya." Jawab Alderick datar.
Daniah pun meletakan pisau dan garpunya. "Ya," ucap Daniah mengulang ucapan Alderick. "Udah kaya ciri khas kamu, ya. Bilang kaya gini kek, 'iya sayang' atau 'iya Daniah sayangku cintaku' gitu." Kata Daniah mengajarkan.
Alderick pun tertawa melihat ocehan Daniah. Gadis itu pun sedikit merasa kesal.
"Iya Nana." Ucap Alderick.
Seketika Daniah terkejut. Panggilan itu mengingatkannya akan kenangan beberapa tahun silam. Dan hal itu membuat dirinya merasa was-was kalau saja Alderick telah tahu yang sebenarnya tentang dirinya.
"Ihh.. Kok Nana sih?" Protes Daniah.
"Gapapa, ucul." Jawab Alderick sambil terkekeh.
"Hm.. Gaje ah!" Daniah pun mengulum bibirnya.
"Terus mau di panggil apa? Ibu negara gimana?" Tanya Alderick mengusulkan ide.
Daniah pun tertawa, "Aku bukan istri presiden, Al."
"Iya."
Percakapan berakhir di saat sarapan pun selesai. Daniah pun berangkat bekerja seperti biasa dan begitu juga Alderick.
__ADS_1
Hari-hari monoton seperti itu mereka lalui dari hari hingga minggu hingga ke bulan. Pada akhir pekan kadang Daniah sibuk bersama teman kantor atau Rachel yang mengajaknya jalan-jalan. Ajakan mereka tak dapat di tolak oleh Daniah. Walau pun tidak enak kepada Alderick tetapi pria itu tak pernah komplain. Hingga suatu hari Alderick mulai kesal dan kembali bersikap dingin.
...----------------...