
Reno Febrian anak laki-laki berusia 20 tahun yang sekarang sudah bekerja disalah satu pabrik dekat tempat tinggalnya,sementara adiknya Rani Febrianti yang baru lulus SMA. Gadis berusia 18 tahun yang gak mau meneruskan kuliah karena tak mau membebani sang kakak.Terlebih baru dua bulan ditinggalkan oleh ibu tersayang, setelah sebelumnya ditinggalkan oleh ayahnya karena sakit.
Reno dan Rani hidup rukun dan saling menyayangi satu sama lain, meskipun mereka sebenarnya masih punya kerabat yaitu Bi Mira yang tak lain adik dari mendiang ayahnya, namun bibinya nampak acuh dan tak peduli akan nasib kedua keponakannya.Mungkin karena keponakannya hanya anak yatim piatu yang serba kekurangan, dan tak sederajat dengan dirinya.
"kak, bibi kok gitu banget ya sama kita? tanya Rani.
"gak tau dek, mungkin udah sifatnya begitu", kata Reno menjelaskan.
"kak, aku lapar dan persediaan beras sudah habis", kata Rani sembari bersedih.
"sabar ya dik, kakak belum gajian soalnya kakak baru jadi pegawai baru" kata Reno.
"kita kewarung bibi Darmi aja, ngutang dulu", kata Rani.
"jangan dik, kita sering berhutang dan hutang kemarin belum juga kebayar", kata Reno sembari mengelap keringat dipipinya.
"terus kita makan apa?", tanya Rani pada sang kakak.
"kita makan singkong aja, dibelakang rumah kan ada pohon singkong sama ubi jalar", kata Reno
"baiklah, ayo kita ngambil singkong sama ubi", kata Rani gembira.
"ayo!"
Kedua kakak beradik itupun akhirnya pergi kebelakang rumah untuk mengambil singkong dan ubi jalar sebagai pengganjal perut untuk mereka berdua makan.
Sementara itu Mira sang bibi dengan angkuhnya segera menutup rapat-rapat rumahnya, takut ponakannya minta sesuatu.
Rani tengah bahagia saat menggali singkong sembari nyengir kuda.
"kak, besar dan banyak ya singkongnya", kata Rani.
"Alhamdulillah dik, kita gak akan kelaparan setidaknya ada yang bisa kita makan".
"iya, kak!",kata Rani sumringah.
"kita rebus singkong sama ubinya", kata Reno.
__ADS_1
Miris sekali kehidupan Kakak beradik ini, mereka berharap dapat hidup layak dan berkecukupan. Tidak ada yang tau nasib seseorang. Tuhan telah menentukan garis takdir hidup manusia.
{{{{}}}}{{{{}}}}~~
"Jeng Mira, itu ponakannya kok dicuekin, gak mau ditolong?" tanya Bi Darmi sang pemilik warung.
"Hidup saya sudah susah, masa mau nambah lagi kesusahan saya.", kata Mira ketus.
"Gak kasian gitu, mereka yatim piatu seenggaknya mereka perlu kasih sayang Dar Jeng Mira selaku keluarganya.", kata Bu Darmi lagi sembari menuangkan goreng pisang kewadah.
"Iya, jadian sekali Reno sama Rani, mungkin mereka sudah kehabisan uang atau beras.", kata Bu Siti yang sedang memilih sayuran.
"Maaf ya ibu-ibu saya permisi duluan.", kata Mira dengan buru-buru.
"Astagfirullah, ada ya bibi model gitu.", kata Bu Siti sembari mengusap d*d*nya.
"Saya gak tega melihat keadaan Reno dan Rani, meskipun Reno sudah kerja tapi mungkin gajinya tak seberapa.", kata Bu Darmi.
"Bu Darmi, tolong ayamnya I kilo untukku dan setengah kilo dibungkus untuk Rani, berasnya 3 kilo untuk Rani.", kata Bu Siti dengan memberikan uang berwarna merah 3 lembar.
"Kalian memang baik, semoga Allah SWT memudahkan rezeki ibu-ibu semua.", kata Bu Darmi sambil tersenyum sumringah.
"Kalau begitu saya permisi dulu, Bu Romlah saya bawa minyak sana telurnya untuk saya berikan kepada Rani.", kata Bu Siti.
"Iya, terima kasih Bu Siti, sampaikan salam saya sama Reno dan Rani.",kata Bu Romlah.
"Insya Allah, saya akan sampaikan.",kata Bu Siti sambil bergegas pulang menuju ketempat Rani.
{{{{}}}}~{{{{{}}}}}~~~~
"Assalamualaikum, Ran kamu ada dirumah?", tanya Bu Siti dari luar sambil mengucapkan salam.
"Waalaikumsalam, Bu Siti, mari masuk.!", pinta Rani tersenyum bahagia.
"Saya kesini cuma mau memberikan ini untukmu, dan ini ada titipan minyak sana telur dari Bu Romlah.", kata Bu Siti sambil menyerahkannya kepada Rani. Dengan berlinang air mata Rani tersenyum bahagia, setidaknya ada orang yang masih perduli terhadapnya meskipun itu orang lain.
"Te-terima kasih banyak atas segala pemberiannya.", kata Rani sembari menyeka air matanya.
__ADS_1
"Ran, kita bertetangga kudu saling bantu", maaf hanya ini yang bisa kami bantu untukmu dan Reno, kata Bu Siti yang ikut prihatin atas apa yang menimpa kakak beradik tersebut.
"Ibu dan yang lainnya sangat baik pada kami berdua, tapi mengapa Bi Mira gak perduli kepada kami bahkan sangat acuh, seolah kami bukan keluarganya.", kata Rani.
"Yang sabar ya, Gusti Allah Maha Pengasih dan Penyayang.",kata Bu Siti dengan membelai rambut Rani.
"Sekali lagi, saya ucapkan terima kasih atas kebaikan ibu dan Bu Romlah.", kata Rani mulai tersenyum.
"Kalau begitu ibu permisi dulu, mau masak.", kata Bu Siti yang hendak pamit namun Rani seketika mencegahnya.
"Sebentar Bu, ini ada singkong sama ubi,buat ibu.", kata Rani.
"Gak usah, buat kamu aja.",tolak Bu Siti dengan halus.
"Ini buat ibu sama Bu Romlah, toh masih banyak ubi sama singkongnya tadi ngambilnya banyak dikebun belakang.",kata Rani menjelaskan dan memohon supaya Bu Siti mau menerima ubi dan singkongnya.
"Yaudah atuh, kalau maksa, ibu terima.",kata Bu Siti tersenyum, lalu berpitan pulang.
"Ran, Bu Siti kemari ada apa?", tanya Reno sang kakak yang baru selesai mandi.
"Ini nganterin beras,daging ayam,minyak sana telur",kata Rani.
"Alhamdulillah, akhirnya kita bisa makan juga",kata Reno sumringah.
"Iya, kita beruntung punya tetangga seperti Bu Siti, Bu Darmi dan Bu Romlah. Mereka orang yang baik.",kata Rani.
"Beda jauh sama Bi Mira, yang sama sekali gak perduli akan nasib kita.",kata Reno sambari memakan singkong rebus hasil dari kebun belakang.
"Iya, ironis ya kak!", kata Rani.Mungkin Bi Mira gak mau kalau kita mengusahakannya.Tapi kita cuma mau pinjam beras bukan minta nanti kalau ada uang kita ganti.
"Begitulah dik. saudara serasa orang lain sementara orang lain serasa saudara sendiri",kata Reno berkaca-kaca namun segera menyusutnya.
"Aku mau masak nasi dulu, terus kakak bantu aku memasak daging sama telur, gimana?" tanya Rani.Dengan senang hati sang kakak pun menuruti keinginan adik satu-satunya.
"Tentu saja, kakak bantu kamu.", kata Reno yang sedang membersihkan daging ayam dan memotongnya menjadi beberapa bagian.Sementara itu Rani sedang memasak beras dan mulai menumbuk bumbu untuk dioleskan ke daging ayam supaya rasanya enak.
Dan beruntungnya kehidupan kakak adik ini meski sang bibi tak perduli, tapi ada segelintir orang yang masih perduli terhadapnya meski keadaan miskin.
__ADS_1