
Selama perjalanan Rani hanya diam begitu juga Eti, sementara sang kakak mencoba membuka percakapan
" Maaf Pak Rico, besok-besok tak usah mengantarkan kami," ucap Reno.
" Kenapa gak boleh?" tanya Rico.
" Kami tak pantas, kami hanya karyawan biasa." kata Reno.
" Lalu masalahnya apa?" tanya Rico sambil fokus nyetir.
" Gak enak dilihat karyawan lain," ucap Reno.
" Hanya mengantar saja, apa gak boleh?" tanya Rico.
"Tapi---
ucapan Reno terhenti saat Rico memotong ucapannya.
" Sudahlah, gak usah berdebat lagipula ini masalah sepele, hanya mengantar saja." ucap Rico dengan tegas.
" Baiklah" ucap Reno yang mengalah karena tak mungkin bisa menang jika terus berdebat terlebih berdebat dengan bosnya. Rani dan Eti lebih memilih diam ketimbang bicara. Rico curi-curi pandang melalui kaca spion mobilnya, dan tersenyum melihat Rani, dan seketika Rani pun melihat kaca spion dan mata keduanya saling bertatap, Rani tersenyum malu-malu dan segera mengalihkan pandangannya.
Deg
Deg
Deg
Jantungnya berdegup kencang tak beraturan.
" Oh jantung kumohon kerjasama nya" gumamnya dalam hati.
Rico merasakan hal yang sama ketika jantungnya tak bisa diajak kompromi
" Duh kenapa terus berdetak, ada apa denganmu wahai jantung?".
Reno dan Eti terdiam, sementara sang adik tengah jatuh cinta dengan bosnya, Rico. Rani tak hentinya mengagumi ketampanan sang duda, begitu juga dengan Rico yang tak berhenti mengulas senyum yang melengkung dari bibirnya.
Akhirnya sampai juga didepan rumah Rani.
" Terima kasih Pak atas tumpangannya!"ucap Rani.
" Sama-sama." ucap Rico yang tersenyum kearah Rani, namun matanya terbelalak melihat bangunan yang sudah lapuk, bilik yang sudah bolong membuat Rico mengerutkan keningnya.
" Inikah rumah gadis kecilku? Rumah ini bahkan sudah tidak layak, seperti ini kehidupan kakak adik ini, sangat miris." gumamnya dalam hati.
Rico bengong dan terasa sesak dihatinya, melihat Rani dan Reno tinggal dirumah yang jauh dari kata layak. Rani mencoba membuyarkan lamunannya.
" Pak, Pak Rico...!" Rani mencoba memanggilnya.
" Ah, iya ada apa?"tanya Rico.
__ADS_1
" Bapak mengapa melamun?"tanya Rani dengan suara lembut.
" Tidak apa-apa"jawab Rico.
" Bapak mau mampir kerumah kami?" tanya Rani.
" Gak usah Ran! Saya langsung pulang aja!" sahut Rico.
" Oh, hati-hati Pak!" kata Rani.
" Ya, terima kasih!" sahut Rico yang masuk kemobilnya dan segera meninggalkan rumah Rani. Rico tersenyum memandang Rani dari kaca spion sementara Rani diam membatu saat mobil Rico mulai menjauh dari pandangannya.
" Aku menyukaimu, Pak!" gumam Rani.
Reno terus melihat kearah adiknya
" Hem, ayo masuk!" ucap Reno.
" Iya Kak!" kata Rani singkat.
Keduanya pun masuk, dan Eti sudah lebih dulu pulang saat turun dari mobil Rico.
" Dik, kamu ada hubungan apa sama Pak Rico?" tanya Reno.
" Gak ada hubungan apapun!" ucap Rani.
" Kenapa Pak Rico baik sama kamu?" cecar Reno.
" Gak tau" Rani menjawab singkat.
" Aku tau itu tapi aku----
Rani tak sanggup meneruskan ucapannya.
"Aku apa? Jawab?" tanya Reno.
" A-aku jatuh cinta sama Pak Rico," ucap Rani dengan jujur dan sedikit gugup.
" Apa? Kamu gak lagi bercanda kan?" tanya Reno.
" Gak" kata Rani menggelengkan kepalanya.
" Ran, kamu gak menghiraukan nasihat kakak, kenapa?!" bentak Reno dengan marah.
" Maafkan aku Kak! Aku juga gak tau kenapa bisa jatuh cinta sama Pak Rico, hiks...hiks..." ucap Rani sambil terisak.
" Ran, ingat kita hanya orang miskin, kamu gak pantas, gak sepadan." kata Reno kesal.
" Tapi, apa salahku jika aku suka Pak Rico? Aku tau aku gak sepadan tapi kami saling menyukai, aku mohon jangan pisahkan aku sama Pak Rico, aku berhak bahagia." ucap Rani.
" Kamu yakin kalau Pak Rico menyukaimu? Lalu bagaimana dengan Bu Agnez?" kata Reno.
__ADS_1
" Aku gak tau." jawab Rani polos.
"Lupakan Pak Rico, kamu bisa cari cowok yang sepadan dengan keadaan kita." ucap Reno yang mulai menitikan air mata, menyesal harus mengatakan semua ini kepada adiknya.
Reno tak bermaksud menyakiti adiknya, dia melakukan itu demi kebaikan adiknya. Reno tak mau jika suatu saat adiknya terluka.
Reno meninggalkan Rani yang sedang terisak diruang tamu, dan segera bergegas kekamarnya. Rani diam dan terus mencerna dari setiap ucapan kakaknya. Semua yang dikatakan oleh sang kakak ada benarnya tapi apalah daya dirinya sudah terlanjur menyukai Rico, meski statusnya sebagai seorang duda.
Rani menghapus air matanya dan pergi kekamarnya untuk istirahat sejenak setelah lelah bekerja ditambah harus berdebat dengan sang kakak.
Berbanding terbalik dengan Rani yang terganjal restu sang kakak karena perbedaan status. Listi tengah berbahagia karena hubungannya dengan Kairo tak menemukan hambatan. Listi tengah memakan semangkuk mie ayam, sesekali Kairo menatapnya geli melihat tingkah laku sang kekasih. Kairo tak pernah protes dengan apa yang Listi lakukan terlebih hari ini Listi membuat kehebohan dengan menyiram salah satu staf bernama Eva, yang so cantik dan kecentilan. Sayang Kairo tak menyaksikan kejadian tersebut, andai saja ia menyaksikannya bagaimana sang kekasih beraksi mungkin akan membuatnya tertawa. Kairo tersenyum membayangkan hal itu.
" Kenapa tersenyum, apa ada yang aneh?" tanya Listi.
" Gak, cuma pengen senyum aja!" sahut Kairo dengan tenang.
" Oh, kirain tersenyum gegara ngebayangin hal mesum" celetuk Listi.
" Ih, ngaco aja kamu mah!" ucap Kairo.
" Biasanya cowok emang gitu, suka mikir yang jorok-jorok" celetuk Listi.
" Saya gak seperti itu, itu mah si Rico yang suka ngebayangin hal jorok" jawab Kairo.
" Masa sih!" sahut Listi.
" Beneran suwer!" ucap Kairo.
" Demi apa?" sahut Listi.
" Demi kamu sayang!" ucap Kairo yang gemas dengan Listi, sang kekasih.
" Hehehe, kirain Mas juga suka ngomong jorok, kali aja Mas ikut-ikutan secara bos songong itu sohib Mas." kata Listi sembari tertawa.
" Dasar gadis kecil, gitu amat mikirnya!" ucap Kairo sambil manyun.
" Idih itu bibir pake dimonyongin segala, jelek tau." celetuk Listi.
" Jelek gimana, ganteng gini Hrithik Roshan mah lewat." ucap Kairo dengan begitu percaya diri.
" Hahahaha, halu" Listi mengejek sambil tertawa. Dengan gemas Kairo mencubit pipi chubby milik Listi.
" Aw, sakit Mas!" Listi meringis kesakitan.
"Lagian ngejek melulu, jadinya aku cubit deh!" ucap Kairo nyengir.
" Mas jahil banget sih, pake cubit segala emangnya aku kue cubit?" ucap Listi sembari mencebikkan bibirnya.
" Lucu dan gemes, makin sayang deh!" ucap Kairo menggoda.
" Gombal tau," sahut Listi.
__ADS_1
" Bukan gombal tapi ini kenyataannya, Saya sayang sama kamu dan akan selalu begitu." ucap Kairo dengan wajah serius.
" Aku juga sayang Mas"kata Listi.