Yatim Piatu

Yatim Piatu
Part 8


__ADS_3

Siang itu Niar pergi kerumah sepupunya yaitu Reno dan Rani. Hanya dirinya yang selalu menyayangi Rani dan Reno,berbeda dengan sang ibu yang cenderung lebih cuek dan tak Perduli akan kondisi keponakannya.


Tok...tok...tok....


Suara pintu diketuk dari luar, dengan sigap Rani membuka pintu rumahnya dan begitu pintu dibuka Rani terkejut sekaligus bahagia karena sepupunya datang menemuinya, setelah cukup lama tak pernah kerumahnya.


"Niar!"


" Rani, apa kabar?" tanya Niar sembari memeluk sepupunya tersebut.


" Alhamdulillah, aku baik-baik saja, ayo silahkan masuk!" pinta Rani kepada Niar.


"Syukurlah, ini ada cemilan untukmu." Niar memberikan tiga bungkus cemilan kepada Rani.


" Terima kasih, harusnya gak usah repot-repot." sahut Rani kepada saudaranya sembari mempersilahkan duduk.


" Gak direpotkan, santai saja."kata Rani sbil menyunggingkan senyuman.


" Mau minum apa?"tanya Rani kepada sepupunya tersebut.


" Teh manis aja, kalau ada,hehe." sahut Niar sambil tertawa kecil.


" Sebentar, aku buatkan dulu teh manisnya " kata Rani sambil bergegas menuju dapur.


Niar memperhatikan seisi rumah Rani yang kondisinya cukup memprihatinkan, berbeda dengan rumahnya yang sangat layak dsn nyaman. Bilik rumah Rani yang mulai bolong serta step rumah yang bocor, gak kebayang kalau hujan tiba.


" Kasihan sekali nasibmu saudaraku, andainya aku bisa bantu tapi aku gak bisa berbuat apa-apa." gumam Niar sambil mengernyitkan keningnya.


" Ini teh manisnya." ujar Rani sambil memberikan secangkir teh manis pada Niar.


" Terima kasih saudaraku." ucap Niar sambil menerima secangkir teh manis dan meminumnya.


" Teh manis buatan mu sangat enak." kata Niar memuji saudara sepupunya.


" Masa sih? Perasaan teh manisnya gak ada yang spesial." sahut Rani tersenyum.


" Beneran, ini enak banget!"sahut Niar.


" Tumben kesini, ada apa?" tanya Rani.


" Hanya ingin berkunjung aja! Dengar-dengar kamu sudah kerja?" tanya Niar kepada Rani.

__ADS_1


"Iya, Alhamdulillah sudah punya pekerjaan meski sebagai office girl." kata Rani.


" Apapun pekerjaannya, yang penting mah halal." kata Niar.


" Iya, daripada nganggur mendingan kerja." sahut Rani.


" Kak Reno kemana? kenapa gak kelihatan?" tanya Niar.


" Kak Reno lagi mancing sama temannya Kak Jery." ujar Rani.


" Kamu kerjanya sama siapa?" tanya Niar.


" Aku sama Eti, biar ada teman ngobrol. Bagaimana kabar Bi Mira?" tanya Rani.


" Ibuku ya gitu deh, seperti yang kamu tau." Niar memandang kearah Rani dan tersenyum.


" Aku berharap bibi baik-baik aja!"ucap Rani.


" Aku juga berharap begitu," ucap Niar.


" Kamu sudah ujian sekolah?" tanya Rani.


" Sudah, tinggal menunggu kelulusan dan hasilnya. Aku mau langsung kerja aja biar gak mikir terus, sekolah melulu jadi bosan, hehe." ucap Niar sambil tertawa kecil.


" Terima kasih ya Ran!"sahut Niar.


" Kita sama-sama saling support satu sama lain, apalagi kita masih punya hubungan darah. Kita satu keluarga." kata Rani.


" Ran, kamu sudah punya pacar?" tanya Niar.


" Belum atuh! Siapa yang mau sama aku, toh aku cuma gadis biasa hanya seorang office girl." ucap Rani dengan merendah.


" Kamu mah minder melulu. Kamu harus optimis, suatu saat nanti bakalan ada cowok ganteng yang naksir kamu. Jodoh gak ada yang tau." kata Niar.


" Hehe, iya sih. Cuma sekarang aku fokus sama pekerjaan dulu, urusan cinta mah nanti aja." sahut Rani.


" Ditempat kerja, kamu punya teman cewek?" tanya Niar.


"Punya sih, namanya Listi dia tomboy banget, blak-blakan, orangnya asyik banget, cerewetnya melebihi emak-emak komplek. Dia juga manis, dia naksir sama Pak Kairo, orang kepercayaan bos ku." kata Rani sambil membicarakan panjang lebar tentang Listi.


" Terus bos kamu ganteng gak?" tanya Niar, penasaran tingkat tinggi.

__ADS_1


" Ganteng sih, sebelas dua belas lah sama Pak Kairo. Namanya Pak Rico, katanya dia duren alias duda keren tapi udah tunangan." sahut Rani.


" Hem, kamu naksir gak sama bos kamu?" tanya Niar yang mulai menggoda sepupunya tersebut.


" Hehe, kamu tuh ada-ada saja. Dia bos mana mungkin aku bisa bersanding dengannya. Siapapun yang melihatnya bakalan naksir, gantengnya kebangetan." kata Rani.


" Hem, Ciee kayaknya ada yang lagi suka tuh, hehe." goda Niar.


" Ahh, kamu mah ngeledek!" sahut Rani tersipu malu, dan seketika wajahnya berubah menjadi merah seperti tomat yang baru matang. Lucu banget ekspresi wajahnya.


" Aish, tuh wajahmu jadi merah merona." celetuk Niar.


" Sudah atuh! jangan godain aku terus, aku jadi malu." ucap Rani.


" Seandainya bos mu itu naksir ke kamu gimana?" tanya Niar dengan wajah serius.


" Aku gak tau, aku gak tau soal begituan." sahut Rani dengan polosnya.


" Apa yang kamu rasakan saat bertatapan dengan bos mu itu?" tanya Niar pada sepupunya.


" Entahlah, aku juga gak ngerti. Aku suka merasa aneh, suka malu dan cak berani menatapnya." kata Rani dengan polosnya sembari tersipu malu.


" Hem, berarti kamu ada rasa yang tak biasa. Itu namanya cinta. Wajar kalau kamu suka, kamu udah gede. Cari cowok yang baik yang sayang dan menerima segala kekuranganmu apa adanya bukan ada apanya." ujar Niar memberi petuah kepada sepupunya tersebut.


" So bijak banget kamu!" ucap Reno yang tiba-tiba menyela pembicaraan Niar dan adiknya, Rani.


" Kak Reno? Kapan datangnya?" tanya Niar.


" Lima menit yang lalu. Kalian ngomongin soal cowok? Emang siapa yang lagi jatuh cinta?" tanya Reno.


" Ini nih adikmu, Rani, " kata Niar sambil menyenggol lengan Rani.


" Hah? Kamu jatuh cinta sama siapa?" tanya Reno.


" Enggak sama siapa-siapa, Niar cuma asal ngomong aja!" ucap Rani.


"Beneran nih, Rani suka sama Pak Rico, bosnya ditempat kerja, hehe." kata Niar menggoda sambil tersenyum.


" Pak Rico? Dia sudah bertunangan, kamu tuh harus tau diri, dia gak sepadan sama kita. Kita cuma orang miskin sedangkan dia orang kaya, bos dan CEO. Kamu jangan berharap lebih, nanti kamu sakit hati." ujar Reno memberikan nasihat kepada adiknya.


" Iya, aku juga sadar diri. Kakak gak usah cemas, aku cuma ingin fokus kerja aja!" sahut Rani sembari menunduk.

__ADS_1


" Baguslah! buang jauh semua perasaanmu, lupakan Pak Rico. Kamu gak akan bisa menandingi kecantikan Bu Agnez, dia wanita berkelas dan berpendidikan tinggi." kata Reno.


Rani hanya terdiam, begitu juga Niar yang tadinya cerewet sekarang malah ikut terdiam. Saat sang kakak mengatakan hal seperti itu, entah mengapa hati Rani terasa sakit dan sesak. Apakah harus mengubur perasaannya pada Rico? Apa salah jika gadis biasa seperti dirinya menyukai orang yang dia sukai? Bukan kah cinta itu indah? Mengapa harus ada perbedaan dan jarak?. Rani menarik nafas dalam-dalam dan mencerna ucapan kakaknya. Ada benarnya juga, tapi hatinya tak bisa dipungkiri bahwa ia jatuh hati pada bosnya yang bernama Rico.


__ADS_2