
Tok...tok...tok...., Rani mengetuk pintu ruangan Rico dengan pelan.
" Masuk!" jawab seseorang dari dalam ruangan tersebut.
" Rani..!"
" I-iya Pak! Saya cuma mau mengantarkan kopi seperti yang tadi bapak minta," ucap Rani dengan sedikit gugup.
" Hem, baiklah coba taruh diatas meja!"kata Rico sembari tersenyum.
Kairo mengernyitkan keningnya dan berdehem
" Hem"
" Apaan sih loe, pake berdehem segala," ucap Rico kesal.
" Gak apa-apa!" sahut Kairo dengan acuhnya.
" Pak Rico apa perlu sesuatu?" tanya Rani dengan malu-malu.
" Gak! Kamu kembali lagi ke pekerjaan kamu dan ingat jangan dekat-dekat sama si Listi, dia nyebelin dan cerewet." ucap Rico sembari tersenyum dan sekilas melirik Kairo yang tengah asyik menyeruput kopinya.
" Cewek gue gadis baik-baik, emangnya cewek loe si Agnez," celetuk Kairo dan sontak membuat Rico melotot tajam dan Rani hanya terdiam menunduk.
" Kalau begitu saya permisi." ucap Rani.
" Tunggu...!" kata Rico.
Rani segera menghentikan langkahnya dan menoleh.
" Iya Pak!" kata Rani.
" Nanti pulangnya saya antar kamu," ucap Rico, dan blushh wajah Rani berubah merah merona. Sementara Kairo kaget dengan yang barusan Rico ucapkan.
" Gak usah Pak! Saya pulang bareng Kak Reno dan Eti," ucap Rani.
" Saya antar kalian pulangnya, dan gak ada penolakan." tegas Rico.
" Terima aja tawarannya, daripada dia ngamuk gak jelas," ucap Kairo sedikit ngejek.
" Baiklah" ucap Rani dengan suara pelan.
" Hem" Rico berdehem
" Saya permisi dulu." ucap Rani yang terus melangkah meninggalkan ruangan Rico.
" Ya" sahut Rico sembari terus menatap gadis kecil imut yang telah mencuri hatinya, seketika gadis itu menghilang dibalik pintu. Kairo yang menyaksikannya segera buka suara.
" Kalau cinta kejar atuh!"
" Ah, loe ngejek gue?" sahut Rico.
" Gak ngejek tapi ngeledek." ucap Kairo.
" Sama aja dodol." kata Rico.
" Dodol mah di Garut, hehe" ucap Kairo nyengir.
" Au ah gelap," ucap Rico yang kembali duduk dikursi kebesarannya.
__ADS_1
Rani melangkah menghampiri Listi dan Eti. Rani menghela nafas dan segera meminum air. Listi yang kepo segera memberondong Rani dengan seribu pertanyaan.
" Ran, kamu gak diapa-apain kan sama bos songong?" tanya Listi.
" Iya Ran! Bos Rico gak galak kan sama kamu," sahut Eti yang ikutan kepo.
Dengan tersenyum Rani menggeleng dan berkata
" Aku gak diapa-apain sama Pak Rico tapi----
Seketika Rani menggantungkan ucapannya.
" Tapi apa?" tanya Listi dan Eti secara serentak.
" Emm, gimana ya aku ceritanya?" ucap Rani dengan ragu.
" Coba ceritakan!" pinta Eti.
" Hem, cerita atuh! penasaran nih!" sahut Listi.
" Kalian janji ya, gak akan ngetawain aku?" kata Rani.
" Janji..!" sahut Listi dengan suara keras.
" Ssstt jangan keras-keras nanti ada yang dengar." ucap Rani sambil celingak-celinguk.
" Ok!" sahut Listi.
" Tadi Pak Rico mau nganterin aku pulang." kata Rani.
" Whatt?!" kata Listi dengan suara keras dan menutup mulutnya tanda tak percaya.
" Serius, aku gak bohong." ucap Rani.
" Terus kamu terima gak ajakannya Pak Rico?" tanya Eti.
" Tadinya aku tolak tapi aku gak tega jika harus menyakiti Pak Rico. Akhirnya aku terima ajakannya." ucap Rani dengan malu-malu.
" Cieee yang mau dianterin pulang sama si bos songong." celetuk Listi.
" Aku pulang sama siapa?" tanya Eti.
" Pulang bareng aku. Pak Rico bilang kita pulang bareng sama kamu dan Kak Reno." ucap Rani.
" Asyik" kata Eti
" Kalau aku pulang cuma bareng Pak Rico aja, aku gak mau, aku malu."ucap Rani dengan polosnya.
" Tuh bos songong kayaknya naksir deh sama kamu, Ran!" celetuk Listi.
" Ah mana mungkin, dia sudah punya tunangan, Bu Agnez," kata Rani.
" Tapi kamu suka juga ya sama Pak Rico?" kata Eti yang ikut nimrung.
" A-aku----
Rani tak meneruskan kata-katanya, lidahnya keluh dan susah untuk mengatakan bahwa sebenarnya ia mempunyai perasaan terhadap bosnya tersebut.
" Ngaku aja Ran! kamu gak usah malu untuk mengakuinya, kita selalu support kamu," ucap Listi.
__ADS_1
" Iya Ran! aku selalu dukung kamu, aku kan sahabat baik kamu." kata Eti.
" Se-sebenarnya aku suka sama Pak Rico," ucap Rani dengan sedikit gagap.
" Nah, gitu dong!" celetuk Listi.
" Aku do'akan semoga kalian berjodoh dan bisa kepelaminan, Aamiin!" ucap Eti sembari mendo'akan sahabatnya.
" Terima kasih, atas dukungannya," ucap Rani terharu.
" Itulah gunanya sahabat!" ucap Listi. Mereka bertiga berpelukan kayak teletubbies, hehe.
Sementara itu Rico dan Kairo tersenyum saat melihat adegan ketiga gadis tersebut melalui CCTV, ketiga gadis tersebut tampak kompak dan akrab.
" Ric, loe lihat kan kayaknya Rani juga suka sama loe," celetuk Kairo.
" Gue juga mikirnya gitu, tapi gue bahagia." ucap Rico.
" Cewek gue meski barbar dan cerewet tapi dia peduli terhadap sesama." ucap Kairo memuji Listi, sang kekasih.
" Harus gue akui kalau cewek loe emang gadis baik, gue cuma asal ngatain dia aja, gue gemes sama cewek loe yang bawelnya kebangetan, hehe." kata Rico tersenyum.
" Gue juga cowoknya gemes banget, tapi awas loe jangan naksir sama cewek gue, dia milik gue," celetuk Kairo.
" Sembrono aja, gue mana mungkin menikung sahabat sendiri, loe mah ada-ada aja!" sahut Rico.
" Gue bukannya nuduh loe, gue cuma takut kehilangan cewek gue, Listi berarti banget dalam hidup gue meski dia bawel. Asal loe tahu justru karena dia bawel itu yang buat gue jatuh cinta." ucap Kairo.
" Ciee dasar cowok bucin," ejek Rico.
" Hahaha" Kairo tertawa.
Hari telah sore waktu menunjukkan pukul 16.00 wib, dan saatnya para pekerja pulang, karena sudah menunjukkan jam kerja telah usai.
Rani, Listi, Eti dan Reno segera keluar menuju halaman gerbang, sebuah klakson berbunyi dan sang pemilik mobil menurunkan kaca jendela mobilnya, Rico tersenyum.
" Ayo cepat naik!"
" Baiklah" ucap Rani.
Reno mencekal adiknya saat hendak masuk kemobil Rico.
" Rani, kamu kenapa pulang sama Pak Rico?" tanya sang kakak.
" Saya yang memintanya!" sahut Rico.
" Tidak usah repot-repot, kami bisa pulang dengan naik angkot." ucap Reno.
" Kalian bertiga naik ke mobil saya," perintah Rico.
" Kak Reno, aku tadi sudah janji sama Pak Rico dan menyetujui tawarannya." ucap Rani.
" Baiklah" ucap Reno dengan mengalah.
Ketiganya masuk kemobil Rico, Rani dan Eti duduk di jok belakang sementara Rico dan Reno duduk didepan. Reno merasa tidak enak hati tapi Pak Rico telah beritikad baik dengan mau mengantarnya. Listi segera naik ke mobil Kairo, sang kekasih.
Beberapa karyawan menyaksikannya dan beberapa pasang mata menatapnya ada yang tak suka dan ada yang bersikap biasa.
Rani dan Listi gadis beruntung yang dicintai Bos dan orang kepercayaan, Rico dan Kairo.
__ADS_1