
Kairo segera bergegas menuju ruangan Rico.
Tok! Tok! Tok!
"Masuk!" sahut Rico yang lagi asyik mantengin layar laptop.
CEKLEK
Kairo segera membuka pintu, dan menghampiri sang bos. Rico masih tetap anteng.
"Ehem, cowok ganteng kayak gue dianggurin, nyesek gue," celetuk Kairo sembari tersenyum.
"Sorry" ucap Rico singkat.
"Santai aja bro!" ucap Kairo.
"Tumben loe datang kesini, loe kangen gue?" sahut Rico.
"Emang gue cowok apaan. Gue kesini cuma mau bilang sesuatu mengenai Rani," ucap Kairo yang sengaja menyebut nama Rani.
"Rani? Emangnya dia kenapa?" tanya Rico heran.
"Menurut cerita dari cewek gue, kakaknya si Rani siapa sih namanya? Duh gue lupa lagi." ucap Kairo.
"Reno, kenapa emangnya?" tanya Rico yang mulai serius.
"Dia ngelarang adiknya supaya gak dekat sama loe," tutur Kairo.
"Serius? Kenapa gitu? Apa gue ngelakuin kesalahan?" tanya Rico yang heran dan bengong.
"Dia gak mau kalau sampai si Rani tersakiti dan kecewa." ucap Kairo.
"Tersakiti gimana? Gue baru kenal sama adiknya itupun saat gue mengantarkan pulang kerumahnya," kata Rico yang sedikit cemas.
__ADS_1
"Loe kan masih tunangan si Agnez, menurut gue wajarlah jika si Reno mencemaskan adiknya," tutur Kairo sembari menyesap rokok.
"Gue harus segera mengakhiri semuanya," ucap Rico sembari menahan nafas.
"Maksud loe? Mengakhiri semuanya?" tanya Kairo heran dan melongo.
"Gue mau mengakhiri hubungan gue dengan Agnez. Gue udah gak punya rasa ke dia, gue selalu membayangkan Rani bahkan dalam mimpi pun selalu Rani yang hadir." ucap Rico sambil menjelaskan segalanya.
"Serius?" tanya Kairo mendelik Rico.
"Serius Bambang, haha." ucap Rico tertawa.
Pluk...
Kairo melemparkan pulpen ke arah Rico yang sedang tertawa.
"Sialan loe, gue Kairo bukan Bambang," sahut Kairo kesal.
"Sorry, just kidding!" ucap Rico yang berhenti tertawa sembari nyengir zebra.
"Hahaha.."
Keduanya tertawa terbahak-bahak, keduanya sangat akur dan kompak layaknya saudara kandung.
Tok! Tok! Tok!
Suara ketukan pintu dari luar, Kairo dan Rico saling berpandangan dan bertanya-tanya.
Tok! Tok! Tok!
Seseorang mengetuk pintu dengan keras.
"Masuk!" sahut Kairo.
__ADS_1
CEKLEK
Seorang wanita cantik nan anggun segera menerobos pintu dan menuju ke arah Rico dan memberondong Rico dengan pertanyaan.
"Agnez!" sahut Rico kaget.
"Lama amat sih, padahal cuma bukain pintu doang, kalian berdua ngapain aja sih," ucap Agnes kesal dan menggerutu.
"Tadi kami cuma ngobrol aja, maaf gak kedengaran." sahut Rico.
"Tega banget sih, gak tau apa kalau aku udah pegal harus berdiri. Masa iya sih, cewek secantik dan seanggun sepertiku harus lama-lama berdiri didepan pintu." kata Agnez yang semakin kesal.
Rico dan Kairo saling melempar senyum, sementara itu wajah Agnez berubah suram sembari mencebikkan bibirnya.
"Ric, gue cabut dulu." ucap Kairo sambil melengos pergi melewati Agnez yang masih dagang tutut alias cemberut.
"Oke" ucap Rico sambil mengangguk.
Setelah kepergian Kairo, Agnez menghampiri Rico dan memeluknya. Rico diam tak membalas pelukannya. Sadar tak ada reaksi dari Rico, Agnes melepaskan pelukannya dan menatap Rico dengan tajam.
"Kamu kenapa sih, kok pelukanku gak dibalas? Sudah seminggu kita gak ketemu, memangnya kamu gak rindu padaku?" tanya Agnez.
Rico mengalihkan pandangannya ketempat lain sembari menahan nafas.
"Sayang" panggil Agnez.
"Apa?" tanya Rico dengan wajah datar.
"Kok, aku dicuekin sih, apa salahku?" tanya Agnes yang masih berdiri.
"Ada yang ingin aku bicarakan sama kamu," ucap Rico dengan nada serius.
"Memangnya kamu mau bicara apa?" tanya Agnez heran.
__ADS_1
"Kita bicaranya jangan disini, ayo kita keluar sekarang!" pinta Rico.
"Oke!" ucap Agnez.