Yatim Piatu

Yatim Piatu
Part 2


__ADS_3

Kak Reno sudah berangkat kerja, aku lupa kalau gas sudah habis. Meskipun kakak melarang ku untuk meminjam uang ke bibi, tapi ini terpaksa dan terdesak. Setelah beres semua pekerjaan rumah, aku bergegas ke rumah bibi. Sampai akhirnya aku tiba dihalaman rumah yang cukup luas, aku begitu terpukau. Dulu waktu bapak masih ada aku suka main disini bersama saudara sepupuku Nia, tapi semenjak bapak meninggal semuanya berubah bahkan sikap bibi pun ikut berubah. Ku mengetuk pintu rumah bibi, dan pintu pun terbuka. Ternyata Nia yang membukakan pintunya.


"Rani, apa kabar?" tanya Nia kepadaku.


"Alhamdulillah baik, kamu sendiri gimana kabarnya?" tanyaku pada Nia.


"Aku baik-baik saja, tumben kesini ada apa?" tanya Nia.


"Aku ada perlu sama bibi, tapi aku malu." kataku.


"Malu kenapa?" tanya Nia heran.


"Aku mau pinjam uang lima puluh ribu untuk beli gas, Kak Reno belum gajian." kataku menjelaskan.


"Ini ambil uangku aja, kalau udah punya kamu bisa balikin." kata Niar sambil menyerahkan uang itu dan akupun merasa senang namun tiba-tiba bibi mengambilnya dan berkata


"Enak saja minjam uang, kamu pikir cari uang itu gampang?" kata bibi dengan tatapan tak suka.


"Maaf bi, boleh ya aku pinjam sebentar!" kataku memohon.


"Gak bisa, bibi juga lagi susah, mendingan kamu cari kerja sana!" kata bibi sambil mendorongku keluar dan kulihat Nia hanya menunduk mungkin takut sama bibi. Akupun pergi dari rumah bibi dengan perasaan sedih, sakit hati dan tak terasa air mataku lolos begitu saja. Ini kah nasib anak yatim piatu?.


Aku mencoba kewarung Bu Darmi dengan rasa malu, kuseka air mataku.


"Bu, maaf boleh gak aku ngutang gas?"


"Ran, kamu tuh kayak kesiapa aja, ya boleh atuh!".


"Maaf nanti bayarnya pas Kak Reno gajian."


"Ya gak apa-apa, kamu tenang aja."


"Terima kasih Bu, saya ambil tabung gasnya, dan nanti saya akan bawa tabung gas yang kosong."

__ADS_1


Dengan senang hati akupun pulang kerumah dan memasang gas, lalu mengembalikan tabung gas yang kosong.


Sore itu aku main ke rumah Eti dan melewati rumah bibi, kulihat bibi sedang duduk diteras rumahnya sambil memakan bakso dan akupun cuma melihat dan menelan ludah, bakso nya terlihat sangat enak. Bibi pun menoleh dan mengatakan.


"ngapain kamu ngelihatin bibi, kamu mau?"


"iya Bi, aku mau." jawabku senang.


" beli aja sendiri kalau mau mah!"


"barusan bukannya nawarin?"


"basa basi aja, biar gak dibilang sombong."


Aku pun hanya tersenyum getir dan pergi kerumah Eti. Sampailah aku dirumah Eti, dan kulihat Eti sedang membuat seblak, dan perutku mulai keroncongan. Eti melihatku sambil tersenyum dan memintaku menghampirinya.


"Sini aku buat seblak, mau?"


"Kalau ditawari aku mau"


"Bibi mu benar-benar gak punya hati, sama keponakan sendiri tega banget!" kata Eti.


"Ya memang kenyataannya begitu, aku bisa apa dan mungkin udah wataknya memang seperti itu, apalagi sekarang sudah gak ada bapak sama ibu."


"Sabar ya, pasti Allah SWT akan mengasih kemudahan buat kamu dan kak Reno."


"Amin Ya Allah"


"Lanjut makan seblaknya, habis itu kita nonton drakor." kata Eti.


"Oke..!" jawabku.


Aku dan Eti sedang menonton Drakor, kulihat cewek dan cowoknya serasi banget. Eti begitu serius menghayati filmnya.

__ADS_1


"Ganteng sama cantik pisan itu pemainnya!", kata Eti.


"Iya atuh, mereka itu kan artis, perawatan pastinya." jawabku.


"Kinclong banget ya!" kata Eti sambil nyengir kuda.


"Iya, keren banget." kataku sambil ikut nyengir.


Aku sudah cukup lama dirumah Eti dan akupun pamit pulang karena sebentar lagi adzan Dzuhur, aku mana belum mandi.


" Hati-hati ya, awas ada nenek sihir." kata Eti sambil cengengesan.


"Siapa tuh nenek sihir?" nenek mu bukan? kataku".


"Bi Mira, bibi mu itu yang sombongnya kebangetan." pokoknya amit-amit jabang bebek deh.


" Iya" aku permisi dulu.


" Oke!"


Aku segera pulang kerumah dan mempercepat langkahku karena aku gak mau sampai harus melihat bibiku. Saat aku melewati rumahnya, bibi sedang mengangkat jemuran sembari memamerkan gelang emasnya. Dan berkata kepada Nia.


" Nia gelang emas mama bagus kan?" kata bibi sambil melirik Nia


"Iya" jawab Nia dengan malas.


Aku pun tak menghiraukan dan segera pergi dari tempat itu. Dan akupun sampai dirumah,lalu bergegas kekamar mandi dan mengguyur badanku, dan terasa sangat segar. Aku sudah selesai mandi dan kuambil air wudhu lalu setelah itu aku menuju kamar ibu yang sekarang menjadi tempat ibadah. Aku pun sholat dan berdoa semoga Allah memberikan segala kemudahan bagiku dan kak Reno.


Aku segera mengangkat jemuran, dan akupun tiduran sambil memainkan handphone selepas melipat pakaian. Aku berusaha mengingat kejadian tadi saat bibi menolak untuk meminjamkan uang untuk beli gas. Miris sekali kehidupan yang aku jalani bersama Kak Reno. Andai saja bapak dan ibu masih ada mungkin aku bisa berbagi suka dan duka tapi Allah SWT lebih sayang ibu dan bapak, mereka pun akhirnya pergi meninggalkan kami berdua. Tak terasa air mata pun jatuh dan aku pun terlelap tidur.


Waktu menunjukkan pukul 15. 10 dan adzan ashar sedang berkumandang, akupun terbangun dan segera bergegas mengambil air wudhu dan sholat ashar. Sehabis sholat ashar aku memanaskan opor ayam pemberian Bu Siti dan menghangatkan nasi karena sebentar lagi kak Reno pulang dari tempat kerjanya. Aku pun tak sabar menunggu kedatangan kak Reno untuk makan bersama. Aku berjanji akan melamar pekerjaan supaya aku tak menyusahkan kak Reno. Kalau aku bekerja aku bisa membeli baju dan memenuhi kebutuhan sehari-hari. Bisa membeli beras,minyak goreng,telur,mie, gas serta kebutuhan lainnya dan membeli baju dan sandal baru.


" Ya Allah, aku berdoa kepadamu, mudah-mudahan bapak dan ibu berada ditempat yang terbaik, semoga engkau menerima amal ibadah serta iman dan islam nya, dan lindungilah aku dan kak reno dan mudahkanlah segala urusan kami, Amin!".

__ADS_1


Itulah do'a yang sering aku panjatkan ketika aku selesai sholat atau disaat aku sedih. Aku senantiasa mengucapkan puji dan syukur atas nikmat yang Allah berikan kepadaku. Aku hanya ingin hidup layak,serba kecukupan dan selalu sabar serta kuat dalam menjalani segala cobaan. Suatu saat nanti insya allah, aku bisa menjadi orang sukses dan pastinya tak sombong. Akupun berharap bibi bisa berubah jadi baik.


__ADS_2