ZEPHYR

ZEPHYR
Chaos


__ADS_3

Akhirnya rahasia terakhir Stardust yang dicari oleh F-nie untuk penelitiannya pun terungkap, yaitu untuk menghubungkan dunia mereka dan Otherworld, meskipun begitu mereka tetap akan membantu F-nie untuk mendapatkannya sesuai janji mereka yang telah dibuat sebelum berangkat dan mereka dapat memastikan bahwa F-nie tidak akan menyalahgunakan benda tersebut dan perjalanan pun dimulai, mereka semua memasuki Nagarea Cave.


Disisi lain, Julianz telah sampai di Telezia untuk mencari kerabat Fuji, namun sesampainya mereka disana, mereka terkejut akan keindahan dan keseimbangan antara alam dan teknologi dari kota Telekris, pusat kota dari Pulau Telezia. Hiruk pikuk dimana-mana seperti kegiatan perdagangan, wahana bermain sampai pelatihan pasukan terlihat jelas disana, suasana damai tergambar di kota ini.


“Wooooaaaa ini seperti bukan di dunia saja, ini kereeeen”


“Sudah kuduga, kalian akan berekasi seperti ini” kata Fuji


“Jelas lah, kota ini sempurna, jika sampai kota ini hancur oleh naga sialan itu, aku tak akan memaafkannya” ujar Julianz


“Bukannya kau tak bisa memaafkan seseorang jika ada yang mengganggu Ainz?”


“Eh?”


“Heeeeeeee??”


“Apa kau katakana barusan Einz?” Ujar julianz sambil gugup malu


“Tidak ada, ayo sudah focus mencari temannya Fuji”

__ADS_1


“Hey tungguuu akuuu!!”


Mereka pun mulai mencari kerabatnya Fuji sembari menikmati keindahan kota yang belum pernah mereka lihat sebelumnya, sambil membagi tugas dan berpencar agar lebih mudah menemukannya, ada yang menuju pelabuhan, ada yang ke tempat perdagangan namun hingga satu jam berlalu mereka belum menemukan orang yang mereka cari itu hingga seorang penjaga kerajaan melihat mereka dan menatap curiga dan menghampiri mereka untuk menanyakan keperluan mereka datang.


Fuji pun menjelaskan bahwa mereka sedang mencari dua orang dari ras manusia yang tinggal disini, satu yang bertubuh agak gemuk, berambut cepak berwarna merah, mempunyai alis yang tebal dan menggunakan kacamata serta memiliki IQ yang cukup tinggi, namanya David.


Satu lagi seseorang yang bertubuh tinggi kekar, warna kulit kecoklatan dan berambut pendek bernama Yuda. Keduanya memiliki latar belakang yang berbeda namun memiliki hobi yang sama, yaitu mengumpulkan barang-barang langka yang mereka dapatkan dari toko souvenir di setiap toko-toko yang mereka kunjungi dari berbagai pulau. Keramahtamahan penduduk Telezia menjadi icon dari Otherworld, seketika prajurit tersebut memberitahukan bahwa Ia tidak pernah melihat dua orang seperti yang dijelaskan oleh Fuji.


Fuji pun berterima kasih kepada prajurit tersebut karena sudah melayani mereka dengan baik hati, mereka pun bingung dan kembali menuju alun-alun kota untuk berfikir sejenak. Sembari beristirahat disana, Arifin pun kaget melihat sosok yang tak asing baginya sedang mondar-mandir kebingungan terlihat seperti sedang mencari seseorang disekitarnya, dia adalah Gufron, yang dapat tugas mengantar para penduduk yang mengungsi dari Alexandria Castle saat terjadi pertikaian disana.


Arifin pun langsung menghampirinya dan menanyakan kepadanya, Ia pun kaget melihat teman-temannya ada di Telezia dan menjelaskan bahwa Ia sedang mencari seorang anak ras Elf yang Ia selamatkan dari Alexandria Castle, namun sebelum sampai pada rumahnya, Ia kehilangan anak tersebut dan sedang mencari kesana kemari.


Disisi lain, Kotaro yang telah memasuki Nagarea Cave pun banyak menuai halangan di perjalanannya, bertemu monster kelelawar, buaya dan lain-lain.


“Sudah jangan bergumam, ini tugas kita, jadi sudah seharusnya kau mempersiapkan dirimu” balas Sataru


“Hufft, kau tidak mengerti perasaan wanita, dasar pria dingin”


“Anak cengeng itu saja tidak mengeluh dari tadi kok” menunjuk F-Nie

__ADS_1


“Ya jelaslah, dia duduk dipundak robot miliknya, coba saja ada sesorang pemuda tampan yang rela menolongku setiap saat aku membutuhkannya, aku pasti akan senang”


“Oi Kotaro, Freyla memanggilmu”


“Apaan hah, aku tidak merasa kok”


“Dasar kalian laki-laki tidak berguna huh”


“Hahaha kau lebih dingin dariku ternyata, sedingin jurusmu”


“Sudah ayo focus, jangan bercanda”


Setelah perjalanan jauh menelusuri gua tersebut, mengalahkan monster-monster yang menghalangi akhinya mereka sampai pada ujungnya dimana lokasi stardust itu berada. Membuka pintu terakhir dan mereka menemukan gemerlap kilauan butiran yang bercahaya memenuhi area tersebut, Stardust yang melimpah tersebut membuat mereka tercengan akan keindahannya, seperti melihat ribuan bintang diangkasa yang jatuh ketanah.


F-nie pun tersenyum gembira dan bersegera mengambil butiran tersebut, namun para Zephyr langsung berteriak untuk berhati-hati dan tidak gegabah dikarenakan kecurigaannya terhadap ketidakwajaran yang terjadi selama perjalanan, terlalu mudah dan terlalu simpel untuk mendapatkan benda yang sangat berharga tersebut. Belum selesai mereka menjelaskannya, gemuruh terjadi di seluruh gua tersebut, terlihat sekelebat bayangan mahluk terbang yang mengitari ruangan tersebut dan berdiri dihadapan mereka seekor mahluk berkaki empat, berkepala macan dengan taring yang panjang, memiliki sayap yang besar dan terakhir memiliki ekor yang berbentuk seperti binatang melata, mahluk tersebut adalah Chimerageist.


Sementara itu di Pulau Ningen terjadi sebuah kejadian tak terduga, hilangnya Blinking Mirror beserta penjaganya yaitu Amalia, serta disusul dengan kematian dokter satu-satunya yang ada di  Pulau Ningen yaitu Doctor Belgi, mayatnya terlihat mengenaskan dengan sepuluh tusukan yang membekas di bagian dadanya dan luka sayatan di sekujur tubuhnya. Shinnosuke dan yang lainnya terkejut dan tercengang seolah tak percaya kejadian ini terjadi, dikarenakan tidak ada seorang pun yang tahu tentang Pulau Ningen ini terkecuali para manusia dan cara satu-satunya adalah dengan menggunakan Blinking Mirror. Geram akan hal ini, amarah yang terlukis diwajah Shinnosuke seperti kobaran api yang sangat dahsyat yang dengan segera ingin memangsa korbannya, dengan lantang menyuruh teman-temannya untuk menyelidiki dan mencari siapa pembunuhnya dan cara mereka masuk ke Pulau Ningen, sementara Shu dan Viktor sedang mengurus jasadnya untuk dimakamkan.


Suasana mencekam yang terjadi di pulau tersebut akibat kematian rekan mereka, ditambah hilangnya Amalia beserta Blinking Mirror yang menjadi penghubung mereka dengan dunia luar, akibat kejadian ini mereka yang berada diluar pulau Ningen tidak bisa kembali secara otomatis karena bell yang akan digunakan untuk kembali sudah tidak berfungsi lagi, serta pelindung pulau Ningen dari ancaman dunia luar pun hilang yang dikembangkan oleh Amalia untuk melindungi pulau tersebut redup sehingga pulau Ningen pun menjadi terdeteksi oleh mahluk-mahluk dari ras lain seperti Dragoon, Dwarf dan lainnya

__ADS_1


Kejadian buruk menimpa ras manusia mulai dari kekurangan pasukan untuk mengalahkan ras Dragoon, hancurnya pelindung pulau hingga tewasnya anggota mereka yaitu Doctor Belgi secara misterius. Akibat dari pelindung yang hancur kini Pulau Ningen sudah muncul dipermukaan dan para ras-ras yang lain akhirnya mengetahui tempat persembunyian mereka. Dari kejauhan terdapat seseorang yang sedang santai tidur dibawah pepohonan yang rindang terbangun karena dikagetkan munculnya sebuah desa secara tiba-tiba dihadapannya, sambil memegang topinya yang berwarna hitam pekat dengan sedikit senyuman diwajahnya.


“Akhirnya waktunya telah tiba, jadi bagaimana kau akan menghadapi situasi ini, Shinnosuke?” ucap pria misterius tersebut


__ADS_2