[ ]Villa.Ateez

[ ]Villa.Ateez
chapter 10: Masih Berlanjut


__ADS_3

...Happy reading...


Villa . Ateez


.


.


.


.


"Gimana??"


Hongjoong mendekati Wooyoung yang terlihat kesal.


"Masih belum bisa dihubungi, Hyung! Aarrggghh ini membuatku gila!" Wooyoung mengacak-acak rambutnya frustasi.


Hongjoong juga tidak tau harus melakukan apa. Astaga pikirannya benar-benar buntu, dia tidak bisa berpikir jernih. Entah kenapa ia merasa tertekan padahal tidak ada yang menekannya untuk melakukan sesuatu. Hongjoong memegangi kepalanya yang berdenyut sakit.


Seonghwa yang melihat itu mendekati Hongjoong dan kembali memeluknya dari belakang. Hongjoong memejamkan matanya dan menggenggam tangan Seonghwa yang ada di perutnya. Pelukan Seonghwa benar-benar bisa membuatnya lebih tenang.


Seonghwa melepas pelukannya setelah dirasa Hongjoong sudah lebih baik. "Terimakasih," ujar Hongjoong sambil tersenyum lembut pada Seonghwa.


Hongjoong kemudian berjalan menghampiri adik-adiknya. "Begini... Untuk Wooyoung, tolong coba terus hubungi Jimin hyung. Aku juga akan mencoba menelpon pamanku yang memiliki jasa travel, kalau sampai besok belum ada yang bisa dihubungi,, kita pikirkan cara lain—


—Untuk sekarang kita lakukan aktivitas seperti biasa dulu, ini siang hari,, kurasa 'mereka' tidak akan mengganggu kita. Setidaknya kuharap begitu, tapi jangan bepergian sendirian oke—


—dan bagaimana kalau kita mengemas barang-barang kita lebih dulu? Kalau sudah masuk koper,, kita bisa pergi lebih cepat."


"Kurasa itu memang yang terbaik untuk saat ini, Hyung." Mingi menimpali, ia berdiri dan berjalan ke arah Yunho yang sedang duduk di samping Jongho. "Bear ayo kita berkemas." Yunho mengangguk, ia menggenggam tangan Mingi dan berjalan ke lantai atas.


Yang lain juga melakukan hal yang sama, dan sesuai perkataan Hongjoong mereka tidak berpergian sendirian.



.


.


.


@ruang tengah


Seonghwa sedang mengelap beberapa figur antik yang ditata di atas meja dekat dinding. Sedangkan Hongjoong hanya duduk di sofa menemani Seonghwa.


Seonghwa sesekali menggeser dan memindahkan figur yang dirasa posisinya kurang pas, sambil sesekali bersenandung. Bosan karena hanya duduk diam Hongjoong akhirnya bergabung,, ia duduk di lantai di samping Seonghwa dan mulai mengelap beberapa figur berbentuk beruang.


Mereka terkadang tertawa kecil karena candaan yang Hongjoong lontarkan. Tapi kegiatan mereka terhenti kala mereka mendengar suara dari ruang musik.


Mereka berdiri, Seonghwa berjalan ke arah pintu ruang musik yang memang tidak jauh dari ruang tengah, tapi Hongjoong menahan lengannya.


"Aku saja, tunggu di sini." Hongjoong melanjutkan langkahnya menuju pintu, sedangkan Seonghwa memperhatikannya dari jauh.


Lagu Chloe's lullaby - creepy music box terdengar semakin jelas saat Hongjoong membuka pintunya.


"Hallo? Ada orang?" Hongjoong tau pertanyaannya sangat konyol. Tapi Hongjoong hanya ingin memastikan, mungkin saja ada adik-adiknya yang masuk ruangan ini dan menyetel musik.


Detik berikutnya Hongjoong tertawa miris dalam hati. Adik-adiknya tidak mungkin akan menyetel lagu semenyeramkan ini, terlebih apa yang sudah mereka alami tadi malam.


Hongjoong segera menghampiri alat musik kuno yang sedang memutar lagu menyeramkan itu.


Ia mengangkat Tonearm dan menggesernya menjauh dari piringan hitam.


Musik itu berhenti berputar. Hongjoong melangkah hendak keluar dari ruangan itu tapi musiknya kembali mengalun saat Hongjoong sampai di ambang pintu.


Tonearm atau gagang panjang untuk membunyikan musik itu kembali ke posisi awal dan menempel pada piringan hitam. Hongjoong mengernyit.

__ADS_1


"Mungkin Tonearm nya sudah lecek sehingga posisinya kembali ke tengah," ujar Seonghwa yang sudah bergabung dengan Hongjoong—berusaha berpikir positif.


Mereka kembali memasuki ruang musik. Hongjoong menjauhkan Tonearmnya dari piringan hitam, sedangkan Seonghwa mengambil piringan hitam itu, dan menyimpannya di laci khusus.


"Dengan begini musiknya tidak akan berbunyi lagi."


Hongjoong mengangguk. "Ayo keluar." Tapi baru beberapa langkah musiknya kembali mengalun. Seonghwa membekap mulutnya, piringan hitamnya bahkan tidak terpasang, tidak mungkin alat itu bisa mengeluarkan suara.


Hongjoong geram, ia kembali menghampiri alat musik itu untuk mencabut kabelnya. "Astaga." Tapi kabelnya sejak awal memang tidak terpasang, beberapa bagian kabel bahkan sudah terputus.


Hongjoong segera menghampiri Seonghwa, ia menggandeng tangan Seonghwa dan bergegas keluar dari ruangan itu.


Musik yang masih mengalun itu berubah menjadi tawa anak kecil yang menyeramkan.


BBBRRAAAKKK !!!!


Pintu ruang musik tertutup sendiri setelah Seonghwa dan Hongjoong melangkah keluar.


"Sepertinya perkiraanku tentang 'mereka' salah. Tapi ini siang hari astaga," ucap Hongjoong sambil menenangkan Seonghwa yang tengah memeluknya.


.



.


Mingi, Yunho, dan Jongho sedang bermain di ruang playstation untuk melupakan ketakutan mereka sejenak.


Yeosang? Dia sedang di kamar mandi di ruangan itu, karena setiap ruangan memang memiliki kamar mandi sendiri.


.


.


@Kamar mandi


"Hoho?" Yeosang mengambil handuk kecil dan mengelap wajahnya. Ia melihat siluet di balik tirai sedang membasuh tubuhnya.


Siluet itu terlihat lebih tinggi, tidak mungkin kalau itu Jongho. "Yunho?"


~"Ya??"~


"Lah anjirr kamu mau aku diamuk Mingi? Main nyelonong mandi aja! Kalau aku disangka ngapa-ngapain kamu gimana?" Yeosang menggeleng-gelengkan kepalanya.


~"Gerah"~


"Ya tapi kan,,, serah lah." Yeosang buru-buru keluar dari kamar mandi, Ia menutup pintu kamar mandi dan berbalik.


Tapi betapa terkejutnya ia, karena melihat Yunho yang masih bermain game bersama Mingi dan Jongho. Saking kagetnya dia sampai terlonjak mundur dan menabrak pintu kamar mandi.


Mereka bertiga yang sedang bermain refleks menoleh ke arah Yeosang, karena suara gaduh yang Yeosang buat.


"Hyung? Hyung kenapa??" Jongho menatap hyungnya dengan tatapan polos, sedangkan tangannya masih memegang konsol game.


Bukannya menjawab, Yeosang justru kembali membuka pintu kamar mandi dan melihat ke arah bathub untuk memastikan. Mata Yeosang membulat.


Karena siluet itu masih ada di sana namun tidak dengan kepalanya. Siluet itu masih melakukan gerakan membasuh tubuhnya namun siluet itu tidak memiliki kepala.


Yeosang tercekat kala ia melihat siluet itu membungkuk seperti mengambil sesuatu. Ternyata yang dia ambil adalah kepalanya.


Yeosang buru‐buru menutup pintu kamar mandi. Bukan! Yeosang membanting pintunya, membuat yang lain terlonjak kaget, Yunho bahkan melempar konsol gamenya.


"Kamu kenapa sih Yeo—"


Sebelum Mingi menyelesaikan kalimatnya Yeosang sudah lebih dulu berlari ke arah Jongho dan meraih tangannya. "Cepat pergi dari sini!!"


Mingi bingung, tapi ia tetap mengikuti ucapan Yeosang, ia menggandeng tangan Yunho dan ikut berlari ke arah pintu. Tiba-tiba meja di dekat pintu melayang ke arah mereka diikuti suara pekikan tawa dari dalam kamar mandi.

__ADS_1


"UAAAAAHHHH!"


Mereka berempat refleks menunduk. Meja itu menghantam dinding dan hancur.


"Astaga ini benar-benar gila!"


Mereka kembali berlari, mereka terus berlari sampai ke ruang keluarga dan hampir bertabrakan dengan San yang baru turun dari tangga.


Tampilannya kacau, wajahnya basah karena air mata. "Kalian kemana saja astaga! aku hiks berteriak kencang sekali!! Cepat tolong Wooyoung!! Hiks dia mau jatuh dari atap!!"


"APA??!" Hongjoong dan Seonghwa yang baru bergabung terkejut mendengar teriakan San.


"Mingi, Yeosang cepat ikut aku!" Hongjoong langsung berlari menyusul San yang sudah kembali menaiki tangga.


Sesampainya di atap San kembali berlari ke tepi atap. "WOOYOUNG??!!!" San berteriak, ia segera meraih tangan Wooyoung. "Oh Tuhan,,,"


Hoongjoong yang ada di belakang San langsung menggapai tangan Wooyoung yang lain dan membantu menariknya ke atas.


"San minggir."


San melepas pegangannya pada tangan Wooyoung dan membiarkan Mingi dan Yeosang yang mengambil alih.


"Aarrgghh kakiku seperti ditarik sesuatu!"


"Bertahanlah!"


"Tarik bersamaan!"


Sraakkkkk


Mereka akhirnya bisa menarik Wooyoung kembali ke atas.


"Wooyoung hiks hhuuuhuu syukurlah." San langsung memeluk Wooyoung erat dan menangis.


Hongjoong mengusap pelan kepala San, berusaha menenangkan. Ia juga melihat ke arah kaki Wooyoung, terdapat luka seperti bekas cengkraman kuat di sana.


"Bagaimana kau bisa bergelantungan di sana, Wooyoung? Astaga apa yang kalian lakukan di sini?" Mingi memegangi kepalanya, jika mereka terlambat sedikit saja ... astaga Mingi tidak mau membayangkannya.


"Aku sedang berusaha menghubungi Jimin hyung. Setelah Hongjoong hyung bilang kalau dia juga tidak bisa menghubungi pamannya dan kalian juga tidak bisa menghubungi keluarga kalian, aku berpikir mungkin sinyalnya lemah karena kita berada di sekitar perbukitan. Jadi aku dan San ke atap, berharap sinyalnya lebih baik di sini," jawab Wooyoung.


"Ta-tapi seperti ada yang mendorongku. Wooyoung menarik bajuku tepat waktu,,, ta-tapi setelah itu seperti ada yang menarik kaki Wooyoung agar hiks agar dia jatuh—" lanjut San masih sesenggukan.


"—A-aku hiks berteriak sekencang mungkin meminta bantuan kalian. Tapi hiks kenapa tidak ada satu pun dari kalian yang datang huuuhuu." San kembali menangis. Dan Wooyoung harus mengusap punggung San lagi untuk menenangkannya.


"Tidak mungkin. Harusnya kita bisa mendengar teriakan San. Tapi sungguh aku tidak mendengar apapun, maaf." Yeosang merasa aneh, walau mereka di lantai satu, mereka seharusnya bisa mendengar teriakan San.


Hongjoong menepuk bahu Yeosang. "Yang penting Wooyoung selamat. Atap sangat berbahaya, ayo kita turun."


__AAAAAAAAAAAAAAA!!!!__


"Seonghwa??!"


Tbc :(


Seonghwa : itu gue kenapa._.


Authan : tauk


BTW HAPPY NEW YEAR 🎉🎉🎉


Hjoong : TELAT GOBLOK !


Breaking news:


Hongjoong adalah orang pertama yang ngatain authan goblok di tahun 2022 :')) 👏🏻👏🏻👏🏻


Authan—♡

__ADS_1


__ADS_2