![[ ]Villa.Ateez](https://asset.asean.biz.id/---villa-ateez.webp)
...Happy reading...
Villa . Ateez
.
.
.
.
"Apa itu?? Sepertinya itu menggelinding ke arah kita—"
"——Itu terlihat seperti——"
"——Kepala???"
Dan ternyata dugaan Yeosang benar. Kepala itu berhenti beberapa meter di depan mereka sambil menyeringai mengerikan.
Pats!
Penerangan di koridor tiba-tiba padam. Dan saat lampu remang-remang itu kembali menyala tubuh tanpa kepala sudah berdiri di antara mereka dan mencekik leher Seonghwa.
"Aakk."
Tubuh itu mendorong Seonghwa hingga ia jatuh ke lantai.
"Seonghwa hyung!" San histeris,
"Ah bgst!!" Hongjoong menarik tubuh itu dari atas Seonghwa dan entah dapat kekuatan dari mana Hongjoong melempar tubuh itu ke arah kepala yang masih setia menyeringai ke arah mereka.
"Uhuukk uhukkk." Seonghwa terbatuk-batuk.
Hongjoong segera mengangkat Seonghwa agar berdiri. "Cepat pergi dari sini!"
Mereka berlari kembali ke arah mereka masuk tadi. Tapi koridor itu bentuknya sudah berubah. Padahal mereka baru beberapa langkah memasuki koridor tapi kenapa keluarnya terasa jauh.
Di depan mereka koridornya malah kembali bercabang. Mereka berlari ke arah kiri dan hampir bertabrakan dengan YunGiWoo(?)
"Astaga!" Hongjoong berhenti mendadak. Membuat Seonghwa menabrak punggungnya.
"Hyung lari ke arah lain!" teriak Mingi sambil melewati Hongjoong.
Hongjoong melihat banyak tangan-tangan yang mencuat dari lantai di koridor itu. Mereka memutar arah dan mengikuti langkah Yungi dan WooSan.
Mereka terus berlari, mencoba mencari jalan keluar. Tapi setiap kali mereka menemukan pintu,, pintu itu hanya mengarah ke dalam sebuah ruangan,, bukan pintu keluar.
"Aaahhhh sialan!!!" Wooyoung teriak frustasi. Ternyata ini juga bukan pintu keluar. Mereka berhenti sejenak di depan pintu ruangan itu. Nafas mereka putus-putus.
Dan tampaknya penderitaan mereka belum berakhir karena koridor itu kembali mengeluarkan tangan-tangan pucat bahkan sekarang diiringi suara anak kecil yang tertawa terbahak-bahak menertawakan keadaan mereka.
"Hah ma-suk." titah Hongjoong dengan napas yang terputus-putus.
"TERKUTUKLAH KALIAN IBLIS!!!" teriak Wooyoung lagi, membuat San harus menarik tangan Wooyoung agar masuk ke dalam ruangan.
"AAARRRGGGHHTTT!!!" Wooyoung benar-benar merasa kesal. Ia melempar pedang yang di pegangnya ke sembarang arah.
GGLLAABBRUUGGHH
"MINGI!!!"
Mingi sudah tidak bisa menopang tubuhnya lagi dan jatuh. Punggungnya benar-benar terasa sakit. Ia mengerang saat Yunho sedikit mengangkat tubuhnya.
"Apa yang terjadi??" Hongjoong segera menghampiri Mingi yang terbaring miring di lantai dengan kepala yang ditopang lengan Yunho.
"I-ini salahku hiks. Mi-mingi menjadikan dirinya tameng untuk melindungiku. Punggungnya terkena lemparan kursi yang cukup besar. Hiks huuhuu mianhae."
Mingi ingin sekali memukul dirinya sendiri, ini bukan salah Yunho. Ingin sekali ia mendekap tubuh Yunho yang sedang menangis,, tapi ia benar-benar berada di titik terlemahnya. Ia tidak bisa bergerak dan pandangannya mulai kabur. Perlahan kesadarannya semakin menipis dan semuanya gelap.
_🏘_
Seonghwa melihat arloji di tangannya yang kacanya retak-retak. Pukul 19.03 malam. Kenapa rasanya waktu berjalan sangat lambat.
Seonghwa mengedarkan pandangannya ke ruangan yang sangat luas ini. Entah apakah ini pantas disebut keberuntungan. Tapi Seonghwa merasa beruntung karena ruangan ini yang mereka masuki.
Ruangan ini sangat luas karena kamar Yeojong, dapur, ruang tv dan ruang playstation tergabung dan berbaur menjadi satu.
Seonghwa melihat Mingi yang sudah bisa duduk. Punggungnya sedang di kompres Yunho.
Di dapur ada kotak p3k. Jadi Seonghwa menggunakan itu untuk mengobati luka memar pada punggung Mingi dan juga lengan Hongjoong.
__ADS_1
Seonghwa berjalan menghampiri Hongjoong yang duduk menyandar di dinding sambil memegangi kepalanya. "Joong." Seonghwa duduk di samping Hongjoong dan memeluknya.
Hongjoong membalas pelukan Seonghwa. "Maaf."
Seonghwa mendongak. "Hmm?"
"Maaf karena membuatmu berada di dalam situasi seperti ini."
"Joong.. berhentilah menyalahkan dirimu sendiri."
Seonghwa melihat Mingi dan Yunho yang berjalan ke arah mereka. Ia segera berdiri dan membantu Yunho memapah Mingi dan mendudukannya di samping kanan Hongjoong.
"Syukurlah kau sudah bisa berjalan. Bagaimana punggungmu? Seharusnya kau tetap berbaring di kasur."
"Sudah lebih baik Seonghwa hyung. Terima kasih,"
Seonghwa tersenyum, ia mengangguk dan kembali duduk di sebelah kiri Hongjoong.
Yang lain juga ikut bergabung,, mereka duduk melingkar. Hongjoong menatap satu persatu adik-adiknya. Matanya memanas, sungguh Hongjoong merasa sangat bersalah. Emosinya campur aduk, kesal, bingung, takut.
"Maaf. Seharusnya aku bisa berpikir lebih dewasa. Sejak awal datang ke Villa, aku sudah merasa ada yang tidak beres. Bahkan aku mengetahui satu fakta kalau pelayan yang selalu menundukan kepalanya itu sebenarnya tidak memiliki wajah—
—Tapi aku selalu menyangkal hal-hal aneh yang terjadi. Seandainya saja aku mengikuti kata hatiku dan tidak berbohong tentang suara-suara itu dan meminta kita pergi lebih awal—
—Semua ini tidak akan terjadi. Kalian tidak akan berada dalam situasi menakutkan seperti ini. Tapi aku terlalu egois dan pengecut—
—aku malah mementingkan diriku sendiri karena tidak mau dianggap orang yang paranoid. Maafkan hyung kalian yang bodoh ini, maaf " Hongjoong menghapus setitik air matanya yang sudah tidak bisa ia bendung lagi. Hongjoong menutupi wajahnya dengan kedua tangan.
Sedangkan yang lebih muda menatap hyung mereka dengan sendu. Mereka belum pernah melihat Hongjoong menangis. Hongjoong adalah hyung mereka yang paling kuat dan tegas. Mereka terjebak dalam situasi mengerikan ini juga bukan salah Hongjoong. Tapi kenapa Hyungnya malah membebani dirinya sendiri.
Wooyoung menggeleng. "Engga hyung. Ini salahku. Seandainya saja aku tidak menyarankan untuk liburan di villa keluargaku. Semuanya pasti lebih baik."
"Kalau begitu aku juga salah," Seonghwa memandang adik-adiknya dan tertawa hambar. "Seharusnya aku bilang pengen liburan ke laut saja bukan pedesaan, mana aku ngomongnya sambil nistain Mingi lagi."
Yunho tertawa kecil. "Berarti sumber masalahnya ada di aku. Kan aku yang ngasih ide buat liburan bareng."
Jongho melihat hyung-hyungnya dengan wajah datar. Jongho paham mereka sebenernya bukan sedang menyalahkan diri mereka sendiri tetapi sedang menghibur Hongjoong. Tapi kenapa caranya aneh banget. "Iiihh ini tuh salah setannya, Hyung!! Ngapain sih mereka ganggu liburan manusia!"
Akhirnya tawa mereka pecah karena mendengar ucapan maknae.
"Hyung,, jangan menjadikan masalah ini membebanimu. Lagi pula kami mengerti kenapa hyung berbohong. Seperti yang hyung katakan sebelumnya—
—Hyung tidak ingin kami merasa takut dan have fun sama liburan ini. Yahhh,, walau kenyataannya memang tidak sesuai harapan. Tapi hyung,,, Jangan mengangkatnya di atas pundakmu sendirian. Kita sudah seperti keluargakan?—
"Yeosang benar," Seonghwa menimpali, ia menggenggam tangan Hongjoong erat. "Kita semua masih bisa selamat sampai sekarang itu juga berkat dirimu. Responmu yang cepat untuk mencari solusi membuat kita bisa bertahan sampai sekarang."
Yang lain mengangguk setuju.
"Kita kuat jika kita bersama hyung. Dan aku yakin kita pasti bisa keluar dari sini." Yunho tersenyum ke arah mini hyungnya.
Sungguh respon yang tidak Hongjoong duga. Hongjoong sudah menyiapkan mentalnya jika adik-adiknya marah dan menyalahkan dirinya.
Terlebih jika mengingat kebodohannya yang membohongi adik-adiknya. Harusnya ia bisa lebih terbuka mengutarakan perasaannya. Seharusnya ia mengatakan sejak awal kalau perjalanan ini membuat pikirannya tidak tenang, dan rasa takut terus menghantuinya. Tapi ia lebih mementingkan harga dirinya dari pada instingnya akan keselamatan adik-adiknya.
Ia tidak akan membalas jika mereka semua menyalahkannya, ia bahkan merasa pantas mendapatkan makian dari adik-adiknya.
Tapi respon mereka justru membuat hati Hongjoong menghangat. Bukannya marah mereka justru memberinya dukungan. Hongjoong baru saja mendapatkan pelajaran dari arti sesungguhnya dari hubungan keluarga. Hongjoong berjanji pada dirinya sendiri, dia akan membawa mereka semua keluar dengan selamat dari tempat ini.
Hongjoong tertawa kecil sambil mengusap air matanya. "Iyaa.. kita pasti akan keluar dari sini. Terima kasih."
Mereka mendekat ke arah Hongjoong dan memeluk hyung mereka. Saling memberi kekuatan.
~ternyata kalian memang berbeda~
Mereka semua menoleh ke arah sumber suara. Ada anak kecil yang duduk di atas lemari sambil menatap mereka dan mamainkan kakinya.
Gadis kecil itu berlumuran darah. Wajahnya rusak karena cakaran.
Mereka reflek berdiri dan mundur menjauh.
~mungkin kalianlah yang terpilih~
~Mungkin kalianlah yang bisa mematahkan kutukannya~
"Apa maksudmu?? Apa yang sedang kau bicarakan??"
~sepertinya memang kalian~
Gadis kecil itu tidak menjawab pertanyaan Hongjoong dan terus berbicara sendiri.
~kalian memiliki ikatan keluarga yang kuat~
__ADS_1
~patahkan KUTUKANnya~
~akhiri PERMAINANnya~
~BEKERJA SAMA kuncinya~
~SALING PERCAYA kekuatannya~
~maka kalian akan keluar dari sini~
Sosok gadis itu kemudian menghilang.
"Apa maksudnya?" Mingi tidak mengerti,
"San apa itu anak kecil yang kau bilang mencongkel matanya sendiri?"
"Bukan! Dia sosok yang berbeda," ucap San menjawab pertanyaan Yeosang.
"Tunggu dulu."
Semua menatap ke arah Hongjoong.
"Sepertinya sosok tadi bermaksud membantu kita. Seperti nya,, yang tadi dia ucapkan adalah sebuah petunjuk—
—patahkan KUTUKANnya—
—akhiri PERMAINANnya—
—KUTUKAN—
—PERMAINAN—
—PERMAINAN KUTUKAN. Hoho apa kau masih menyimpan permainan yang kau temukan di gudang?" tanya Hongjoong pada Jongho.
"Eehh? Ah iya Hoho menyimpannya di meja nakas." Jongho berlari menuju meja nakas di samping tempat tidur. Ia membuka lacinya satu persatu. "Uuhh dimana?? Ayolaahhh Hoho mohon." Jongho membuka laci terakhir. "Ini dia!"
Jongho kembali berlari menghampiri hyungnya dan memberikan papan itu kepada Hongjoong.
"Pasti ada petunjuk di sini." Hongjoong mebolak-balik kotak mainan yang bentuknya seperti papan catur. Ia mengetuk-ngetuk papannya. "Papan ini memiliki rongga."
Hongjoong berusaha membuka papan itu.
"Hyung berikan padaku." Jongho mengambil papan itu dan membukanya dengan mudah.
Di dalam papan itu ada beberapa lembar kertas,, beberapa foto,, potongan kertas koran dan sebuah buku diary kecil.
Hongjoong mengambil potongan kertas koran yang sudah menguning dan tulisannya yang mulai memudar, dengan tajuk KELUARGA PEMUJA SETAN
\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=
KELUARGA PEMUJA SETAN
Selasa, 13-03-1963
Satu keluarga berkewarganegaraan asing yang tinggal di sebuah rumah dilaporkan warga karena dianggap melakukan praktek ilmu hitam. Polisi menggrebeg kediaman keluarga ini dan menemukan fakta mengejutkan.
"Banyak jasad manusia yang tergantung di langit-langit rumah," ujar salah satu polisi. "Kami bahkan memergoki pemilik rumah yang sedang memasak daging manusia bahkan ada yang sedang memakannya mentah-mentah."
Dan kejadian aneh muncul ketika polisi akan menangkap mereka. Semua polisi tiba-tiba terhempas keluar rumah itu dan pintu rumah tiba-tiba tidak bisa dibuka.
Para polisi berusaha mendobrak rumah itu dengan susah payah. Dan ketika pintu berhasil dibuka yang mereka temukan hanyalah satu keluarga itu sudah mati bunuh diri.
Tn. Bergh ditemukan di ruang tengah dengan kepala yang terpisah dari tubuhnya dan tangan yang memegang golok besar. Diduga Tn. Bergh memenggal kepalanya sendiri.
Sedangkan Ny. Bergh ditemukan terbakar habis di dapur dan hanya menyisakan kedua lengannya saja.
Sedangkan putri mereka yang baru berusia 7 tahun ditemukan mengambang di dalam kamar mandi.
"Saya yakin mereka memang pemuja iblis. Karena ditemukan coretan seperti lambang di lantai di dekat jasad mereka," tutur salah satu warga.
\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=
Hongjoong mengambil potongan koran lain yang menyebutkan kalau rumah itu kemudian dibeli oleh jutawan, ia merombak dan meng-alih fungsikannya menjadi sebuah Villa.
'Inikah yang terjadi pada villa ini?' batin Hongjoong ngeri. "Semuanya kemari! Lihat dan baca semua kertas-kertas ini. Cari sesuatu yang mungkin saja adalah petunjuk agar bisa keluar dari sini."
Mereka mengangguk dan kembali duduk melingkar sambil membaca kertas-kertas itu. Secercah harapan telah muncul. Mereka semakin yakin bisa keluar dari tempat ini. Semoga.
Tbc
Aduuuh gak tau lagi :(( aku merasa nih cerita makin anehh huuuhuuu :((
__ADS_1
Authan—♡