[ ]Villa.Ateez

[ ]Villa.Ateez
chapter 18: Berselisih (2)


__ADS_3

...Happy reading...


Villa . Ateez


.


.


.


.


"Kurasa hah~hah~ kita sudah aman."


BBUUGGHH


Yeosang tersungkur setelah mendapat bogeman dari Mingi. "Apa maksudnya ini?!"


Mingi menarik kerah baju Yeosang. "Apa maksudnya kau bilang? Ya, apa maksudmu!! Apa kau sengaja tidak menolong Yunho!!"


"Kau ini bicara apa?"


Mingi melempar Yeosang sampai ia menabrak meja, meja itu terbalik dengan Yeosang berada di atasnya.


"Yeosang hyung!"


"Jangan ikut campur Jongho!"


Jongho beringsut kembali ke sudut ruangan. Tatapan Mingi benar-benar menyeramkan. Ia meremas jubah yang ia peluk sejak tadi.


Mingi kembali mencengkram kerah baju Yeosang. "Aku meminta tolong padamu untuk membantu Yunho! Tapi kau malah melamun dan melakukan hal lain! Sekarang Yunho sendirian dan entah di mana!! Dasar sial!!"


Mingi kembali melempar Yeosang. Yeosang tidak terima, ia berlari ke arah Mingi dan menerjangnya. Mingi terjatuh dengan Yeosang di atas tubuhnya.


Buugghhh


Yeosang memukul wajah Mingi. "Kenapa kau selalu menyalahkan aku! Yunho menghilang itu karena kau tak becus menjaganya!"


"Apa??!!" Mingi berusaha menyingkirkan Yeosang dari atas tubuhnya.


"Kau meremehkan kekuatanku!" Yeosang kembali melayangkan pukulannya dengan brutal. "Aku tidak lemah!"


Mingi kewalahan menghindari semua pukulan Yeosang. "Kau ini kenapa?! Aku tak pernah menyinggung soal lemah! Tapi kau selalu membahasnya?! Jangan bilang-"


Kilatan mata Yeosang perlahan berubah.


"Lawan bodoh!" Mingi masih berusaha menyingkirkan Yeosang darinya, kesabarannya mulai habis. Keyakinannya sudah goyah, ia bisa lepas kendali kapan saja.


Tiba-tiba Yeosang memegangi kepalanya. Tak melewatkan kesempatan Mingi segera memukul keras Yeosang hingga ia jatuh dari atas tubuhnya.


Jongho sudah tak tahan, ia melempar jubah itu ke sofa di dekatnya dan berlari menghampiri kedua hyungnya. "Hyung! Sudah cukup Hoho mohon! Hentikan!"


Jongho melihat Yeosang mengambil senjatanya. "Yeosang hyung jangan!"


Jongho berlari ke arah Yeosang, ia menahan tubuh Yeosang, tapi Yeosang dengan mudah mendorong Jongho hingga Jongho terlempar menabrak patung kijang dan membuat lengan kanannya sobek.


Yeosang menyerang Mingi dengan senjatanya, tapi Mingi berhasil menghindar. Mingi berlari ke arah pedangnya.


Trraaaaangggg


Mingi menahan serangan Yeosang dengan pedang nya. "Aaarrgghhhh Aku sudah tidak bisa menahannya lagi!!!"


Mingi menebaskan pedangnya dengan kuat. Membuat pedangnya dan senjata milik Yeosang terlempar. Mingi segera menerjang tubuh Yeosang dan mencekiknya.


_🏘_


BBRRAAAAKKKK


"Uhuukk uhukkk." Hongjoong memuntahkan darah dari mulutnya. Wooyoung melemparnya ke arah lemari kecil. Membuat lemari itu hancur dan menerbangkan kertas-kertas yang ada di dalamnya.


"Hongjoong? Hikkss...."


"Eeuung Seonghwa hyung."


"S-san kau sudah sadar?"


"Hyung kenapa kau menangis?"


BRRAAAKKKK

__ADS_1


Hongjoong tersungkur di lantai setelah Wooyoung melemparnya ke tembok.


"Hongjoong hyung!! Wooyoung apa yang kau lakukan??!!"


"San jangan ke sana!"


San tidak menghiraukan teriakan Seonghwa, ia tetap berlari menghampiri Wooyoung, tidak peduli dengan lengannya yang mati rasa, ia memegang sebelah tangan Wooyoung—menariknya sampai Wooyoung menatap ke arahnya.


"Woo-wooyoung?" Tubuh San gemetar. Bukan,, dia bukan Wooyoung. San melepas pegangannya,, ia mundur dan jatuh terduduk, tubuhnya tiba-tiba lemas.


"San." Seonghwa segera menghampiri San dan menariknya menjauhi Wooyoung.


"Hikss S-seonghwa hyung. I-itu bukan Wooyoung... hiks aku takut."


Seonghwa memeluk San erat.


.


.


Wooyoung menatap San sinis sebelum kembali berjalan ke arah Hongjoong. Ia mencengkram kerah Hongjoong kuat. "MATI SAJA SANA!!" Wooyoung mengangkat pedangnya hendak menebas Hongjoong.


SRREETTT


"TIDAKKK!!! HONGJOONG!!!"


"Maaf."


Ayunan pedang Wooyoung berhenti.


Hongjoong menatap mata merah Wooyoung dengan teduh. "Maaf kan aku," ucapnya sekali lagi. "Kau benar,, seharusnya aku mendengarkanmu. Maaf karena sudah menjadi hyung yang buruk."


Wooyoung melepas cengkramannya pada Hongjoong, ia berjalan mundur dan jatuh terduduk sambil memegangi kepalanya. Pedangnya terlepas dari genggamannya.


Hongjoong tersungkur setelah Wooyoung melepasnya. "Uhuukkk uhuukk," ia berusaha duduk dengan bertumpu pada kedua lengannya yang gemetar. "K-kau tidak lemah Wooyoung."


"Aaarrrggghh diamlah kep*rat!!" Wooyoung semakin erat memegangi kepalanya bahkan sekarang ia sedikit menjambak rambutnya sendiri.


Hongjoong merangkak mendekati Wooyoung. "Lawan dia. Kau pasti bisa. Kau mendengarkukan, Wooyoung? Maaf jika sikapku membuat pertahananmu goyah. Aku tidak menyalahkanmu. Ini kesalahanku."


"AAARRRGGGGGHHH DIAM!"


Sedangkan Wooyoung kembali mengambil pedangnya.


"Aku percaya padamu, Wooyoung," sambung Hongjoong dan tersenyum tulus.


Wooyoung berhenti bergerak dan menunduk. Ia diam tak bergerak selama beberapa detik. "Hah~ hah~ hah~ hah~" Nafas Wooyoung tidak beraturan, ia menggenggam erat pedangnya. Perlahan ia mengangkat wajahnya—menatap hyung di depannya. Matanya sudah kembali seperti semula—warna merah darah itu sudah kembali berganti menjadi coklat terang. "H-hyuung. Ma-ma'a-"


BUUGGGHH


Mata Hongjoong membulat, ia menangkap tubuh Wooyoung yang ambruk ke arahnya. "San hentikan! Wooyoung sudah kembali."


Seonghwa menahan San yang hendak melayangkan pukulan lagi pada Wooyoung.


"Dia bukan Wooyoung hiks! Kembalikan Wooyoung padakuuuhuuuhuuu."


"San tenanglah." Seonghwa merebut tongkat panjang itu dari tangan San dan melemparnya jauh. Seonghwa kembali memeluk San erat. "Tenanglah ssstt tenanglah. Wooyoung sudah kembali,, Wooyoung sudah kembali."


_🏘_


Yeosang memukul-mukul lengan Mingi yang mencekiknya. "KATAKAN KAU SUDAH SADAR SIALAN!!" geram Mingi.


"Aahhhh i-iyaaa uukkhh."


"JONGHO! CEPAT BANGUN DAN SINGKIRKAN TUBUHKU DARI YEOSANG!! Hah~~ aku tidak bisa menahannya lagi. Pertahanku runtuh saat terpisah dari Yunho! Aku masih setengah sadar. Tapi tubuhku tidak bisa bergerak sesuai kemauanku!"


Jongho segera bangkit. Darah mengalir dari lengannya yang robek, tapi ia tidak menghiraukannya. Ia mencengkram baju Mingi dan menariknya dari tubuh Yeosang.


"Uhuuk uhuukk." Yeosang segera meraup udara dengan rakus. "Terima kasih. Maafkan aku karena goyah di saat-saat terakhir."


"Tidakk! Kaulah yang paling sabar di antara kami semua. Kau yang paling mampu menahan emosi. Aku percaya padamu, Yeosang!" Mingi kembali mengambil pedangnya. "Jangan ragu untuk menyerangku. Sepertinya rasa Sakit bisa mengembalikan kesadaranku."


Mingi menebaskan pedangnya ke arah Yeosang dan Jongho. Yeosang mendorong Jongho menjauh sedangkan ia menahan Mingi dengan sisa tenaganya. "Aku juga percaya padamu Mingi. Aku yakin kau bisa melawannya!"


Dengan susah payah, akhirnya Yeosang dapat merebut pedang Mingi dan melemparnya menjauh. Ia memukul Mingi sampai tersungkur di lantai.


"Keluarlah dari tubuhnya iblis sialan! Kau tidak bisa mempengaruhi kami dengan bisikan sialanmu itu lagi!"


"Apa kau yakin?" Mingi menyeringai ke arah Yeosang, matanya berubah merah.

__ADS_1


Yeosang diam membeku.


Seringaian Mingi semakin seram. "Karena sepertinya dia sudah masuk ke dalam kendali- A-apa aaarrrrggghhh."


Mingi memegangi kepalanya. "AAARRGGGHHH TIDAK MUNGKIN!!"


Yeosang tersenyum miring.


"Tentu saja mungkin! Kau mengusik orang yang salah! Kami adalah keluarga!" Yeosang segera menghampiri Mingi dan memukul tengkuknya keras. Membuat Mingi jatuh tak sadarkan diri. Sekelebat bayangan keluar dari tubuh Mingi,,, bayangan itu mengeluarkan suara menyeramkan sebelum menghilang.


"Mingi bangunlah! Astaga apa aku terlalu keras memukulnya."


_🏘_


"Heeumm." Wooyoung bergerak pelan, perlahan ia membuka matanya.


"Wooyoung?"


"Uuugghh tengkukku sakit. Ah Hongjoong hyung! Aarrgghh."


"Hei tenanglah. Pelan-pelan." Hongjoong membantu Wooyoung duduk di sofa panjang itu, kemudian ia duduk di samping Wooyoung. "Kau tidak papa?"


Wooyoung tiba-tiba turun dari sofa dan bersimpuh menghadap Hongjoong. "Hyung maafkan aku. Maafkan aku."


"H-hei..." Hongjoong ikut duduk di depan Wooyoung dan memegang tangan Wooyoung yang memohon padanya. "Apa yang kau lakukan?"


"Maafkan aku hyung. Aku tidak tau apa yang terjadi. Aku benar-benar payah.. mendengar bisikan-bisikan itu saja sudah membuat kepercayaan ku goyah. Aku minta maaf. Aku benar-benar-"


"Hei ini bukan salahmu, kau tidak perlu sampai seperti ini." Mereka berdua akhirnya duduk menyender di kaki sofa. "Aku juga sedikit terpengaruh. Setelah mendapatkan lilin itu, bisikan yang kudengar semakin kuat, aku lengah, bukan insting yang ku gunakan tapi ego yang berhasil menguasaiku. Jika saja Seonghwa tidak menampar dan menyadarkan aku, mungkin akulah yang pertama kehilangan kendali."


"Hyung.. kenapa kau tidak melawan balik?"


"Karena aku percaya padamu."


"Tapi hyung,, tubuhmu jadi penuh luka."


"Tidak apa, aku masih bisa menahannya. Lagi pula ada bagusnya juga kau melemparku ke sana ke mari."


"Hyung itu tidak lucu."


Hongjoong tertawa kecil. "Aku serius. Jika kau tidak melemparku ke lemari kecil itu. Kita tidak akan pernah tau petunjuk selanjutnya." Hongjoong mengeluarkan selembar kertas dari sakunya dan memberikan kertas itu pada Wooyoung.


"Sepertinya tidak semua petunjuk dibakar habis. Masih ada beberapa yang masih utuh tersimpan di lemari itu. Kita akan keluar dari sini. Aku berjanji pada kalian semua."


Wooyoung menatap hyungnya haru. Ia memeluk hyungnya. "Hyung terima kasih karena sudah percaya padaku. Terima kasih karena menyadarkanku kembali. Terima kasih untuk semuanya."


Hongjoong tersenyum dan menepuk-nepuk pelan punggung Wooyoung. "Jangan kencang-kencang bodoh. Tubuhku sakit semua."


"Aahh maaf."


"Ahahahha.. sebaiknya kau temui San."


Hongjoong menunjuk San yang berada di sudut lain ruangan dengan dagunya.


_🏘_


"Hah hah hah hah hah~"


BRaaakkkk


"Ahh hiks hiks hiks. Mingi hiks aku takut." Yunho merosot setelah memasuki sebuah ruangan. Tubuhnya terdapat beberapa luka cakaran dan ada sedikit darah yang mengalir di dahinya. Ia menangis sambil memukul-mukul dadanya yang sesak. "Hiks huuuhuu tolong akuu."


Yunho menyenderkan kepalanya yang sakit ke pintu. Pandangannya mulai kabur dan perlahan menjadi gelap.


Tbc :((


Yunho kecian :((


Mkasih yang udah nyemangatin huuhuuu (╥╯﹏╰╥)ง


Otak authan lngsung joss lagi 😗


Kaya yang punya otak aja - uyong


Syieed :'>


Satu lagi :>


Authan-♡

__ADS_1


__ADS_2