![[ ]Villa.Ateez](https://asset.asean.biz.id/---villa-ateez.webp)
...Happy reading...
Villa . Ateez
.
.
.
.
Seonghwa membalut luka di leher Hongjoong dengan pelan. Syukurlah di ruangan ini ada kotak p3k yang lengkap seperti miliknya di rumah. Hongjoong menatap Seonghwa dengan lembut dan membimbing tangan Seonghwa ke arah perutnya.
Seonghwa memegang pisau yang menancap di perut Hongjoong dengan gemetar. "Hiks.. a-aku tidak bisa."
"Mars." Hongjoong menangkup kedua pipi Seonghwa dan menyatukan dahi mereka. "Aku tau kamu bisa."
"Tidak Joong. A-aku hanya pernah sekali membantu ibuku menjahit luka. Ba-bagaimana kalau aku melakukan kesalahan saat mencabut pisaunya. Hiks.. aku bukan dokter. Maafkan akuu,,, seharusnya aku yang terkena pisau itu."
"Aku akan membunuh diriku sendiri jika kamu yang terkena pisau ini. Kamu dengan mudah menjahit luka San, kamu juga pasti bisa melakukan hal yang sama padaku." Hongjoong melepas tautannya dengan Seonghwa dan mulai berbaring di lantai. "Lakukan saja."
Seonghwa menghirup dan menghembuskan napasnya. Berusaha menenangkan dirinya. Ia mencoba mengingat apa yang dulu dilakukan ibunya saat menolong korban yang terkena tusukan.
Ia membasahi kain dengan alkohol dan memegang pisau yang masih bersarang di perut Hongjoong. Tak lupa ia juga sudah menyuntikkan obat pereda rasa sakit. Pisau itu memang tidak terlalu besar, tapi jika ia salah sedikit saja. Itu bisa memperlebar luka di perut Hongjoong. Bahkan mungkin berakibat lebih fatal.
Seonghwa kembali mengatur napasnya.
Sreetttt
Seonghwa menarik pisau itu dengan cepat dan segera menutup lukanya dengan kain yang sudah ia beri alkohol. Ia kemudian mengambil alat jahit luka untuk menjahit lukanya.
.
β
.
"San bangunlah."
Wooyoung menggenggam erat tangan San. Ia merutuki dirinya sendiri karena tidak bisa melindungi orang yang dicintainya. Jika saja ia bergerak lebih cepat. San tidak akan terkena lemparan golok besar itu.
Wooyoung masih bisa sedikit bersyukur karena ayunan pedangnya bisa mengurangi akibat fatal pada lengan kanan San. Karena jika tidak, lengan San mungkin sudah tidak menyatu dengan tubuhnya lagi.
bukan salah mu
kau tau siapa penyebab semua ini
Wooyoung menggertakan giginya.
bunuh
bunuh dia
_π_
"Apa kau yakin sudah membaik? Jangan sampai kita berhenti di tengah jalan lagi."
"Kenapa nada bicaramu seperti itu? Apa kau berpikir aku ini orang yang lemah?! Aku tidak selemah itu sialan!"
"Hei,, aku hanya bertanya! Kenapa kau yang marah! Jika kau pingsan di koridor lagi akan berbahaya untuk mereka!"
"Kau meremehkan aku! Aku tidak selemah itu Song!" Yeosang menarik kerah baju Mingi. "Bahkan aku bisa memukulmu dengan keras menggunakan lengan kiri ku sekarang juga jika aku mau."
"Cih!"
"Sudah cukup! Hyung hoho mohon jangan bertengkar. Jangan bertengkar." Jongho memeluk Yeosang dari belakang. "Hoho mohon."
Perlahan Yeosang melepas tangannya dari kerah Mingi, dan berbalik memeluk Jongho sebentar sebelum berjalan mengambil senjatanya. "Ayo Hoho."
Jongho segera mengikuti langkah Yeosang.
"Apa-apaan dia itu!" Mingi mengambil pedangnya, ia menghampiri Yunho dan menggandengnya keluar ruangan.
_π_
Seonghwa menghampiri Wooyoung setelah ia membantu Hongjoong duduk di sofa. "Bagaimana keadaan San?"
"Kenapa kau peduli?"
Seonghwa beringsut mundur. 'A-apa itu?' Tatapan Wooyoung lain. Tatapannya sangat dingin dan menusuk, bahkan Seonghwa dapat melihat kilatan marah dari mata Wooyoung. Tidak, yang di depannya ini seperti bukan Wooyoung. "Aku hanya bertanya. Apa San sudah akhhh."
Tanpa Seonghwa duga Wooyoung langsung mencekik lehernya. "Lep-as."
"Wooyoung!" Hongjoong yang melihatnya juga terkejut, ia segera menghampiri Wooyoung dan melepas cengkramannya pada Seonghwa. "Apa-apaan kau ini! Apa kau sudah gil-"
BUUGGHHH
Bogem mentah mendarat di pipi Hongjoong. Hongjoong tersungkur ke lantai, bibirnya sobek dan perutnya kembali mengeluarkan darah.
__ADS_1
"INI SEMUA SALAH MU!" Wooyoung berjalan ke arah Hongjoong dan menarik kerah bajunya sampai Hongjoong berdiri. "JIKA SAJA KAU MENDENGARKAN AKU UNTUK MENGAMBIL JALAN LURUS! SAN TIDAK AKAN SEPERTI ITU!"
"Wooyoung hentikan!" Seonghwa memegang lengan Wooyoung.
"Jangan ikut campur!"
Brruuugghhhh
Wooyoung mendorong Seonghwa sampai ia menabrak rak dan membuat isi rak berjatuhan ke atas tubuhnya.
"Seonghwa!" Hongjoong melepaskan diri dan hendak menghampiri Seonghwa. Tapi baju belakangnya di tarik Wooyoung, bogem mentah kembali mendarat di wajahnya.
"Wooyoung sadarlah, kau kenapa?"
"AKU SEPENUHNYA SADAR SIALAN! SEHARUSNYA SEJAK AWAL AKU MENYADARI KALAU KAU MEMANG TIDAK BERNIAT MEMBAWA KAMI KELUAR!"
"Apa maksud mu?! Oh tidak, kau terpe-......"
"KAU MEMANG BRENGSEK KIM HONGJOONG!! SEHARUSNYA KAU MENDENGARKAN AKU SEJAK AWAL!"
Wooyoung kembali melayangkan bogemnya. Tapi Hongjoong dapat menghindar dan balas memukul Wooyoung.
"Sejak awal? Cih . Jika sejak awal aku mendengarkanmu. Kita tidak akan menemukan lilin itu. Tapi aku mengikuti instingku dan berjalan ke kiri! Yah.. walau aku akui insting keduaku tidak tepat sasaran dan membuat kita menjadi sasaran empuk tangan-tangan sialan itu. Tapi San terluka itu karena salahmu sendiri!!" Hongjoong mulai tersulut emosi.
Seonghwa berusaha bangkit. "Joong? Wooyoung diken-"
"Aku tau!! Jangan ikut campur!!"
Seonghwa membeku. 'Joong?' Tapi Seonghwa menuruti apa kata Hongjoong, ia mengerti maksud Hongjoong dan memilih menghampiri San yang mulai bergerak lemah.
"SEKARANG KAU MENYALAHKAN AKU! DASAR KEP*RAT!!"
"Ya itu memang salahmu! Menjaga satu orang saja kau tidak becus!!"
Wooyoung tidak terima. Ya memang benar ia tidak bisa melindungi San. Tapi jika saja setelah mereka mendapatkan lilin itu Hongjoong mendengarkan perkataannya dan berjalan lurus ke depan. Semua ini tidak akan pernah terjadi.
#FLASHBACK
.
.
Hongjoong menatap lukisan di depannya. "Semoga dugaanku benar." Ia menyentuh lukisan itu dan perlahan mengangkatnya.
"Ahh syukurlah. Ternyata memang lilin." Di balik lukisan itu ada ruang dan terdapat lilin yang menyala. Dengan pelan Hongjoong mengambil lilin itu. Ia menunjukkannya ke Seonghwa dan adik-adiknya.
FFUUHHH
"Apa? Aku hanya memastikan. Dan sepertinya itu memang abadi karena apinya tidak mati."
San kembali menatap lilin itu. Ia juga mencoba meniupnya, tapi api lilin itu bahkan tidak bergeming.
"Kalau begitu ... " Senghwa mengambil tempat hiasan kaca yang bentuknya seperti tabung. "Masukkan ke sini."
Hongjoong meletakkan lilin itu dan menjepitnya agar tidak jatuh. Kemudian Seonghwa menutup tabung itu.
"Aku tidak percaya kalau dalam hidupku, aku akan melihat benda seperti ini. Tidak ada oksigen, tapi lilin ini tetap menyala." Seonghwa mendekap tabung tersebut. "Bahkan ini tidak terasa panas. Kita hanya perlu mencari satu benda lagi. Ayoo."
Mereka bertiga berjalan keluar. "Joong cepat!" Seonghwa kembali menghampiri Hongjoong yang sedang memegangi kepalanya. "Kau baik-baik saja?"
"Yaahh tentu saja." Hongjoong kemudian berjalan meninggalkan Seonghwa yang sedang membeku.
'Apa itu? Kenapa tatapan Hongjoong lain?' Seonghwa menggeleng-gelengkan kepalanya. Dan segera menyusul yang lain.
Mereka berjalan dalam diam sampai mereka bertemu koridor yang bercabang. Wooyoung yang berada di depan langsung mengambil jalur lurus, karena hawa koridor di sebelah kiri sangat aneh.
"Kita ke kiri."
"Ehh tapi hyung-"
"Kau meragukanku Wooyoung? Kita ke kiri."
"Joong? Kurasa sebaiknya memang lurus. Koridor kiri-"
"Aku bilang kita ke kiri!"
San menggenggam erat lengan Wooyoung. Ia belum pernah melihat Hongjoong membentak Seonghwa sebelumnya.
"Kalau kalian tidak mau ikut ya sudah. Terserah." Kemudian Hongjoong berjalan ke arah kiri dengan cepat. Seonghwa sampai berlari-lari kecil untuk mengimbangi langkahnya.
.
β
.
"Tetap di belakangku."
San mengangguk. 'Ada yang aneh dengan Hongjoong hyung.'
__ADS_1
Wooyoung dan San berjalan lebih pelan. Wooyoung benar-benar waspada. Perasaannya tidak enak. Sedangkan Seonghwa dan Hongjoong berada cukup jauh di depan mereka.
PPLLAAAKKKK
San kembali tersentak kaget karena Seonghwa baru saja menampar Hongjoong dengan keras. Mereka berhenti berjalan. San melihat Seonghwa mengatakan sesuatu tapi San tak bisa mendengarnya karena jarak mereka.
.
β
.
"Joong?" Seonghwa akhirnya berhasil menyusul Hongjoong.
"Apa lag-"
PPLLAAAKKKK
"Joong? Sadarlah. Aku percaya padamu. Aku mencintaimu." Seonghwa memeluk Hongjoong erat. "Aku percaya padamu. Joong? Kumohon kembalilah padaku."
"Apa yang kau- arrgg." Hongjoong memegangi kepalanya.
"Aku mencintaimu Joong. Kembalilah padaku, aku mohon."
Hongjoong diam sambil masih memegangi kepalanya. Tubuhnya yang dipeluk Seonghwa dengan sedikit gemetar.
"Ugghhh.. apa yang terjadi?" Hongjoong mengerjap-ngerjapkan matanya. Perlahan Hongjoong menyentuh pundak Seonghwa. "Hwa?"
Seonghwa menatap mata Hongjoong yang kembali melembut.
"Apa aku lepas kendali?"
"Hampir. Kau seperti bukan dirimu beberapa saat tadi."
"Ahh maaf, apa saja yang sudah aku lakukan? Aku tidak ingat." Hongjoong memperhatikan koridor di sekitarnya. "Apa aku yang membawa kalian ke sini?"
Seonghwa mengangguk.
"Gawat aku kecolongan! Cepat kembali ini jebakan!!!" Hongjoong menggandeng tangan Seonghwa dan berlari kembali ke arah awal mereka masuk. "Putar arah Wooyoung!"
Wooyoung yang melihat Hongjoong kembali berlari ke arah mereka langsung berbalik dan menggandeng tangan Sanβkembali ke arah mereka masuk tadi.
Tapi terlambat, tangan pucat itu bermunculan dan menyerang mereka dengan membabi buta.
.
.
#FLASHBACK OFF
Wooyoung mengambil pedangnya. Hongjoong juga mengambil goloknya.
TRAAAANGGG
"Hikss .. hentikan aku mohon." Seonghwa mengeratkan pelukannya pada San.
Kilatan marah di mata Wooyoung semakin jelas, perlahan warna matanya berubah, Wooyoung sudah dikendalikan sepenuhnya. "AKU AKAN MEMBUNUH MU!"
_π_
sang~~
eosang~~~
"YEOSANG!!!"
"Hah?"
"APA YANG KAU LAKUKAN!! JANGAN MELAMUN DI SAAT SEPERTI INI!!"
"Hah- hah- hah- hah-" Napas Yeosang semakin tak beraturan. Otaknya seakan berhenti berfungsi. Ia memegangi kepalanya. Bisikan-bisikan itu semakin kuat dan menyamarkan suara di sekitarnya. Ia melihat Jongho yang sedang menebas lengan-lengan yang menyerangnya. Yeosang segera menghampiri Jongho.
"APA YANG KAU LAKUKAN?! SEHARUSNYA KAU MENGHAMPIRI YUNHO! ARRRGGHH SIALAN!!"
Mingi tak habis pikir dengan Yeosang. Ia sedang dililit lengan-lengan saat ini sedangkan Yunho yang tak bersenjata sedang dikejar oleh lengan-lengan itu. Mingi meminta Yeosang untuk membantu Yunho tapi ia malah menghampiri Jongho.
Jraasshhh jrraaaasssshhhh
Mingi akhirnya bisa melepaskan diri. "Yunho! Yunho!" Tapi Yunho sudah tak terlihat, entah ia lari ke arah mana. Mingi berlari lurus tapi bajunya di tarik Yeosang.
"Jangan berpencar! Lewat sini bodoh."
"Kau yang bodoh sialan!" Mingi melepas pegangan Yeosang pada bajunya dan hendak berlari ke arah lain untuk mencari Yunho. Tapi tangan-tangan itu muncul semakin banyak dan hampir menutupi koridor. "Aaarrrg sialan!!! Yunho kumohon bertahanlah."
Tak punya pilihan lain. Mingi akhirnya berlari mengikuti Yeosang dan masuk ke dalam ruangan.
Tbc
Eee anuu heehhheee
__ADS_1
Otak authan buntu huuuhuuu ππ
Gak tau lagi ini cerita begimana ππ makin ancur aja ππ