[ ]Villa.Ateez

[ ]Villa.Ateez
chapter 23: Sequel?


__ADS_3

...Happy reading...


PIRIDING


.


.


Villa . Ateez


.


.


.


.


Seonghwa menatap sendu makam di depannya. Ia meyentuh kepala nisan itu sambil mengusap air mata yg mengalir di pipinya. "Terima kasih. Terima kasih banyak. Kami mungkin takkan bisa keluar tanpa bantuan mu—


—Jangan khawatir kami akan hidup dengan baik. Jadi kau juga istirahatlah yang tenang—


—Sekali lagi,, terima kasih untuk semua bantuan mu—


"Emily"


Seonghwa meletakkan rangkaian bunga pada nisan Emily dan berdiri, ia berjalan menghampiri Hongjoong dan memeluknya. Hongjoong melingkarkan tangannya pada pinggang Seonghwa dan mengecup kening Seonghwa lama.


Mereka sedang mengunjungi makam emily dan keluarganya, sebagai penghormatan terakhir karena sudah membantu mereka. Mereka menatap 7 makam yang berderet rapi dan memanjatkan doa.


"Kajja kita pulang."


Seonghwa mengangguk dan membantu Hongjoong berjalan, mereka semua belum sepenuhnya sembuh, terutama Hongjoong yang kepala dan beberapa bagian tubuhnya yang masih diperban. Dan Wooyoung yang masih harus menggunakan kursi roda.


Seonghwa mengeratkan pegangannya pada Hongjoong. 'Terima kasih Tuhan, karena tidak membawa Hongjoong pergi dari sisiku.'


#FLASHBACK


.


.


"Kumohon! Angkat!"


~WOOYOUNG!!~


"Oh syukurlah ji-jimin hyu-"


~KAU DI MANA ASTAGA WOOYOUNG AKU SANGAT KHAWATIR~


"Apa maksudmu hyung, aku ada di villa keluarga kit-" Wooyoung membelalakan matanya, ini bukan Villa keluarganya, tiba-tiba semuanya terlihat asing. Wooyoung tidak tau mereka ada di mana.


Ia mengedarkan pandangannya, Villa di depan mereka tidak lagi berbentuk seperti Villa keluarganya. Villa itu lebih besar walau sudah berlumut dan banyak bagian yang sudah roboh. Sekeliling mereka yang tadinya dikelilingi perbukitan juga berubah menjadi hutan yang cukup lebat.


"I-ini dimana??"


~Wooyoung jangan khawatir oke,,, kami sudah melacak ponselmu! Sebentar lagi kami sampai~


Wooyoung melihat keadaan Hongjoong yg semakin memburuk. "HYUNG CEPATLAH! KAMI SEMUA TERLUKA! HO-HONGJOONG HYUNG DI-DIA SEKARAT! CEPATLAH KEMARI! KUMOHON!"


~tenanglah! Tenang,,, kami sedang menuju ke tempatmu! Astaga bagaimana kalian bisa ada di tengah hutan, bersabarlah kami sedang membuka jalan~


"Hyung~ kau akan segera sampaikan? Hongjoong hyu-"


~iya kami akan segera sampai, sebentar lagi okee~


'Syukurlah.' Wooyoung menghadap hyungnya. "HYUNG BERTAHANLAH! BANTUAN SEDANG MENUJU KEMA----"


Wooyoung melihat tangan Hongjoong yang membelai pipi Seonghwa perlahan jatuh ke tanah. Mata Wooyoung memanas.


'Tidak mungkin! Kenapa begini.' Wooyoung terduduk lemas. 'Padahal kita sudah berhasil keluar. Hyungg kenapa? Kenapa!!!' Wooyoung tak bisa membendungnya lagi, ia menangis dengan kencang. Tidak mempedulikan Jimin yang memanggil namanya khawatir dari sambungan telepon yang belum terputus.


Niu niu niu niu /suara sirine/


Tak lama bantuan muncul dan segera menghampiri mereka.


"Tidak! Jangan jauhkan aku dari Hongjoong!" Seonghwa memberontak saat tubuhnya ditarik paksa menjauh dari Hongjoong.


"Hyung tenanglah, para medis akan memeriksa Hongjoong hyung." San memeluk hyungnya yang masih menangis histeris. San juga masih menangis, ia terus berdoa semoga hyungnya selamat, tangannya yang memeluk Seonghwa gemetar. 'Hongjoong hyungg aku mohonn.'


"Ia masih hidup! Tapi kritis, bawa alat bantu napas dan pemacu jantung kemari!! Cepat!!"


Seonghwa merosot dalam pelukan San. Syukurlah ternyata Hongjoong-nya masih hidup, ia memeluk San erat sambil masih menangis. Dan Seonghwa baru menyadari kalau dokter yang sedang menangani Hongjoong adalah ibunya.

__ADS_1


Mereka semua mulai dikerumuni para petugas medis dan keluarga mereka.


"Hoho, Yeosang astaga! Eomma pikir takkan bertemu kalian lagi hiks hiks." Ny. Choi memeluk dua pemuda di depannya dengan erat sambil menangis.


Mereka masih mencerna situasi, mereka berlibur ke villa keluarga Wooyoung dan lost kontak sekitar 3 hari, tapi kenapa seolah-olah mereka sudah hilang berhari hari.


.



.


@rumah sakit


Seonghwa duduk di samping ranjang Hongjoong, ia sedang mengupas apel untuk Hongjoong.


"Hwa.. kamu harus istirahat. Lihat luka m-"


"Luka apa?! Lihat dirimu yang seperti mumi!"


"Ppffttt." Wooyoung yang sedang memakan buah di kursi roda menahan tawanya.


Mereka sudah tiga hari di rumah sakit, mereka sengaja di tempatkan dalam satu ruangan yang sangat besar bersama.


Tok tok tok


"Boleh aku masuk?"


"Jimin hyung? Tentu saja! Ayo sini hyung."


Jimin tersenyum dan duduk di kursi yang sudah disediakan San. Ia memandang mereka satu persatu. "Bagaimana keadaan kalian?"


"Sudah lebih baik hyung. Terima kasih karena sudah datang dengan cepat." Seonghwa memberikan teh hangat pada Jimin.


Jimin tersenyum dan mengangguk. "Oohh astaga kukira aku tidak akan bertemu dengan kalian lagi, kalian sudah menghilang selama berhari-hari."


"Kami pergi baru tiga hari hyung." Sanggah Wooyoung sambil masih memakan apel di piringnya.


"Tiga hari apanya! Kalian sudah menghilang dua minggu lebih!"


"Uhuuk uhuukk." Wooyoung tersedak apelnya.


"Dua mingg- a-aduh punggungku!"


"Ish jangan petakilan!" Yunho membantu Mingi yang terbaring di kasurnya agar duduk.


Jimin menghela napasnya. "Kalian tau sendiri kan kalau villa yang kalian anggap villa ku itu sebenarnya Villa kosong yang sudah terbengkalai selama tiga tahun lebih dan sudah memakan banyak korban......"


"......dan Wooyoung cerita kalau kalian seolah-olah ada di dimensi lain. Itu memang tidak masuk akal, tapi itulah yang terjadi pada kalian. Ahahahha astaga aku tidak percaya sampai harus memanggil cenayang untuk membantu mencari kalian."


Jimin tiba-tiba menatap mereka dengan tajam. "Inilah akibatnya kalau kalian nekat pergi sendiri tanpa supir! Tersesat sampai ke dimensi lain astaga!"


"Ehh tunggu tunggu!" San protes, "kami pakai supir yang dikirimin Jimin hyung kok."


Yang lain mengangguk.


"Kalian gak usah saling menutupi kesalahan. Orang supir yang aku kirim ke rumah Wooyoung malah balik lagi. Katanya kalian sudah tidak ada, mobilnya juga udah gak ada, berarti kalian bawa sendiri mobilnya." Jimin menatap mereka kesal, tapi ekspresi yang Jimin tangkap dari mereka malah ekspresi bingung tidak mengerti. "Tunggu kalian berkata jujur."


Mereka semua mengangguk.


"Supirnya datang kok, tapi Wooyoung hyung bilang supirnya beda sama profil yang Jimin hyung kirimin. Pak supir bilang kalau supir pertama yang dikirim sakit dan dia yang menggantikan, bahkan dia tahu nama Jimin hyung," jelas Jongho.


Jimin berusaha mencerna ucapan Jongho. "Tidak mungkin, aku tak pernah mengganti supirnya. Aku mengirim supirku pukul 7 pagi sesuai permintaan kalian. Jam berapa kalian berangkat?"


Seonghwa berusaha mengingat-ingat. "Ah pukul 06.13 pagi. Aku juga bilang kenapa supirnya pagi sekali datangnya, kami bahkan sarapan dengan terburu-buru."


"Ahh sepertinya aku memang harus mempercayai ini."


Mereka menatap Jimin tidak mengerti.


"Setelah mendapat kabar dari supirku kalau kalian sudah berangkat sendiri. Aku berusaha menghubungimu Wooyoung, tapi ponselmu tidak aktif......"


"........kupikir kau sengaja mematikan ponselmu karena tahu aku bakal menelpon dan memarahi kalian. Tapi setelah seharian dan keluarga yang lain juga tidak bisa menghubungi kalian. Kami mulai panik......"


".......kami menghubungi polisi dan menyusul kalian ke villa. Tapi kalian tidak ada di sana. Villa itu kosong..."


"..... Selama sekitar satu minggu kami mencari kalian, akhirnya pihak kepolisian menemukan mobil yang kalian kendarai, kami senang awalnya tapi tidak ketika polisi memberitahu kalau mobil itu ditemukan di dasar jurang...."


"..... orang tua kalian histeris tentu saja. Kami semua segera meluncur ke tempat kejadian dan mengevakuasi mobil itu. Tapi yang aneh, kami tidak menemukan satu pun jasad kalian bahkan koper kalian juga tidak ada. Kami bingung tentu saja...."


"....... akhirnya kami putuskan untuk tetap mencari kalian dengan menyisir daerah itu, mungkin saja kalian selamat dan ada di sekitar jurang....."


".... tapi hasilnya nihil, sudah dua minggu kami mencari, kami hampir putus asa dan mengiklaskan kalian. Tapi Ibumu, Wooyoung, meminta kita melakukan hal terakhir, yaitu melakukan pencarian dengan bantuan cenayang...."

__ADS_1


"..... karena menurutnya, hilangnya kalian sangat tidak wajar, awalnya aku berpikir oh ayolah bibi, di jaman modern seperti ini mana ada yang begituan. Tapi akhirnya kami tetap melakukannya...."


".......cenayang itu bilang, kalian dibawa oleh sedikit bagian dari iblis yang menyamar dalam wujud manusia, kalian dibawa ke suatu tempat. Di tengah hutan, di dalam gedung terbengkalai......."


".....aku bahkan tertawa dalam hati saat cenayang itu mengatakan lokasi tepatnya bangunan itu berada, karena tempat itu sangat jauh dari awal tujuan kalian. Tapi yah,, dari pada kita membuang waktu akhirnya aku dan tim kepolisian menuju tempat itu dengan membawa alat berat untuk membuka jalan...."


"...... kita sudah 3/4 jalan menuju tempat itu, saat tiba-tiba cenayang mengatakan kalau kalian berhasil dan kembali dengan selamat ke dunia ini, kemudian ponselku berdering...."


"..... dan itu darimu Wooyoung. Astaga aku sangat senang, sedih, marah, kesal, entahlah perasaanku campur aduk. Aku segera meminta polisi untuk melacak ponselmu....."


".....dan kau tau apa yang paling membuatku terkejut. Kalian ada di sana! Tepat di tempat yang cenayang itu beritahukan, kita sampai dengan cepat karena memang kita sudah di sekitar tempat itu....."


".......kuasa Tuhan itu luar biasa, mungkin aku mulai percaya dengan adanya dimensi lain. Tapi syukurlah,, kalian semua bisa pulang dengan selamat. Kita semua bisa mengambil pelajaran dari semua kejadian ini."


Mereka semua mengangguk setelah mendengar cerita Jimin yang sangat panjang. Mereka juga tidak menyangka bisa selamat dari kejadian mengerikan itu. Berkat kerja sama mereka dan saling percaya, berkat kerja keras Hongjoong, dan berkat bantuan Emily dan seluruh arwah korban yang tulus membantu mereka. Mereka sangat beruntung.


.


.


#FLASHBACK OFF


Mereka memasuki mobil, Jimin sudah menunggu mereka semua.


"Sudah lega setelah mengunjungi makam mereka?"


"Iyaa hyung, terimakasih sudah mau mengantar," jawab Hongjoong.


Jimin mengangguk. "Kajja, kita pulang. Kalian masih butuh banyak istirahat."


End


Bonus :


#cookie 1


"Oh iya apa kalian memotret bagaimana rupa supir yang membawa kalian?" Jimin jadi penasaran, bagaimana rupa supir jelmaan iblis yang membawa adik-adiknya.


Mingi nampak berpikir. "Young? Bukannya kita poto bersama bareng pak supir sebelum pergi ya?"


"Oh benar juga." Wooyoung mengambil ponsel retak-retaknya dari laci nakas dekat tempat tidurnya.


Mereka semua berkumpul mengelilingi Wooyoung. Mereka membuka galeri dan....


"Uwwaaahhhh!!!!"


Ponsel yang udah ngenes itu kembali terlempar dan jatuh menggelepar dilantai.


"Gila!" Teriak Jimin, karena poto itu menampilkan adik-adiknya yang sedang berpose dengan background mobil dan bayangan hitam mengerikan berada di tengah-tengah mereka.


.


#cookie 2


"Kalau kalian sudah sembuh total, mau liburan ke laut?" - jimin


Ateez : GAK !! MAKASIH !!


"????" - jimin


-Kkeut-


Yeeeeyyyyy finishhh 🎉🎉🎉🎉


Huuhuu authan gak nyangka bisa bikin epep sampe end 😭😭


Noh udah kejawab semua kan di chap ini!


Hongjoong juga gak jadi mati :> gak tega authan bikin Seonghwa menjanda :'>


Bilang apa ???


Samasama^^


Makasih buat semua reader yang gak bisa authan sebutin atu atu yang udah setia baca epep gajelas bikinin authan *kecup basah atu atu*


Makasih yg udah nyempetin buat vote dan komen 😘


Selamat buat Watermelfoxes


Kecurigaan anda benar :v


Ada juga yang nge-gas sama permainan padahal ntu permainan gak ada hubungannya :v cuma di jadikan wadah sama emily buat nyembunyiin petunjuk. Makasih udah komen :**

__ADS_1


SEE YOU IN OTHER BOOK


Authan—♡


__ADS_2