![[ ]Villa.Ateez](https://asset.asean.biz.id/---villa-ateez.webp)
...Happy reading...
Villa . Ateez
.
.
.
.
"Hosh~ hosh~ hosh~~ uhukk uhuk." San berlari tak tentu arah, sesekali ia menengok ke belakang. Memastikan kalau sosok anak kecil yang menyeramkan itu tidak mengikutinya.
#FLASHBACK
.
.
"Uugghhh." Perlahan San membuka matanya, ia menyentuh lehernya yang terasa sakit. "Di mana ini?"
San melihat ke sekeliling ruangan, San tidak yakin dia ada di mana. Apakah masih di Villa ? kalau iya,, seingatnya Villa tidak memiliki ruangan ini.
"Wooyoung?" Perlahan San bangun dari lantai beralaskan karpet merah itu, ia berpegangan pada punggung sofa yang ada di sampingnya. "Hah?"
San kembali terduduk di belakang sofa sambil membekap mulutnya saat ia melihat sosok anak kecil di sebrang ruangan yang sedang duduk membelakanginya.
Anak kecil itu duduk menghadap dinding, air mengalir dari rambut dan bajunya yang basah. San mengedarkan pandangannya, ia mencari pintu. Itu dia, San harus memutari ruangan ini agar bisa sampai ke pintu. Artinya,, ia harus melewati anak kecil itu.
San mengintip dengan hati-hati dari balik Sofa. 'Jika aku tidak membuat suara,, kurasa anak itu tidak akan menyadari keberadaanku'
San perlahan mulai berjalan pelan, sebisa mungkin ia tidak membuat suara. Jantungnya semakin berdegup kencang kala ia harus lewat di belakang anak kecil itu.
Padahal posisi anak kecil itu jauh di sebrang ruangan, tapi San benar-benar was-was. San berhenti sejenak, ia duduk di belakang sebuah meja. Ia mengatur napas nya.
San kembali berdiri dan melangkah dengan pelan tapi ...
Deg!
San membeku di tempat, anak kecil itu ... anak kecil itu sedang menatapnya dengan kepala yang berputar 180°.
Tubuh anak itu masih menghadap tembok, tapi wajahnya sedang menyeringai ke arah San. Air mengalir bercampur darah dari mulutnya.
Seringai anak itu semakin menyeramkan, tubuh anak itu perlahan berputar menghadap San.
San beringsut mundur sampai ia menabrak dinding. Dan tanpa San duga, anak kecil itu mencongkel matanya dengan tangannya sendiri dan melemparnya ke arah San.
"HUAAAAAA." San berlari menghindar. Bola mata itu memantul menabrak dinding. San berlari dengan kencang menuju pintu dan segera keluar dari ruangan itu.
.
.
\#FLASHBACK OFF
BRAAKKKK TREEEKKK
San mendengar suara dari arah belakangnya.
"Wooyoung? To-tolong aku ... " lirihnya, San semakin mempercepat larinya. "Hiiks Wooyoung kamu di mana?? Hongjoong hyung?? Hikss siapa pun,, hikss aku takutt."
San kembali menengokkan kepalanya ke belakang ia tidak menyadari kalau di depannya ada—
BBRRAAKKKK
GGLLABBRRUUGGHH
San menabrak sesuatu dan ia jatuh tersungkur dengan keras ke lantai. "Uuugghh sakitt."
"San—"
"Aahhh pergi! Jangan sakiti aku,, hikss."
"Hei hei tenanglah. Kau tidak apa-apa?"
"Yeo-yeosang?"
"Apa kau terluka? Kau jatuh cukup keras tadi,"
"Yeosang huuhuu!" San tidak menjawab pertanyaan Yeosang, ia langsung memeluk Yeosang erat sambil menangis. "Hikks aku takut!"
"Sssttt tenanglah." Yeosang membalas pelukan San, ia tidak bisa mengabaikannya karena tubuh San benar-benar bergetar ketakutan. "Tidak apa San, aku juga takut. Wooyoung mana?"
San menggeleng dalam pelukan Yeosang. "Aku tidak tau. Aku bangun di ruangan dengan sosok anak kecil yang mencongkel matanya sendiri. I-itu menyeramkan."
Yeosang mengusap-usap punggung San. "Ssttt tenanglah,, sudah tidak apa. Sepertinya kita terpisah-pisah. Kita harus menemukan yang lain dan mencari jalan keluar." Yeosang merasakan kalau San mengangguk.
Yeosang melepas pelukannya dan membantu San berdiri. Karena tadi posisi mereka memang duduk. "Kau tidak apa-apa kan?"
Yeosang kembali bertanya—memastikan keadaan San. Yeosang terkejut karena San berlari sangat kencang ke arahnya dan menabraknya. Yeosang oleng tapi tak sampai jatuh, sedangkan San tersungkur cukup keras ke lantai.
"Iyaa aku tidak papa. Cuma lenganku agak sakit," jawab San pelan.
Yeosang melihat tangan kiri San. Sikunya sedikit lebam. "Sikumu lebam."
"Tidak papa."
"Baiklah,, ayo cari yang lain." Yeosang menggandeng tangan San yang masih gemetar takut.
.
★
.
"Yunho awas!!!"
"Aaarrggghhh Mingi!!!" Yunho memejamkan matanya saat ada sebuah kursi yang melayang ke arahnya.
BBRRRAAAKKKKK
"K-kamu tidak papa, Bear??"
__ADS_1
"Hiks Mi-mingi??" Yunho menangkap Mingi yang ambruk ke arahnya. Mingi menjadikan dirinya tameng untuk melindungi Yunho. "Mingi hikss,"
"Ssstt jangan menangis. Aku tidak papa." Mingi berusaha bangkit. "Akh."
"Jangan bangun dulu hiks pu-punggungmu hikss maaf huuhuu i-itu pasti sakit."
Mingi tidak mengindahkan ucapan Yunho, ia kembali mencoba berdiri dan berhasil. "Aku tidak papa. Kita harus pergi dari sini."
Yunho mengangguk dan mereka berjalan keluar ruangan, tapi baru beberapa langkah, Mingi oleng dan hampir terjatuh kalau Yunho tidak memeganginya.
"Mingi hiks,,"
"Ssttt bear aku tidak papa. Asalkan bukan Yunho yang terluka, aku akan baik-baik saja." Mingi tersenyum, menenangkan kekasihnya.
Tetapi Yunho tetap tidak bisa membendung air matanya, ia langsung memeluk Mingi. "Ma-maaf."
CRRAASSSHHH
BLUKKK
"Huh? Apa yang—"
Yunho dan Mingi terkejut karena ada tangan yang jatuh dan menggeliat di lantai sedangkan lengannya kembali masuk ke dalam langit-langit.
"Upss... ku harap aku tidak mengganggu kalian."
"Wooyoung?" ujar Yunho terkejut bercampur lega.
Wooyoung mengangkat sebelah tangannya sambil tersenyum singkat.
"Astaga dari mana kau dapatkan pedang itu?"
Wooyoung hanya mengangkat bahunya mendengar pertanyaan Mingi. "Yah sebenarnya benda seperti ini banyak tersebar di tempat ini. Manfaatin aja lah ya."
Wooyoung mengedarkan pandangannya. "Sepertinya aku mulai gila. Tapi ku rasa kita sedang berada di dunia lain saat ini. Aku sudah tidak mengenali tempat ini lagi."
"Kalau begitu bukan cuma kamu yang gila. Karena aku juga berpikir begitu." Mingi berjalan sambil berpegangan pada Yunho.
"Kau kenapa?" tanya Wooyoung sedikit mengernyit.
"Tidak apa,, punggungku hanya sedikit sakit."
Wooyoung mengangguk. "Kita harus cari yang lain. Apa San tidak bersama kalian?"
Yunho menggeleng. "Seperti yang kau lihat. Hanya ada kita berdua sampai kau datang."
"Heii." Mingi menepuk bahu Wooyoung. "Kita akan menemukan San dan juga yang lainnya."
Wooyoung tersenyum kecut. "Ya tentu saja."
Wooyoung membantu memapah Mingi dan mereka mulai berjalan mencari yang lain.
.
★
.
BBRRRAAAKKKK
"HAH~ HAH~ HAH~"
Seonghwa dan Hongjoong merosot setelah menutup pintu ruangan. Mereka akhirnya berhasil melewati koridor panjang itu dan menemukan tangga untuk turun ke bawah.
Mereka terus berlari hingga akhirnya sampai di ruangan ini. Nafas mereka benar-benar tak beraturan.
"SI-SIAPA DI SANA???!!"
Hongjoong dan Seonghwa menoleh saat ada yang berteriak pada mereka. Dan mereka melihat Jongho yang sedang mengacungkan tongkat bisbol ke arah mereka. "Hoho?"
"Se-Seonghwa hyung! Joongie Hyung!" Jongho melempar tongkat bisbol yang ia pegang dan langsung berlari ke arah dua hyung tertuanya. Jongho memeluk mereka erat sambil menangis. "Huaaaa hyung Hoho takut."
"Ehh Hoho ... ssstt jangan menangis, sudah tidak apa, Hyung di sini." Hongjoong menepuk-nepuk pelan punggung Jongho.
"Yeosang mana??" Jongho hanya menggeleng menjawab pertanyaan Seonghwa.
Jongho melepas pelukannya dan duduk di antara Seonghwa dan Hongjoong. "A-aku terbangun di ruangan yang tidak ku kenal. Se-sendirian," ucap Jongho masih sesenggukan. "La-lalu ada sosok menyeramkan yang membawa-bawa kepalanya huuhuu hiks itu seram—
—Setelah sosok itu pergi,, a-aku juga pergi dari ruangan itu dan mencari kalian. Tapi di tengah koridor aku dikejar-kejar lengan yang keluar dari langit-langit.. sampai akhirnya aku sampai di ruangan ini."
Seonghwa kembali membawa Jongho ke dalam pelukannya. Hongjoong juga berusaha menenangkan Jongho yang kembali menangis dengan membelai lembut kepalanya. Hongjoong tidak bisa membayangkan betapa ketakutannya maknae mereka.
BRRRAAAKKKKK
"Aawww!"
Posisi mereka yang duduk menyender di pintu membuat kepala Seonghwa terbentur karena pintu itu bergerak.
__ADS_1
Mereka bertiga langsung bangkit dan menjauhi pintu.
\_\_\_\_\_TIDAK BISA DI BUKA !!!\_\_\_\_\_
"San? Itu suara San!" ujar Hongjoong.
"Aahh aku tadi mengunci pintunya!" Seonghwa segera menghampiri pintu dan membuka kuncinya.
Pintu langsung terbuka dan hampir mengenai Seonghwa jika Hongjoong tidak menariknya mundur.
San langsung masuk ke dalam ruangan disusul Yeosang. Mereka terlonjak kaget saat melihat Hongjoong dan yang lain. Tapi detik berikutnya San langsung berlari ke arah Hongjoong dan memeluknya. Sedangkan Yeosang menutup pintu dengan segera.
"Hongjoong hyungg~~~"
"Astaga San, syukurlah." Hongjoong mengeratkan pelukannya pada San dan mengecup pucuk kepala San lama. "Syukurlah,, syukurlah,, ya Tuhan."
Sedangkan Jongho juga sudah memeluk Yeosang dengan erat. Yeosang membalas pelukan Jongho sambil membisikan kata-kata untuk menenangkan baby applenya.
"Hyung hiks Wooyoung??" San menatap Hongjoong penuh harap.
Hongjoong menggeleng, ia menangkup kedua pipi San. "Kita akan cari Wooyoung, Yunho dan juga Mingi. Kita pasti bertemu mereka lagi dan keluar dari tempat ini. Hyung janji."
San mengangguk dan kembali membenamkan wajahnya ke dalam pelukan Hongjoong.
.
★
.
"Aarrghhh tunggu. Aku butuh istirahat."
Wooyoung melepaskan pegangannya pada Mingi dan membantunya duduk bersender di dinding koridor.
Sedangkan Yunho kembali meneteskan air matanya melihat keadaan Mingi yang seperti ini. Ini semua salah nya.. jika saja ia menuruti perkataan Mingi dan tidak masuk ke ruangan itu. Mingi pasti tidak akan terkena lemparan kursi.
"Bear,, sudah ku bilang jangan menangis." Mingi mengusap air mata yang mengalir di pipi chubby beruangnya. "Ini bukan salahmu." Mingi kembali membawa Yunho ke dalam pelukannya.
Wooyoung yang berdiri tak jauh dari mereka tiba-tiba menatap pasangan Yungi dengan nanar. Dan ...
JLLLEEEEBBBB
Wooyoung menghujamkan pedangnya ke tembok di belakang Yunho.
Ternyata yang Wooyoung tatap adalah tangan yang mencuat muncul dari tembok dan hendak mencekik leher Yunho.
Tangan pucat itu Wooyoung tusuk dengan pedang yang masih senantiasa ia bawa. "Kita harus kembali berjalan. Koridor bukan tempat yang aman."
Mingi mengangguk. Mereka kembali berjalan dengan Mingi yang masih dipapah Yunho dan Wooyoung.
KKRRAAAAKK KRAAAKK KRAAKKKK
Tetapi dari dalam lantai muncul tangan-tangan pucat yang jumlahnya sangat banyak.
"Ah sial," geram Mingi, ia mengumpulkan sisa sisa tenaganya dan mengenggam tangan Yunho. "Arrrggghh ayo lari!"
Punggungnya mati rasa tapi Mingi tetap memaksakan dirinya untuk berlari. Ia tidak mau membahayakan Yunho dan juga Wooyoung.
.
★
.
San menyenderkan kepalanya di bahu kiri Hongjoong sambil memeluk lengan hyungnya,, sedangkan Seonghwa menggandeng tangan kanan Hongjoong sambil sesekali mengelus luka di lengan Hongjoong yang ia perban dengan kain seadanya.
Mereka berlima berhenti karena koridor di depan mereka bercabang.
"Hyung? Lewat mana?" tanya Yeosang yang berdiri di depan.
Hongjoong menatap dua koridor yang nampak sama seolah tak memiliki ujung, ia menghela napas. "Lewat mana saja. Semuanya terlihat sama di mataku."
Yeosang mengangguk, ia kembali melangkahkan kakinya. Yeosang memilih berjalan ke arah koridor di sebelah kanan.
Semakin lama koridor terasa semakin gelap,, pandangan mereka mulai terbatas dan sedikit kabur. Yeosang mendadak berhenti berjalan.
"Kenapa?" tanya Seonghwa
"Apa itu?? Sepertinya itu menggelinding ke arah kita," jawab Yeosang yang terdengar seperti monolog.
Seonghwa menyipitkan matanya. "Mana?? Oh! Aku melihatnya juga."
"Itu terlihat seperti—"
Yeosang mengumpat dalam hati. 'Sial!! Kita salah memilih koridor.'
Tbc :(
Panjang yes :(
Hongjoong menang banyak anjirrr :( kanan kiri di peluk uke cantik :(
San itu sepupu Hongjoong btw :) sekedar mengingatkan :))
__ADS_1
Authan—♡