![[ ]Villa.Ateez](https://asset.asean.biz.id/---villa-ateez.webp)
...Happy reading...
Villa . Ateez
.
.
.
.
Hongjoong berjalan memimpin di depan, ia mengacungkan golok besar yang dia pegang dengan waspada. Karena bagian paling berbahaya dari Villa ini adalah koridornya.
Hongjoong berhenti. Ia berpikir sejenak, apakah harus lurus ke depan atau belok ke kanan. Karena koridor ini bercabang.
KRETEEKK KREETEKKK
Koridor di depan mereka mengeluarkan bunyi mengerikan. "Mungkin sebaiknya kita belok ke kanan." Hongjoong memutuskan untuk berbelok ke arah kanan. Mereka berjalan dengan waspada.
SRRREEETTT
Hongjoong membeku dan mengisyaratkan kepada adiknya untuk berhenti dan tidak membuat suara. Karena di depan mereka tiba-tiba ada sosok tubuh tanpa kepala.
Mereka merapatkan tubuh ke tembok saat sosok itu menggerakkan kepala yang dibawanya.
Sreekk srreeekkk
Sosok itu pergi menjauh. Mereka bernapas sedikit lega tapi....
BRAAAKKK BBBRAAKK SRREETTT
SRREETT GGLLAABBRUUGH
Tangan-tangan pucat tiba-tiba bermunculan. Tangan itu memegang kaki Wooyoung dan melemparnya menjauh dari yang lain. Beberapa tangan membelit dan memerangkap San ke tembok, membuatnya tak bisa bergerak.
Sedangkan Seonghwa mulai diseret menjauh. Seonghwa berusaha menancapkan pisaunya ke lantai untuk dijadikan pegangan. Tapi ia mengurungkan niatnya dan malah melempar pisau itu ke dekat Hongjoong.
Dengan susah payah Hongjoong berusaha menggapai pisau yang Seonghwa lempar untuknya. Napasnya semakin sesak karena tangan pucat itu semakin kencang mencekik lehernya.
Dari sisi lain, tangan pucat muncul hendak menjauhkan pisau itu dari Hongjoong. "Aakkhh."
GGRREEPPP SRRAATTTT
"HAAAAHHH UHUUKK UHUKKKK." Hongjoong menghirup udara dengan rakus. Ia berhasil menggapai pisau itu lebih dulu. Hongjoong kembali memotong lengan-lengan yang membelit tubuhnya.
Hongjoong berhasil melepaskan diri, ia melihat ke arah San dan juga Seonghwa. Siapa yang harus ia selamatkan lebih dulu?
"Aaahhh sial!" Hongjoong berlari ke arah San, ia mengambil goloknya yang sempat dilempar oleh salah satu tangan pucat yang menyerangnya.
Dengan golok dan pisau yang ia pegang Hongjoong memotong lengan-lengan yang membelit tubuh San. "Ini, pakai pisau ini untuk memotong lengan yang membelit kakimu, dan bantu Wooyoung."
Setelah mengatakan itu Hongjoong berlari mengejar Seonghwa.
"Wooyoung!" San berlari ke arah Wooyoung yang sedang berusaha melepaskan diri dari tangan-tangan yang membelit dan mencekiknya di lantai. Pedang yang Wooyoung pegang berhasil direbut dan dilempar menjauh.
San berlari melewati Wooyoung dan mengambil pedang itu kemudian menghunuskannya ke lengan-lengan yang membelit Wooyoung.
"Hah hah uhuukk uhukkk."
"Wooyoung kau tidak papa??"
Wooyoung mengangguk. Ia berdiri dan mengambil alih pedang yang dipegang San. Wooyoung menarik San kebelakang tubuhnya dan mengacungkan mata pedangnya ke arah tangan-tangan yang masih menggeliat keluar dari tembok. Tapi kemudian tangan-tangan itu tiba-tiba kembali masuk ke dalam tembok dan menghilang tanpa jejak.
"Hah? Apa-apaan."
.
★
.
"Seonghwa?! Hah~ hah~ hah~ Seonghwa kau dengar aku?!!" Hongjoong tak tau harus ke arah mana, koridor di depannya kembali bercabang. "HWA? KUMOHON! LURUS ATAU KIRI??!!"
__joong~__
Samar-samar Hongjoong dapat mendengar suara Seonghwa.
__KIIHH-RIII__
Hongjoong segera berlari ke arah kiri. Di ujung koridor, ia melihat Seonghwa yang sedang dibelit lengan-lengan pucat.
__ADS_1
"Hwa bertahanlah!"
CRRAAASSS CRRAASSSH
Hongjoong memotong semua tangan yang berusaha meremukkan tubuh Seonghwa. "Haa-ah j-joong."
Hongjoong segera mengangkat tubuh lemah Seonghwa dan memeluknya. Nafas Seonghwa putus-putus. "Maaf kan aku. Maaf kan aku. Maaf kan aku."
"Hah a-ku ti-tidak apa-apa." Seonghwa membalas pelukan Hongjoong dengan lemah.
Hongjoong mengecup kening Seonghwa lama. "Apa kau terluka? Apa tulangmu ada yang patah?"
Seonghwa menggeleng. "Kau datang te-pat waktuhh."
Hoongjoong mengecup bibir Seonghwa sekilas, sebelum merubah posisinya dan menggendong Seonghwa. Ia berjalan kembali ke arah ia masuk dan keluar dari koridor itu. Hongjoong melihat San dan Wooyoung yang berlari ke arahnya.
"Hyung? Apa Seonghwa hyung baik-baik saja?"
Hongjoong hanya mengangguk membalas pertanyaan San. Dan kembali berjalan menelusuri koridor. San mengekor di belakang Hongjoong disusul Wooyoung.
harusnya kau yang memimpin
Wooyoung menolehkan kepalanya ke kanan dan ke kiri.
kau hampir mati karena dia yang memimpin
Wooyoung berhenti dan mengusap ngusap telinganya.
kau lah yang paling hebat
kalian bisa keluar jika kau yang memimpin
dia tidak berniat membawa kalian keluar
bahkan akan jauh lebih baik jika Hongjoong tidak ada di dunia ini
bunuh dia.. WOOYOUNG
WHUUSSS WHUUSS WHUUSSSS
Wooyoung menebas-nebas udara kosong di sekitarnya.
"Hah?? Apa?? Ah iyaa." Wooyoung segera menghampiri San yang sudah agak jauh di depan. Wooyoung menengokkan kepalanya ke belakang sebelum kembali fokus ke depan. 'Apa itu tadi?'
_🏘_
BRRAAKKKK
Trranngggg
"Aarrgghhh." Yeosang melempar senjata yang dipegangnya dan menekan lengan kirinya yang mengeluarkan banyak darah.
"Hyu-hyung??" Jongho panik. "A-aku harus bagaimana? Darahmu banyak sekali."
"Sssttt hoho,, hei hoho tenanglah. Aku baik-baik saj—"
"ITU TIDAK BISA DISEBUT BAIK-BAIK SAJA! hiks aku harus bagaimana?"
"Heii,, baby apple. Tenang okee. Tarik napas,, hembuskan perlahan. Lakukan sekali lagi. Good boyy." Yeosang tersenyum karena Jongho mengikuti apa yang dia ucapkan. "Sekarang tolong carikan kain untuk menutup lukaku okee."
Jongho mengangguk dan segera mencari kain bersih di ruangan itu.
Sedangkan Yunho sedang menekan dan membalut luka di bahu kanan Mingi dengan kain panjang yang ia temukan.
"Gila! Tangan-tangan sialan itu semakin ganas saja."
#FLASHBACK
.
.
"Yeosang! Lewat sini! Pintu itu terlihat seperti pintu ruang Laundry."
Yeosang mendekat ke arah Mingi. "Ahh kau benar, itu memang pintu ruang laundry. Cepat ke sana sebelum lengan-lengan pucat itu muncul lagi."
Mereka berempat berlari menuju pintu itu. Tangan Yeosang berhasil menggapai gagang pintu tapi,,,,,,
gerakannya terhenti karena ada lengan pucat yang melilit perutnya dan melemparnya keras ke tembok.
"Yeosang hyung! Aakkhh." Jongho yang hendak menghampiri Yeosang terjatuh karena tangan itu menarik salah satu kakinya. Tangan itu menyeret Jongho dan menahannya di dinding.
__ADS_1
.
.
CRRRAASSSS CCRAAAASSSS
Kloonnttraaangg
BRRUUGGHHH
Yunho mengerang sakit, karena tangan-tangan itu berhasil menepis pisau yang dipegangnya dan melempar tubuhnya hingga kepalanya membentur dinding cukup keras.
"YUNHO!"
Mingi menghunuskan pedangnya dengan brutal. Ia berlari ke arah Yunho.
.
.
"Aarrgghh lepas sialan!! Tidak! Jongho!!" Yeosang semakin bergerak brutal—berusaha melepaskan diri, karena salah satu tangan pucat itu hendak melempar Jongho dengan pisau punya Yunho.
SRRAATTT
"JONGHO!!"
"ARRGGHH!"
"Mi-mingi hyung."
Mingi menebas tangan-tangan yang membelit tubuh Jongho dan menekan luka di bahunya. Syukurlah dia bisa menghampiri Jongho tepat waktu. Walau ia tidak bisa menghindari pisau itu.
Yeosang akhirnya berhasil melepaskan diri dari belitan lengan-lengan itu dan menghampiri Jongho. Ia menatap Mingi. "Terima kasih."
"Yeosang awas!" Yunho berteriak memperingatkan tapi terlambat. Tangan pucat yang memegang pisau itu berhasil melukai lengan Yeosang. Darah Yeosang menyiprat sampai mengenai wajah Jongho dan sedikit wajah Mingi. "Aarrgg sialan!"
Mingi maju dan kembali menebas tangan-tangan itu sambil menggiring teman-temannya mundur menuju pintu.
"Cepat masuk!" teriak Yunho yang berhasil membuka pintu.
Crassssshhh craassshh
"Mingi!"
BRAAKKKKK
Yunho segera menutup pintu setelah Mingi berhasil masuk. Mingi menggeser sebuah meja besar untuk menahan pintu yang sedang berusaha didobrak tangan-tangan itu.
.
.
#FLASHBACK OFF
Jongho berjalan menuju lemari setelah ia memperban luka Yeosang dengan kain yang berhasil ia temukan.
Sedangkan Yunho mendudukkan Mingi di kursi yang nyaman agar punggungnya tidak semakin sakit sebelum menyusul Jongho ke arah lemari.
Mereka berdua berdiri di depan lemari.
Jongho menghela napasnya. "Kuharap itu memang sebuah jubah."
Yunho membuka lemari itu dan di dalamnya terdapat kain yang digantung asal. Ia mengambilnya dan memeriksa kain tersebut. "Ah hahahah ini memang sebuah jubah."
Ia menunjukan jubah itu kepada Yeosang dan Mingi. Sebelum merosot terduduk di lantai. Ia memeluk jubah merah itu. "Syukurlah. Ku harap ini memang barang yang benar."
Tbc
HONGJOONG bawa GOLOK wankawan :'v
Ini cerita Astagfirullah makin aneh aja :>
Otak authan gak mampu bikin cerita bagoos :((
Wooyoung : maklumin guys itu otak juga sebenernya hadiah giveaway
Authan : koq tau :((
Voment ❤
Authan-♡
__ADS_1