(Tidak Dilanjutkan Lagi)

(Tidak Dilanjutkan Lagi)
Prolog


__ADS_3

Ada sebuah cerita.


Di negeri nan jauh, hiduplah tiga orang bersaudara. Kakak tertua yang merupakan pewaris sah dari keluarga bangsawan ternama Lucretia sangatlah menyayangi kedua orang adik kembarnya.


Biarpun dia memiliki segudang kesibukan, disela-sela waktu luang yang dia miliki, sang kakak sesekali menyempatkan dirinya untuk menghabiskan waktu bersama sang adik.


Adik laki-lakinya tidaklah terlalu menonjol. Begitu juga dengan adik perempuannya. Saudara kembar Lucretia itu tidaklah terlalu suka merepotkan orang lain.


Awalnya, semua kehidupan mereka berlalu dengan begitu damai. Tapi, begitu kedua adiknya berulang tahun yang ke sepuluh. Kehidupan indah mereka seketika berubah drastis menjadi mimpi buruk yang mengerikan dalam sekejap.


Percobaan pembunuhan sangĀ  paman yang haus kekuasaan terhadap ayah mereka, membangkitkan sesuatu yang sulit dipercaya pada dua orang saudara kembar itu.


Sihir. Begitulah mereka menyebutnya. Selama seratus tahun lamanya. Tidak pernah ada satu orang pun lagi yang bisa membangkitkan kekuatan sihir nan begitu dahsyat. Bahkan, pihak kerajaan sekalipun.


Berita mengenai dua orang anak kembar itu menyebar dengan cepat layaknya aliran air terjun nan deras. Keluarga Lucretia yang mencoba untuk menutupi berita itu sedikit kewalahan karena cerita itu sudah sampai ke telinga pihak kerajaan.


Dengan hati yang berdebar. Kedua anak kembar itu memenuhi undangan sang raja untuk datang ke istana. Kedua anak itu menyangka mereka akan mendapatkan hukuman karena telah melakukan pembunuhan terhadap sang paman. Tapi, ketika mereka sudah menghadap langsung kepada raja yang mengundang mereka, kedua anak yang biasanya tenang itu, menangis sesenggukan.


"Aku paham mengapa kalian mengambil tindakan itu. Jadi, aku akan membebaskan kalian berdua dari hukuman." Ucap sang raja sambil menenangkan kedua anak kembar itu. Rangkulan hangat penuh kasih miliknya, terasa begitu menenangkan bagi kedua orang bersaudara itu.


Begitu dua orang saudara itu berhenti menangis, sang raja menyerahkan keduanya kepada sang kakak yang sedari tadi hanya berani memperhatikan dari kejauhan. Bagi kedua adiknya, tentu tidak ada tempat yang paling nyaman selain berada di dekat sang kakak.


Sang raja yang awalnya ingin mengatakan maksud sebenarnya mengapa dia mengundang tiga orang saudara Lucretia, mengurungkan niatnya begitu dia melihat raut kelelahan dari dua orang saudara kembar itu.


Perintah sang raja yang menyuruhnya untuk menginap dan beristirahat di istana, ditolak halus oleh sang kakak dengan mengatakan bahwa kedua adiknya tidaklah terlalu menyukai berada di sekitar orang asing maupun keramaian. Dengan sedikit berat hati, Raja itu mengizinkan mereka untuk menginap di luar, tapi dengan syarat ketiga bersaudara itu akan menginap di tempat yang sudah dipilihkan olehnya.


Kakak dari kedua anak kembar itu menyanggupinya. Dia menuruti permintaan sang raja, dan menginap di tempat yang sudah dipilihkan.


Setelah pertemuan kedua untuk menghadap sang raja, waktu tidak terasa begitu cepat berlalu.


Kedua anak kembar yang sebelumnya berusia sepuluh tahun itu, kini berulang tahun yang ke tujuh belas. Permintaan yang raja ajukan di pertemuan kedua mereka, dilaksanakan tepat satu hari setelah pesta ulang tahun mereka diselenggarakan.

__ADS_1


Pertunangan putra mahkota dengan bungsu Lucretia terlaksana dengan lancar di hari itu. Sebagai satu-satunya anak perempuan dari keluarga Lucretia, tentu gadis itu merasa senang karena bisa bertunangan dengan seorang putra mahkota. Dengan pertunangan ini, dia berharap, keluarga kesayangannya bisa hidup makmur dan bahagia selamanya.


Namun sayang. Harapan yang diam-diam dipanjatkan sang gadis tidaklah berjalan sesuai angan-angannya. Putra mahkota yang cemburu dengan mereka--dua orang saudara kembar Lucretia--bukannya melindungi keluarganya, justru mencoba untuk menghancurkan mereka.


Alasan yang dikatakan oleh putra mahkota terhadap dirinya dan keluarganya, tentu membuat gadis itu marah. Dia tidak menyangka bahwa hanya karena alasan yang sepele, putra mahkota yang begitu dia percayai, tega menghancurkan keluarga besar Lucretia.


Tunangannya itu cemburu. Ya, sang putra mahkota yang sebelumnya gadis itu anggap sebagai penyelamat, cemburu terhadap mereka. Ah. Lebih tepatnya, cemburu terhadap apa yang mereka miliki, sedangkan dirinya tidak.


Putra mahkota yang tidak menyukai ada orang yang bisa menggunakan sihir selain dirinya, membantai habis seluruh orang yang ada di kediaman Lucretia.


Begitu semua orang sudah terbunuh, dan hanya menyisakan sosok gadis bungsu itu saja, dia berkata.


"Kau dan keluargamu tidak pantas untuk hidup di dunia ini."


Sang gadis yang tidak terima akan perlakuan bengis putra mahkota terhadap keluarganya, tentu tidak tinggal diam. Dia membalas dengan nada yang tidak kalah mengancam.


"Begitupun dengan sampah seperti Anda."


Pertarungan sengit terjadi di antara keduanya. Sang gadis yang memiliki sihir, tentu jauh lebih diunggulkan di dalam pertarungan ini. Dengan mudah, dia bisa mengalahkan putra mahkota seorang diri.


Ditengah kesadarannya yang mulai menipis karena kehilangan begitu banyak darah, putra mahkota itu masih saja menyempatkan dirinya untuk melontarkan kata-kata menusuk nan menghina. "Karena aku, tidak akan membiarkanmu hidup bahagia."


Kalimat terakhir dari putra mahkota, dianggap angin lalu oleh sang gadis. Begitu tunangannya menghembuskan nafas untuk yang terakhir kalinya, gadis itu memberikan sebagian kekuatannya terhadap mayat putra mahkota.


"Begitupun denganku." Bisiknya tepat disamping telinga putra mahkota sebelum pergi meninggalkan tempat itu.


"Aku tidak akan membiarkanmu hidup bahagia selamanya."


Berita mengenai terbunuhnya putra mahkota kerajaan menyebar. Sang raja yang tidak tahu menahu mengenai kebenaran dibalik alasan kematian putranya, seketika gelap mata. Sosoknya yang dulu penuh kasih, sekarang berubah menjadi bengis karena sebuah kebenaran yang dipalsukan.


"Bunuh dia!" teriaknya murka seraya menunjuk satu-satunya anggota Lucretia yang tersisa. Gadis yang dulunya dia anggap bagaikan putrinya sendiri, dia perlakukan secara kasar begitu sosoknya sudah tertangkap. Dalam pikirannya berbagai kalimat penuh amarah menggema. Tidak ada ampun bagi pembunuh putra kesayangannya!

__ADS_1


"Bunuh dia!"


Sang gadis yang dirantai dengan pembungkam sihir, tentu tidak bisa melakukan pembelaan apapun. Dengan pasrah, dia menerima hukuman mati yang dijatuhkan oleh sang raja terhadap dirinya. Sebelum ujung lancip pisau pemenggal kepala mengenainya, gadis itu bergumam.


"Hiduplah."


Sorak sorai sekaligus raung kesedihan menggema di lapangan nan luas tempat hukuman dilaksanakan. Rakyat yang juga tidak tahu menahu mengenai kebenaran di balik perbuatan sang gadis, mengiringi mayatnya dengan sumpah serapah maupun kutukan.


Tidak ada pemakaman bagi gadis itu. Mayatnya yang sudah tidak lagi memiliki kepala, dibuang begitu saja secara sembarang oleh para prajurit yang diperintah sang raja.


Begitu jauh berbanding terbalik dengan sang gadis. Putra mahkota, sosok sang pengkhianat sesungguhnya, justru mendapatkan pemakaman yang layak. Di sisinya, begitu banyak orang terdekatnya yang mengantarkan kepergiannya.


"Putraku."


Sang raja yang masih tidak bisa menerima kematian putranya, tidak bisa menghentikan aliran airmatanya. Wajah pucat dari putra kesayangannya dia elus dengan penuh kasih sayang.


"Luca Alcander Istvan."


Nama putra kesayangannya, dia gumamkan. Sang raja yang terlalu larut akan kesedihan tidak menyadari keajaiban yang terjadi terhadap putranya.


Isak tangis yang sebelumnya terdengar berubah menjadi ungkapan penuh rasa tidak percaya. putra mahkota yang sebelumnya terlihat menutup matanya, bangun kembali. Kedua matanya yang berwarna semerah darah yang menatap heran orang-orang, disambut dengan tatapan seolah mereka melihat hantu saja.


"Putra Mahkota!!"


Pelukan yang didapat oleh sang putra mahkota dari orang sekitarnya, disambutnya dengan penuh kebingungan. Tangannya yang sedari tadi kaku, kini sudah bisa digerakkan.


Awalnya, putra mahkota itu menganggap aneh apa yang terjadi. Namun, begitu ingatannya mengenai sebelum kematiannya terputar kembali. Airmata jatuh tanpa dia sadari.


Orang-orang mengira calon raja mereka itu terharu karena diberi kesempatan hidup satu kali lagi sehingga bisa berkumpul kembali bersama keluarganya. Namun mereka tidak menyadari, bahwa airmata itu jatuh bukanlah diperuntukkan bagi mereka.


Kebenarannya, Putra mahkota itu menangis karena keajaiban yang didapatnya dari sang gadis. Pengorbanan dari seseorang yang sudah di khianatinya bagi dirinya itulah yang membuatnya menangis sampai demikian kerasnya.

__ADS_1


Namun, seberapa menyesalnya pun dirinya sekarang. Semua sudahlah terlambat. Gadis yang tulus mencintainya telah pergi. Sosok yang menerima dirinya apa adanya menghilang, terbunuh karena keputusan gegabah yang diambil olehnya.


Sisa-sisa hidup Putra mahkota, dia habiskan dengan penuh penyesalan. Sampai akhir hidupnya, bayangan sang gadis tidak sedikit pun pudar dalam ingatan.


__ADS_2