
Angin yang berhembus serasa menggelitik. Novella yang tertidur lelap, membuka matanya. Pemandangan asing yang ia lihat begitu terbangun, terasa mengherankan. Apa yang Novella saksikan sekarang ini, seingatnya bukanlah tempat terakhir ia bersinggah.
"Apakah ini mimpi?"
Novella yang masih merasa aneh akan apa yang terjadi, mencubit pipinya sendiri. Sensasi sakit yang dirasa olehnya, langsung menyadarkannya bahwa apa yang terpampang di hadapannya ini adalah suatu hal yang nyata.
Kedua mata berbulu mata lentik itu mengerjap pelan. Pemandangan berupa halaman luas dengan dihiasi berbagai macam jenis bunga ini tidak sekalipun pernah Novella saksikan secara nyata. Seumur hidupnya, Novella baru kali ini menyaksikan taman bunga yang begitu indah secara langsung seperti ini.
Daun-daun yang berjatuhan karena tertiup angin, Novella ambil. Awalnya, Novella mengira itu adalah daun yang berjatuhan biasanya. Namun begitu ia memperhatikan lebih jauh, daun tersebut bukanlah daun yang biasa ditemui olehnya.
Warnanya yang berubah keperakan ketika menyentuh tanah, menimbulkan rasa familier nan mendebarkan. Dengan tangan yang gemetar, Novella yang masih tidak mau membenarkan pikirannya mengambil sebagian rambut panjangnya yang terurai. Dan betapa terkejutnya dia. Warna rambutnya yang seharusnya hitam kini berubah menjadi perak.
Ini tidak mungkin terjadi padaku bukan?
Novella lagi-lagi mencubit pipinya. Rasa sakit yang ditimbulkan karena ulahnya sendiri itu membuatnya meringis.
"Elthia!"
Panggilan yang terasa asing sekaligus familiar itu membuat Novella membeku di tempat. Kedua matanya membelalak. Sedangkan tangannya mengeluarkan keringat dingin. Begitu seseorang yang memanggil barusan sudah berdiri tepat di belakangnya dan menggenggam tangannya secara erat, Novella merasa dunia seakan runtuh menimpanya. Dia menatap penuh kengerian sosok yang juga memiliki surai perak sepertinya. Kedua mata berwarna hijau yang menatap cemas dirinya, adalah hal terakhir yang Novella lihat sebelum gadis itu kehilangan kesadarannya.
"Elthia!"
°·°·°·°·°·°
Sesuatu yang awalnya Novella coba anggap sebagai mimpi, tidak ia sangka ternyata memanglah kenyataan. Mau berapa kalipun Novella mencubit dirinya sendiri, ia tetaplah berada di dunia yang selalu dianggap sebagai kemustahilan.
Sudah satu jam semenjak Novella bangun dari pingsannya. Dan sudah selama itu pula Novella memutar-mutar kembali ingatannya. Seingatnya, sebelum ia jatuh kedalam dunia ini, ia duduk bersama Rio, seorang pemuda asing yang juga memiliki hobi membaca.
Ketika itu, mereka berdua asik berbincang bersama mengenai akhir dari kehidupan Elthia Sherianne Lucretia yang begitu menyedihkan. Tidak hanya itu, bahkan mereka berdua juga sempat merancang beberapa skenario yang sekiranya bisa mengubah takdir kejam yang di goreskan sang penulis bagi Elthia.
Jika memang Rio yang membawaku kemari. Siapa dia sebenarnya?
Sebelum Novella kehilangan kesadaran dan terbangun di tempat yang asing. Novella masih mengingat jelas momen ia menutup matanya karena melihat cahaya biru yang menyilaukan. Tidak ada setitik imajinasi pun melintas di benaknya ketika itu mengenai dunia ini. Lantas, mengapa Novella tiba-tiba bisa berada disini? Tanpa alasan yang jelas mendadak terbangun di dunia asing seperti ini. Rasanya, sama seperti Novella mendapatkan mimpi indah sekaligus buruk disaat yang bersamaan.
Apakah mungkin Rio adalah sosok sang penulis sadis itu?
Novella menggeleng. Pikiran anehnya itu langsung di tepisnya karena tidak sedikitpun memiliki bukti yang cukup akurat. Jika memang Rio adalah penulis sadis itu. Novella yakin Rio tidak perlu repot-repot menanyakan pendapatnya mengenai goresan hidup Elthia. Akan lebih baik jika Rio tidak menyusun ulang alur cerita bersamanya. Karena itu hanya akan mengurasi unsur kejutan. Selain karena alasan itu, sangat tidak mungkin bukan seorang manusia bisa mengirim manusia lain menuju dunia hasil dari imajinasi?
Kalau begitu, apa maksudnya ini?
Novella memandangi bayangan wajahnya yang terpantul di cermin. Bola mata besar, bibir tipis yang berwarna merah alami, dan hidung mungil nan mancung. Persis seperti bayangan yang ada di benaknya. Wajah Elthia sangatlah rupawan. Surai perak ciri khas keturunan Lucretia ini sangatlah cocok untuknya. Terutama, dua bola mata yang berbeda warna ini.
Heterochromia.
Dua bola mata berbeda warna inilah yang menjadi sumber segala kecantikan Elthia. Sekaligus, penyebab awal segala malapetaka yang menimpanya. Seandainya saja raja memandang hina kelainan ini. Novella yakin, Elthia bisa lepas dari posisinya sebagai kandidat tertinggi calon putri mahkota. Namun sayang, bukannya memandang hina dirinya, sang raja justru merasa takjub dan jatuh ke dalam pesona kedua netra ini. Berkat rasa takjub inilah kehidupan Elthia menjadi semakin terikat dengannya. Kalau boleh jujur, sebenarnya Novella merasa kesal sekali dengan keputusan yang diambil oleh raja.
Sebagai seorang pemimpin. Raja sangatlah egois.
Novella memperhatikan secara seksama kedua netra yang begitu indah ini. Netra biru yang berada di sebelah kiri terlihat menyerupai indahnya warna langit siang. Sedangkan netra hijau yang ada di sebelah kanan, warnanya yang indah menyerupai batu permata emerald. Jauh berbeda dengan kedua netra hitam yang dulu dimiliki olehnya. Sebagai seseorang yang selalu mengidamkan ciri fisik seperti ini sedari dulu. Novella cukup menikmati kehidupan baru yang dimiliki olehnya sekarang ini.
Karena sudah terlanjur terjadi. Tentu, aku harus menikmatinya bukan?
Suara ketukan pintu mengalihkan perhatian Novella. Begitu ia sudah memberikan izin. Tanpa perlu menunggu waktu yang lama orang tersebut langsung masuk dan menghampirinya. Kedua netra berbeda warna yang juga dimiliki oleh orang itu, membuat Novella tanpa perlu waktu lama, langsung bisa mengenalinya.
__ADS_1
"Kak Evander."
Sosok dari saudara kembar Elthia ini mempunyai wajah yang juga tidak kalah rupawan. Sebagai putra kedua yang terlahir dalam keluarga Lucretia. Evander Kairos Lucretia jugalah termasuk ke dalam salah satu daftar sosok yang diidamkan begitu banyak wanita di masa depan kelak.
Ketampanannya sudah bisa dilihat dari kecil.
Novella memperhatikan Evander dari atas sampai bawah. Biarpun kini umurnya baru delapan tahun, aura yang di pancarkannya tidaklah main-main. Sebagai putra dari bangsawan ternama, Evander bergerak begitu anggun dan elegan di setiap langkahnya.
"Elthia."
Evander yang duduk di sampingnya Novella perhatikan. Panggilan yang diberikan Evander masihlah terasa asing baginya.
Sekarang, aku adalah Elthia.
Novella menekankan kenyataan itu kedalam dirinya. Tidak lama lagi, mau tidak mau ia harus melupakan nama aslinya. Karena disini, tidaklah ada seorang pun yang bernama Novella Sandrea. Disini, dirinya biasa dikenal sebagai Elthia Sherianne Lucretia. Seorang putri tunggal duke¹. Satu-satunya wanita yang bisa menggunakan sihir di negeri Pyralis kelak.
Aku harus bisa mengubah keadaan jika ingin selamat.
"Bagaimana keadaanmu? Kepalamu masih terasa pusing?"
Perhatian yang diberikan Evander menimbulkan sensasi hangat yang nyaman. Sebagai seorang yang hidup sebatang kara di kehidupan sebelumnya, Novella merasa terharu karena diperlakukan selembut ini.
"Aku baik-baik saja. Rasa pusingnya sudah lama hilang."
Sangat tidak mungkin bukan, jika Novella jujur mengenai alasan dia pingsan yang sebenarnya? Evander tentu tidak akan mempercayainya. Mana ada orang yang akan mempercayai bahwa dirinya bukanlah Elthia yang sebenarnya. Sedangkan dirinya jelas-jelas memiliki wujud seseorang yang dikenal sebagai Elthia.
Bisa-bisa aku dianggap sakit jiwa.
Merahasiakan hal ini adalah satu-satunya yang bisa Novella lakukan saat ini. Sebelum Novella menemui Rio, sepertinya ia harus membiasakan dirinya secara mandiri disini. Ia harus memerankan dengan baik peran sebagai Elthia.
Kebetulan yang tidak Novella sangka ini, jujur saja sedikit mengkhawatirkan. Jika mengingat bagaimana hidup Elthia berakhir. Rasanya, Novella seperti diberi tugas berat yang mengancam nyawa.
Apakah hal ini terjadi karena harapanku sendiri, ya?
Setelah dipikir-pikir lebih jauh lagi. Harapan yang Novella ucapkan sebelum terbangun sebagai Elthia, ia tumpahkan bersamaan alur cerita yang Rio tanyakan. Di setiap saran yang diajukan olehnya, tersimpan harapan besar mengenai dirinya yang bisa mengubah akhir tragis kehidupan Elthia. Novella sangat mengharapkan tokoh yang begitu pengasih favoritnya ini mendapatkan kehidupan yang bahagia. Tidak apa jika Elthia hidup tanpa kekuatan sihir yang terbangkitkan. Selama Elthia beserta keluarganya selamat dari ancaman kematian. Biar menyeberangi lautan sekalipun. Novella dengan senang hati, akan berjuang keras demi mencari sosok pengasih yang memiliki posisi setara dengan Pangeran Luca.
"Syukurlah kau sudah baik-baik saja. Dengan ini, aku bisa menenangkan kakak."
"Maafkan aku. Sepertinya, aku sudah mengejutkan kak Sebastian, ya?" mengingat betapa pengertiannya sosok kakak tertua Elthia, dengusan pelan keluar dari mulut Novella. Tawa nan halus yang dikeluarkan olehnya, terdengar merdu karena kini jiwanya sudah tidak lagi berada dalam tubuh aslinya.
Memang, ya? Menjadi seorang tokoh utama itu berbeda. Tawa sumbangku yang begitu aku sesali, kini sudah tidak terdengar lagi. Rasanya cukup mengejutkan memiliki suara merdu layaknya seorang wanita suci yang selalu dituliskan dalam sebuah cerita seperti ini.
"Apakah kak Sebastian sedang sibuk?"
Karena Sebastian Idzi Lucretia adalah seorang pewaris sah keluarga Lucretia, ia tidaklah memiliki banyak waktu luang. Jika mengingat karakternya yang dituliskan sebagai seorang kakak yang sangat mencintai kedua adiknya. Sangatlah tidak mungkin Sebastian akan mengabaikan keadaan Elthia seperti sekarang ini, kecuali dirinya sedang berada dalam kondisi yang tidak mungkin untuk diganggu.
Sebagai pewaris gelar kebangsawanan yang berikutnya. Hal yang wajar jika Sebastian memiliki segudang kesibukan dan kewajiban. Tidak seperti kedua adiknya yang diberikan sedikit kelonggaran. Tugas Sebastian tidaklah sedikitpun diringankan oleh ayah mereka, sang kepala keluarga Lucretia.
"Ayah menyeretnya ke sebuah perjamuan."
Jawaban bernada lelah yang diberikan oleh Evander, Novella angguki. Mendengar langsung mengenai betapa sibuknya seorang Sebastian sekarang ini, rasanya, Novella bisa memahami mengapa Sebastian merasa begitu bahagia ketika menghabiskan waktu bersama kedua adiknya.
"Ayah masih saja ketat, ya?"
__ADS_1
"Begitulah."
Melihat betapa lesunya Evander yang duduk di sampingnya ini, Novella tersenyum kecil. Dia cukup paham mengapa Evander merasa begitu lelah karena tingkah sang ayah. Tuan Arys memang sedikit mengerikan jika sudah menyangkut mengenai kewajiban. Sebagai seorang ayah, Arys Terrene Lucretia adalah sosok yang sangat penyayang terhadap ketiga orang anaknya. Namun, itu tidak berarti dia selalu memanjakan putra-putrinya. Sebagai seseorang yang dipercaya raja, serta kepala keluarga dari satu-satunya bangsawan yang memiliki posisi tertinggi. Tuan Arys selalu menekankan pengajaran mengenai betapa pentingnya sebuah kewajiban kepada anak-anaknya. Sosoknya yang begitu tegas ini, sangatlah disegani oleh tiap orang yang berada di kediaman Lucretia. Tidak terkecuali, para kepala keluarga bangsawan lainnya.
"Kak Evan. Apakah hari ini ada acara?"
Karena Novella tiba disini sebagai Elthia ketika sedang menikmati pemandangan taman keluarga Lucretia. Novella hanya bisa menebak ia sedang berada di awal mula pengenalan dalam cerita. Momen pengenalan sebagian tokoh di awal cerita sangatlah disukai oleh Novella. Jadi, ia berharap tebakannya ini tidaklah salah.
"Kalau hari ini sih, tidak. Apakah kau ingin pergi ke luar?"
Kebingungan Evander, Novella maklumi. Sebagai saudara kembar, Elthia dan Evander sangatlah jarang tidak bermain bersama. Saking akrabnya mereka berdua, mereka bahkan bisa membaca pikiran satu sama lain tanpa perlu banyak bertanya.
"Tidak. Aku tidak ingin melakukannya."
Novella menggenggam erat tangan Evander. Sensasi kasar yang di rasakannya di telapak tangan Evander, entah mengapa mengingatkannya dengan Rio.
"Bisakah kakak membantuku?"
"Selama itu tidak berbahaya, aku akan membantumu."
"Tolong ajari aku menggunakan pedang."
Karena bagian awal cerita berisikan momen pengenalan. Sebisa mungkin, Novella ingin menghindari pertemuan dengan sang Pangeran. Biarpun itu cuma sekilas. Selama belum memantapkan hati, Novella masih tidak sanggup untuk menemuinya.
"Jika ingin belajar berpedang. Kau harus meminta izin terlebih dahulu kepada ayah."
Saran yang diberikan Evander, menurunkan semangat Novella. Ia kira, Evander akan langsung menyetujuinya, tapi ternyata salah. Evander jutru terlihat menentang keinginannya. Walaupun Novella tidak melihat langsung ekspresi penolakan itu di wajah Evander. Biarpun hanya sekilas, ia bisa membacanya melalui sorotan matanya yang tegas dan keningnya yang mengerut.
"Apakah kakak tidak bisa mengajariku tanpa seizin ayah?"
Gelengan Evander pertanda ia menolaknya, melunturkan senyuman Novella. Rasanya, ia seperti sedang mendapatkan peringatan keras disini. Penolakan yang Evander berikan entah mengapa terkesan seperti dirinya akan mati saja jika berani berbuat sesuatu tanpa seizin ayah mereka.
"Aku tidak mungkin mengajarimu berpedang, dengan kemampuanku yang masih sedikit ini."
Penekanan yang Evander berikan di setiap kata yang di ucapkannya, membuat Novella meringis. Ia tidak berani mengatakan langsung keinginannya ini kepada Tuan Arys karena ia yakin, permintaannya tersebut sudah pasti akan mendapatkan penolakan. Meminta kepada Sebastian, kakak tertua Elthia? Tidak, tidak. Kakak yang begitu perhatian serta penyayang seperti Sebastian tidaklah mungkin membiarkan adiknya tercinta memegang pedang layaknya seorang laki-laki. Sebaliknya, Novella yakin. Sebastian pasti akan mengatakan bahwa dia selalu berada di sisinya, dan akan melindunginya tidak peduli bahkan jika ia harus menyerahkan nyawanya nanti.
"Kalau begitu, bisakah kakak menemaniku belajar sejarah hari ini?"
Karena permintaannya untuk diajari pedang sangatlah mustahil terwujudkan. Novella mengubah keinginannya. Senyum puas yang di perlihatkan Evander ketika ia sudah menunjukkan rasa putus asa terhadap permintaan yang ia ajukan sebelumnya, jujur saja terasa menjengkelkan.
"Baiklah."
Jawaban singkat bernada riang itu mau tidak mau membuat Novella memutar kedua bola matanya secara refleks. Senyum kecut terbentuk di bibirnya ketika Evander kembali berpaling padanya setelah mengambil beberapa makanan bagi Novella dari pelayan suruhannya.
"Hei. Jangan cemberut begitu. Aku tidak mau melihat wajah yang mirip denganku ini terlihat jelek."
Teguran yang diberikan oleh Evander serta tangannya yang memaksa bibir Novella untuk tersenyum, tidak Novella turuti. Gadis itu mengembungkan pipinya. Menunjukkan secara jelas kepada Evander bahwa dia masih merasa kesal karena permintaannya untuk belajar pedang tidak dikabulkan.
"Aku akan menemanimu belajar. Jadi, kau harus makan dulu, mengerti?"
Novella tahu, merajuk karena hal sepele tidaklah ada gunanya. Tapi, untuk kali ini, entah mengapa ia ingin melakukannya. Walaupun terkesan egois. Novella cukup menikmati usaha Evander yang mencoba membujuknya agar tidak memasang wajah cemberut lagi.
Maafkan aku, Evander. Walaupun hanya sebentar. Biarkanlah aku merasakan betapa indahnya perhatian yang tidak pernah aku rasakan ini.
__ADS_1
1. Duke (Duchess) \= Diambil dari bahasa latin dux yang berarti pemimpin. Duke adalah pemilik posisi tertinggi kebangsawanan setelah raja. Gelar ini adalah sebuah istilah yang digunakan untuk merujuk kepada seorang komandan militer yang tidak memiliki pangkat resmi. Seorang duke juga merupakan anggota angkatan bersenjata, pendeta, atau duta besar. Pangkat atau jabatan mereka mendahului gelar kebangsawanan mereka. Misalnya, "Major - General duke of...". Istri seorang duke selalu disebut duchess.
Ps. Mulai chapter depan, sudut pandang Novella berubah menjadi Elthia, ya! ^-^