(Tidak Dilanjutkan Lagi)

(Tidak Dilanjutkan Lagi)
11. Senior


__ADS_3

Pelajaran hari ini adalah bagaimana caranya menjalin kontrak bersama familiar. Bagi para siswa maupun siswi yang belum mendapatkan familiar, diwajibkan untuk menemukannya. Sedangkan bagi siswa maupun siswi yang sudah menjalin kontrak, mereka diharuskan mencari seorang senior untuk dijadikan sebagai pembimbing mereka. Satu kelompok terdiri dari tiga orang, yakni satu orang senior yang sudah terbukti keahlian sihirnya, serta dua orang adik kelas yang baru saja memulai kelasnya.


Sebagai orang yang sudah menjalin kontrak, sekarang Elthia serta Evander mencari seseorang yang bisa dijadikan ketua dalam kelompok mereka. Karena mereka berdua masuk akademi sedikit telat dari waktu yang seharusnya, mereka sedikit kesulitan dalam mencarinya. Minimnya lingkup pergaulan membuat mereka harus berkeliling akademi yang besarnya bahkan melebihi istana. Sudah dua jam mereka mencari, namun tidak ada seorang pun yang cocok dijadikan sebagai ketua kelompok mereka.


Profesor Alva Berwyn Reynand yang mengajar di kelas mereka berdua mengatakan bahwa sihir yang mereka miliki akan menemukan sendiri orang yang cocok sebagai penuntun mereka. Karena sihir layaknya sebuah ikatan, kecocokannya terhadap orang lain tidaklah bisa dipaksakan. Sihir akan menuntun pemiliknya terhadap seseorang yang memiliki sihir serupa terhadap sang pemiliknya. Tak terlalu jauh berbeda seperti kontrak familiar, proses mencari seorang senior yang memiliki gelombang kekuatan serupa juga memerlukan kesamaan di antara kedua belah pihak. Apabila terjadi ketidakcocokan, kekuatan yang saling bertolak belakang akan memangsa satu sama lain. Dan hal itu, bisa menyebabkan luka fatal bagi penyihir yang kekuatannya jauh lebih lemah.


Sebagai seseorang yang baru berstatus penyihir. Elthia dan Evander memiliki kekuatan yang lumayan besar. Dan, disinilah segala kesulitan mereka temui. Tidak seperti penyihir berkekuatan kecil yang bisa dengan mudah mencocokan dirinya dengan penyihir tingkat menengah. Sebagai penyihir berkekuatan besar, Elthia serta Evander tidaklah bisa sembarangan memilih seseorang untuk menjadi pengawas sekaligus pembimbing mereka. Jumlah penyihir tingkat tinggi yang semakin tahun semakin sedikit, membuat tingkat kelangkaan mereka semakin tinggi saja.


Sebenarnya, ada satu orang guru berstatus penyihir tingkat tinggi di akademi ini. Akan tetapi, karena sekarang kedudukannya sudahlah berubah, guru tersebut tidaklah bisa menampakkan wujudnya secara sembarangan lagi di depan publik. Sosok yang tidak lain adalah raja dari negeri Yodea ini, sangat tidaklah mungkin untuk dipilih sebagai pembimbing mereka. Jadi, karena Elthia serta Evander menyadari bahwa hal tersebut mustahil untuk mereka lakukan, mereka berdua berusaha lebih keras agar menemukan sosok yang bisa menyeimbangkan kekuatan mereka.


Mengelilingi akademi selama dua jam lebih tentu sangatlah melelahkan. Kaki mereka yang masih bisa dibilang mungil, tidaklah bisa melangkah jauh lebih lebar dari kebanyakan murid lainnya. Sebagai anak-anak yang masih berusia sembilan tahun. Elthia serta Evander sedikit menyayangkan langkah mereka. Biarpun rumah mereka juga besar, namun ukuran akademi ini tiga kali lipat jauh lebih besar. Jadi, energi yang harus mereka kuras pun, juga menjadi tiga kali lipat lebih banyak.


"Tidak bisakah kita mencarinya besok saja?" Elthia yang merasa lelah, memilih untuk beristirahat. Kakinya yang pegal di pijitnya pelan. "Kakiku sudah tidak kuat lagi berjalan terlalu lama."


Elthia memperhatikan kakinya yang merah. Elthia bersyukur di sini tidak ada siapa pun selain mereka. Jadi, Elthia tidak perlu menjaga image seperti biasanya. Di tempat yang sepi ini, Elthia bisa membuka sepatunya dengan bebas, tanpa perlu mengkhawatirkan bisik-bisik di sekitar.


"Hanya tersisa dua tempat saja yang belum kita datangi." Di sisi Elthia, Evander berdiri. Pandangannya yang menerawang terlihat masih bersemangat. Walaupun kakinya juga terasa sakit, Evander tidak menjadikan hal itu sebagai salah satu alasan untuk menghentikan tujuannya. "Jadi, bisakah kau bertahan sebentar lagi?"


Rasa antusias Evander jauh melebihi rasa lelah yang dimilikinya. Seolah masih memiliki tenaga serta kekuatan cadangan, semangat Evander tidak sedikit pun padam. Tidak seperti Elthia yang sekarang ini bahkan sudah tersengal, setetes keringat sekalipun tidak terlihat ada di wajah Evander.


"Biarkan aku beristirahat sebentar."


Elthia membaringkan tubuhnya di atas bangku taman. Langit biru nan luas yang terbentang tepat di atasnya, menjadi pusat perhatian Elthia.


"Aku bersyukur tempat ini jauh dari ruang belajar."


Mengalah, Evander yang sebelumnya berdiri, juga ikut duduk di bangku taman yang sama dengan Elthia. "Kau bisa beristirahat dengan bebas di sini."


Evander juga ikut memperhatikan langit. Helaan nafas keluar dari mulutnya begitu bayangan seseorang melintas dalam pikirannya.


"Apa orang yang kau temui waktu di kota juga berada di sini?"


Pertanyaan yang Evander ajukan secara tiba-tiba tersebut, menyentak Elthia. Matanya yang hampir terlelap, terbuka lebar kembali.


"Apakah yang kakak maksud adalah Rio?"


Evander mengangguk. "Ya, laki-laki aneh itu."


Gelar yang Evander berikan terhadap Rio, membuat Elthia meringis. Elthia kira, kakaknya ini akan melupakannya. Tidak Elthia sangka ternyata Evander masih mengingatnya.


Yah. Ini memang salahku.


Mana ada orang yang percaya mengenai seseorang yang saling mengenal melalui mimpi. Kalaupun iya hal itu memang terjadi, pertemuan pertama pastilah akan terasa canggung. Tidak seperti Elthia yang langsung menyebut nama Rio dengan lantangnya ketika itu, alasan yang Elthia berikan jelas kurang memuaskan.


"Aku juga tidak mengetahuinya."


Selama pertemuan mereka ketika itu. Rio tidak sekalipun menceritakan tentang kehidupan pribadinya. Waktu itu, mereka hanya sempat berbincang mengenai 'keadaannya' yang mengejutkan ini saja, tidak lebih dari itu. Jadi, Elthia tidak dapat memastikan apakah Rio juga ada di akademi ini atau tidak.


"Begitu, ya." Evander menghela nafasnya. Kedua netra indahnya, terfokus menatap langit.


"Kalau begitu, apakah dia memiliki familiar di sisinya?


"Dia memilikinya."


Dengan adanya Alta di sisinya. Itu membuktikan bahwa Rio termasuk seorang penyihir yang memiliki kekuatan besar. Sebab, tidak semua familiar bisa berada dalam wujud manusianya. Tanpa adanya penyihir yang kuat, familiar tidak bisa memakai wujud maksimalnya.


Karena kekuatan yang dibutuhkan ketika berada dalam wujud manusia lumayan besar. Familiar yang memiliki tuan berkekuatan kecil tidaklah bisa memakai wujud selayaknya manusia sesuka hati mereka.

__ADS_1


"Laki-laki berambut kelabu yang berada di sisinya waktu itu adalah familiar." Elthia menyudahi posisi berbaringnya. Elthia memakai kembali sepatunya, dan merapikan rambutnya yang sedikit berantakan sehabis berbaring tadi.


"Namanya, Altair Panavela."


"Entah ini kebetulan atau tidak." Evander yang sedari tadi memperhatikan tingkah Elthia, menghela nafasnya. "Nama familiar yang dia berikan pun memiliki arti yang sama."


"Bintang. Sama seperti Astra dan Astrella, ya?"


"Orang-orang lebih biasa memakai nama yang bermakna bulan ataupun matahari, daripada bintang."


Evander menatap lurus ke depan. Pandangannya juga terlihat menerawang. "Selain identik dengan negeri yang terbuang. Makna bintang seringkali dihubungkan dengan sesuatu yang bersifat membawa kehancuran."


"Bintang itu indah. Aku menyukainya." Elthia berdecak. Ia menatap Evander serius. "Orang-orang itu saja yang tidak bisa melihat dengan baik sinar yang dimilikinya." Balasnya, sedikit ketus.


Sedari dulu, Elthia sudah menjadi penggemar dari langit malam. Tentu, mahakarya tak ternilai seperti bintang merupakan pelengkap kegelapan malam yang sangat memukau baginya. Jujur saja, Elthia kurang setuju dengan pandangan orang-orang mengenai kemilau indah yang hanya bisa dilihat ketika malam hari tersebut.


"Aku sudah merasakan ini sedari awal." Evander yang tidak ingin memperburuk suasana hati Elthia, mengalihkan pembicaraan. Alisnya tertekuk ketika sebuah pikiran kembali terlintas di benaknya.


"Aku rasa, kita memiliki gelombang sihir yang cocok dengannya."


"Aku kira, hanya aku saja yang merasakannya."


Sebenarnya, Elthia juga merasakannya. Hanya saja, Elthia mengira itu sebagai ketertarikan karena Rio adalah pemandunya. Jadi, Elthia tidak terlalu menganggap kecocokan gelombang kekuatan mereka sebagai sesuatu yang serius.


"Jadi, aku mengabaikannya saja."


"Dia memang aneh."


Elthia menggelengkan kepalanya pelan. Tidak mengira bahwa Evander akan mempertahankan gelar yang diberikannya kepada Rio.


"Kakak tidak menyukainya?"


"Apakah harus, aku menyukainya?"


Jawaban spontan yang Evander berikan, Elthia respon berupa tawa kecil. Berdiri dari posisi duduknya. Elthia mengulurkan tangannya kepada Evander.


"Kakak tidak harus menyukainya."


Senyum tipis terlukis di bibir Elthia. Raut kebingungan Evander sangatlah menggemaskan untuk dilihat. Jujur saja, Elthia sangatlah menyukai setiap ekspresi yang dipasang oleh kakaknya ini. Seolah bercermin. Wajah mereka yang identik satu sama lain ini, tentu menjadi sebuah hal berharga lainnya yang dimiliki Elthia.


"Tapi, seperti yang kakak tahu."


Elthia memberikan isyarat melalui tatapannya. Keberadaan seseorang di depan mereka ini lumayan menghilangkan rasa lelah yang ada padanya.


"Karena kita akan lebih sering bertemu dengannya. Paling tidak, kakak harus menunjukkan sedikit rasa hormat." Elthia memperlihatkan senyuman tipisnya. Tatapan dari kedua netra merah sosok yang sedang berjalan ke arah mereka itu, dibalasnya dengan sorot menantang.


"Selamat siang, senior." Elthia memberikan sapaan begitu Rio sudah berdiri tepat di hadapan mereka. Elthia mengangkat sedikit bagian ujung rok seragam akademi yang dipakainya.


"Apa ada... hal yang bisa kami bantu?"


Tanpa menyembunyikan sedikit pun seringai penuh muslihat yang tertoreh di bibirnya, dengan beraninya Elthia menatap langsung kedua netra merah Rio yang tampak membara. Di bawah sorot merah yang nampak gelap, kedua netra biru dan hijau Elthia terlihat berkilauan di bawah sinar matahari.


"Aku tidak menyangka kita akan bertemu lagi seperti ini."


Suara Rio terdengar lebih dingin dari sebelumnya. Walaupun begitu, Elthia maupun Evander yang pernah menghadapi para bangsawan yang jauh lebih menyeramkan dari Rio ini, tidak sedikit pun merasa gentar. Biarpun teman sebaya mereka tidaklah ada, akan tetapi sebagai anak yang terlahir di keluarga ternama, tatapan yang Rio perlihatkan ini tidaklah seberapa. Masih ada tatapan yang jauh lebih menyeramkan, yang pernah mereka temui sebelumnya.


"Sungguh, sebuah kebetulan."

__ADS_1


Benar. Sungguh sebuah kebetulan. Elthia sendiri tidak menyangka jika mereka akan dipertemukan kembali seperti ini.


"Aku rasa, hal ini bisa saja dikarenakan kita saling terhubung satu sama lain." Ancaman terselubung tersebut, Elthia ucapkan dengan santainya. Tidak peduli akan ekspresi jengkel yang coba Rio tahan dibalik senyuman tipisnya, Elthia menorehkan senyum puas.


"Senang rasanya, jika kita semua bisa berkumpul seperti ini."


Rio memperhatikan Elthia dengan pandangan menelisik. "Aku kira kau akan menjadi lebih kalem seiringnya waktu yang berlalu."


"Terimakasih atas pujiannya."


Semakin dilihat, serta dipikirkan. Sepertinya Rio yang ada di hadapannya sekarang ini makin berubah drastis dari sosok Rio yang Elthia temui ketika pertama kalinya di perpustakaan. Sosok di depannya ini seolah-olah berubah menjelma menjadi orang lain. Ah... ataukah mungkin, kesan pertama yang Elthia lihat waktu itu hanyalah pencitraan? Yang manapun itu, Elthia tidak peduli.


Karena mereka berdua sekarang sudah terikat secara tidak langsung seperti ini. Sepertinya, mau tidak mau Elthia harus memanfaatkan dengan baik kondisi yang ada. Sebab, menyalahkan takdir yang sudah tergores, tidaklah akan mengubah keadaan. Jadi, daripada membiarkan Rio menganggur lebih lama sebagai seorang pemandu, bukankah lebih baik bagi Elthia untuk sekalian menjadikannya pembimbingnya?


"Kalau senior berkenan, bisakah senior mengabulkan permintaan saya?"


Diperlakukan secara sopan di pertemuan kedua, tidaklah bisa menghilangkan kesan buruk di pertemuan pertama begitu saja. Rio yang sangatlah peka mengenai maksud terselubung Elthia, menatap curiga gadis itu. Senyuman tipis yang terlukis di bibir Elthia, tidaklah pernah sekalipun mengandung maksud baik bagi diri Rio.


"Bagaimana jika aku menolak?"


"Wah... kalau begitu, bukankah nanti senior justru bisa terkena masalah?"


Lagi, ancaman untuk yang kesekian kalinya. Keberanian yang Elthia perlihatkan sekarang ini, benar-benar berhasil membuat Rio takjub. Disaat orang lain menghindarinya, gadis ini justru malah berusaha mencekiknya. Sungguh keteguhan yang luar biasa. Apakah karma kini mendatanginya? Rio kira, tidak ada orang yang memiliki pikiran licik melebihi dirinya. Tapi, siapa sangka kini Rio justru terlibat dengan sesuatu karena kelicikan seseorang.


"Aku hanyalah seorang pemandu, bukan seorang pembimbing, Rea." Rio berbisik di telinga Elthia. Nada yang ia gunakan, tidaklah kalah mengancam. "Kalaupun gelombang kekuatan kita memiliki kecocokan. Apakah kau yakin, kau bisa mengimbangiku?"


Kedua netra merah Rio menatap penuh maksud kepada Elthia. Sorot merendahkan yang tersirat dari kedua netra biru dan hijau gadis di depannya ini, membuat segaris seringai tipis muncul di bibirnya. Sepertinya, maksud yang Rio selipkan tersampaikan dengan baik. Jujur saja, Rio menyukai rekan yang memiliki kepekaan tinggi seperti Elthia ini.


"Keraguan senior, tidaklah diperlukan."


"Keyakinan yang berlebihan terkadang bisa membawa petaka, nona."


Elthia semakin memperlebar senyumannya. Sikap ramah nan menyebalkan yang Rio perlihatkan sekarang ini, tidaklah akan meruntuhkan kegigihannya. Bukannya merasa tertekan, Elthia justru semakin bersemangat untuk memberikan gangguan lebih jauh.


"Saya hanya perlu membuktikan, kalau saya bisa mengikuti setiap pelajaran dengan baik saja, bukan?"


Elthia melirik Evander yang berada tidak terlalu jauh di belakangnya. Anggukan yang Evander berikan merupakan tanda persetujuannya atas permintaan Elthia. Tanpa Rio, mereka tidaklah akan bisa menjadi penyihir yang hebat. Biarpun Evander tidak menyukai Rio, kakaknya itu jelas lebih mengutamakan perkembangan kemampuan mereka. Sebagai saudari kembarnya, Elthia jugalah menginginkan hal yang sama. Bagaimanapun caranya, Elthia sebisa mungkin membujuk Rio agar mau menjadi pembimbing mereka dalam menangani sihir.


"Seandainya senior menambahkan beberapa persyaratan sekalipun, kami tidak keberatan. Selama kami bisa memenuhinya, kami akan menuruti persyaratan apapun itu."


Rio memperhatikan secara seksama keseriusan yang Elthia miliki. Binar penuh semangat Elthia tidak sedikit pun tergoyahkan. "Jangan berhenti di tengah jalan."


Memiliki murid yang memiliki tekad kuat memanglah hal yang bagus. Akan tetapi, Rio tidaklah ingin adanya kata berhenti jika mereka sudah memulai. Tekad bisa memudar seiringnya waktu yang berlalu. Jadi, sebagai tindakan antisipasi, Rio yang tidak ingin kerja kerasnya putus di tengah jalan mengajukan satu syarat itu.


"Jika kalian tidak bisa bertahan dengan baik dan memilih berhenti sebelum selesai. Lebih baik kalian mundur mulai sekarang."


"Sebaliknya, jika kami bisa menyelesaikannya dengan baik. Senior akan dengan senang hati mengajari kami, begitu?"


Jawaban yang Elthia berikan, sangatlah memuaskan. Bekerjasama bersama rekan yang memiliki sikap cepat tanggap seperti kedua bersaudara di depannya ini, merupakan alasan lain dari tindakan yang Rio ambil sekarang ini. Seandainya saja kedua anak kembar ini bersikap cerewet, tentu Rio tidak akan mempertimbangkan untuk mengajari keduanya.


"Seperti biasa, kau bisa memahaminya dengan baik." Rio menyeringai. Sikap kerjasama yang ada pada Elthia dan Evander sangatlah disukainya. "Aku harap, kau bisa mempertahankan sifatmu yang satu ini."


"Tentu saja, senior." Elthia mengangkat sedikit bagian ujung roknya. Mereka berdua menunjukkan sopan santun yang baik.


"Terimakasih banyak atas kerjamasanya."


"Senang bekerjasama dengan kalian."

__ADS_1


Kedua netra berbeda warna itu saling menatap satu sama lain. Senyum yang saling mereka lemparkan jelas sama-sama memiliki maksud tersembunyi.


__ADS_2