(Tidak Dilanjutkan Lagi)

(Tidak Dilanjutkan Lagi)
10. Sang pangeran


__ADS_3

Elthia menghela nafasnya pelan. Pelajaran sihir yang dipelajarinya hari ini, sudah diselesaikannya dengan baik.


Karena sekarang waktunya mereka beristirahat, Elthia mencoba mencari tempat dimana ia bisa bersantai dengan tenang. Di pelukannya, seperti biasa Astrella selalu menemaninya. Familiar yang berada dalam wujud kucingnya itu juga ikut celingukan membantu sang tuan untuk menemukan tempat agar mereka bisa bersantai bersama.


"Di bawah sana."


Astrella menunjuk sebuah pohon perak yang sangat besar. Ukurannya yang dua kali lipat lebih besar dari pohon lainnya, membuatnya terlihat lebih mencolok dari yang lain. Belum lagi, sungai kecil yang memutari pohon tersebut. Pohon yang ditanam di tempat khusus itu, lumayan menarik perhatian untuk didatangi.


Elthia berjalan di atas jembatan kecil yang menghubungkannya dengan pohon perak itu. Elthia menatap takjub ukuran batang super besar dari pohon itu ketika sudah berada tepat di depannya.


"Aku yakin ini pohon perak legendaris yang ada dalam buku itu."


Decakan kagum tak hentinya keluar dari bibir Elthia. Melihat langsung pohon super besar yang selama ini hanya bisa ia ketahui di buku saja, sangatlah luar biasa! Elthia merasa apa yang dilaluinya selama ini bagaikan mimpi saja. Elthia masih takjub mengenai betapa nyatanya pohon perak yang begitu ia kagumi di hadapannya ini.


Sreek...


Sreek...


Suara gesekan serta daun yang berjatuhan akibat pergerakan dari sesuatu, menghentikan aktivitas mengamati Elthia. Alis Elthia tertekuk, sedangkan kedua mata berbeda warna miliknya nampak memicing ketika tidak sengaja menangkap penampakan siluet seseorang sedang berbaring di atas salah satu cabang besar pohon.


"Siapa?" tanyanya begitu sudah yakin bahwa siluet tersebut benar adalah manusia. Elthia yang berada jauh di bawah pohon tidak dapat melihat wajah sosok tersebut secara jelas karena jarak yang ada. Dari tempatnya berdiri, Elthia hanya bisa melihat rambut pirangnya, serta bagian belakang seragam sosok itu saja.


"Halo? Apakah Anda sedang tidur, tuan?"


Sadar bahwa panggilannya yang sebelumnya tidak terdengar jelas, Elthia sedikit menaikkan volume suaranya. Sosok laki-laki yang tampak tertidur dengan nyaman di atas pohon tersebut, membuat Elthia merasa khawatir. Setahu Elthia, terlalu lama berada di dekat pohon perak tidaklah terlalu bagus bagi kesehatan. Menyerap mana⁷ yang menguar dari pohon perak secara berlebihan bisa menyebabkan seseorang akan merasa sangat kedinginan. Elthia takut, jika sosok tersebut sudah tertidur jauh lebih lama dari dugaannya, hal itu bisa menyebabkan sosok tersebut membeku.


"Halo!! Apakah Anda masih hidup, tuan?!"


Elthia merubah pertanyaannya. Walaupun terdengar tidak sopan, Elthia yakin cara ini jauh lebih efektif jika ingin menarik perhatian dari sosok tersebut. Sebagian orang secara otomatis akan memberikan respon yang cepat ketika seseorang mengatakan sesuatu yang mengejutkan. Jadi, Elthia harap sosok tersebut memberikan responnya meskipun itu cuma sekedar gumaman.


"Tuan!!"


Tidak adanya respon dari sosok tersebut membuat Elthia menghela nafasnya. "Bisakah kau memanjat ke atas, Astrella?" Elthia menatap Astrella yang sedari tadi hanya diam. Kedua netra emas familiar miliknya yang menatap secara seksama sosok tersebut, ditatapnya.


"Tolong, ya?"


Begitu Astrella mengangguk, Elthia melepaskan familiar tersebut dari pelukannya. Dalam wujud kucingnya, Astrella memanjat secara lincah pohon perak tersebut. Tanpa perlu lama menunggu, Astrella sudah sampai tepat di atas tubuh laki-laki pirang itu. Melihat betapa nyenyaknya tidur orang itu, Astrella yang sedikit merasa kesal, memilih membangunkan dengan cara mencakar wajahnya.


"Ugh"


Ringisan yang keluar pertanda bahwa orang itu sudah terbangun, juga didengar oleh Elthia. Sebelum lelaki berwajah rupawan ini bangun dan memarahinya, Astrella yang paham akan situasi berbahaya, melompat turun. Berkat dari tindakannya yang mengejutkan itu, Elthia hampir tersandung kakinya sendiri. Ringisan kecil, juga keluar dari mulut Elthia.


"Kau mengagetkanku," keluhnya. Pipi tembem Astrella dicubitnya. Elthia memainkan secara gemas pipi kucing Astrella yang lucu. "Lain kali, berikan tanda! Aku tidak ingin melihatmu terluka karena melompat tiba-tiba seperti tadi."


"Baik, Nona."


Elthia tersenyum puas. Astrella yang sangat penurut ini sangatlah menggemaskan. "Bagus." Karena urusannya dengan Astrella sudah selesai, Elthia menatap laki-laki yang masih betah duduk di atas pohon. Kedua netra emas yang sedang menatap secara seksama dirinya itu, sedikit mengusiknya.


"Saya tidak bisa membiarkan Anda tertidur lebih lama lagi, karena itu saya meminta maaf atas ketidaknyamanan ini, tuan." Elthia menjelaskan. Sebenarnya Elthia merasa sangat bersalah karena sudah mengusik tidur nyenyak orang itu, tapi Elthia juga tidak mempunyai pilihan selain membangunkannya. Biarpun warna kulitnya terlihat normal, tetap saja Elthia khawatir akan kemungkinan sosok itu bisa membeku. "Terlalu lama berada di dekat pohon perak tidaklah begitu baik bagi kesehatan. Saya tidak ingin melihat Anda dalam keadaan yang buruk."


"Oh, jadi begitu."


Sosok yang turun secara tiba-tiba itu mengagetkan Elthia. Elthia berpaling secara refleks ketika laki-laki itu memajukan wajahnya seolah-olah sedang menilai sesuatu.


"Surai perak ini.... kau berasal dari keluarga Lucretia rupanya."


Alis Elthia mengerut heran. Apa yang diucapkan laki-laki itu menarik perhatiannya. "Apakah ini pertama kalinya Anda melihatnya?" sebenarnya tanpa perlu bertanya sekalipun, Elthia sudah mengetahuinya. Reaksi yang diperlihatkan sosok di depannya ini jelas menunjukkan bahwa ini merupakan pertama kalinya laki-laki itu melihat secara langsung surai perak khas keluarga Lucretia.


"Ya, ini pertama kalinya aku melihatnya." Laki-laki itu tersenyum. Rambut berwarna pirang pucat miliknya terbang mengikuti arah angin. Di bawah naungan pohon perak yang begitu lebat, mereka berdua terdiam. Kedua netra mencolok mereka, saling menyelami satu sama lain dalam diam.


"Perkenalkan, namaku Psyche Xan--" Laki-laki itu menggantung ucapannya. Kedua matanya mengamati situasi sekitar, berjaga-jaga seolah takut ada orang lain yang memperhatikan mereka berdua.


Merasa bahwa tidak ada siapapun yang memperhatikan mereka berdua, Psyche tersenyum. Ia mendekatkan mulutnya ke telinga Elthia, dan berbisik. "--Eleftharia. Psyche Xan Eleftharia. Tolong rahasiakan ini dari orang lain, ya?" mengabaikan wajah terkejut Elthia, Psyche mengedipkan sebelah matanya. Senyum jahil, terlihat di bibirnya.


"Apakah penampilanku terlihat kurang meyakinkan?" tanyanya karena tidak sedikit pun mendapat respon dari Elthia.

__ADS_1


Elthia menghela nafasnya pelan. "Tidak," jawabnya. Sadar bahwa orang yang berada di depannya ini ternyata memiliki posisi lebih tinggi dari dugaannya, Elthia menundukkan kepalanya. "Mohon maafkan ketidaksopanan saya yang tidak mengenali Anda, Pangeran."


Psyche tertawa kecil. Memaklumi tindakan yang diambil oleh Elthia. "Jangan terlalu formal, nona. Kau bisa memanggilku dengan nama kecil saja."


Biarpun kini hanya ada mereka saja, Elthia tidak berani mengabulkannya. Walaupun sang pangeran itu sendiri yang memberikannya keringanan, Elthia tetap merasa sungkan. Sudah cukup sikap lancangnya yang barusan. Elthia tidak ingin menambahkan kesan buruk lainnya di pertemuan tak terduga ini.


"Tidak perlu merasa bersalah. Aku ingin kau menganggapku sebagai teman."


Teman. Permintaan yang terkesan sederhana itu, tidaklah sesederhana kelihatannya. Elthia menatap datar Psyche. Perkataannya yang kelewat santai, sedikit membebaninya. Elthia tidak bisa mengiyakan begitu saja permintaan Psyche. Biarpun mereka berada di jurusan yang sama selama berada di akademi ini, pangeran dari negeri Yodea ini tidaklah bisa disetarakan dengannya.


"Mohon maafkan saya pangeran. Saya tidak bisa mengabulkannya."


Biarpun izin khusus ini sangatlah menggiurkan. Elthia tetap harus memikirkan resiko yang mungkin saja didapatnya. Elthia tidaklah sedangkal itu. Biarpun dunia yang kini sudah menjadi tempat tinggalnya adalah hasil sebuah imajinasi. Elthia tidak bisa menganggap pertemuan kebetulan ini sebagai berkah. Dibalik pertemuan ini, entah mengapa Elthia merasa yakin, akan ada sesuatu mengejutkan datang menemuinya setelahnya. Karena itu, Elthia tidak bisa memenuhi permintaan Psyche yang memintanya untuk tidak berbicara formal. Mereka berteman, iya, Elthia bisa mengabulkannya. Tapi, tidak dengan posisi yang setara. Sebagai seorang putri bangsawan, sudah sewajarnya bagi Elthia memperlakukan hormat Psyche.


Walaupun Psyche adalah pangeran yang sudah dinantikannya. Elthia tidaklah ingin bersikap bodoh. Sebagai putri bungsu kebanggaan keluarga Lucretia, Elthia tetap harus menjaga martabat keluarganya. Harga dirinya tidaklah serendah itu. Jadi, biarpun kini Elthia terkesan seperti menyia-nyiakan kesempatan yang ada. Setidaknya, Elthia sudah membuktikan kelebihannya. Tindakan yang sekarang diambil olehnya ini adalah bukti bahwa dirinya seorang gadis yang berbeda. Elthia ingin membuktikan bahwa didikan yang selama ini didapatnya selama berada di sini tidaklah sia-sia.


"Biarpun keluarga saya berada satu tingkat di bawah Anda. Bukan berarti saya bisa bersikap lancang. Sudah sewajarnya bagi saya menghormati Anda. Jadi, sekali lagi mohon maafkan kelancangan yang telah saya perbuat." Elthia menundukkan sedikit kepalanya. Sebelah tangannya yang bebas mengangkat sedikit bagian ujung rok seragamnya. "Saya memohon kemurahan hati Anda, Pangeran."


Elthia kira dirinya akan mendapatkan protes, tapi ternyata tidak. Bukannya mengomentari tindakannya ini, Psyche justru malah mentertawakannya. Suaranya yang lembut serasa menghipnotis. Walaupun Elthia kini sedang menundukkan kepalanya, bagian ujung matanya masih bisa menangkap senyum tipis Psyche. Tidak bisa dipungkiri. Biarpun hanya segaris tipis senyumannya saja yang terlihat, hal itu tetap tidak bisa menutupi pesona alami yang dimiliki sang pangeran. Jujur saja, kekuatan pesona yang dimiliki seorang tokoh utama sangatlah berbeda. Elthia akui. Tanpa perlu memperhatikan Psyche secara seksama sekalipun, sepertinya ia sudah terjerat di dalamnya.


"Baiklah. Jika kau memang lebih nyaman seperti itu, aku tidak akan memaksa." Psyche masih tertawa. Penolakan terang-terangan dari Elthia, lumayan menarik perhatiannya. Melihat betapa gigihnya Elthia dalam mempertahankan martabat di antara mereka, sangatlah menghibur. Psyche suka tipe gadis yang bisa mengontrol diri seperti Elthia. Teman yang tidak mengambil kesempatan dibalik kesempitan seperti Elthia ini merupakan pilihan yang cocok baginya.


"Berhentilah menunduk. Aku lebih suka bertatapan langsung dengan lawan bicara, daripada hanya melihat rambutnya saja."


Psyche memperhatikan tiap gerakan Elthia. Bagaikan adegan yang diputar dalam gerak lambat, kedua netra berbeda warna Elthia terlihat sangatlah memukau di dalam sudut pandangnya. Psyche tersenyum. Kedua netra indah yang menatap tanpa mengandung sedikit pun keraguan di depannya ini, sangatlah sesuai dengan nama berkat yang dimiliki oleh Elthia. Nama Sherianne memanglah cocok untuknya. Gadis di depannya ini memang sangat menarik.


Pantas saja.


Kenangan beberapa hari terakhir yang melintas, membuat Psyche tertawa. Pysche tidak menyadari bahwa kini perhatian Elthia sudah terpusat kembali kepadanya.


"Ah.. maaf, aku tidak mendengarnya." Apa yang dikatakan oleh Elthia ketika terlarut dalam lamunan, memang tidak terdengar di telinganya. Psyche terlalu senang sehingga melupakan sekitarnya dan masuk ke dalam dunia khayalnya sendiri.


"Bisakah tolong kau ulangi sekali lagi?" pintanya.


Tanpa banyak protes, Elthia kembali mengulangi ucapannya. "Saya memohon maaf karena terlambat mengenalkan diri. Perkenalkan, saya Elthia Sherianne Lucretia. Putri bungsu keluarga Lucretia dari negeri Pyralis." Elthia menurunkan ujung rok yang tadi diangkatnya. Kedua netra miliknya menatap Astrella yang berada di dalam dekapan tangannya yang satunya. "Ini adalah familiar milik saya. Namanya, Astrella Nauta. Tolong maafkan dia karena sudah berani mencakar wajah Anda, Pangeran."


"Baiklah. Aku memaafkannya."


Psyche memperhatikan wujud manusia Astrella dari atas sampai ke bawah. Ciri fisik yang dimiliki Astrella membuatnya berdecak kagum. "Woah... kalau kau menemani nona Elthia dalam wujud ini, bisa-bisa kau membuat orang lain salah paham, Astrella."


Psyche memandang penuh penilaian penampilan Astrella. Caranya bersikap yang terlihat begitu sempurna, semakin membuatnya merasa takjub. "Ciri fisik yang kau miliki sangat mirip dengan ciri fisik khas keluarga kerajaan Eleftharia." Decakan penuh kepuasan tidak hentinya keluar dari mulut Psyche. Tingkahnya yang tidak seperti kebanyakan pangeran ini tentu tidak luput dari perhatian Elthia.


"Wujud manusia milikmu ini benar-benar mirip dengan adikku."


Psyche menganggukkan kepalanya penuh kepuasan. "Bedanya, dia tidak memiliki tahi lalat di bawah sudut matanya." Tatapan penuh binar kekaguman, tak henti-hentinya terlihat di kedua netra emas Psyche. Seolah kini ia sedang menemukan suatu hal yang langka, Psyche terus-terusan memberikan penilaiannya terhadap penampilan mencolok Astrella.


"Kalian sangat mirip."


"Pantas saja, tuan Darien melarang kami berdua memakai wujud ini." Astrella memperhatikan telapak tangannya. Telapaknya yang memakai sarung tangan berwarna putih itu, digenggamnya. "Ternyata ini alasannya."


Psyche tersenyum. "Bisa jadi begitu."


Perhatian yang sebelumnya terfokus kepada Astrella, Psyche berikan kembali pada Elthia. Psyche memperhatikan secara seksama Elthia yang sedari tadi hanya diam memperhatikan mereka berdua. "Maaf karena sudah mengabaikan Anda, nona."


"Tidak apa, Pangeran. Anda bisa berbincang kembali bersama Astrella." Elthia tersenyum manis. "Abaikan saja, sa--"


"Elthia!!"


Suara yang memanggil namanya menarik perhatian Elthia. Psyche yang melihat anak laki-laki bersurai perak berjalan mendekat ke arah mereka, sudah bisa menebak orang tersebut siapa.


"Saudara kembar mona Elthia?" tanya Psyche, memastikan. Akan sangat memalukan jika sampai Psyche salah sangka orang nantinya.


"Perkenalkan, saya Evander Kairos Lucretia. Kalau boleh tahu, Anda siapa?"


Elthia yang tidak menyangka akan sikap lancang Evander, menyikut pelan pinggang saudara kembarnya. Evander yang belum mengetahui mengenai siapa orang yang diajaknya bicara, tentu hanya bisa menatap heran Elthia atas sikapnya.

__ADS_1


"Ada apa?"


Elthia mendekatkan telinganya ke telinga Evander. Dengan suara yang berbisik, Elthia berkata, "Dia adalah pangeran negeri Yodea." Tidak lupa disertai dengan lirikan matanya.


Elthia menghela nafasnya begitu Evander meminta maaf. Sama seperti sebelumnya, Psyche memberikan respon berupa tawa kecilnya. Senyum maklum tak henti-hentinya Psyche perlihatkan.


"Kalian ingin piknik di sini?" Psyche yang tidak ingin membuat suasana terasa lebih canggung, mengalihkan pembicaraan. Keranjang kecil yang digenggam oleh Evander menjadi pusat perhatiannya.


"Anda ingin ikut bergabung?" Evander balik menawari. Karena pohon perak tempat di mana mereka berdiri ini memiliki pohon yang lumayan lebat. Tempat ini sangatlah cocok untuk dijadikan tempat bersantai. Tidak salah Evander merekomendasikannya kepada Elthia. Tempat ini memang nyaman sebagai tempat beristirahat.


"Jika Anda tidak keberatan duduk beralas di atas tanah, tentunya." Lanjut Evander sembari menggaruk pelan pipinya. Diamnya Psyche membuatnya gugup. Evander takut menyinggung harga diri Pysche. Seandainya saja mereka tahu bahwa akan bertemu orang yang begitu penting bagi negeri Yodea ini, mereka tentu akan menyiapkan sesuatu yang jauh lebih baik daripada piknik kecil-kecilan mereka ini.


Psyche menghela nafasnya. Sebenarnya Pysche ingin bergabung bersama kedua anak kembar di depannya ini. Akan tetapi ada hal penting yang harus dikerjakannya, yang tidak bisa ditunda. "Aku ingin bergabung. Tapi, aku rasa tidak untuk kali ini." Senyum kecewa tidak sekalipun Pysche sembunyikan. Seandainya saja setumpuk tugas yang harus dikerjakannya itu bisa ditunda sekali lagi, Psyche tentu akan menundanya. Namun sayang, jika Pysche berniat melalaikan tugasnya itu sekali lagi, bisa-bisa Pysche akan mendapatkan omelan super panjang dari asistennya.


"Asistenku bisa mengamuk jika aku tidak muncul di hadapannya."


Mengingat betapa menyeramkannya omelan sang asisten, tubuh Psyche bergidik sendiri. Entah mengapa Pysche merasa yakin bahwa telinganya tidak akan selamat kali ini. Layaknya sambaran petir yang begitu nyaring. Suara asistennya itu juga tidak kalah menggelegar. Kehebatan dari omelan serupa terjangan badai milik asistennya, tidak sekalipun pernah melewatinya. Pysche bahkan bertanya-tanya apakah asistennya itu jelmaan dari bencana, atau memang bencana itu sendiri. Kehebatannya dalam mengomentari orang tidaklah main-main. Seandainya saja mulutnya itu murni buatan manusia, sudah dapat dipastikan mulut asistennya itu akan rapuh. Bahkan mungkin sudah hancur berkeping-keping karena terlalu sering dipakai untuk mengomeli Psyche.


"Jadi, bisakah kalian mengundangku, untuk piknik kalian lain kali?"


Elthia dan Evander saling berpandangan. Mereka berdua sama sekali tidak menyangka akan permohonan dari sang pangeran yang begitu mengejutkan ini.


"Dengan senang hati, Pangeran." Jawab Elthia seraya menunduk hormat. Sikap rendah hati yang Psyche tunjukkan berhasil menyentuh hatinya. Elthia harap, di pertemuan berikutnya Elthia mendapatkan kesempatan untuk berbincang lebih jauh lagi.


"Saya akan mengirimkan undangannya kepada Anda nanti."


Di sisi kanan Elthia, Evander juga ikut menundukkan kepalanya, memberikan penghormatan.


"Sampai jumpa lagi, nona dan tuan muda Lucretia."


Elthia dan Evander menganggukkan pelan kepala mereka sebagai balasan dari lambaian tangan Pysche. Punggung dari sosok yang berusia satu tahun lebih tua dari Sebastian itu, mereka perhatikan.


"Aku merindukan kak Sebastian," gumam Elthia begitu bayangan Pysche tidak terlihat lagi dalam pandangan mata. Di sisinya, Sebastian juga menggumamkan hal yang sama.


"Aku harap dia baik-baik saja."


"Ya. Semoga saja kak Sebastian tidak melakukan hal yang berbahaya."


Elthia duduk di atas alas yang sudah digelar sebagai tempat duduk mereka. Di sisinya, ada Astra serta Astrella yang sudah kembali memakai wujud kucingnya.


"Kakak sudah bisa duduk sekarang."


Evander ikut duduk. Ia mengambil tempat tepat didepan Elthia. "Makan seperti ini jauh lebih menyenangkan." Ucapnya seraya menggigit pelan makanannya. Angin sepoi yang berhembus menambahkan suasana harmonis di antara mereka berdua.


Di bawah naungan pohon perak yang rindang, mereka semua berbagi cerita. Elthia dan Evander tertawa bersama. Sekalian melepas beban maupun penat sehabis belajar, keberadaan Astrella dan Astra yang melengkapi, semakin menambahkan keceriaan. Layaknya anak-anak kebanyakan yang sangat menyukai permainan, mereka juga melakukannya. Walaupun tidak bisa sebebas selama masih di rumah, senyum yang mereka perlihatkan tidaklah kalah cerah.



Mana \= Mana adalah sebuah aliran sihir yang mengalir di dalam tubuh seorang penyihir. Mana, bisa juga disebut sebagai inti sihir seorang penyihir. Apabila seorang penyihir kehabisan mana, mereka akan berada dalam ambang kematian. Sebaliknya, apabila mereka kelebihan mana. Ledakan dari mana yang tidak stabil itu, bisa menghancurkan tubuh mereka.



contoh seragam akademi Secilia.



Kelas maupun bidangnya dibedakan berdasarkan warna dasi / pitanya, ya! ^^


Hitam \= Penyihir


Merah \= Ksatria


Perak \= Rohaniwan


Biru \= Politikus

__ADS_1


Cokelat \= Pustakawan


Kuning \= Pendeta


__ADS_2