
Elthia duduk diam di atas tempat tidurnya. Kedua matanya yang indah memperhatikan cahaya sang rembulan yang menembus kaca jendela. Malam sudah sangatlah larut. Namun, walaupun begitu matanya tetaplah terjaga.
Terbangun dari tidur tidaklah mengenakan. Walaupun tubuhnya merasa lelah, Elthia sangatlah kesulitan untuk dapat tertidur kembali. Mimpi buruk yang sebelumnya sempat menghilang, kini mencoba menghantuinya kembali. Seolah ingin merenggut salah satu kewarasannya. Mimpi buruk yang mulai muncul itu, bahkan terasa jauh lebih nyata daripada yang sebelumnya.
"Ini buruk."
Disaat kondisi tubuhnya kurang memungkinkan untuk digerakkan, kepalanya yang ikut berdenyut semakin memperparah keadaan.
Ugghh...
Elthia meringis. Tidak peduli seberapa indahnya pun malam yang terlihat kini. Disaat seperti ini, Elthia tidaklah bisa menikmatinya. Menggerakkan tubuhnya saja, Elthia kesulitan. Apalagi berdiri di balkon kamarnya, menikmati pemandangan malam hari seperti yang biasa ia lakukan, ketika terjaga.
"Astrella. Bisakah kau membantuku menyalakan lampu?"
Elthia membangunkan Astrella yang tidur meringkuk dalam wujud kucingnya. Mata mengantuk karena rasa lelah itu, membuat Elthia merasa bersalah karena telah membangunkannya.
"Baik, nona." Jawab Astrella dengan patuh.
Mengerjakan dengan baik tugasnya, Astrella bahkan membuatkan secangkir teh tanpa diminta.
"Secangkir teh lavender mungkin bisa membuat Anda merasa lebih baik."
"Terimakasih."
Elthia menerima teh itu. Aroma lavender yang harum dan menenangkan, lumayan membuatnya merasa lebih baik daripada yang sebelumnya. "Maaf sudah merepotkanmu, Astrella."
Astrella menggeleng. Segaris senyum tipis menghiasi bibirnya. "Saya tidak sekalipun keberatan, nona. Ini memang sudah tugas saya."
"Seperti biasa, kau selalu saja berhasil membuatku kagum." Puji Elthia setelah meneguk habis tehnya. Cangkir kosong itu, Elthia letakkan di atas meja di samping tempat tidurnya.
"Dibandingkan dengan kebaikan nona, apa yang saya berikan untuk Anda masihlah belum bisa dianggap cukup." Astrella tersenyum tipis. Pujian yang Elthia berikan sangatlah dihargai olehnya.
"Apakah masih ada sesuatu yang Anda inginkan?"
Tidak ingin membuat suasana hangat disekitar mereka memudar, Astrella memberikan penawaran. Sebelum Elthia tertidur, Astrella ingat bahwa ada sesuatu yang ingin dibicarakan nonanya ini dengan saudara kembarnya.
"Haruskah saya memanggil tuan Evan kemari untuk menemani Anda?"
Diamnya Elthia yang tak kunjung memberi jawaban, sedikit meresahkan Astrella. Disaat seperti ini, nonanya ini masih saja memikirkan banyak hal. Sebagai orang yang juga berbagi pikiran dengan sang nona, kekhawatiran yang Elthia rasakan terasa jelas. Jujur saja, Astrella sedikit takut mengenai kondisi tubuh Elthia yang bisa saja semakin memburuk jika terlalu sering dipaksakan.
"Nona harus tidur kembali, jika pesan itu sudah disampaikan, ya?" bujuk Astrella ketika Elthia sudah berhenti melamun dan mengiyakan tawarannya. Senyum manis yang tidak secerah biasanya itu, menjadi jawaban dari kekhawatirannya.
"Aku akan istirahat dengan baik kali ini. Jadi berhentilah memasang ekspresi seperti itu."
Astrella menggenggam lembut tangan mungil yang menempel di pipinya itu. Tawa kecil Elthia yang menenangkan, tidak sedikit pun mengurangi rasa khawatir dalam hatinya.
"Baiklah, Nona."
Namun, walapun begitu Astrella tidak bisa menunjukkan secara langsung apa yang mengganjal dalam hatinya. Sebisa mungkin Astrella menekan gejolak yang ingin menguasainya. Astrella tentu tidak akan membiarkan kekhawatirannya yang ia rasakan ini semakin membebani Elthia. Jadi, dengan pengalaman yang dimilikinya selama ini, Astrella menyembunyikan dengan baik rasa cemas miliknya. Sedikit pun, Astrella tidak akan membiarkan apa yang ada di dalam hatinya itu terbaca oleh sang nona.
"Saya akan memanggilkan tuan Evander. Jadi, tolong jangan terlalu memaksakan diri Anda." Pinta Astrella sebelum pamit mengundurkan diri. Senyuman tipis Elthia, menjadi pengantar sebelum ia menutup rapat pintu kamar sang nona.
...°·°·°·°·°·°...
"Apakah tubuhmu sudah terasa lebih baik?"
Evander yang baru saja tiba, mengambil posisi duduk tepat di samping Elthia. Melihat saudari kembarnya yang biasanya ceria menjadi tidak terlalu bertenaga seperti ini, rasanya sangatlah menyiksa. Evander menyesal karena telah melepaskan Elthia dari pengawasannya. Seandainya saja, ia waktu itu memilih tetap berada disisinya, Evander yakin Elthia tidaklah akan kehabisan kekuatan sihirnya sampai sempat tidak sadarkan diri seperti ini.
"Berhentilah menyalahkan dirimu sendiri seperti itu. Ini semua adalah murni hasil dari tindakan gegabah yang aku ambil."
__ADS_1
"Bagaima-"
"Semua itu tergambar jelas di wajah kakak." Potong Elthia, dengan tidak berperasaannya. Kedua mata yang jugalah memiliki warna yang serupa dengannya itu, ditatapnya. " Tanpa perlu melihat mata kakak secara langsung pun aku bisa mengetahuinya."
Elthia mengembungkan pipinya kesal. Respon Evander yang terlihat seolah mereka berdua tidaklah memiliki ikatan satu sama lain ini, sangatlah menjengkelkan.
"Kita kan terlahir sebagai anak kembar. Jadi, mana mungkin aku tidak bisa membaca apa yang ada dipikiran kak Evan."
Senyum tidak percaya, tertoreh di bibir Evander. Jawaban ketus yang Elthia berikan entah mengapa terdengar menusuk baginya. "Berarti, hanya aku saja yang kurang peka, ya?"
"Tidak. Melainkan karena aku terlalu pandai menyembunyikannya."
Kepercayaan diri Elthia yang terlampau tinggi itu, ditertawakannya. Evander mencubit gemas kedua pipi Elthia yang chubby itu.
"Aku baru tahu, adikku ini ternyata bisa sesombong ini pada saudaranya sendiri." Evander memainkan kedua pipi itu sampai puas. Tidak peduli akan berontakan Elthia yang merasa risih, Evander tidak mau mengalah semudah itu.
"Anggap saja ini hukuman," sahut Evander atas gumaman tidak jelas Elthia. Sebelum Elthia benar-benar merasa bersalah karena sudah membuatnya mengkhawatirkannya, Evander tidaklah akan menghentikan tindakan usilnya ini.
"Aku bersalah! Iya, aku bersalah!" Elthia yang memahami dengan baik tindakan yang Evander ambil itu, memilih untuk menyerah. Melawan Evander dalam kondisi seperti ini, jelas kemungkinan Elthia untuk menang sangatlah tipis. Elthia tidak bisa menyerang balik Evander dalam kondisi tidak bisa menggunakan sihir seperti ini!
"Jangan diulangi lagi!"
Mendengus, Elthia menjawab dengan ketus perintah kakaknya itu. "Iya, aku akan menahan diri."
"Itu bukan jawaban, Elthia." Cibir Evander. Ia memutar kedua bola matanya ketika melihat senyuman super manis Elthia sudah kembali.
"Aku sudah memberikan kakak jawaban."
Evander menatap Elthia dengan raut penuh ketidakpuasan yang sangat jelas. Senyum Elthia yang tidak sedikit pun luntur, pertanda bahwa saudari kembarnya itu tidak akan mengalah, membuatnya mendecih. "Bukan itu yang aku inginkan."
"Keinginan kak Evan sudah aku kabulkan."
"Aku sudah menjawab, dan aku juga sudah mengabulkannya. Jadi, aku harap kak Evan tidak memaksakan keinginan kakak." Mengabaikan ekspresi kesal Evander. Elthia yang memang sengaja ingin mengganggu kakaknya itu sebisa mungkin menahan tawanya. Raut kesal yang sudah lama tidak dilihatnya itu, benar-benar dirindukannya.
"Apa kau yakin?"
"Ya. Aku tidak akan menuruti keinginan kakak yang lain."
"Kau tidak akan menyesalinya, kan? Elthia?"
" Tentu saja, ak--"
Belum sempat Elthia menyelesaikan perkataannya. Evander yang secara tiba-tiba mengacak rambutnya, sangatlah tidak terduga. Elthia yang masih belum siap akan serangan lain dari Evander itu, merasa sedikit kewalahan.
"R-rambutku!"
Surai peraknya ini sangatlah berharga! Elthia tidak bisa membiarkan perawatan yang selama ini didapatkannya dihancurkan dengan cara tidak elit seperti ini!
"Kak Evander! Hentikan!" sebisa mungkin, Elthia mencoba menghalau tangan Evander yang ingin mengacak rambutnya lebih jauh lagi. Sebelum kerusakan yang didapatnya menjadi lebih buruk dari ini, Elthia harus menghentikan tangan Evander yang menyebalkan ini.
"Apa kepalamu sudah terasa lebih baik?"
"Tidak! mana mungk-"
H-huh?
Kurangnya fokus Elthia terhadap keadaan sekitar saat ini, membuktikan bahwa kondisinya tidaklah baik. Elthia bahkan tidak menyadari kalau Evander sudah tidak menyentuh kepalanya lagi.
"Kepalaku?"
__ADS_1
"Iya, kepalamu." Evander tidak bisa menahan tawanya. Wajah Elthia yang sedang kebingungan, terlihat sangat lucu dalam penglihatannya. "Apakah sekarang rasa sakitnya sudah menghilang?"
Elthia memejamkan kedua matanya erat. Pusing yang sebelumnya ia rasakan kini sudah mulai menghilang. "E-eh? S-sakitnya hilang." Hilangnya sensasi berdenyut dari kepalanya, membuat Elthia secara refleks menoleh kearah Evander. Elthia memicingkan kedua matanya, ia menatap saudara kembarnya itu dengan penuh rasa curiga.
"Sejak kapan kakak bisa melakukannya?"
Sebelum sihirnya terkuras habis karena tindakan yang Tristan ambil. Seingat Elthia, kakaknya ini masih belum bisa menggunakan sihir penyembuhan.
"Apakah kakak belajar itu dari Rio?"
Konsekuensi yang harus Elthia tanggung karena secara tidak langsung terlibat dalam sihir yang berhubungan dengan ruang dan waktu itu, membuat Elthia harus kehilangan sebagian waktunya. Dalam kurun waktu selama Elthia tidak sadarkan diri, ada banyak hal yang terlewatkan. Jadi, sihir penyembuhan yang kini Evander miliki, jujur saja membuatnya sedikit iri.
"Aku kira, dia hanya bisa menghancurkan sesuatu saja. Namun, siapa sangka dia juga bisa sihir jenis ini."
Evander memperlihatkan ekspresi sombong miliknya. Niat Elthia yang sedari tadi ingin mengganggunya, kembali ia balas. "Sihir penyembuhan memang luar biasa." Evander memperhatikan cahaya berwarna hijau muda yang berbinar tipis di kedua tangannya. Ekspresi cemberut Elthia yang merasa tertinggal jauh, ditertawakannya.
"Aku juga ingin mempelajarinya." Seru Elthia dengan semangat yang menggebu. Saking semangatnya ia, Elthia bahkan sampai melupakan bahwa beberapa waktu yang lalu, untuk bergerak saja pun, ia kesulitan.
"Kau harus sembuh dulu, baru boleh mempelajarinya."
Evander mendorong pelan tubuh Elthia menjadi berbaring. Sebelum Elthia sempat mengajukan protesnya, Evander menutupi kedua mata Elthia dengan telapak tangannya.
"Sekarang, tidurlah. Istirahat yang cukup akan membantumu agar bisa pulih lebih cepat."
"Bagaimana jika aku tidak ingin tidur?"
Kedua mata Elthia menatap lekat netra Evander yang sama persis dengannya itu. Walaupun tidak terlalu jelas karena terhalang sebagian jari Evander, Elthia tetap bisa melihat tatapan serius dari saudara kembarnya.
"Aku tetap akan memaksamu tidur."
Jawaban tegas Evander sama sekali tidak terbantahkan. Menghela nafasnya, Elthia memperhatikan langit-langit kamarnya yang berwarna putih. Pandangannya terlihat menerawang karena kini ia terlarut dalam dunia khayalnya.
"Aku takut."
"Aku akan menemanimu sampai tertidur. Jadi, tenanglah."
Sekali lagi, Evander memaksa Elthia untuk menutup matanya. Tangannya masih ia biarkan menutupi kedua mata Elthia. "Aku akan memakan semua mimpi buruk yang mendatangimu. Tidurlah. Tubuhmu sangatlah memerlukan istirahat sekarang ini."
Menggunakan sedikit kekuatannya, Evander memberikan sensasi mengantuk kepada kedua mata Elthia.
"Kak, Evan."
"Ya?"
"Aku menyayangimu." Elthia menguap. Sebelum ia benar-benar pergi ke dunia mimpi, Elthia menorehkan segaris senyum tipis di bibirnya. "Terimakasih... na.. sudah... nemaniku."
Gumaman samar, menjadi penutup Elthia sebelum benar-benar jatuh terlelap dalam tidurnya. Di sisi Elthia, Evander memperhatikan wajah damai saudari kembarnya itu. Senyum tipis terlihat memperindah wajahnya, ketika kedua matanya menatap lengkungan tipis yang Elhia torehkan.
"Selamat tidur. Dan semoga mimpi indah selalu menemanimu."
Evander mengelus pelan surai perak yang terasa begitu halus milik Elthia. Menatap Astrella yang sedari tadi menunggu di pojok ruangan. Evander menganggukkan kepalanya pelan.
"Tolong jaga dia." Pintanya, sebelum pergi menuju kamarnya kembali. Menepuk pelan bahu Astrella. Evander sekali lagi memperhatikan wajah damai Elthia yang kini terlihat jauh lebih baik daripada yang sebelumnya.
"Aku percayakan Elthia padamu."
Astrella membungkukkan sedikit tubuhnya. Permintaan yang Evander berikan, dijawabnya dengan tegas. "Saya akan menjaga nona Elthia, tuan."
Terimakasih karena sudah mempercayakannya pada saya.
__ADS_1