
Suara orang yang sedang berbincang terdengar samar di telinganya. Elthia membuka matanya secara perlahan. Cahaya yang masuk, sedikit menyilaukan. Mengedip-ngedipkan kedua matanya, Elthia mencoba menyesuaikan penglihatannya.
"Ibu?"
Ekspresi cemas dari wanita cantik bermata hijau adalah hal pertama yang masuk dalam jangkauan penglihatannya. Rambut bergelombang berwarna coklat muda dari sosok itu, menggelitiknya ketika Elthia mendapatkan pelukan secara tiba-tiba.
"Elthia!!"
Pelukan erat yang diberikan sang ibu sedikit menyesakkan. Elthia yang masih belum sempat bersiap untuk menerimanya, merasa kesulitan bernafas.
"I-ibu, s-sesak."
Elthia memberikan tepukan pelan pada pundak ibunya. Ketika pelukan itu sudah terlepas, Elthia mencoba meraup sebanyak mungkin oksigen yang ia bisa.
"Apakah ada yang terasa sakit, nona?"
Suara dari Astrella yang terabaikan, mengalihkan perhatian kedua orang ibu dan anak itu.
"Aku baik-baik saja. Tidak ada satu pun anggota tubuhku yang terasa sakit." Elthia memperlihatkan senyum terbaik yang dimilikinya. Elthia tidak ingin menambah kecemasan dari dua orang yang begitu berharga baginya ini.
"Semuanya tetaplah sama seperti yang biasanya."
"Elthia."
Nyonya Selenia Annora Lucretia, ibu dari Elthia itu menatap serius putrinya. Binar yang memancar dari kedua matanya yang berwarna hijau, tidak sedikit pun menginginkan adanya bantahan. Elthia tahu, ibunya sedang marah sekarang ini. Karena itu, ketika sang ibu memberikan pertanyaan mengenai apa yang sebenarnya terjadi, Elthia memilih untuk mengatakan yang sebenarnya.
"Aku hanya bertemu dua orang laki-laki berambut perak, dan berbincang dengan mereka berdua."
Membohongi ibunya adalah kemungkinan terburuk yang begitu dihindari olehnya. Elthia tidak ingin memperumit hidupnya sendiri dengan hal berbahaya seperti itu. Karena Elthia tahu. Seberapa bagusnya pun insting yang dimilikinya. Kepekaan yang dimiliki oleh ibunya, dua kali lipat jauh lebih mengerikan. Kebohongan sangatlah mudah diendus oleh ibunya. Jadi, akan lebih aman jika Elthia mengatakan yang sebenarnya terjadi, ketika diberikan pertanyaan.
"Rambut perak? Setahu ibu, hanya keturunan dari keluarga Lucretia saja yang memiliki rambut berwarna perak."
Elthia menghela nafasnya. "Saat melihatnya pun, aku juga sangat terkejut."
Keberadaan Tristan, serta sosok asing yang jugalah memiliki rambut perak, semakin memperbanyak pertanyaan yang ada di dalam benaknya. Elthia tidak menyangka, dengan berubahnya alur cerita, beberapa hal yang sebelumnya tidak tertulis di dalam buku, ternyata jauh lebih rumit dari apa yang bisa Elthia bayangkan.
Mulai dari kontrak familiar, keberadaan Rio, sihir dan tirai, serta kedua orang sosok berambut perak yang menyimpan rahasia besar. Perubahan itu bahkan belum melibatkan keberadaan Pangeran Psyche serta Pangeran Luca yang merupakan inti bagian dari cerita. Dengan munculnya kedua orang pangeran, Elthia yakin ada semakin banyak hal tak terduga yang akan ditemuinya. Dan itu.... tentu saja sesuatu hal yang tidak mungkin untuk diprediksinya. Tidak peduli seberapa bagusnya Elthia dalam menebak tindakan orang lain, memprediksi takdir yang berjalan tidaklah termasuk dalam kuasanya.
Entah mengapa aku sedikit takut.
Susahnya alur yang sekarang berjalan untuk ditebak, sedikit mengkhawatirkan. Elthia merasa cemas mengenai keberadaan Pangeran Luca, yang mungkin saja tidak akan lama lagi ditemuinya.
Aku harap, aku tidak terlambat.
Dilihat dari surat balasan yang diberikan Sebastian, yang terakhir kali Elthia baca. Sumpah setia yang diberikan oleh keluarga Lucretia kepada kerajaan adalah kemungkinan terburuk, yang sekarang kini sudah terwujud kenyataannya. Besar kemungkinan Pangeran Luca akan mendaftar di tempat yang sama, guna mengawasi mereka.
Sebelum Pangeran Luca benar-benar datang dan mulai membatasi pergerakannya. Mengakrabkan diri dengan Pangeran Psyche adalah pilihan yang bisa membawa sedikit perlindungan baginya.
Elthia sudah berteman dengan Pangeran Psyche. Walaupun tidak terlalu dekat, pertemuan tak terduga yang terjadi saat itu, lumayan memberikan pengaruh. Elthia harap, mereka bisa menjadi semakin dekat nanti. Paling tidak, sebelum rencana mengenai pertunangan antara dirinya dan Luca, benar-benar dilaksanakan.
"Dasar bodoh. Aku tidak percaya, kau bisa berbuat senekat itu, Elthia."
Suara Evander yang baru saja datang menjenguk, berhasil membuyarkan lamunan Elthia. Nada sedingin es, serta tatapan murka dari kedua netra indah yang biasanya terlihat lembut itu, sangatlah menyeramkan. Elthia bergidik. Sebisa mungkin, ia memperlihatkan senyum tipis miliknya seperti biasanya.
"Kak Evan. Biarpun kakak adalah saudara kembarku. Tetap saja tidak sopan tiba-tiba masuk tanpa izin seperti ini."
Yah, sebenarnya ini hanyalah alasan yang Elthia gunakan untuk menutupi rasa gugupnya. Selama di kediaman Lucretia, Evander dan Elthia tidaklah pernah memerlukan izin untuk keluar masuk. Entah itu Evander, ataupun Elthia sendiri. Mereka berdua selalu masuk seenaknya sendiri seolah-olah kamar itu memanglah milik mereka bersama.
"Jangan mengalihkan pembicaraan, Elthia." Ucap Evander seraya menghela nafasnya. Kedua tangannya bersedekap di dada. Sedangkan tubuhnya, bersandar di pintu. Tidak peduli seberapa manisnya pun senyum yang Elthia perlihatkan, khusus kali ini Evander tidaklah akan membiarkan dirinya luluh. Apa yang Elthia lakukan sebelum kehilangan kesadarannya sangatlah membuat dirinya marah. Tindakan nekat yang saudarinya ambil tanpa sepengetahuan dirinya itu, jujur saja masih membuatnya jengkel walaupun itu sudah berlalu.
"Apa kau tahu, sudah berapa lama kau terbaring tidak sadarkan diri?"
Pertemuan Elthia dengan Tristan tidaklah berlangsung terlalu lama. Elthia yakin, pembicaraan mereka waktu itu tidaklah sampai menghabiskan waktu sampai setengah jam lamanya.
"Umm.... dua hari?"
Jika memang benar ada perbedaan rentang waktu seperti dugaannya. Elthia yakin itu tidaklah terlalu jauh berbeda.
"Kau tidak sadarkan diri selama satu bulan lamanya."
"A-apa?! S-satu bulan?!"
Hei, ini jauh sekali dari perkiraanku!!
Pantas saja Evander sangatlah murka. Elthia tidak menyangka jika perbedaan rentang waktu antara tempat itu dengan di sini akan sejauh itu.
__ADS_1
"Ibu sangatlah takut kau tidak akan terbangun lagi, Elthia."
Binar penuh kecemasan yang memancar dari kedua netra hijau sang ibu, membuat Elthia semakin merasa bersalah. Seandainya saja, Elthia mengetahui bahwa ia akan kehilangan kesadarannya selama itu. Elthia tentu dengan senang hati akan melawan rasa penasarannya, dan mencoba cara lain yang jauh lebih aman daripada ini.
"Aku bersalah. Maaf karena telah bertindak bodoh." Elthia menatap lekat tangannya yang meremas selimut. Tatapan tajam yang Evander berikan padanya, terasa sangatlah menusuk.
"Jadi? Apa alasanmu mengambil tindakan bodoh itu? Saudariku?" tanya Evander tanpa sedikit pun mengubah nada suaranya. Aura mengintimidasi miliknya sangatlah kentara mendominasi ruangan itu.
"Kau tidak mungkin mengambil tindakan bodoh itu, tanpa mempersiapkan rencana apapun, bukan?"
"Akan aku jelaskan. Jadi, tolong dengarkan baik-baik."
Evander dalam kondisi suasana hati yang buruk, akan dua kali lipat lebih cerewet dari yang biasanya. Di dalam kondisi ini, Evander akan menjadi orang yang berbeda. Sikap kalem yang biasa Evander perlihatkan sehari-hari, tidaklah akan terlihat sedikit pun. Seolah menjelma menjadi sosok lain. Evander yang berada dalam kondisi suasana hati buruk ini, cenderung akan terlihat seperti Sebastian, kakak tertua mereka yang terkenal mengerikan jika sudah tersenyum manis.
"Aku bertemu dua orang laki-laki berambut perak." Sebelum memulai kembali penjelasannya yang sebelumnya tertunda. Elthia menarik pelan nafasnya. Sebisa mungkin Elthia mengatur nafasnya, dan mencoba untuk tidak merasa tertekan dari tatapan mengintimidasi yang Evander berikan.
"Karena surai perak sangatlah langka dan hanya dimiliki oleh setiap keturunan keluarga Lucretia. Aku menanyakan apakah kita memiliki hubungan darah dengan mereka."
"Apa yang mereka katakan? Apakah kita memang memiliki hubungan darah dengan mereka?"
Elthia menggeleng. "Tidak. Tidak peduli seberapa banyaknya pun kemiripan yang kita miliki. Kita tidak sedikit pun memiliki hubungan dengan mereka."
"Kalau begitu, apa kau tahu identitas dari kedua orang itu?"
"Aku tidak terlalu yakin dengan ini. Tapi, aku rasa mereka berdua adalah penyihir yang hebat?"
"Melakukan sihir yang berhubungan dengan ruang dan waktu adalah batasan yang tidak mungkin dilanggar oleh seorang penyihir, Elthia."
Elthia menghela nafasnya pelan. Apa yang diucapkan oleh Evander memanglah benar adanya. Tidaklah mungkin bagi seorang penyihir mampu melakukan hal itu. Tidak peduli seberapa hebat serta besarnya pun sihir yang dimiliki oleh penyihir itu. Ruang dan waktu adalah batasan mutlak yang tidak mungkin untuk disentuh.
Kalau bukan itu, apa lagi?
Selain penyihir serta pemilik kekuatan suci. Tidak ada lagi posisi lain, yang melintas dalam benaknya. Jujur saja, Elthia sendiri pun, masih merasa bingung mengenai identitas, serta kekuatan apa yang digunakan oleh kedua orang asing yang menyebalkan itu.
"Hal itu memungkinkan terjadi jika kau berada satu tingkat lebih tinggi."
Apa yang diucapkan oleh sang ibu, mengejutkan kedua anak kembar itu. Mereka berdua tidak menduga, bahwa ada lagi posisi yang lebih tinggi daripada para penyihir.
Ini mengejutkan.
"Apakah ada posisi yang lebih tinggi dari seorang penyihir?
Sama seperti para penyihir. Para pemilik kekuatan suci sebenarnya jugalah terbatas. Namun, berbeda dengan para penyihir yang hanya terlahir di negeri Yodea. Para pemilik kekuatan suci terbatas karena pengaruh lingkungan. Tidak seperti para penyihir yang mendapat didikan khusus berupa jaminan belajar dari akademi, serta perlindungan dari para familiar. Pemilik kekuatan suci yang mendapatkan berkah pertama kali, akan langsung dikirimkan ke kuil suci. Mereka tidaklah mendapatkan perlindungan khusus dari familiar. Sebaliknya, kekuatan berkah yang mereka miliki membuat kebanyakan dari mereka terlihat seolah memiliki dinding kasat mata dengan yang lain. Dan itu, tentu membuat orang lain menjadi sedikit sulit untuk mendekati mereka, tak terkecuali para familiar.
"Jika kalian berpikir para pemilik kekuatan suci yang mampu melakukannya. Ibu rasa, kalian harus belajar lebih keras lagi."
Tebakan sang ibu yang tepat sasaran, menusuk tepat di hati. Elthia dan Evander melemparkan tatapan satu sama lain. Senyum kecut terlihat di wajah mereka. Padahal mereka yakin. Karena para pemilik kekuatan suci jauh daripada melakukan tindakan keji, kemurnian hati mereka itulah yang membuat mereka mendapatkan izin serta dipercaya untuk urusan menjaga ruang dan waktu.
"Bukankah mereka yang paling memungkinkan?"
"Bukankah manusia dilarang ikut campur mengenai kehidupan serta waktu seseorang?"
Pertanyaan yang diajukan kembali oleh sang ibu, berhasil membungkam telak kedua orang anak kembar itu. Mau sesuci serta sebersih apapun hati seorang manusia. Jika sudah menyangkut ruang dan waktu, yang memungkinkan mereka untuk memutar ulang, serta menciptakan ruang, seolah itu adalah dunia ciptaan mereka sendiri. Tentu, itu adalah suatu hal yang tidak mungkin. Hati manusia sangatlah mudah goyah. Mempercayakan kemampuan seperti itu kepada manusia sama saja bagaikan tindakan bunuh diri. Sudah merupakan hal yang alami, manusia memiliki sifat serakah. Jadi, tidak peduli seberapa bersihnya pun mereka terlihat. Walaupun hanya secuil, mereka pastilah tetap memiliki sisi serakah di dalam hatinya.
"Selama mereka bukanlah manusia. Apakah itu berarti mereka bisa bebas melanggar batasan itu?" Elthia yang sudah menyadari maksud dari pernyataan sang ibu setelah sempat terdiam, mengatakan pendapatnya. Kedua matanya secara refleks menoleh kearah Astrella yang sedari tadi berdiri diam, memperhatikan mereka dari kejauhan.
Evander mengikuti arah pandang Elthia. "Familiar memiliki posisi penting yang lebih tinggi daripada seorang penyihir, kan?" selain menjaga para penyihir. Para familiar jugalah memiliki posisi penting untuk menjaga keseimbangan. Jadi, tidakkah keberadaan mereka mampu untuk melanggar batasan itu?
Di sisi Elthia, Nyonya Selenia tersenyum tipis. Respon cepat tanggap dari kedua anak kembarnya, benar-benar membuatnya bangga.
"Tebakan yang bagus, anak-anak." Nyonya Selenia ikut memperhatikan Astrella. Sebagai satu-satunya familiar yang ada di ruangan ini, Astrella tentu menjadi sasaran empuk mereka bertiga. Tawa halus terdengar dari nyonya Selenia. Ekspresi heran yang diperlihatkan Astrella, lumayan menghiburnya.
"Apakah ada yang bisa saya bantu?"
Astrella yang menjadi fokus perhatian, mengerutkan alisnya heran. Sorot penuh rasa keingintahuan dari kembar Lucretia yang ditujukan padanya itu, lumayan membebaninya.
"Astrella. Melanggar batasan seperti menggunakan sihir ruang dan waktu, apakah memungkinkan dilakukan oleh familiar?"
"Tidak. Sebagai familiar, kami tidaklah diizinkan mengganggu gugat alur kehidupan para makhluk hidup yang ada di dunia ini."
Sedikit disayangkan. Namun walaupun begitu, jawaban secara langsung tanpa dimulai dengan basa-basi itu, tetaplah diangguki Elthia. Melirik Evander, Elthia yang sudah dapat menebak pertanyaan seperti apa yang akan saudara kembarnya itu ajukan, memperhatikan secara seksama jawaban yang akan diberikan Astrella.
"Bagaimana dengan familiar berambut perak? Apakah kau mengetahui sesuatu tentang mereka?"
Astrella menggeleng. "Saya tidak pernah bertemu mereka secara dekat. Jadi, saya tidak sedikit pun mengetahui tentang mereka."
__ADS_1
"Sepertinya, ini jauh lebih merepotkan dari yang kita duga, ya?" Elthia meringis. Kepalanya yang berdenyut sakit semakin memperparah keadaan saja. Sepertinya, efek dari tidur panjangnya mulai terasa. Pandangan Elthia terlihat sedikit buram sekarang ini.
"Sebenarnya, apa alasan mereka mendekatiku?"
"Sepertinya, ada sesuatu yang dia lihat darimu." Evander berjalan mendekat. Ia duduk di sofa yang tersedia di dalam kamar Elthia. "Bukankah sebelum kau menghilang di hadapan Astrella, ekspresinya yang menyedihkan itu, yang menggerakkanmu?"
Dia masih kesal rupanya.
Elthia mendengus. Sindiran halus yang Evander berikan tidak sedikit pun mengusiknya. "Aku memang mengikutinya karena menginginkan jawaban. Namun, seperti yang kau tahu, mereka jauh lebih jeli dari yang terlihat."
Tristan serta sosok temannya yang lain itu sangatlah menyebalkan. Bukannya memberikan Elthia jawaban setelah berani membawanya pergi, Elthia justru dibuat semakin penasaran dengan apa yang mereka sembunyikan. Pertanyaan demi pertanyaan yang bermunculan dalam benaknya, bukannya berkurang, justru bertambah semakin banyak saja karena kehadiran mereka berdua.
"Aku tidak sempat mendapatkan satu pun jawaban mengenai identitas mereka."
"Bagaimana dengan peringatan? Tidak mungkin bagi sosok yang terlihat begitu mengkhawatirkanmu itu, membawamu tanpa ada alasan yang jelas, jika dia tidak ingin memberitahu sesuatu secara langsung kepadamu, kan?"
Menghela nafasnya. Elthia melirik sang ibu. Dengan adanya sang ibu di sini, Elthia takut apa yang akan disampaikannya ini bisa membawa mereka kepada situasi yang berbahaya. Peringatan yang Tristan sampaikan padanya, lumayan sensitif. Bagi ibunya yang sangatlah peka ini. Hanya menunggu masalah waktu saja, mereka berdua akan dikeluarkan dari akademi Secilia jika ibu mereka mengetahuinya.
Tidak mungkin bagi Evander maupun Elthia dibiarkan bergaul, apalagi berguru kepada seorang senior yang terlihat berbahaya. Sebagai orang yang sangat sensitif terhadap sesuatu yang terhubung dengan dunia kegelapan, ibu mereka adalah orang pertama, yang Elthia harap tidak mengetahui mengenai hubungan mereka berdua dengan Rio. Pemandu, sekaligus pemilik mata merah yang dipercaya terkutuk, yang kini menjadi penyihir pembimbing mereka.
"Umm... dia memberikanku satu peringatan." Meneguk salivanya gugup. Elthia merasa gelisah dengan sorot mata serius sang ibu yang terarah kepadanya.
Aku mohon! Siapapun, tolong aku!
Bertukar pendapat mengenai kedua orang laki-laki yang jugalah memiliki surai perak itu, lumayan menyenangkan. Namun, disaat yang sama. Bagi Elthia yang menyimpan rahasia, mencari tahu identitas kedua orang itu terasa bagaikan pedang bermata dua baginya.
"Dia memperingatiku untuk t-"
"ELTHIA!! AKU DENGAR KAU SUDAH SADAR!!"
Kedatangan Elenio yang begitu tiba-tiba dengan cara mendorong kasar pintu kamar, berhasil memotong perkataan Elthia. Elenio yang memeluknya erat secara tiba-tiba ketika melihatnya duduk bersandar, sangatlah mengejutkan. Helaan penuh lega dari sepupunya itu, entah mengapa tidak sedikit pun membuatnya merasa senang.
"E-Elenio." Elthia melirik takut-takut pamannya yang masih berdiri di depan pintu. Tatapan kesal atas tindakan yang Elenio lakukan, terlihat sangatlah jelas di kedua netra rembulan miliknya.
"H-hei, Elenio." Elthia menepuk-nepuk pelan punggung Elenio. Sebisa mungkin, Elthia memberi isyarat kepada sepupunya itu agar melepaskan pelukannya. Jika tidak dilepaskan. Mungkin sepupunya ini akan dimarahi habis-habisan oleh dua orang laki-laki lainnya yang ada di ruangan ini.
"Elenio Illarion Antoinette."
Terlambat sudah. Karena Elenio sangatlah tidak peka dengan keadaan sekitar. Sepertinya usaha penyelamatan yang coba Elthia lakukan, pada akhirnya berakhir secara sia-sia. Telinga Elenio tidaklah selamat daripada jeweran ayahnya. Sedangkan gendang telinganya, juga tidak luput dari teguran tajam sang ayah.
"Kamu tidak ingin sepupumu itu terbunuh karena pelukanmu itu, bukan?"
Ringisan pelan yang keluar dari mulut Elenio, Elthia respon berupa helaan nafas. Sorot penuh rasa bersalah yang Elenio tujukan padanya, terlihat sangatlah menyedihkan.
"Aku memaafkanmu."
Tepat setelah Elthia mengucapkan itu. Paman Elthia, ayah dari Elenio itu melepaskan jewerannya. "Lain kali, jangan diulangi!" tegurnya, kepada Elenio yang kini mengelus pelan telingannya yang memerah. Begitu anggukan patuh ia dapatkan. Tuan Darien jugalah meminta maaf kepada nyonya Selenia, ibu Elthia.
"Dia memang sangatlah mirip denganmu, Darien." Nyonya Selenia tertawa kecil. Tawa canggung yang tuan Darien perlihatkan, entah mengapa membuatnya merasa ingin menggoda laki-laki itu lebih jauh.
"Bahkan, sifat cerobohnya ini jugalah sama denganmu."
"Oh. ayolah, Selenia...."
"Jangan terlalu menggodanya, kakak ipar."
Suara lembut yang ikut bergabung dengan mereka, menimbulkan segaris senyum jahil di bibir nyonya Selenia. Kedua netra hijaunya melirik kearah Athalita. Adik iparnya yang sangatlah anggun itu, juga terlihat menahan tawanya ketika memperhatikan ekspresi salah tingkah dari suaminya sendiri.
"Wajah merahnya yang menggemaskan itu, membuatnya terlihat semakin lucu saja."
"Ehem."
Deheman pelan dari Evander, berhasil membuyarkan dunia para orang dewasa.
"Ibu, aku izin undur diri lebih dulu."
Tidak ingin membuat suasana canggung itu bertahan lama. Evander berdiri. Ia mengucapkan salam kepada paman, serta bibi mereka, sekaligus memohon pamit kepada kedua orang yang telah memberi mereka tempat untuk tinggal itu.
"Jaga dirimu baik-baik, Elthia." Evander mengelus pelan kepala Elthia. Ketika ia memberikan pelukan, Evander berbisik. "Kau masih berhutang penjelasan padaku."
Elthia menghela nafasnya. Apa yang diucapkan saudara kembarnya itu, diangguki olehnya.
"Baiklah."
Aku akan menjelaskan semuanya padamu, nanti.
__ADS_1
Kedua anak kembar itu saling melemparkan tatapan satu sama lain. Kedua mata mereka yang memiliki netra berbeda warna, terlihat berkilauan ketika terkena pantulan cahaya matahari yang mulai tenggelam, dari balik jendela.