
Di dalam perpustakaan yang begitu luas, seorang gadis duduk menyendiri. Didepannya terdapat satu buah buku bertemakan kerajaan dengan judul 'The Abandoned Princess'. Dengan dirinya seorang saja yang berada di ruangan penuh ketenangan itu, ia menghela nafasnya pelan. Air mata terlihat masih mengalir dari kedua sudut matanya.
"Aku benci akhir yang menyedihkan."
Ending menyayat hati dari buku yang baru saja ditamatkan olehnya itu, masih terasa membayangi. Novella, sosok gadis pecinta akhir bahagia dalam sebuah cerita itu tentu tidak menerima takdir kejam yang digoreskan oleh sang penulis terhadap karakter di dalam bukunya.
"Bagaimana bisa penulis sadis ini menyiksa karakternya sendiri!"
Karena tidak ada seorangpun orang berada di dalam perpustakaan selain dirinya, Novella bisa mengeluarkan suara sekeras apapun yang ia inginkan. Biarpun ia sudah mencoba menghibur dirinya dengan memakan permen kapas yang manis. Rasanya, hatinya masih saja berdenyut sakit. Akhir tragis dari kedua orang tokoh utama di dalam cerita terasa menghantuinya setiap kali Novella melihat sampul buku yang begitu cantik didepannya ini.
"Sampulnya juga menipu."
Novella mengetuk-ngetukkan jari telunjuknya diatas sampul buku. Kepalanya yang dibaringkan diatas meja, nampak memperhatikan buku itu dari samping. Dengusan kesal keluar dari mulutnya. Rasanya menjengkelkan melihat ilustrasi dari dua orang pangeran dan putri negeri entah berantah yang terlihat bahagia ini.
"Bagaimana bisa penulis kejam ini menciptakan akhir mengenaskan seperti ini?"
Memainkan jari-jarinya di atas sampul. Novella lagi-lagi bergumam sendiri. Jari telunjuknya dia arahkan menuju ke ilustrasi sang pangeran yang terlihat mengecup lembut kening si tuan putri. Kelembutan sang pangeran yang digambarkan di sampul ini tidaklah akan bisa menipunya untuk yang kedua kali!
"Seandainya saja aku bisa. Aku ingin merubah takdir penuh ketidakadilan yang menimpa Elthia."
Mengingat betapa mengenaskannya kehidupan sang tokoh utama wanita. Novella tidak bisa menahan dirinya untuk tidak kembali menangis. Menurutnya, kebaikan Elthia sang tokoh utama terhadap putra mahkota Istvan sangatlah disayangkan. Elthia terlalu baik untuk dipasangkan dengan pangeran kejam seperti Luca yang sekarang begitu dibenci olehnya ini.
"Aku harap, ada sebuah keajaiban yang mampu merubah akhir menyedihkan ini. Nyawa Elthia terlalu berharga untuk dikorbankan demi kehidupan Luca si pangeran brengsek."
"Kau benar. Rasanya cukup menjengkelkan melihat Elthia membuang kehidupannya sendiri secara percuma seperti itu."
Suara asing yang tiba-tiba menyahuti, berhasil menyentaknya. Novella yang sedari tadi membiarkan kepalanya terbaring di atas meja, mendongak. Kedua mata sepekat malam miliknya memperhatikan sosok asing di depannya.
"Kau juga membacanya?" tanyanya, seraya menunjuk buku berakhiran tragis di depannya. Novella senang, ia mendapatkan teman yang sepemikiran seperti ini. Dengan berdiskusi bersama, ia berhasil mengurangi sedikit rasa sakit di hatinya.
"Seandainya saja aku belum membacanya. Aku tidaklah akan mengeluh seperti sekarang ini."
Kedua mata hitam pekat milik sosok itu memperhatikan Novella. Senyum tipis yang ia torehkan terlihat begitu mempesona.
"Cerita seperti ini terlalu disayangkan untuk dilewatkan."
"Aku kira, kaum laki-laki tidak begitu menyukai cerita seperti ini." Novella memperlihatkan buku yang baru saja dibaca olehnya. Raut kebingungan tercetak jelas di wajahnya. "Tapi, ternyata tidak semuanya, ya?"
"Tentu saja tidak." Laki-laki itu menggeleng. Apa yang baru saja dikatakan Novella tidak begitu disetujui olehnya. "Aku sangat menyukai cerita sejenis ini." Laki-laki itu menunjuk lambang mahkota yang digambarkan di sampul buku. Tatapannya ketika memperhatikan lambang dari kekuasaan dan kekuatan itu tidak sedikit pun mengandung kebohongan.
"Membaca cerita dengan genre fantasi seperti ini memberikanku pengalaman baru yang menyenangkan."
"Jadi, kau juga merasakannya, ya!!"
Rasa antusias yang Novella tunjukkan sedikit menyentak sosok itu. Rasanya canggung ketika tangannya di genggam secara erat seperti ini sedangkan mereka baru saja mengenal satu sama lain.
"S-siapa namamu?"
Novella membuka suaranya. Rasanya canggung ketika ia mengingat kembali apa yang baru saja dilakukan olehnya tadi.
__ADS_1
Ini memalukan!! Novella tidak menyangka kebiasaan buruknya ketika merasa senang ini keluar dalam kondisi begini. Rasanya, Novella ingin menyembunyikan wajahnya ke lubang kelinci Alice sekarang juga.
"Namaku Alterio Lindra. Kau bisa memangilku Rio."
Novella menyambut uluran tangan Rio. Sensasi kasat yang dirasanya di telapak tangan Rio ketika berjabatan membuatnya berjengit. "Novella. Novella sandrea."
"Hei, Rio. Mengapa tanganmu kasar sekali?" Novella mengajukan pertanyaan begitu tautan tangan mereka terlepas. Sebagai seseorang yang suka penasaran terhadap suatu hal. Novella tidak bisa menahan dirinya untuk tidak bertanya. Biarpun itu terkesan tidak sopan karena mereka baru saja saling mengenal, Novella tetap saja nekat menanyakannya. "Apa kau terluka?"
"Oh, ini." Rio melirik telapak tangannya. Melihat betapa seriusnya wajah Novella ketika bertanya, tawa nan halus keluar dari mulutnya. "Bukan luka, kok. Hanya bekas kewajiban yang biasa dilakukan oleh seorang lelaki."
Novella mengerjapkan matanya. Jawaban yang diberikan Rio sama sekali tidak mampu ia mengerti. "Apa maksudmu?"
"Hei, Novella. Kau bilang, kau ingin merubah alur cerita ini kan?" Rio mengalihkan pembicaraan. Buku yang menjadi penyebab awal dari perkenalan mereka, ia acungkan tepat di hadapan Novella.
"Seandainya... seandainya saja ada suatu hal yang bisa merubah akhir menyedihkan yang menimpa Elthia. Apa yang akan kau lakukan?"
Berpikir kerasnya Novella ketika ia mengajukan pertanyaan barusan, membuat Rio menghela nafas lega. Topik pengalihan yang Rio berikan sekarang ini ternyata tidak sia-sia. Pikiran gadis di depannya ini teralihkan dengan mudahnya.
"Hmmm.... Ada banyak hal yang ingin aku lakukan."
"Kau bisa menyebutnya sepuasmu."
Ucapan Rio yang terkesan menantikan jawabannya sedikit mengherankan. Namun, walaupun begitu, Novella tetap saja mengatakan keinginannya. Ia tidak sedikitpun menganggap pertanyaan yang Rio ajukan sebagai pertanyaan yang terkesan janggal. "Jika aku menjadi Elthia, aku akan menggagalkan pertunangan dengan Putra Mahkota terlebih dahulu bagaimanapun caranya."
"Walaupun jika itu berarti kekuatan sihirmu tidak akan terbangkitkan?"
Novella menggeleng. "Terbangkitkan atau tidaknya kekuatan Elthia. Semua itu tergantung dari keselamatan ayahnya." Karena yang menyebabkan awal mula tragedi itu terjadi adalah pengkhianatan paman Elthia. Novella rasa, ia harus menyingkirkan sang paman agar pertunangan itu tidak terjadi.
Novella memainkan poni rambutnya. Alisnya mengerut dalam karena berpikir keras. "Kau benar, debut itu tidak bisa dihindari." Sehubung Elthia adalah tokoh utama di dalam cerita, Novella yakin pada akhirnya gadis itu pasti akan berakhir disandingkan dengan sang Putra Mahkota. "Karena Lucretia adalah satu-satunya keluarga duke yang ada di negeri Pyralis. Hubungan mereka satu sama lain tentu juga patut dipertimbangkan."
"Keluarga Duke tidak mungkin mengkhianati kerajaan. Perintah seorang Raja berlaku mutlak di Negeri Pyralis." Rio mengingatkan. Ekspresi wajahnya juga tidak kalah serius dari Novella. "Mengkhianati pihak kerajaan itu sama saja kau mencari mati."
"Jadi, pada akhirnya aku tidak mempunyai pilihan lain selain menerima pertunangan itu, ya?"
Seberapa kerasnya pun Novella memikirkan rencana pembatalan pertunangan Elthia, pada akhirnya ia hanya berakhir di jalan yang buntu. Sebagai kandidat calon putri mahkota. Elthia berada di posisi tertinggi dari putri bangsawan yang lain. Selain karena status keluarganya yang begitu dekat dengan kerajaan, bangsawan Lucretia juga merupakan keluarga bangsawan tertua di negeri Pyralis. Jadi, sangat tidak mungkin pihak kerajaan tidak meliriknya. Walaupun Elthia tidak membangkitkan sihirnya, pertunangan itu pastilah tetap akan terjadi.
Apakah masih ada cara yang lain?
Novella kembali memutar otaknya. Sebenarnya ada satu rencana yang sangat memungkinkan untuk membatalkan pertunangan Elthia. Hanya saja, ia tidak terlalu yakin dengan ini. Karena...
"Karena cerita ini hanya berfokus kisaran kerajaan Istvan. Jadi, tidak ada tokoh pangeran yang lain di dalam cerita."
Apa yang Rio katakan, Novella angguki. Tidak adanya tokoh pihak ketiga di dalam cerita inilah yang menjadi permasalahannya. "Seandainya ada pihak ketiga yang memiliki posisi setara, atau bahkan lebih tinggi dari Putra Mahkota. Kita bisa menyelamatkan Elthia dari takdir tragisnya." Tidak adanya pihak kerajaan tetangga yang disinggung, sangatlah disayangkan bagi cerita ini. Jujur saja, Novella merasa sangat kecewa dengan bagian yang ini. Dengan tidak adanya tokoh saingan, jalannya pertunangan menjadi sangat mudah. "Didalam cerita, tidak pernah sekalipun ada menyinggung mengenai Pangeran yang lain."
"Sangat disayangkan, Pangeran Luca merupakan satu-satunya penerus yang dimiliki Raja."
Novella merebahkan kepalanya dengan lesu. Diingatkan kembali mengenai Pangeran Luca yang merupakan pewaris tunggal kerajaan Istvan seperti itu, entah mengapa membuat semangatnya terasa semakin menurun saja.
"Penulis cerita ini sangatlah kejam."
__ADS_1
Tidak ada hal lain lagi yang mampu Novella ucapkan selain itu. Betapa berharap, serta berpikir kerasnya pun dirinya memikirkan akhir bahagia bagi Elthia. Pada akhirnya, gadis itu tetaplah menderita. Takdir yang menjeratnya bersama Pangeran Luca sudah menjadi kutukan secara tidak langsung bagi dirinya dan keluarga ternama Lucretia.
"Apakah penulis ini sungguh orang yang waras? Bagaimana mungkin dia tidak mengirimkan seorang pun penyelamat untuk menolong Elthia?"
Keluhan yang keluar dari mulut Novella, Rio dengarkan secara seksama. Setiap mendengar kata penuh rasa tidak terima itu diucapkan, Rio merasa keputusannya untuk mengakrabkan diri dengan Novella adalah pilihan yang tepat.
"Hei." Rio mengetuk pelan kepala Novella. Ketika surai hitam yang begitu lembut itu menyentuh kulitnya, Rio merasa ia seperti sedang menyentuh kapas. Sensasi menggelitik yang ia rasakan sekarang ini, jugalah merupakan suatu hal yang baru baginya.
"Apakah dengan menambahkan karakter baru yang setara Pangeran Luca, itu bisa merubah takdir Elthia?"
Novella melirik Rio. Wajah serius yang diperlihatkan oleh pemuda itu menambahkan kesan menawan yang tidak biasa baginya.
"Kemungkinan besar. Ya."
Mengucek pelan matanya yang berair. Novella yang sedari tadi membaringkan kepalanya, menopangkan dagunya di lipatan kedua tangannya. Kedua mata berwarna hitam miliknya memperhatikan Rio secara seksama.
"Jika kita bisa menambahkan satu tokoh yang setara. Pihak kerajaan Istvan akan sedikit kesulitan untuk mengatur pertunangan mereka."
Jari telunjuk Novella mengetuk pelan meja. Seandainya saja dirinya bisa mengubah alur cerita, ia tentu akan memasukkan karakter saingan yang sepadan. "Paling tidak, pertemuan itu harus terjadi sebelum Elthia berumur sepuluh tahun."
"Apa dengan begitu kita bisa membuat mereka berteman dekat?"
"Alur seperti itu bisa diatur. Tapi, akan lebih baik jika mereka tidak terlalu dekat diawal."
Saran yang diberikan Novella dipikirkan dengan baik oleh Rio. Masukan ini lumayan membantunya. Tapi, mengenai Elthia yang memiliki hubungan permusuhan diawal pertemuan, ia rasa, itu malah membuatnya terkesan biasa saja.
"Tidakkah justru alur itu akan menjadi terkesan sama saja dengan yang lain?"
Pertemuan penuh permusuhan lalu berakhir dekat dan timbulnya benih-benih cinta di kemudian waktu. Sebagai laki-laki pecinta kedamaian, Rio kurang menyukai alur yang seperti itu.
"Jika kau tidak ingin mereka bermusuhan. Setidaknya, kita bisa membuat Elthia dan tokoh baru itu saling berjanji satu sama lain."
Hmmm... kalau seperti itu, Rio rasa, ia bisa menyetujuinya. Jadi, Rio hanya perlu memikirkan perjanjian seperti apa yang akan diajukan Elthia nanti.
"Rio. Tidakkah menyusun alur cerita ini hanya akan berakhir sia-sia?"
Komentar lesu Novella mengalihkan perhatian Rio. Wajah tidak semangat gadis itu sedikit mengganggunya.
"Ini tidak sia-sia."
Rio tahu jawabannya ini tentu akan membingungkan Novella. Tapi, ia tetap saja meneruskannya. "Apa yang kita harapkan kini tidak akan berakhir sia-sia."
"Bagaimana caranya?"
Rio memperhatikan kedua mata gelap di depannya. Senyuman yang ia torehkan menambahkan kesan menawan bagi wajah rupawannya. Dia menepuk pelan kursi yang ada disampingnya. "Duduklah disini," pintanya.
Novella yang merasa penasaran tentu dengan polosnya langsung menurut. Permintaan Rio untuk duduk semakin mendekat begitu ia sudah duduk tepat disampingnya, Novella turuti tanpa banyak bertanya.
"Begini caranya." Rio menarik pelan kepala Novella agar mendekat kearahnya. Mengabaikan wajah Novella yang berubah warna menjadi merah, serta rasa gugup gadis itu yang tiba-tiba muncul. Rio menyentuhkan keningnya dengan dahi berponi Novella. Senyum lembut yang Rio torehkan berhasil menghipnotis Novella untuk terlarut semakin lebih jauh.
__ADS_1
"Dengan ini. Kita bisa menentukan akhir yang bahagia bagi semuanya."
Begitu Rio sudah menjauhkan dirinya. Novella yang masih larut dalam keterkejutan tidak menyadari apa yang terjadi. Dahinya mengeluarkan cahaya lembut berwarna biru. Awal mulanya, cahaya itu tidak terlalu terang. Namun, begitu sosok Rio mulai pudar dari pandangannya. Novella merasa cahaya itu berubah menjadi menyilaukan. Sedikit demi sedikit apa yang ada di sekelilingnya mulai menghilang. Begitu semua benda itu tersamarkan, tergantikan dengan cahaya berwarna biru nan menyilaukan. Novella menutup matanya. Rasa kantuk yang tiba-tiba datang tidak sedikitpun mampu dia tahan. Novella hanyut akan rasa damai yang menyusup masuk. Bersamaan dengan kesadarannya yang mulai menghilang, sosok Novella juga ikut lenyap dari perpustakaan.